Cinta Santri Dan Guru Sekolah

Cinta Santri Dan Guru Sekolah
Berkunjung Kerumah Akrom (2)


__ADS_3

"udah selesai itu Akrom nduk. kamu sholat dulu ya? bawa mukena nggak?" tanya Bu maftukhah sembari menunjuk Akrom yang tengah menuruni tangga rumahnya.


"bawa kok Bu, saya duluan ya?" pamit Cintya.


"krom, tunjukan kamarmu Bu Cintya biar sholat duhur dulu sambil nunggu ayah pulang" perintah Bu maftukhah.


"ayo Bu" ajak Akrom yang baru turun dari tangga kembali naik lagi.


Cintya mengangguk lalu melangkahkan kakinya mengikuti Akrom menuju kamarnya.


"sholat disini aja dulu ya? sajadah aku taruh di sandaran kursi belajar" ujar Akrom membukakan kamarnya.


"wudhu di toilet ya mbak? pintunya yang ujung sana" lanjut akrom menunjuk pintu toilet di ujung kamarnya.


"emang gak ada mushola krom? kok di kamar kamu sholatnya?" tanya Cintya sebelum masuk kamar.


"ada mbak, cuma ya jarang di pakai agak kotor jadinya" jawab Akrom santai.


Cintya yang mendengar jawaban itu hanya melongo heran bercampur kaget.


Akrom yang menyadari keheranan Cintya hanya tersenyum lalu menjelaskan maksud jawabannya barusan.


"emang jarang di pakai musholanya mbak. ayah sama ibu sering jamaah di masjid, kalau berdua terpaksa di rumah ya di kamar mereka" ujar Akrom sembari tersenyum.


Cintya hanya meringis, karena keheranannya di ketahui Akrom. dan telah salah sangka atas ucapan Akrom di awal.


"yasudah mbak masuk aja. aku tinggal kebawah dulu ya?"


"iya krom. makasih ya?" ujar Cintya.


"oke mbak" jawab Akrom berlalu meninggalkan Cintya yang hendak masuk kamarnya untuk melaksanan sholatnya.


Cintya masuk ke kamar Akrom yang terlihat rapi. terlihat rak buku yang terdapat buku bacaan dan kitab-kitab yang tersusun dengan rapi dan teratur. Terdapat gitar tergantung di dinding samping poster-poster band rock favorit cowok pada kebanyakan.


"rap**i banget ini anak menata kamarnya?" batin Cintya kagum dengan penataan kamar anak cowok yang begitu rapinya. berbeda dengan kamar adiknya yang membuatnya tidak betah berada di dalamnya.


Cintya lalu berjalan menuju toilet di ujung kamar itu, segeranya di buka pintu toilet dan masuk ke dalamnya untuk mengambil wudhu. setelahnya ia mencari sajadah yang Akrom bilang terdapat di sandaran kursi meja belajar.

__ADS_1


Saat akan meraih sajadah. sudut matanya menangkap sebuah kotak putih yang di atasnya bertuliskan "Untuk Bidadari Yang Menemukan ini,". ia diam sejenak menerka apa maksud dari tulisan itu.


Cintya menarik mundur kursi itu lalu ia duduk di atasnya menghadap ke kotak putih tersebut. di raihnya kertas di atasnya. saat di angkat ternyata kertas itu kertas panjang yang di lipat. di bawahnya terdapat tulisan lagi.


"Bidadari. ini untukmu.


Masukan tasmu dan bawalah pulang.


Sandingkan ini dengan semua tumpukan buku di tasmu.


Buka saja di kamarmu.


Jangan terlihat yang lain sebelum kamu membukanya.


ini benar untukmu Cintya. Bidadari"


Cintya kaget selesai membaca tulisan itu. hatinya berbunga menerima hadiah yang entah apa isinya, namun perhatian dan cara hadiah itu di berikan mempunyai arti tersendiri.


Tanpa membuka isinya, Cintya segera memasukan kotak putih itu kedalam tasnya. lalu segera menunaikan sholatnya. yang dirasa sholatnya kali ini terasa begitu nikmat, mungkin hatinya sedang berbunga. sholatnya adalah ajang untuk bersyukur.


"maaf Bu, Cintya lama di kamar Akrom" ucap cintya menghampiri Bu maftukhah yang tengah duduk di kursi ruang keluarga yang berbentuk sebuah joglo.


"iya nduk, Ndak apa-apa. ini kenalin ayahnya Akrom nduk" tunjuk Bu maftukhah kepada seorang pria yang usia kurang lebih 40 tahunan.


Cintya menoleh kaget tidak menyadari keberadaan orang lain di tempat itu.


"eh, maaf pak saya tidak tahu kalau ada bapak. saya Cintya pak" ucap Cintya canggung meraih tangan pria itu dan mencium tangannya.


"Ndak apa-apa nduk. tenang saja. saya pak Mahfud ayahnya Akrom" balasnya ramah.


"oh jadi ini toh Bu guru yang bikin anak saya jatuh hati" goda pak Mahfud dengan melirik ke arah Akrom yang sejak tadi duduk terdiam di pojokan.


Cintya dan Akrom langsung merona merah wajahnya, menahan senyuman mendengar godaan dari pak Mahfud.


"apaan sih yah? memang hati Akrom buah apa? bisa jatuh segala?" balas Akrom menyembunyikan rasa malunya.


"ya kali aja krom, habisnya anak ibu yang cuek banget sama cewek kok tau-tau sudah punya gandengan aja?" sambung Bu maftukhah yang kini juga ikutan menggoda mereka.

__ADS_1


"sudah Bu sudah. kasihan itu mereka sudah tengsin parah" cegah pak Mahfud menghentikan godaan kepada Akrom dan Cintya.


"yasudah. ayok makan dulu aja, tadi Cintya Lo yah yang masak" ujar Bu maftukhah tersenyum ke arah Cintya.


"iya kah Bu?" tanya pak Mahfud semangat.


"iya nunggu ayah masih lama jadinya dia ikut bantu ibu masak"


Mereka berempat akhirnya berjalan menuju ruang makan yang mana di atas mejanya sudah tersedia makanan yang tertata rapi.


"ayo nduk duduk sini, Ndak usah malu-malu, latihan kalau nanti tinggal disini" ajak Bu maftukhah.


"apaan sih Bu? nikah aja belum. lagian akrom juga masih mau kuliah dulu" protes Akrom atas ucapan ibunya.


"walaupun kamu kuliah dulu, masa salah kalau ibu berkata begitu? ucapan ibu adalah doa Lo krom" jawab ibunya dengan senyum lalu kerlingan mata ke arah Cintya.


Sungguh dua anak muda di ruangan itu tengah menjadi sasaran godaan yang begitu pasrah oleh orang tua Akrom. dengan sama sekali tidak mengendorkan serangannya.


"ngikut ibu aja deh. tapi ini jadi makan nggak? dari tadi godain kita terus?" ucap Akrom mencoba mengalihkan pembicaraan.


"bilang aja mau mengalihkan topik krom" ledek Bu maftukhah lagi.


"lagian ibu sih, tuh Bu Cintya jadi kelaparan kan" ucap Akrom melemparkan alasan kearah Cintya.


"duh khawatirnya anak ayah ini sama gurunya" bukannya reda. kini pak Mahfud yang ikutan menggoda Akrom lagi.


"yaiya lah yah. namanya juga guru kesayangan, iya nggak nduk?" sambung Bu maftukhah menoel lengan Cintya yang sejak tadi hanya terdiam menunduk menyembunyikan rasa malunya.


"udah dong Bu, kasihan tau anak orang di godain terus, nanti ngambek nggak mau kesini lagi gimana?" gerutu Akrom mencoba menghentikan serangan ibunya yang sudah sangat membuatnya mati kutu.


"tuh kan yah? bener-bener Bu guru kesayangan Akrom yah, sampai di belain segitunya" jawab Bu maftukhah menoleh kepada Pak Mahfud yang sejak tadi menyimak percakapan mereka dengan tertawanya yang ringan.


"lagian, kalau Bu guru kamu ini sayang kamu, pasti mau lah di ajak kesini lagi. iya nggak?" kini ganti menoleh ke arah Akrom dengan tatapan menggoda.


"ngikut ibu aja lah. mau bilang apa aja juga Monggo" ucap Akrom pasrah.


Berbeda dengan Cintya yang hanya diam saja tidak mampu menjawab ataupun melerai perdebatan mereka. karena wajahnya tengah sangat merona merah mendapat godaan yang bertubi-tubi dari orang tua akrom.

__ADS_1


__ADS_2