Cinta Santri Dan Guru Sekolah

Cinta Santri Dan Guru Sekolah
Bab Sembilan.


__ADS_3

Ditempat lain, Akrom yang meemilih pergi dari mushola menuju teras kelas yang tertutup pandangan oleh tanaman.


ia bisa saja pulang duluan karena jas hujan selalu dibawa di bagasi motornya.


.


Tapi setelah ditengoknya kanan kiri tidak didapati orang lain disekolah, dipilihnya untuk tetap menunggu sampai hujan reda.


‘aku tidak mungkin meninggalkannya sendiri, namun ak juga tidak mungkin berduaan disana’. Diletkkan tasnya dibangku teras kelas sambil memantai Sintya dari kejauhan


Hujan tak juga reda, dipandangnya air jatuh menerpa kubangan airlainnya yang sudah terlebih dahulu sampai ketanah.


Dipejamkan matanya menikmati suasana hujan siang itu, dengan fikirannya bernyanyi, irih ia senandungkan lagu yang dirasa sesuai dengan situasi saat ini.


Selalu ada yang bernyanyidan berelegi


Dibalik awan hitam


Semoga ada yang menerangi sisi gelap ini


Menanti seperti pelangi


Setia menunggu hujan reda


Aku selalu suka sehabis hujan


dibulan desember.


Dibulan desember


Song by: Efek Rumah Kaca “Desember”


Lalu dilihatnya lagi sosok gurunya yang masih setia menikmati hujan disana, sambil sesekali memainkan gawai ditangannya.


30 menit berlalu, hujan berangsur reda, dilihatnya kea rah mushola. Alasannya untuk tingal telah bergeas menuju parkirab motor, tetap dilihatnya dari kejauhan. Tak bergeming Ia menyembunyikan diri


“Alhamdulillah” hela nafas panjang Akrom menyaksikan sosok perempuan sudah berlalu dari pandangnnya keluar sekolahnya.


Lalu iapun meraih tas dan segera ia mengambil motornya dan menyusul keluar sekolah dan pulang ke pondok pesantren setelah dirasa tidak ada yang perlu dikhawatirkan.


Sepanjang perjalanan ia merenung menanyai hati kecilnya mengapa tidak ia fahami apa yang sebenarnya terjadi.


'ada apa aku ini? kanapa tak ku mengerti ada kekhawatiran, ada keraguan, ada kegugupan, dan ada harapan diwaktu bersamaan sejak pertama bertemu kakaknya ridho?'


memang Ridho dan Akrom sudah berteman lama, sejak mereka sama-sama duduk di bangku sekolah SMK.


dan ia juga beberapa kali berkunjung kerumah ridho, hanya saja tidak pernah bertemu dengan Cintya yang sedang mengenyam pendidikan S1 dikota lain.


hingga sampai ia tiba didalam pondoknya, ia berjalan menuju kamarnya yang sepi, memang semua teman dalam kamarnya adalah santri yang juga mengenyam pendidikan diluar pondok


dibaringkan badan yang lelah oleh fikirannya, memandangi langit kamar seolah berhias lukisan wajah wanita yang beberapa waktu menghantuinya.


"kamu kenapa bro?" sapa Dimas yang baru pulang sekolah juga.


"gak ada apa2 dim"


"cerita krom, siapa tau aku bisa bantu solusi"


hening, Akrom hanya tersenyum dipaksa untuk menjawab tawaran Dimas.

__ADS_1


"kamu pernah jatuh cinta dim?" Akrom yang buka suara mengangetkan temannya.


"kenapa kamu jatuh cinta?" tanya balik Dimas.


"ah ditanyain ganti nanya" jawab Akrom dengan nada sewot.


"hehe. pernah sih, kenapa krom?" ucap dimas dengan di susul senyuman.


"kamu jatuh cinta krom?" tanya dimas memastikan.


"gak tau sih, aku belum pernah soalnya. jadi nggak tau bagaimana itu jatuh cinta" jawabnya datar.


"siapa sih yang bikin orang secuek kamu soal wanita jadi jatuh cinta?" selidik Dima dengan alis dinaik-turunkan.


"ada deh, aku ragu dim, antara jatuh cinta atau bukan, antara kebenaran itu layak atau tidak" lalu menghela nafas panjang.


"pasti cantik ya? trus gimana kabar si Nisa krom?" tanyanya sambil tertawa terkekeh.


"bukan, dia buat kamu aja deh" jawab Akrom sambil mendelik ke Dimas.


"kenalin Napa bro?" pinta Dimas memelas.


"aku belum pasti dim, kalau pasti nanti aku kasih tau kamu"


"bener ya? awas nggak!"


"iya brisik. dah lah aku mau tidur"


"eh kampret malah ditinggal tidur" gerutu Dimas


Akrom yang memejamkan mata hanya untuk menghindari kekepoan temannya. dimana sama sekali ia tidak sedang tidur. fikirannya terus memaksanya hidup


sedang ditempat lain, ada juga hati wanita yang sedang berpacu dengan angannya. memikirkan sedemikian ingatan yang terus memicu debaran jantungnya.


'apakah iya? apakah benar? tapi mengapa?'


gumamnya memandangi luar jendela kamar yang diterangi pendar lampu dari dalam rumah, mencari-cari jawaban yang barangkali datang.


malam yang sudah larut akhirnya memaksa sepasang mata indah itu tertidur.


(Autor POV)


keesokan hari, Cintya tidak berangkat ke sekolah. karena memang sudah tiba waktu libur menjelang hari raya.


ia duduk di ruang keluarga berdiam menonton acara TV sendirian.


"kenapa aku jadi kangen gini sih sama itu anak? tidak bertemu sehari saja membuatku begini' fikirnya yang sama sekali tidak konsentrasi melihat acara tv itu.


"nduk nanti anterin ibu beli kebutuhan jajanan lebayaran ya?" ajak Bu Wiwid membuyarkan lamunannya.


"e. eh iya Bu" jawabnya kaget.


"eeeeh siang-siang gini kok nglamun kamu nduk?


"bayangin es teler ya?" ledek Bu Wiwid dengan senyumannya.


"ah ibu nih. Tya kuat kali buk" Belanya.


"ya siapa tau, habis nglamun aja sih" jawab Bu Wiwid sewot.

__ADS_1


"enggak ada apa-apa Bu" sambil ia menyembunyikan kegugupannya.


"kenapa? anak gadis ibu jatuh cinta ya?"


"eh i-. enggak Bu, apaan sih?" jawabnya malu-malu.


"hemmmm. ibu pernah muda nduk" lalu berlalu masih dengan senyumannya.


Bu Wiwid berlalu meninggalkan putrinya yang tengah sibuk menahan senyuman karena malu.


*****


sedang ditempat lain, Akrom sedang menyiapkan sebagian baju-baju dan kitab-kitabnya untuk dibawa pulang besok hari.


karena meskipun sudah masuk liburan ramadhan dan hari raya, Akrom masih menyempatkan ikut kajian kitab kilatan.


yang mengkhatamkan satu kitab dalam waktu kilat yakni sebulan dalam bulan Ramadhan.


dimana nanti malam adalah bab terakhir kitab yang ia pelajari, yang artinya sudah khatam dan besok sudah bisa pulang.


"kamu pulang dijemput apa sendiri dim?" tanya Akrom pada Dimas yang baru masuk kamar.


"aku dijemput krom sama bapakku" jawabnya


"kalau kamu?" Dimas balik tanya.


"aku sendiri aja sih, sekalian bawa motorku pulang mau aku service dirumah" jawab Akrom.


"hati-hati bro, nanti lebaran main ya?"


"iyalah dim. nanti anak-anak ada anjangsana ke kyai-kyai gak sih?" tanya Akrom.


"gak tau ya kalau itu, soalnya kemarin belum ada kabar sih"


"yaudah, nanti kabari aja"


"siap Broo" sambil dua jempol Dimas di acungkan kedepan.


malam hari mereka menyelesaikan bab terakhir. lalu mereka sowan ke dalem Yai untuk pamit pulang dan mengharap barokah.


"Assalamualaikum" salam mereka dan beberapa teman sekamarnya.


"wa'alaikumsalam, masuk kang" jawab pak kyai Ahmad kepada santri-santrinya.


lalu mereka satu persatu mencium tangan kyainya dengan penuh ta'dim.


"sak derenge ngaturaken sedoyo kalepatan, Kulo kalian rencang-rencang badene pamit wangsul keranten kilatanipun sampun khatam Yi, kalian nyuwun barokah dunganipun kyai, (sebelumnya mohon maaf semua kesalahan, saya dan teman-teman mau pamit pulang karena kilatan sudah khatam pak kyai, dan kami minta barokah doa dari kyai)" ucap Akrom dengan pelan dan sopan sambil menundukkan kepala ta'dim.


"oh nggih kang, sing ngati-ngati Yen Ning njobo pondok, dijogo ilmune, dijowo amalane Ojo Sampek Leno keno gudhone ndunyo, muroja'ah e tetep di sambung, Ojo Sampek pedot. ibarat tasbih, Yen pedot isok mbok taleni nanging sampean bingung goleki ronceane sing kecer" (oh iya kang, yang hati-hati kalau diluar pondok, dijaga ilmunya, dijaga amalannya, jangan sampai terbuai oleh godaan dunia, muroja'ah nya tetap dilanjut, jangan sampai terputus. ibarat tasbih, kalau putus kamu bisa menyambungnya, tapi kamu akan kesulitan mencari mata tasbih yang terjatuh bercecer)" dawuh Kyai Ahmad dengan bijak.


"nggih Yi, ngestoaken dawuh (iya kyai, kami mengikuti perintah kyai)" ucap dimas.


lalu Kyai Ahmad mendoakan santri-santri yang sowan dengan di amin'i oleh mereka.


kemudian satu persatu bersalaman dengan teratur dan tak lupa mengecup punggung tangan Kyai Ahmad, lalu keluar area ndalem dan kembali ke kamar masing-masing.


keesokan harinya setelah selesai sholat duha'. Akrom, Dima dan teman kamar lainnya saling berpamitan untuk pulang kerumah masing-masing.


sebagian ada yang dijemput, sebagian ada yang naik angkutan sendiri, ada juga yang bawa motor.

__ADS_1


Akrom segera menaikan tasnya keatas motor. dan melajukan motornya menuju rumah.


__ADS_2