Cinta Santri Dan Guru Sekolah

Cinta Santri Dan Guru Sekolah
Mencari Akrom (2)


__ADS_3

"sudah dua minggu ini nduk nggak mampir rumah, tapi memang sedikit sibuk di pondok sepertinya" bu Maftukhah memberi jawaban jujur atas pertanyaan yang di lontarkan oleh Cintya.


"oalah, iya bu" mendadak raut wajah Cintya berubah sedikit murung mendapat jawaban dari ibunya. dimana dia berharap akan menemukan rumahnya di rumah orang tuanya.


"kenapa nduk?" tanya bu Maftukhah penasaran dengan perubahan Cintya.


"nggak kenapa-napa bu" Cintya ragu untuk mengutarakan keadaan sebenarnya, dia takut akan membuat ibunya khawatir.


"kenapa kok kamu tiba-tiba berubah begitu? jujur sama ibu" bantah bu Maftukhah atas jawaban Cintya yang dirasa sedang menutupi sesuatu.


Cintya terdiam untuk sementara waktu, ia ragu untuk memulai memberikan jawaban. di liriknya wajah bu Maftukhah yang dimana didapatinya dengan sorot mata seperti sedang mengejar jawaban dari Cintya.


"maaf bu, kemarin lusa Akrom berkelahi di sekolah" ucap Cintya pelan dan ragu-ragu.


"sama siapa nduk? kok dia nggak bilang?" raut wajah yang selalu tenang menurut Cintya kini berubah menjadi sedikit lebih tegang, panik lebih tepatnya. ada rasa bersalah dihati Cintya sudah membuat seorang ibu menjadi sebegitu khawatir dengan anaknya.


"sama anak kelas dua bu, yang Tya tahu dia marah karena anak-anak kelas dua sedang membicarakan tubuh salah seorang guru di sekolah, lebih ke arah pelecehan sih pembicaraan mereka bu" Cintya menerangkan kejadian sesuai apa yang di ketahuinya.


"seharusnya cukup di beritahu saja. apa dia lupa kalau sudah kelas tiga? bisa kena masalah kan?" kesal bu Maftukhah dengan tingkah Akrom.


"biarkan saja, justru itu bisa menjadikan dia belajar dengan tanggung jawab. dan seperti apa menjadi lelaki" suara lelaki berbass terdengar menyela pembicaraan mereka berdua.


"ayah?" ucap Cintya dan bu Maftukhah bersamaan yang kaget dengan kehadiran pak Mahfud yang sepertinya sudah beberapa waktu disana menyimak pembicaraan mereka berdua.


"ayah percaya anak itu sudah memikirkan akibatnya, dan yang pasti dia juga sudah belajar bagaimana menjadi lelaki" lanjut pak Mahfud dengan nada mantab.


"dia sudah kelas tiga yah, bagaimana kalau dia tidak bisa mengikuti ujian?" tanya bu Maftukhah dengan wajah yang gelisah.


"ibu sudah tanya sama gurunya belum apa sanksinya?" tanya balik pak Mahfud menatap kearah Cintya.


Cintya yang seolah faham dengan pandangan pak Mahfud lantas memberi tahu apa sanksi yang diterima Akrom "Akrom kena sangsi skorsing tiga hari bu, pak. meskipun dalam penyelidikan di ketahui bahwa Akrom tidak bersalah. namun dia tetap kena sangsi karena memulai perkelahian"


"ibu sudah dengar kan? hanya tiga hari untuk sebuah pelajaran besar. apa itu tidak terlalu murah bu?" tanya pak Mahfud kepada istrinya. sementara Cintya hanya menyimak mencoba mengejar maksud dari ucapan ayah Akrom.


Bu Maftukhah terdiam menimbang-nimbang perkataan suaminya yang ia rasa benar adanya. tapi kekhawatiran seorang ibu masih saja bisa mengalahkan logikanya.

__ADS_1


"ayah percaya sama Akrom. dia tidak asal membela seseorang tanpa ada sesuatu" lanjut pak Mahfud yang kini disertai oleh senyuman yang menghiasi wajahnya.


"hah? maksud ayah?" tanya bu Maftukhah yang penasaran dengan ucapan yang di lontarkan oleh suaminya. begitu juga dengan Cintya yang mendongakan kepalanya meminta jawaban.


"nggak ada maksud, tanya Akrom saja" jawab pak Mahfud.


"sudah ah saya mau bersih-bersih badan" lanjut pak Mahfud lantas pergi menuju kamarnya meninggalkan dua wanita berbeda usia untuk tetap ditempatnya.


"lalu Akrom masuk sekolah lagi kapan nduk?" tanya bu Maftukhah untuk Cintya setelah suaminya terdengar sudah menutup pintu kamarnya.


"lusa bu, ini sudah hari kedua" jawab Cintya.


"kamu sekarang belum tahu dia dimana?" tanya bu Maftukhah lagi yang penasaran dengan penjelasan Akrom.


Cintya hanya menggelengkan kepala pelan, sembari menggigit bibir bawahnya. "ponselnya juga tidak aktif sejak kemarin setelah pulang sekolah bu"


"coba ibu telfon pihak pondok, mungkin dia ada disana" ujar bu Maftukhah mengambil ponselnya dan mencari kontak pondok pesantren tempat putranya menimba ilmu.


Sesaat kemudian sudah tersambung dengan pihak pondok pesantren untuk bu Maftukhah menanyakan santrinya yang bernama Akrom apa sedang di pondok.


"bagaimana bu?" tanya Cintya setelah bu Maftukhah menutup telfonnya.


Cintya yang mendapat jawaban itu lantas ikutan cemberut dengan sedikit gemas dengan tingkah Akrom yang tidak biasanya ia kenal.


Kekesalan Cintya sendiri lebih karena Akrom tidak berbicara apa-apa, setidaknya ia memberi tahu alasannya. Cintya juga mungkin bisa menerima argumen Akrom. namun ia malah pergi menghilang begitu saja.


Lama mereka berdua mencemaskan Akrom dan mencoba mencari dimana ia berada. dengan menghubungi teman-teman Akrom siapa saja yang mereka tahu dan punya kontaknya. namun hasilnya tetap nihil.


"bu, Tya pamit pulang dulu ya sudah sore. nanti Tya kalau sudah dapat kabar Akrom, Tya telfon ibu ya?" pamit Cintya saat hari sudah mulai senja.


"iya nduk, tolong ya? kamu hati-hati di jalan" jawab bu Maftukhah yang masih belum bisa menepikan kekhawatiran didalam hatinya.


"iya bu, Tya duluan. Assalamualaikum" ucap Cintya sembari mengecup punggung tangan ibunda Akrom.


"iya nduk, Waalaikumsalam" jawab bu Maftukhah, lalu melambaikan tangannya saat Cintya hendak keluar halaman rumahnya.

__ADS_1


Di tengah perjalanan, Cintya teringat salah seorang teman Akrom yang rupanya juga dekat dengan Akrom. Lantas ia berbelok arah dari rute menuju rumahnya menjadi rute menuju caffe Akrom dan bengkel milik bang Safi'i.


"Assalamualaikum" salam Cintya saat sudah berada di depan bengkel.


"waalaikumsalam. kenapa mbak motornya?" jawab seorang karyawan bengkel yang tengah berada di depan.


"oh nggak mas, saya bukan mau benerin motor. saya mau cari bang Syafi'i. adakah?" ujar Cintya mengutarakan maksud kedatangannya.


"oh, tunggu sebentar ya mbak?" jawabnya ramah lantas menuju kedalam bengkel mencarikan seseorang yang di maksud Cintya.


"itu bang orangnya" ujar karyawan tadi menunjuk ke arah Cintya yang tengah duduk.


"oh oke. makasih" jawab bang Syafi'i dilanjutkan dengan berjalan mendatangi tempat duduk Cintya.


"assalamualaikum bu guru" salam bang Syafi'i saat sudah berada dekat di depan Cintya.


"waalaikumsalam bang, maaf nih saya ganggu abang kerja" jawab Cintya.


"santai saja bu. ada apa nih? kok tumben kesini nggak sama Akrom?" ujar bang Syafi'i dengan nada santai.


"maaf bang, saya lagi nyariin Akrom. apa dia ada disini?" tanya Cintya langsung mengutarakan maksudnya datang.


"wah. kurang tahu ya bu? kemarin lusa sih saya dimintain tolong buat ambil vespanya di sekolah" bang Syafi'i menunjuk pada vespa yang terparkir rapi.


"kemarin siang saya chat, tanya kapan di ambil? takutnya kenapa-kenapa mau nawarin buat di anter ke rumah. tapi dia bilang biarin disini dulu, mau ada kesibukan selama tiga hari kedepan katanya" lanjut bang Syafi'i menceritakan percakapannya dengan Akrom sejak kemarin lusa.


"memang kesibukan apa bang?" Cintya mengernyitkan dahinya.


"wah kalau itu saya nggak tahu bu, nggak nanyain juga sih" sedikit tertawa nyengir bang Syafi'i menjawab.


"oh yasudah kalau begitu bang, kalau ketemu Akrom tolong dibilangin ya bang? di cariin saya sama ibunya" pinta Cintya.


"Insya'ALLOH akan saya sampaikan bu" bang Syafi'i menyanggupi permintaan itu.


"kalau begitu saya permisi dulu ya bang? Assalamualaikum" pamit Cintya.

__ADS_1


"waalaikumsalam" jawab bang Syafi'i yang heran dengan Akrom yang sampai di cari orang-orang. 'apa dia tidak pamit?' gumam hatinya.


Cintya tidak lantas pergi. namun ia menuju cafe milik Akrom dengan maksud menanyakan keberadaan Akrom. namun tetap saja hasilnya nihil. tidak ada yang tahu dimana Akrom.


__ADS_2