Cinta Santri Dan Guru Sekolah

Cinta Santri Dan Guru Sekolah
Niken


__ADS_3

"eh salah dengar kamu" elak Akrom menyembunyikan.


"enggak kok, aku dengar kalian ngomongin pacaran satu sekolah kok" bantah Niken.


"pasti kamu kan krom? soalnya tadi agus yang bilang gitu" tunjuk Niken ke arah Akrom.


"kalau iya, memang kenapa?" tanya balik Akrom.


"siapa Krom?" suara Niken menjadi lemah sedikit bergetar.


"tidak ada hubungan mestinya dengan kamu. dan jika nanti sudah tiba waktunya kamu akan tahu sendiri" Akrom dengan nada dingin menjawab Niken.


"setahun lebih aku nunggu kamu karena waktu itu kamu bilang belum ingin pacaran Krom, tapi kenapa kamu malah memilih orang lain?" dengan nada Meninggi namun bersuara lemah Niken meminta jawaban Akrom.


"aku tidak ingin pacaran bahkan sampai saat ini. aku mengkhitbah seorang gadis yang tadi kami bahas. jadi jangan salah sangka bahwa aku pacaran" ucap Akrom tanpa mempedulikan perasaan Niken. yang sontak saja pemberitahuan Akrom ini membuat Niken sangat kaget dan sakit hati.


"hah serius kau bro?" tanya Agus yang juga kaget di buatnya. Akrom hanya menjawabnya dengan anggukan serius.


"krom" panggil Niken yang serta merta berlari menahan tangisnya meninggalkan Akrom dan Agus.


Tak ia pedulikan teman-temannya yang memanggil, yang ia perlu hanya tempat yang tenang untuk menumpahkan segala rasa kecewanya, melampiaskan tangisnya yang sudah di rasa tidak lagi bisa di tahan.


Sesampai di toilet putri ia segera masuk dan tanpa sengaja menyenggol Cintya yang baru saja buang air kecil karena toilet ruang guru sedang penuh.


Cintya yang kaget di tubruk hanya bengong saja dan Niken langsung saja masuk kedalam toilet melepaskan tangis yang sejak tadi ia pendam.


"hey, kamu kenapa?" tanya intya dari luar pintu sambil mengetuk khawatir dengan salah satu siswinya itu.


tidak ada sahutan Cintya masih setia menunggu dan memanggilnya agar tidak terjadi hal yang tidak di inginkan.


Lama Cintya setia menunggu siswi yang di dalam toilet untuk keluar sambil berusaha mendorong pintunya agar kunci terbuka.


'Cklek' slot kunci pintu terbuka, buru-buru Cintya mendorong daun pintu toilet agar segera terbuka.

__ADS_1


"kamu kenapa?" Cintya menarik siswinya itu agar keluar dari dalam toilet.


"nggak kenapa-kenapa bu" jawab Niken berbohong.


"kalau nggak kenapa-kenapa kamu pasti tidak begini" bantah Cintya yang berusaha mencari tahu masalah Niken.


"masalah keluarga atau apa? kalau masalah keluarga ya saya tidak akan meneruskan bertanya" Lanjut Cintya saat Niken hanya diam saja.


"maaf bu, tidak ada apa-apa" jawab Niken mencoba menghindari pertanyaan bu Cintya.


"yasudah. kamu harus tenang. kalau perlu bertukar fikiran bilang sama saya" Cintya menawarkan diri pada Niken karena mereka cukup dekat, di luar sebagai guru dan murid.


"iya bu, terimakasih banyak. mungkin kalau nanti perlu sama ibu saya akan menghubungi" jawab niken berusaha tersenyum.


"baiklah, ibu tunggu. sekarang kita ke kelas dulu ya? nanti kita berbicara lagi" ajak Cintya menuntun Niken keluar dari toilet menuju kelas.


"baik bu" jawab Niken singkat lalu berjalan beriringan dengan Cintya menuju kelasnya.


Setelah bel pulang sekolah Cintya meninggalkan kelas melewati lorong untuk menuju ruang guru, saat asyik berjalan ia bertemu Niken yang tengah berdiri di depan kelasnya seperti sedang menunggu seesorang.


"kebetulan sedang tidak ada keperluan saya, ada apa?" tanya balik Cintya.


"saya mau curhat sesuatu" jawab Niken sedikit ragu dengan kepala tertunduk.


"ayo, dimana?" sahut Cintya menyanggupi ajakan Niken.


"di taman sekolah saja bu" tawar Niken.


"baiklah, tunggu sebentar ya saya mau ke ruang guru beres-beres dulu. nanti kamu saya susul kesana" Cintya meminta waktu untuk membereskan bawaannya agar bisa nanti langsung pulang.


"baik bu, saya duluan kesana" ucap Niken lirih.


"oke" balas Cintya meninggalkan Niken untuk menuju ruang guru.

__ADS_1


Cintya mendatangi taman sekolah setelah selesai merapikan buku yang sudah rapi di dalam tas yang kini tengah ia sampirkan di pundak. Di carinya Niken yang ternyata tengah duduk di bawah pohon yang cukup rindang, Cintya mendatanginya yang tengah duduk meringkuk dengan tatapan kosong.


"kamu kenapa Niken?" tanya Cintya ikut duduk di sebelah Niken.


"maaf bu, saya hanya perlu teman bertukar fikiran dengan orang yang lebih dewasa" jawab Niken membuka awal pembicaraan mereka.


"baik, saya siap mendengar dan bila bertukar fikiran denganmu" ujar Cintya serius.


"maaf bu, kalau cerita saya mungkin terlalu basic anak seumuranku" buka Niken.


"soal cinta?" tebak Cintya menerka arah pembicaraan mereka. Niken mengangguk pelan malu-malu membenarkan tebakan Cintya.


"baik, silahkan Nik" lanjut Cintya mempersilahkan Niken meneruskan ceritanya.


"bu, apakah salah jika berharap akan cinta yang mungkin belum nyata? hanya berpegang atas sebuah ungakapan 'aku belum ingin pacaran' untuk setia menunggu seseorang?" Niken langsung bertanya tho the point atas masalahnya, kepada seorang guru yang di anggapnya sudah seperti kakaknya karena mereka juga dekat di luar kelas semenjak Cintya mengajar di sekolah itu.


"mungkin cinta itu juga perlu realistis. hanya saja sepatutnya seseorang itu juga perlu melihat perjuanganmu setia menunggu meski belum ada kepastian" jawab Cintya mencoba berada di tengah atas masalah Niken.


"mungkin saya yang terlalu bodoh ya? telah salah berharap begitu PeDe'nya" Niken tersenyum kecut.


"pasti ada sesuatu yang membuatmu bertahan" bantah Cintya akan anggapan Niken.


"karena saya mengenalnya sebagai pribadi baik, aku tahu dia bukan orang yang suka mempermainkan perempuan, dia menghormati semua orang" jawab Niken.


"yang pasti bukan hanya itu alasan terkuatmu untuk bertahan" balas Cintya langsung seakan tahu ada sesuatu lain yang lebih besar hingga membuat muridnya itu sebegitu kuatnya bertahan menunggu seseorang.


Niken hanya terdiam, ia sedikit ragu untuk berterus terang alasan terbesarnya menanti cinta yang sudah ia pupuk begitu lama.


Cintya diam memandang Niken menunggu jawaban terus terang yang sangat ia yakini masih di sembunyikan olehnya.


"ibu benar. ada sesuatu yang lebih besar hingga membuatku bertahan sedemikian jauh. dia pernah bilang jika ia tidak ingin berpacaran, jika waktunya sudah tiba dia hanya ingin segera melamar dan menikahinya" jawab Niken panjang lebar berterus terang.


"lalu apa yang terjadi hingga kamu, Niken yang selama ini aku kenal gadis yang riang menjadi murung seperti tadi pagi?" tanya Cintya menyelidik.

__ADS_1


"dia bilang bahwa dia sudah mengkhitbah seseorang gadis. dan yang aku dengar saat ia bercakap dengan temannya bahwa perempuan itu juga ada di sekolah ini" balas Niken jujur.


Cintya sedikit kaget, ia teringat beberapa hari lalu Akrom sudah mengkhitbahnya meskipun Akrom masih sebagai pelajar. 'apa murid-murid disini suka mengkhitbah seorang gadis meskipun masih berstatus siswa?' gumamnya dalam hati.


__ADS_2