Cinta Santri Dan Guru Sekolah

Cinta Santri Dan Guru Sekolah
Niken (2)


__ADS_3

"kenapa bu? kok jadi bengong?" tanya Niken membuyarkan lamunan Cintya yang jadi bengong sendiri.


"Eh nggak kenapa-napa Nik, lanjutin deh ceritanya" jawab Cintya gugup.


"ya begitu bu, mungkin saya yang terlalu berharap dengannya karena dia berucap demikian. hingga saya menganggap bahwa maksudnya itu adalah saya" kembali senyum kecut menghiasi walah Niken.


"kalau saya boleh tahu, siapa cowok yang kamu maksud?" tanya Cintya penasaran.


"A-Akrom" jawab Niken singkat bersuara terbata-bata.


"hah? siapa?" tanya ulang Cintya berharap apa yang barusan ia dengar adalah kekeliruan.


"Akrom bu, anak DPIB" Niken lebih tegas.


"ibu tahu kan? kan ada ngisi pelajaran di kelasnya juga?" tanya balik Niken saat melihat Cintya hanya terdiam mendengar jawabannya.


"i-iya, saya tahu Nik. dia temannya Ridho juga, adikku" jawab Cintya menyembunyikan kegagapannya.


"lalu dia menjanjikan apa lagi sama kamu?" lanjut Cintya.


"enggak ada lagi sih bu." jawab Niken singkat.


"dia memberitahumu siapa perempuan yang sudah di khitbahnya?"


"enggak bu, hanya aku tahu perempuan itu juga ada di sekolah ini, dari percakapan Akrom dan Agus" balas Cintya yang terlihat begitu kecewa.


"semua yang sudah biarlah sudah, kamu harus tetap melangkah ke depan Nik" ujar Cintya yang tidak tahu harus berkata apa, dalam dirinya ada perasaan aneh dengan posisinya sekarang.


"tapi berat bagiku bu, dengan harapanku pada Akrom sudah membuatku berubah lebih dekat dengan agama karena aku tahu Akrom juga seorang santri. apakah aku harus tetap memperjuangkannya bu?" ucap Niken panjang lebar.


Ada rasa cemas, kekhawatiran, ketidaknyamanan juga kecemburuan yang beradu dalam benak Cintya. Ketika ia bertemu dengan perempuan yang begitu besar dampak hidupnya karena Akrom, dan ia juga menanyakan tentang memperjuangkan Akrom padanya. Terlebih mereka saling kenal dekat.


"tapi katamu Akrom sudah mengkhitbah perempuan lain?" tanya Cintya mencoba mencegah dengan cara halus.

__ADS_1


"tapi kan belum tunangan bu?" bantah Niken yang masih bersikukuh dengan keinginannya.


"sudah terlalu dalam saya menyukai Akrom bu" lanjut Niken dengan air mata sudah mulai mengembun lagi.


"kalau itu tekatmu ya terserah kamu, cuma kalau boleh saya beri saran, saya ingin mengingatkanmu bahwa kamu sudah pasti bisa memikirkan resikonya. apa kamu siap kalau kenyataan nantinya lebih menyakitkan dari ini?" jawab Cintya masih berusaha mencegah Niken.


"Insya'ALLOH saya ikhlas bu" jawab Niken mantab. Cintya yang mendapat jawaban itu sontak kaget. kembali perasaan yang campur aduk itu muncul dalam hatinya.


"silahkan" jawab Cintya singkat karena sudah tidak tahu lagi harus berkata apa.


"terimakasih banyak bu, saya sedikit lega karena sudah mengeluarkan fikiran saya yang membebani begitu berat" Niken tersenyum lega dengan perasaannya saat ini.


"sama-sama nik, yasudah ayo kita pulang. sekolah sudah sepi ini" ajak Cintya karena dirinya tidak nyaman dengan kondisi yang saat ini tengah ia hadapi.


"iya bu" jawab Niken yang kini mereka berdua sudah beranjak dari taman untuk meninggalkan sekolah menuju rumah masing-masing.


Sesampai rumah hati Cintya di selimuti kebimbangan dan kecemasan, kecemburuan serta kekecewaannya sudah mengecewakan hati seorang gadis, meskipun pada dasarnya ia tidak tahu.


Ia mencoba memejamkan matanya siang itu berharap segala yang terjadi sejenak pergi dari fikirannya karena terasa sudah sangat mengganggu.


"Krom keluar, aku di depan pondokmu" tulis pesan Cintya yang langsung ia kirim ke Akrom saat ia sudah berada di depan pagar sebuah pondok pesantren.


Beberapa waktu berselang seorang santri putra memakai kemeja putih bersarung serta songkok yang bertengger gagah di kepalanya keluar dari gerbang pondok pesantren. menengok kiri kanan mencari seseorang. setelahnya santri putra tersebut berjalan menghampiri Cintya yang masih duduk manis di atas motornya.


"ada apa mbak kesini?" tanya Akrom saat sudah berada di dekat Cintya.


"ada hal penting yang harus kita bicarakan" jawab Cintya tegas.


"mau cepet-cepet lamaran?" tebak Akrom sambil tersenyum sok manis.


"aku sedang tidak bercanda Krom" lagi-lagi dengan nada tegas Cintya menjawab kalimat Akrom.


Akrom yang mendapat perlakuan seperti itu dari Cintya menjadi kaget dan akhirnya melirik kesana-sini tempat sekitar untuk mencari yang sekiranya bisa mereka pakai untuk tempat berbicara.

__ADS_1


"tunggu disini sebentar" ucap Akrom singkat lalu langsung meninggalkan Cintya di depan pagar itu sendirian.


Tak lama setelahnya Akrom kembali lagi masih dengan pakaian dan atribut sama namun kini tak lagi berjala kaki, namun sudah di atas vespanya.


"ikut aku mbak" ajak Akrom berjalan dulu. lalu Cintya mengikutinya.


Setelah mereka masuk di sebuah cafe yang terletak tidak begitu jauh dari pondok pesanten Akrom memesankan makanan dan Cintya segera mencari tempat kosong untuk mereka duduk.


"ada apa mbak?" tanya Akrom yang sudah kembali dan duduk di kursi seberang Cintya.


"kamu menjanjikan sesuatu apa sama perempuan lain?" tanya balik Cintya to the point.


"aku tidak pernah dan tidak ingin berjanji pada siapapun" jawab Akrom jujur meski kini ia tengah berusaha meraba-raba arah percapakan Cintya.


"kenapa Niken sampai begitu kecewanya sama kamu?" tanya Cintya lebih gamblang.


"kamu tahu?" tanya balik Akrom yang kaget dengan pertanyaan Cintya.


"iya, kenapa? kaget kalau aku tahu?" tanya Cintya lagi dengan nada menantang.


"kenapa? bingung mau jelasin? atau banyak hal yang belum aku tahu?" lanjut Cintya dengan lirikan sinis.


"hmmm" Akrom menghembuskan nafasnya kasar.


"aku tidak tahu cerita apa saja yang sudah kamu dengar dari orang lain. tapi aku sendiri punya cerita menurut sudut pandangku" lanjut Akrom yang langsung berhenti disitu kalimatnya.


"kamu mau membela diri atau menjelaskan?" tanya Cintya masih dengan lirikan sinisnya.


"apakah semua laki-laki seperti ini Krom? jujur aku sudah muak dan berharap kamu tidak seperti yang lain, nyatanya aku yang terlalu berharap terlalu tinggi pada seorang pemuda" lanjut Cintya dengan suara parau menahan marah dan tangis bersamaan.


"sudah?" tanya Akrom singkat saat Cintya selesai bicara. dibalas dengan tatapan tajam Cintya yang sesaat lalu mengalihkan pandangan ke arah lain.


"entah kamu menyebutnya ini alibi, pembelaanku, atau apalah terserah. namun menurutku kamu juga perlu mendapat penjelasan dariku, bukan dari satu sisi. sekali lagi ini menurutku, kalau menurutmu tidak penting dan sudah yakin atas pemahamanmu dari satu sumber juga nggak apa-apa. itu hak kamu" sambung Akrom panjang lebar mencoba untuk tenang.

__ADS_1


"coba, aku mau dengar bagaimana seorang pemuda yang sudah sangat ku percaya ini menjelaskan versinya, apakah kamu sama dengan yang lainnya?" tantang Cintya.


__ADS_2