Cinta Santri Dan Guru Sekolah

Cinta Santri Dan Guru Sekolah
Berbincang Dengan Pak Mahfud.


__ADS_3

"nduk maaf. mungkin saya terlalu awal untuk menanyakan ini tapi ini bisa jadi penting" ucap pak Mahfud disela makan bersama.


Cintya mendongakkan kepalanya menerka pertanyaan seperti apa yang akan di lontarkan oleh ayah Akrom.


"gini nduk, saya belum tahu sejauh mana hubungan kalian. hanya saja saya ingin tahu sesuatu, sekali lagi maaf. dengan usia kamu dan hidup kamu yang sudah lumayan mapan, apakah kamu siap harus menunggu Akrom sekolah lagi dan melanjutkan cita-citanya sebelum akhirnya kalian membicarakan hubungan yang lebih serius?" tanya pak Mahfud dengan wajah serius namun dengan nada yang lembut agar tidak terkesan menghakimi.


"lah malah tanyanya gitu sih yah?" protes akrom menyadari Cintya hanya bengong kaget dengan pertanyaan ayahnya.


"ayah tanya Cintya krom. nyaut aja kamu ini" balas ayahnya.


"mmm, kalau saya tidak ada masalah dengan itu pak, saya sendiri juga masih menikmati karir saya mengajar. sembari saya menikmatinya Akrom juga sedang menikmati fasenya untuk mencapai cita-cita. saya rasa itu sudah impas" jawab Cintya sedikit terbata-bata.


"baiklah, saya hanya takut jika ada keterpaksaan salah satu dari kalian. tidak bisa di bayangkan tersiksanya kamu di usiamu sekarang harus menunggu lama sedang kamu sendiri mungkin menginginkan realisasi sebuah hubungan dalam segera"


"dan maaf, jika kamu memaksa Akrom untuk menunaikan segera, saya tidak ada masalah. hanya saja cita-cita Akrom akan sedikit banyak pasti berantakan. dan itu bisa jadi berpengaruh pada rumah tangga kalian nanti" lanjut pak Mahfud.


Bu maftukhah, Akrom dan Cintya menyimak dan mencerna baik-baik semua nasehat dari pak Mahfud yang di rasa ada benarnya.


"saya tidak akan melarang ataupun ikut campur urusan kalian. saya hanya bisa mendukung. apapun keputusan kalian" ucap pak Mahfud dengan senyum ikhlasnya yang terpancar untuk tiga orang di depannya.


"terimakasih banyak atas pengertiannya pak. Insya'ALLOH saya akan sabar. menunggu beberapa tahun itu masih bisa saya bayangkan. daripada harus menanggung bertahun-tahun lebih lama dengan kondisi Akrom yang terpaksa tidak mencapai cita-citanya karena keegoisan saya" jawab Cintya panjang lebar dengan wajah seriusnya.


"saya banyak mengucapkan terimakasih sama kamu nduk, eh maaf Bu guru. sudah pengertian atas anak saya" pak Mahfud kini sudah lebih tenang nada dan wajahnya. tidak seserius beberapa menit sebelumnya.


"sama-sama pak, saya senang bisa bertemu dengan orang tua yang bijaksana seperti bapak dan ibu" balas Cintya.


"ingat krom, orang tua. anaknya enggak lo, jangan Ge'er kamu" ledek Bu maftukhah memecah suasana tegang menjadi lebih cair lagi.


"ya kalau muji anaknya nggak di depan orang tuanya dong Bu" balas Akrom meledek membuat Cintya salah tingkah.

__ADS_1


"waduh, iya juga sih. kita aja yang nggak tahu Bu" celetuk pak Mahfud.


"mulai lagi deh" gerutu Akrom.


"iya deh. ibu serius krom. kamu dengar sendiri kan kesediaan Cintya? secara tidak langsung kamu punya tanggung jawab baru, tanggung jawab memenuhi kesabaran Cintya, menjaga kepercayaannya, dan harusnya kamu memberi reward atas kesediaannya demi kamu" tutur Bu maftukhah kepada putranya.


"ingat krom, tidak banyak orang bersedia untuk itu. sekalinya ada yang bersedia, kamu harus memberi reward atas ketersediaannya. meskipun kamu masih muda, kamu harus belajar untuk bertanggung jawab. cinta bukan sekedar urusan pacaran" sambung Bu maftukhah panjang lebar.


"iya bu, Insya'ALLOH Akrom amanah" jawab Akrom singkat.


"syukurlah. oh iya rumah kamu mana nduk?" tanya pak mahfud.


"ayah belum tahu ya? Bu Cintya ini kakaknya ridho, teman Akrom itu yah" sela Bu maftukhah.


"loh iya kah? wah bisa-bisa Akrom jadi kakak dari temannya sendiri dong?" ledek pak Mahfud.


"sudah berfikir kesitu juga kan? gitu pakai gaya nggak mikirin dulu" ledek pak Mahfud membuat Akrom salah tingkah.


"nduk Cintya nanti kalau Akrom sudah berangkat, kamu tetep sering-sering main kesini ya? temenin ibu itu, kasihan kesepian nanti pastinya" pinta pak Mahfud.


"insya'ALLOH pak" jawab Cintya singkat.


"iya nduk, kamu main kesini ya besok-besok? nggak usah sungkan" sambung Bu maftukhah mengajak Cintya.


"iya Bu, insya'ALLOH Cintya akan sering main kesini" jawab Cintya ramah.


Sungguh Cintya dalam hati mengakui bahwa ia nyaman dengan keluarga Akrom, mereka ramah. bisa menempatkan suatu yang serius dalam keadaan yang tidak mengintimidasi, lebih mengarahkan ke suasana agar fikiran bisa lebih nyaman untuk berfikir.


"ayah duluan ya Bu? soalnya tadi ada kabar mau ada meeting mendadak" pamit pak Mahfud setelah selesai makan siangnya.

__ADS_1


"iya yah, hati-hati ya?" jawab Bu maftukhah mencium punggung tangan suaminya itu.


"ayah duluan krom, nduk kamu santai aja disini ya? saya duluan" kini pak Mahfud berbicara mengarah kepada Akrom dan Cintya bergantian.


"iya yah, nanti Akrom juga ke pondok lagi" ucap Akrom yang juga mencium tangan ayahnya.


"iya pak, hati-hati di jalan" kini giliran cintya yang mencium tangan pak Mahfud.


"yasudah saya duluan ya? Assalamualaikum" salam pak Mahfud meninggalkan meja makan dan di antar oleh Bu maftukhah hingga teras rumah.


"iya yah, wa'alaikumsalam" jawab Akrom dan Cintya bersamaan.


Kini tinggal Cintya dan Akrom berdua di meja makan, tempat duduk mereka berseberangan. saling melirik mata mereka menyadari Bu maftukhah mungkin sedikit lama di depan sedang mengobrol dengan suaminya.


"krom, makasih ya?" ucap Cintya dengan senyum manjanya.


"makasih? makasih buat apa?" tanya Akrom penasaran.


"buat kadonya" jawab Cintya mengangkat tasnya menunjukan bahwa kotak pemberian Akrom sudah berada di dalamnya.


Akrom tersenyum senang melihat Cintya yang juga senang atas pemberiannya. meskipun dia yakin Cintya belum melihatnya.


"maaf ya mbak? aku mungkin tidak bisa secara romantis untuk memberikan itu. namun intinya aku ingin memberi apa yang sekiranya ingin kuberi" ucap Akrom serius.


"krom, asal kamu tahu. caramu memberi hadiah ini, dan entah apapun itu isinya. itu cara yang termanis yang pernah aku dapat" ujar Cintya lembut.


"kamu tahu? aku mengetahui hadiah ini untukku saat aku akan mengambil sajadah. dan dalam sujudku ribuan syukur aku ucapkan sama ALLOH sudah ngenalin aku ke kamu" sambung Cintya panjang lebar dengan kalimat yang sedikit banyak tanpa ia sadari meluncur dengan sendirinya dari bibir yang manis itu.


Akrom yang mendengar pengakuan itu lagi-lagi dibuat senang. dimana ia mendapati Cintya lebih bisa memahami caranya mencintai Cintya dan mencari-cari hal positif dari pola fikir Akrom yang dirasa oleh dirinya sendiri adalah pola fikir yang kaku.

__ADS_1


__ADS_2