Cinta Santri Dan Guru Sekolah

Cinta Santri Dan Guru Sekolah
Terbang


__ADS_3

Saat sampai rumah, Cintya melempar tasnya sembarangan. Hatinya tengah kesal dan capek dengan kebencian dan cemburunya yang mendalam. Kecewa menguasai dirinya.


"si*lan, mengapa semua cowok gitu sih?" umpat Cintya mengacak rambutnya yang sudah terbebas dari jilbabnya.


Ia mengingat siang yang mendung ketika dirinya kesal dibuat menunggu tanpa kabar dan kepastian, dan gerimis kemudian disaksikannya seorang yang membuatnya kesal sedang asyik bercengkrama dengan orang lain dan menikmati sebatang yang ia benci.


"dasar si*lan" kembali umpatan itu meluncur dari mulutnya mengingat kejadian siang itu.


'tok tok' suara ketukan pintu kamarnya mendadak memaksa ia untuk berhenti meluapkan kekesalan waktu ini.


"kamu sudah pulang nduk?" tanya bu Wiwid setelah Cintya membukakan pintu.


"sudah bu, baru masuk" jawab Cintya yang tidak dapat menyembunyikan kekusutan di wajahnya.


"kok cemberut gitu nduk? Kenapa?" tanya bu Wiwid mengelus rambut panjang putrinya itu.


"nggak kenapa-napa bu" balas Cintya meninggalkan ibunya yang masih berdiri di pintu untuk kembali duduk di ranjang kamarnya.


"kalau enggak kenapa-napa mana mungkin cemberut gini?" tanya bu Wiwid lagi penuh selidik.


"ada masalah di sekolah nduk?" lanjut bu Wiwid menebak apa yang tengah menimpa Cintya.


"enggak bu" jawab Cintya lalu menyenderkan kepalanya dalam pelukan ibunya yang telah duduk di sampingnya.


"Akrom?" tebak bu Wiwid lagi dengan rasa penasaran.


Sedang Cintya hanya diam tidak menjawab, hanya suara tangis yang samar seolah menjadi sebuah jawaban pembenaran dari tebakan ibunya.


"Akrom kenapa?" sembari mengelus rambut Cintya kembali untuk lebih tenang bercerita.


"aku benci Akrom bu" jawab Cintya dengan suara serak mengiringi tangis yang semakin leluasa ia luapkan.


"kamu benci kenapa nduk?" tanya bu Wiwid setelah beberapa saat memeluk Cintya agar ia lebih tenang lagi.


"Cintya lihat Akrom sedang nongkrong di warung dengan perempuan, di hari terakhir Cintya mengawasi ujian. Dan Akrom tidak menjemputku setelah aku tunggu lama" Cintya menceritakan semua dengan lega.


"kamu sudah tanya ke Akrom?" tanya bu Wiwid lagi dengan hati-hati.


"untuk apa? Aku lihat sendiri bu. Aku benci anak itu" ujar Cintya memaki Akrom.


"menurut ibu, sebaiknya semua masalah itu di bicarakan baik-baik nak. Bukan langsung memutuskan dari satu sisi" nasihat bu Wiwid.

__ADS_1


"tapi Cintya kecewa bu, Cintya benci untuk sekedar melihatnya saja" tolak Cintya yang sudah dikuasai hatinya oleh kecewa dan kebencian pada Akrom.


Bu Wiwid menghela nafas dalam-dalam, ia tidak bisa memaksa putrinya untuk menerima nasihatnya dimana hatinya telah di penuhi oleh amarah dan kekecewaan.


"yasudah, jangan marah-marah terus, kamu makan siang dulu. Biar nggak jadi sakit karena banyak fikiran" bu Wiwid mengalihkan pembahasan agar Cintya tidak terlalu larut dalam kekalutan hatinya.


"iya bu, nanti Cintya makan" jawab Cintya malas dan meneruskan menikmati dirinya dalam pelukan ibundanya yang membuatnya sangat tenang.


 


Deru mesin mobil berakhir pada sebuah parkiran bandara yang berada di perbatasan Surabaya dan Sidoarjo, Setelah beberapa jam menggaung memaksa roda berputar menyusuri aspal jalanan dan meninggalkan kenangan.


"kamu selalu beri kabar rumah ya Krom?" ujar bu Maftukhah sembari memeluk anak semata wayang menyiratkan berat untuk membiarkannya pergi.


"iya bu, segera Akrom hubungi rumah ketika sudah sampai" balasnya.


"jaga diri baik-baik. Jalani semua tugasmu dengan baik" pesan pak Mahfud mengusap pundak putranya dengan bangga.


"iya yah. Mohon do'anya" balas Akrom memandang ayahnya.


"iya nak, dengan atau tanpa di minta ayah sama ibumu selalu mendoakan yang terbaik untukmu" jawab pak Mahfud.


Setelah selesai drama berpamitan antara seorang bocah pengembara dan kedua orang tua, Segera segala bawaan penunjang di persiapkan untuk ia bawa.


"baik yah" jawaban singkat Akrom yang di landasi oleh rasa heran mengapa ayahnya memesankan hal itu, sedang sama sekali ia tak pernah menceritakan kondisi percintaannya saat ini dengan Cintya.


Detik dan menit bergulir mengikuti aliran waktu yang konstan melangkah. tak peduli sekeras apapun insan memelas untuk menjeda. Ia tetap angkuh.


Segala urusan boarding dan segala prosedur sebelum terbang rampung ia jalani, dan menunggu jadwal terbang adalah dimana sebuah kecemasan muncul menyertai harapan.


Dimana ia berharap sebuah keajaiban akan Cintya yang datang mengejarnya disaat terakhir ia berada disana, sekedar untuk ia bisa meminta maaf langsung dan menjelaskan kejadian hari itu. Meskipun pada akhirnya ia tetap harus pergi. Setidaknya tidak ada amarah mengiringinya.


"ah, sepertinya itu hanya sebuah film. Dan nyatanya ini ceritaku, bukan skenario sutradara" gumam lirih Akrom menyadari kebodohannya untuk berharap seperti cerita film.


Jenuh menghinggapi seorang anak lelaki yang sendirian menunggu waktu dimana ia benar-benar pergi jauh.


"berulang kali aku meminta maaf padamu, dan jika itu pilihanmu untuk tidak memberiku ruang berbicara. Aku akan pergi" begitu isi pesan Akrom yang ia ketik untuk dikirimkan ke Cintya. Pesan yang ia kirimkan terakhir untuknya sebelum meninggalkan tanah dan cerita.


Beberapa menit masih tanpa ada jawaban, meskipun berulang pesannya sudah dibaca oleh si penerima. Pasrah hatinya atas pilihan Cintya untuk tidak memberikannya kesempatan dan pilihannya untuk meminta Akrom pergi.


Terdengar panggilan untuk penumpang dengan tujuan menuju Mesir agar segera bersiap memasuki pesawat, dimana perjalanan akan dimulai.

__ADS_1


Berulang kali Akrom menoleh kebelakang dengan dirinya penuh harap datang keajaiban untuk bertemu Cintya terakhir kali. Namun semua pandangannya sia-sia, dimana tidak pernah ia temukan Cintya disana.


"semoga kamu bahagia" ujar Akrom lirih berbisik meratapi kekecewaan hati.


Melangkah gontai ia menuju pesawat, setiap langkah adalah setiap perkuatan yang ia ramu sendiri untuk lebih tegar rindu itu ia lalui.


Lalu pesawat itu benar-benar terbang ke angkasa membubung-tinggikan hati seorang penumpang untuk lebih ihklas melalui masa baru dalam ceritanya.


Terbang


sulam rona memerah


dari jendela awan meremah


hayal dan sesal masih basah


terhunus lapisan lekatnya amarah


andai dalam hatimu ada setitik ruang


untukku meluap segala terang


kupersembahkan jujurku ku luang


tanpa setitikpun ku buang


kau sudah pergi


dan kebencianmu terlalu tinggi


entah seperti apa ku gapai elegi


dan kau, masih angkuh berlari


bagimu aku seorang ******


karenamu sesalku meradang


dan karenamu juga aku akan hilang


Mengutuk dalam awan melayang

__ADS_1


Sebuah tulisan yang mendadak ia ingin tulis, sekedar meringankan segala hal yang membuatkan kalut. Kemudian ia foto untuk ia simpan. Dengan maksud hati untuk ia unggah di akun media sosialnya ketika nanti sinyal bisa ia gunakan selepas perjalanan.


__ADS_2