
Meninggalkan rindu yang terjarak oleh udara bukanlah sebuah perkara mudah. Setiap desiran angin meniupkan sayup-sayup sebuah nama. Dan entah berapa malam ia akan mengutuk kecerobohannya dikala itu.
Hari berganti dan terus bergulir, menyisakan rindu dan pilu menyatu. Sejenak ia dipaksa oleh semesta untuk mengenyampingkan segala rasa.
Akrom bendiri pada sebuah bangunan kampus, menyiapkan batinnya untuk segera usai menuntaskan segalanya dan pulang untuk menjemput sesuatu yang harus ia letakan terlebih dahulu.
Melangkah masuk adalah sebuah kesanggupan untuk sejenak menepikan semua urusan cinta. 'jangan menyakiti cinta' adalah wejangan dari ayahnya yang ia jadikan sebuah pegangan.
Ia harus menyelesaikan semua urusannya negeri orang sebaik dan secepat mungkin, entah pada akhirnya ia akan menemui Cintya seperti apa akhirnya setidaknya tidak dengan dua langka besarnya tidak menjadi sia-sia.
-----
Hari semakin mengalun menjauh, mengubur setiap cerita pelan mengayun melebur.
“Si*l, kenapa aku jadi tersiksa begini?” Gerutu Cintya ketika perlahan rasa kecewa dan amarahnya susut, namun masih ia enggan untuk mulai berbicara.
Berbagai kerinduan berangsur datang menghampiri, menggeser amarah untuk menepi menciptakan sesal dan sepi.
“Kenapa kamu nduk? Kok murung begitu?” Tanya bu Wiwid melihat Cintya berdiam diri di depan TV.
“Enggak kenapa-napa bu” jawab Cintya berusaha menyembunyikan kegelisahannya.
“Karena Akrom ya?” lagi-lagi tebakan ibunda menemui sasaran dengan tepat. Namun masih saja ia enggan untuk mengakuinya.
“Pertengkaran cinta remaja bukan hal yang aneh nduk, dan saling berterus terang juga berbicara jujur adalah jalan untuk memperbaiki kembali” tutur bu Wiwid sembari mengusap rambut lembut Cintya.
“apa Akrom akan memaafkanku bu? Sedang aku sudah menghukumnya seperti tanpa mau tahu bagaimana kejadiannya” tanya Cintya bimbang untuk menerapkan nasehat ibunya.
“dengan apa kamu bisa menjawab dia memaafkan atau tidak sedangkan kamu belum mau berbicara?” tanya balik bu Wiwid mematahkan argumen keraguan Cintya.
“Cintya takut dia terlanjur kecewa dan marah bu” masih menjadi keraguan yang menyelimuti diri Cintya.
“kalau itu terserah kamu nduk, kamu akan melangkah seperti apa. Itu masalah hatimu dan Akrom” ucap bu Wiwid tidak ingin memaksakan nasehatnya untuk segera di laksanakan oleh Cintya.
“iya bu, terimakasih” balas Cintya.
__ADS_1
Tentu saja bu Wiwid tidak ingin terlalu memaksa atau ikut campur lebih jauh tentang hubungan keduanya. Dan pembicaraan malam itu tentang cinta Cintya berakhir.
----
Tepat di hari ini semua siswa kelas tiga tengah menghadapi hari keputusan kelulusan, menjadi tangis atau bahagia adalah sebuah kecemasan yang melanda.
Begitupun juga Cintya, bukan karena soal kelulusan adiknya atau temannya. Karena ia sudah mendapat bocoran bahwa siswa disekolahnya lulus 100%, Namun kecemasannya lebih ketika pertemuannya kembali dengan Akrom seusai waktu dimana ia menghindari Akrom dengan angkuhnya saat ia datang ke sekolah beberapa minggu lalu.
Sedang rasa rindu dan sesal sudah kian membuncah menggusur setiap rasa emosi yang masih terkadang muncul kala teringat waktu itu.
Cintya mulai menata hatinya untuk disiapkan menemui dan memperbaiki kesalahannya yang terlalu egois menghakimi sendiri.
“eh Agus, bentar Gus” teriak Cintya memanggil Agus teman sekelas adiknya yang tengah lewat di depan ruang guru.
“eh iya bu, ada apa ya?” jawab Agus sopan ketika sudah berjalan mendekat.
“eee, kamu lihat Akrom nggak?” tanya Cintya ragu-ragu.
“sejauh ini sih belum bu, saya dari pagi juga di kelas tapi belum ketemu sama Akrom” balas Agus dengan jujur.
“mungkin berangkat belakangan bu, nanti kalau ketemu aku sampaikan sama Akrom bu” tawar Agus melihat raut kekecewaan dari gurunya itu.
“eh nggak usah Gus makasih, nanti aja aku kirim pesan sama dia” hindar Cintya yang mungkin masih menyimpan rasa gengsi untuk mencari.
“oh baik bu, saya permisi duluan bu” pamit Agus untuk kembali berkumpul dengan teman-temannya.
“iya Gus, makasih banyak ya?” jawab Cintya dan berlalunya Agus dari depan ruang guru.
Menunggu berjam-jam dengan kecemasan yang masih sama sejak ia hadir mulai pagi, dan kecemasan itu terus terjaga tatkala sesuatu yang di cemaskan tidak kunjung menjelang dan mengkaburkan sesak di dada Cintya.
Bahkan hingga siang menjelang, semua siswa kelas tiga sudah berlalu dari sekolah untuk merayakan kelulusan mereka dengan cara mereka setelah semua bersalaman dengan semua guru sebagai tanda bakti dan terimakasih. Masih Cintya belum melihat Akrom ada di antara mereka.
Guguran dedaunan dari pohon di halaman sekolah seakan mengkaburkan harap, dan kecemasan yang sedari pagi terpelihara masih utuh, serta kini semakin meninggi menunggui kecemasan yang tak jua bersua.
“kamu masih kecewa denganku Krom?” bisik lirih Cintya memandangi halaman sekolah yang telah sepi dari dalam ruangnya.
__ADS_1
“sampai kamu sediam ini? Sengajakah kamu menghindar Krom?” tak terasa air mata menemani setiap lirih bisikan itu.
“maaf” Cintya menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya tidak ingin tangisnya diketahui orang.
Sepi, ia susuri setiap lorong kelas dan setiap sudutnya. Dan Adzan Dzuhur berkumandang ia berhenti didepan mushola. Tempatnya jatuh cinta untuk kesekian kali dengan pemuda yang rela berbasah menerjang hujan demi menjaganya dari kejauhan.
Ia lihat tiap sudut anak tangga serambi mushola, berharap ada sepasang sepatu milik Akrom yang tengah terparkir disana layaknya hujan kala itu. Namun harapannya hanya harapan, nyatanya harapannya tidak bersahut oleh kenyataan.
Setiap sudut bangunan sekolah adalah ukiran kisah manis yang menjadi latar semua cerita cinta Cintya dan Akrom.
Cintya berjalan ke kantin yang sudah sepi dari para siswa, tersisa penjual yang tengah membereskan dagangannya untuk dibawa pulang.
Hampir setiap dikantin itu pernah mereka tempati untuk bertemu ‘pacaran’ secara diam-diam.
“Krom, maaf. Aku kangen kamu” lirih bisik Cintya yang tak kuasa memahan rindunya.
Melamun cukup lama Cintya mengingat-ingat semua ingatan tentang sekolah dan hari-harinya yang selalu ditemani oleh kisah dengan Akrom.
Dengan segala pergulatan dalam dirinya, Cintya pun memberanikan diri untuk berkirim pesan pada Akrom, tak lagi peduli dengan gengsi dan ego. Ia hanya ingin tidak untuk menyesal telah menjatuhkan vonis sepihak untuk Akrom.
“Assalamualaikum. Kamu dimana?” isi pesan Cintya yang dikirim ke Akrom.
Lama menunggu balasan pesan Akrom, kembali Cintya tenggelam dalam lamunan tentang memory kisah cintanya.
Lama juga tidak ada jawaban. Semakin gusar pula hati Cintya dengan segala fikirannya tentang ujung cerita cintanya kini.
Sepi lingkungan sekolah semakin sunyi tatkala mendung segera menyusuri langit, tersisa pendaran sinar matahari dari celahnya menerpa yang ada di bumi, guguran dedaunan seakan menyambut datangnya rintik hujan yang mulai turun.
Dan pulang dengan segala kegundahannya adalah alur ceritanya yang tengah ia jalani, dan menikmatinya dengan air mata yang terkabur oleh basah hujan.
__ADS_1