
"udah sore nih. aku pulang dulu ya gaes?" ucap Cintya melihat jam tangannya.
"lah kok buru-buru? masih kangen tau" cegah Dinda.
"kapan-kapan lagi di sambung, lagian aku besok juga ngajar. Akrom juga musti sekolah juga" jawab Cintya mengenakan jaketnya.
"hah, masih sekolah?" tanya Rika dengan mimik wajah yang kaget.
"iya, dia muridku di sekolah" balas Cintya tersenyum.
"eh buset deh. bisa-bisanya guru cantik satu ini jadiannya sama murid sendiri?" celetuk Dinda heran.
"biarin wleeek, kapan-kapan deh di sambung ya?" Cintya menjulurkan lidahnya.
"iih dasar. janji ya kamu punya hutang cerita sama kami Lo Tya" balas Rika.
"iya Rika sayang, kapan-kapan main donk kerumahku?" rengek Cintya.
"iya deh. nunggu tugas kuliah senggang dulu ya?"
"oke, ditunggu. awas kalau nggak main!"
"iya, aku ikut anak-anak pokoknya" jawab nindi.
"yasudah, aku pamit dulu ya?" pamit Cintya mencium pipi kanan kiri ketiga temannya.
"iya hati-hati ya? salam sama orang rumah" jawab Dinda.
"iya. assalamualaikum"
"wa'alaikumsalam. hati-hati" jawab mereka.
Akrom hanya mengagungkan kepala dan senyum sebagai bentuk salam. tanpa menyalami ketiga teman Cintya.
"kemana lagi mbak?" tanya Akrom setelah mereka keluar dari area kost lama Cintya.
"mmm, lewat kampusku dulu yuk?" rengek Cintya.
"oke siap" jawab Akrom melajukan motornya.
Tak lama mereka sampai area kampus, setelah puas mengitari area kampus tersebut. Cintya mengajak berhenti sejenak di taman kampus.
"dulu kami sering kalau lagi suntuk main kesini krom, tempatnya enak kan?" kata Cintya memandangi kolam yang ada di taman kampus.
"iya mbak, sering kesini juga sama Rizky?" tanya Akrom dengan nada dinginnya. sontak Cintya langsung menolehkan wajahnya kearah Akrom yang berdiri di sebelahnya.
"pernah sih beberapa kali" jawabnya takut-takut.
"asyik ya? kalau lagi kesini sama cowok?"
Cintya yang heran dengan pertanyaan Akrom hanya memandangi raut wajahnya yang sulit di artikan.
"kamu cemburu?" tanya Cintya yang tidak dijawab oleh Akrom.
"kalau kamu tanya asyik ya kalau kesini sama cowok, aku jawab iya, karena saat ini aku sedang menikmati tempat ini dengan cowok yang bisa membuatku nyaman" lanjut Cintya dengan pandangan lurus kearah kolam.
Akrom tidak bergeming, masih berdiri di sebelah Cintya sambil tangan dimasukan saku jaket dengan pandangannya kearah kolam.
"dan nggak nyangkanya, cowok yang sekarang menemaniku menikmati tempat ini adalah muridku sendiri" Cintya menolehkan wajah kearah Akrom menunggu bagaimana reaksinya.
"nyesel kalau kesininya sama muridmu?" tanya Akrom.
"nggak, malah aku seneng banget" ucap Cintya sambil tersenyum manja.
__ADS_1
"hmmm" hanya itu suara yang di keluarkan Akrom untuk menjawab Cintya.
"ish nyebelin. udah berusaha manis-manis jawabannya cuma gitu doang?" gerutu Cintya sebal.
"ketika kamu bilang seperti itu. ada beban yang menimpaku mbak. satu aku harus terus menjagamu, aku harus membuatmu bahagia, dan tentunya semua harus aku lakukan di tengah keterbatasanku mbak" ucap Akrom dengan sorot mata seakan sedang menerawang jauh ke depan.
"maksud kamu dengan keterbatasan apa?" tanya Cintya dengan tatapan heran.
"mbak, kita belum muhrim. jelas saja aku tidak bisa sepenuhnya menjagamu sebagaimana mestinya, menjagamu seperti seharusnya. aku masih sebagai anak sekolah dan kamu adalah guruku" ucap Akrom terdengar sedikit bergetar suaranya.
Cintya terperanjat kaget dengan penuturan Akrom yang jauh di atas ekspektasinya dengan lelaki seumuran Akrom.
"krom, aku sudah bahagia dengan yang kita jalani sekarang, dan kejadian di mall tadi, sudah membuatku tenang bahwa kamu bisa menjagaku dengan caramu" ucap Cintya di iringi air mata yang menetes di pipinya.
Tanpa menjawab ucapan Cintya, Akrom hanya memberikan kain slayer dari jaketnya "ini belum aku pakai, masih bersih. jangan nangis lagi"
Cintya segera meraih kain itu dan di dibenamkan wajahnya pada kain pemberian dari Akrom. terdengar ia makin menangis tersendu-sendu.
"maaf mbak, kalau ucapanku tadi membuatmu kecewa" ucap Akrom lirih.
Cintya segera menyeka air mata yang membasahi pipinya. "aku menangis bukan karena kecewa. aku bersyukur di pertemukan denganmu, laki-laki yang menjagaku dengan agamanya, yang selalu berusaha membuatku nyaman dengan segala keterbatasannya. makasih krom" suara Cintya serah dengan tangisnya.
Akrom hanya tersenyum dengan pengakuan Cintya, setidaknya ia tenang tidak ada tuntutan harus ini itu dari Cintya.
"udah sore mbak. ayo pulang?" ajak Akrom.
Cintya hanya menganggukan kepalanya sebagai tanda setuju.
Sepanjang jalan mereka berdua diam tanpa ada kata terucap. ingin rasanya dalam hati Cintya untuk memeluk tubuh lelaki yang sedang ada di depannya. namun ditahannya untuk menghormati cara Akrom mencintainya.
"krom kamu lupa ya?" tanya Cintya membuka percakapan.
"apa mbak?" akrom balik bertanya heran.
"apa?"
"aku kan pernah minta kalau kita berdua aja panggilnya jangan mbak?"
"eh iya, maaf lupa sayang" balas Akrom sambil tertawa lirih.
"dih kok jadi bokis gitu sih?" jawab Cintya malu-malu.
"lah. gimana? salah lagi?" lanjut Akrom menggoda Cintya.
"tuh, pipi tembemnya kok jadi merah gitu?" lanjutnya.
"hah? enggak ih" gerutu Cintya.
"kelihatan kali Tya" ucap Akrom menunjuk spion sebelah kanan motornya.
Cintya yang melihat itu menjadi makin tersipu. dan memalingkan wajahnya kearah kiri.
"pindah ke kiri juga kelihatan Tya" kembali Akrom menggodanya.
"iiish Akrom, rese ya jadi bocah." kesal Cintya dengan wajah memerah yang kini ia benamkan di punggung akrom.
"udah terlanjur kelihatan. sok-sokan malu segala"
"awas ya kamu krom, ngeselin banget jadi orang" gerutu Cintya dengan suara manjanya.
"tadi mah di baik-baikin akunya, sekarang bilang ngeselin, emang gitu ya cewek itu suka naik turun?"
"kan aku sendiri juga udah bilang? kalo kamu kaya punya dua kepribadian. kadang manis kadang ngeselin kaya gini ini" balas Cintya.
__ADS_1
"iya iya bawel. kalau aku kurang bener tolong ingatkan ya?" ucap Akrom masih konsen mengendarai kuda besinya.
"aku juga ya krom? katamu tadi mau menjagaku?" tagih Cintya.
"iya iya Bu guru bawel" jawab Akrom.
"bagus siswa ngeselin" balas Cintya.
Saat mereka asyik menikmati perjalanan pulang, tiba-tiba Vespa Akrom terasa ada yang aneh di mesinnya. Lalu mesinnya mati dan ia tepikan di pinggir jalan.
"kenapa krom?"
"nggak tau nih, sebentar ya aku cek dulu?" balas Akrom yang tengah menurunkan standart motornya.
Ia membuka tutup mesinnya, dan mengecek masalahnya.
"waduh, CDI mesinku rusak nih" ucap Akrom lalu berdiri menoleh kearah kanan kiri mencari-cari sesuatu.
"trus gimana dong? nggak bisa di benerin krom?" khawatir Cintya.
"nggak bisa kalau ini, harus ganti" jawabnya sambil melirik jamnya.
"udah sore juga, masih ada bengkel buka nggak ya?" lanjutnya.
"duh gimana donk krom?"
"sebentar ya? coba aku akali" lalu ia membuka perangkat sambungan CDI.
Saat sedang membenahi mesinnya di temani Cintya yang jongkok di samping Akrom. Datang pengendara Vespa yang kebetulan lewat dan berhenti menghampiri.
""kenapa bang?" tanya si pengendara itu.
"CDI saya mati bang, tau bengkel masih buka nggak ya?" jawab Akrom dengan balik bertanya.
"kalau jam segini udah pada tutup sih bang. tapi saya ada nih CDI baru buat serepan" jawab pengendara itu sambil membuka bagasi mengambil barang yang dimaksud.
"ini bang pakai aja" sambil menyerahkan kotak berwarna hitam.
"waduh jadi ngrepoti bang"
"santai aja bang. kaya biasanya aja gimana sesama pevespa gimana?" jawabnya sambil tertawa ringan.
Lalu Akrom memasang CDI pemberian orang tersebut, setelah selesai langsung dicobanya dan benar saja, Vespa langsung menyala dengan mudah.
"makasih ya bang?" ucap Akrom sambil menyelipkan dua lembar uang seratus ribu di tangannya sambil bersalaman.
"nggak usah bang, pakai aja" tolak orang tersebut.
"sampean beli CDI juga pakai duit bang" paksa Akrom.
"nggak usah bang. kita orang Vespa udah biasa gini kan?" jawabnya tetap kekeh menolak.
"yaudah bang. makasih banyak ya?" Akrom menyerah untuk memaksa pevespa itu untuk menerima uang.
"sama-sama bang, santai aja" jawabnya.
Mereka ngobrol sebentar sambil istirahat, dan Akrom sempat bertukar nomor ponsel dengan orang tersebut.
"yasudah bang, berhubung sudah beres aku duluan ya? hati-hati dijalan" pamit orang tersebut.
"makasih banyak ya bang? kapan-kapan main bang" jawab Akrom.
"yo'i siap. duluan bang" lalu mereka bersalaman untuk pamit, termasuk dengan Cintya.
__ADS_1
Setelah orang tersebut pergi, Akrom dan Cintya pun juga melanjutkan perjalannya.