Cinta Santri Dan Guru Sekolah

Cinta Santri Dan Guru Sekolah
Rahasia Dimas


__ADS_3

Sesampainya di kantin, Cintya mencari-cari Akrom yang dibilang ridho sedang ada disini.


Akhirnya sudut matanya mendapati sosok Akrom yang sudah menghabiskan separuh porsi makanan dihadapannya.


"heh bocah nyebelin, kanapa pesanku nggak dibalas?" segera Cintya menyerang Akrom dengan pertanyaannya membuat yang ditanyai menjadi kaget.


"salam dulu bisa kali Bu" gerutu Akrom yang sudah menguasai rasa kagetnya.


"iya Assalamu'alaikum bocah ngeselin" ucap Cintya dengan senyum sinis.


"waalaikumsalam. nah gitu kan pinter. gurunya siapa sih?" balas goda Akrom.


"tuh kan bener, emang ngeselin kamu" Cintya mengerucutkan bibirnya.


"ngapain kesini? nanti di cemburuin lagi sama si itu loh" ledek Akrom sambil tersenyum.


"bodo amat, ada urusan aja enggak. udah ah jangan bales tuh orang. lagi males aku" gerutu Cintya membalas pertanyaan Akrom.


"trus ngapain kesini? kangen?" mata Akrom dinaik-turunkan sebelah.


"ish males ngangenin bocil yang ngeselin banget ini"


"aku mau nanya, maksudnya pesanmu yang terakhir itu tadi apa? trus kenapa nggak bales habis itu?" lanjut Cintya melontarkan pertanyaan kepada Akrom.


hingga Akrom yang melihatnya hanya bisa tersenyum dengan tingkah Cintya yang begitu menjadi semakin menggemaskan.


"ya aku nggak balas emang cuma biar penasaran aja sih" jawab Akrom enteng sambil menahan tertawa.


"sumpah ya krom, aku nyesel udah penasaran dari tadi pagi krom, bener-bener bocah ngeselin kamu ya?" tangan Cintya mencubit lengan Akrom yang tengah mengangkat sendok.


"auw, sakit mbak ah" Akrom meringis memegangi lengannya.


"salah sendiri jadi orang ngeselin banget, trus maksudnya tadi apa bilang gara-gara aku pak Rian jadi gitu?" tanya Cintya dengan mata melotot tajam ke arah Akrom.


"ya gara-gara kamu lah, habisnya kamu cantik, manis, pinter. salahmu sendiri itu mah" jawab Akrom dengan posisi badannya mundur agar tidak mendapat serangan dari Cintya.


"Astaghfirulloh" wajah Cintya bengong sambil beristighfar memegang keningnya.


"Yaa ampun krom. aku dari pagi, ngajar nggak konsentrasi, kefikiran terus kalimat mu. aku fikir ada yang salah pada kelakuanku atau apapun itu. tapi ternyata...." lanjutnya dengan nada bicara lemas.


Akrom hanya nyengir kuda melirik kearah Cintya, sambil bahunya menggidik keatas.


"ya salah sendiri di fikirin sampai kaya gitu" ucap Akrom dengan menahan tawanya.


"tau lah krom, males aku debat sama kamu, pokoknya besok kamu harus ngajak aku jalan naik Vespa kamu, aku yang nentuin tujuan. titik nggak ada protes!" tegas Cintya penuh penekanan.


",iya tenang aja, besok pagi aku kabari lagi" ucapnya tenang sambil melanjutkan makannya.

__ADS_1


"nggak makan Bu?" tanya Akrom lagi.


"nggak lagi males, lihat kamu aja udah bikin nggak selera" jawabnya jutek.


"kalau makan itu dilihat makanannya, jangan lihat ke yang lain" celoteh Akrom datar.


"iya-iya ah. yaudah aku beli makan, tapi kamu tungguin ya? awas kalo enggak" ancam Cintya dengan jari telunjuk mengarah ke arah Akrom.


"iya bawel. udah sana beli" perintah Akrom.


Lalu Cintya menuju penjual makanan membeli bakso untuk menu makan di jam istirahatnya.


"emang besok kita mau kemana?" tanya Akrom saat Cintya sudah sampai mejanya lagi.


"kepo, udah besok aja aku kasih tau, biar kamu nggak bisa alasan"


"yah kok gitu sih?" tatapan Akrom menjadi bingung.


"iyalah, pokoknya kamu harus nurut kalau enggak ya udah aku nggak maafin kamu" Cintya memperingatkan dengan nada tegas.


Akrom yang sudah tidak tau lagi harus bagaimana hanya bisa menurut saja. "yaudah iya, siap Bu guru" ucapnya lemas.


"bagus, itu baru murid yang pintar". sambil tangannya mengacungkan jempol.


...----...


Setelah selesai mandi, telah ada Dimas didalam kamar dengan wajah murung.


"kamu kenapa dim? murung gitu?" sapa Akrom yang kaget melihat raut wajah teman sekamarnya itu.


"nggak kenapa-napa krom" ia menoleh kearah Akrom dengan senyum yang di paksakan.


"masalah yang privacy atau bukan?" tanya Akrom to the point seperti mereka sudah saling kenal satu dengan lainnya.


"bukan masalah privacy, tapi aku cuma bingung mau ceritanya" pandangan Dimas kearah langit-langit kamar.


"ya santai aja, kalau emang mau di ceritakan ya ceritakan saja, siapa tau aku bisa bantu. kalau menurutmu pribadi ya jangan di certiain" Akrom mendudukan dirinya di lantai kamar, menghadap keluar pintu.


"krom, kamu ada hubungan sama cewek nggak?" tanya Dimas membuka percakapan diantara mereka yang sama-sama diam.


"ha? maksudmu?" Akrom menoleh kearah Dimas kaget.


"kamu hubungan sama cewek nggak?" Dimas mengulang pertanyaannya.


"ada apa nih tiba-tiba nanya gitu? kamu lagi suka cewek?" tanya Akrom balik dengan wajah bingung.


"aku memang sedang ada hubungan sama cewek" lanjut Akrom.

__ADS_1


"oh" Dimas menundukan wajahnya dengan sendu menghembuskan nafasnya kasar.


"siapa cewek yang kamu suka?" tanya Akrom penasaran.


"nggak siapa-siapa" jawabnya lemas.


"jujur dim, daripada ada salah faham, lagian kamu juga belum tahu kan siapa cewek yang sedang dekat sama aku?" ungkap Akrom meyakinkan Dimas.


"hmmm aku cerita percuma krom, semua orang juga pada tau dia sukanya sama kamu, aku aja yang bodoh suka ke orang yang salah" Dimas menenggelamkan kepalanya pada kedua lututnya.


"Nisa?" tebak Akrom.


Dimas hanya terdiam tidak menjawabnya.


"untungnya bukan dim" kata Akrom dengan tersenyum seraya menyandarkan punggungnya di dinding kamar.


"maksudmu?' balik tanya Dimas.


"ya untungnya wanita yang sedang dekat denganku bukan Nisa"


"terus?" Dimas masih tidak percaya dengan pernyataan Akrom.


"dim, bukan Anisa yang ada hubungan denganku, tapi orang lain dan mungkin saat ini aku belum bisa bilang ke siapapun" jawab Akrom tenang.


"tapi Nisa suka kamu krom, semua temen-temen sekelas tau itu"


"itu Nisa, bukan berarti aku harus sama kan dim?" tanya balik Akrom.


"kamu serius krom? nggak ada hubungan sama Nisa?" Dimas memastikan dengan matanga yang berbinar.


"nanya lagi? udah kejar aja dim. aku dukung kamu" Akrom menepuk pundak Dimas yang sedang duduk di sebelahnya.


"hehe, makasih ya krom?" balas Dimas.


"sama-sama. sejak kapan kamu suka si Nisa dim?" tanya Akrom.


"sejak pertama masuk MHQ. waktu ada akhirusanah senior kita" jawabnya malu-malu.


"udah lama dong? kenapa nggak bilang langsung ke dia?" tanya Akrom heran.


"ya karena semua juga tahu dia sukanya sama kamu krom" ucapnya lemas.


"kamu harus tetep semangat dan sabar dim, semua perlu usaha. tapi Yaqin aja pasti lama kelamaan dia akan luluh"


"iya krom, makasih ya atas dukungannya?"


"yo'i dim sama-sama".

__ADS_1


Lalu mereka segera tidur siang mumpung masih sepi, agar malamnya tidak ngantuk ketika kegiatan mengaji.


__ADS_2