Cinta Santri Dan Guru Sekolah

Cinta Santri Dan Guru Sekolah
Bensin Habis dan Menuju Kafe.


__ADS_3

Setelah bel pulang sekolah terdengar. Akrom berniat menunggu Cintya di parkiran motor sekolahnya, untuk meminta maaf.


Lama ia menunggu, akhirnya sesosok wanita mengenakan seragam guru berjalan menuju parkiran itu. namun tak di sangka, disampingnya ada sosok pria lain berjalan berdampingan disebelahnya.


Akrom diam mematung di posisi agak jauh dari motor Cintya. tak kunjung ia bergerak, hatinya terasa panas menyaksikan apa yang tengah ada didepan matanya.


Cintya yang berjalan kearah motornya, menangkap pandangan mata Akrom yang kini membuat mereka beradu pandang.


Terlihat ada kekagetan, keraguan dari sorot mata seorang wanita yang berstatus sebagai guru di sekolah itu.


"kok berhenti Bu?" pak Rian menoleh kebelakang dimana Cintya yang menghentikan langkah kakinya.


"eh, e-enggak pak" jawabnya ragu.


"kenapa?" pak Rian memegang tangan Cintya.


"nggak kenapa-kenapa pak, saya permisi duluan" jawab Cintya menepis tangan pak Rian dengan kasar.


Dilihatnya Akrom segera pergi dari tempatnya berdiri dengan lirikan yang susah untuk dimengerti.


'duh gimana sih ini?' Cintya memukul-mukul kepalanya yang serba salah dengan situasi saat ini.


Cintya memajukan motornya dengan kecepatan sedang. hatinya kacau memikirkan segala yang di alaminya.


Ia melajukan motornya untuk pergi mencari buku-buku di perpustakaan kota, yang kebetulan sedang tidak begitu ramai, karenan kebanyakan orang laki-laki sedang sembahyang Jumat.


Setelah berlama-lama dia membaca dan memilah-milah buku yang ingin di pinjam, di liriknya pukul 12:30 ia berencana untuk segera pulang. segera ia berjalan menuju parkiran dan mlajukan motor kesayangannya.


Saat sedang menikmati perjalanannya, tiba-tiba motornya berhenti dan mesinnya mati.


"Astaghfirulloh, kok aku bisa lupa ngisi bensin sih ini?" dengus kesal Cintya. Lalu di dorongnya motor mencari penjual bensin eceran.


"kenapa?" tanya seorang yang sedang mengendarai motor Vespa berhenti di sebelahnya.


"e, enggak kenapa-kenapa?" jawab Cintya dengan nada kesal, masih tersisa kekecewaan dari dalam dirinya kepada si penanya itu, yang tidak lain adalah Akrom.


"serius nggak kenapa-kenapa?" tanya Akrom lagi.


"ya" Cintya menjawab singkat dengan nada judes.


"yaudah kalau nggak kenapa-kenapa, saya duluan" sahut Akrom memasukan gigi motornya bersiap untuk melajukan vespanya.


"dasar cowok nyebelin, nggak peka banget sih?" teriak Cintya saat Akrom akan meninggalkannya.


"katamu nggak kenapa-kenapa?" dengus Akrom.


"ya bisa lihat sendirilah kenapa, kok pakai nanya? nggak peka banget ya kamu? sumpah nyebelin banget" gerutunya dengan sedikit berteriak.


"yaudah cepet naik motor kamu!" perintah Akrom datar.


"ha? mau ngapain?" Cintya bengong mendapat perintah itu.


"kamu mau dorong motor sampai SPBU? jauh tuh"

__ADS_1


"oh nggak deh, makasih atas tawarannya" gerutu Cintya kesal lalu mendorong kembali motornya.


Sedang Akrom bengong melihat punggung Cintya yang sudah meninggalkannya.


"masih marah?" Akrom menjejerkan laju motornya sejajar dengan Cintya.


"udah cepet naik, aku dorong" lanjut Akrom setelah tidak ada jawaban.


"males ditolongin orang dingin gitu, nggak ikhlas juga, mending saya dorong sendiri" Cintya melengoskan wajahnya.


"trus harus gimana?" tanya Akrom polos.


"pikir aja sendiri!" acuhnya.


Akrom menghentikan motornya, terdiam mendengar kalimat Cintya. Di akuinya dia masih sedikit ada rasa kecewa karena melihat Cintya berdekatan dengan pak Rian hari ini. sehingga untuk memberinya senyum saja serasa masih belum bisa.


"yasudah maafin saya, ayo saya dorong, kamu naik motormu ya?" tawar Akrom yang kini disertai senyum manisnya.


Cintya menghentikan motornya dengan kepalanya menunduk mendengar perkataan Akrom. Lalu di lihatnya wajah bocah SMK itu yang sudah berhiaskan senyuman manis dari bibirnya.


"kenapa nggak dari tadi aja gitu? nunggu aku capek dulu?" gerutu Cintya dengan suara lemas.


"iya maaf, udah ayok aku dorong"


Lalu Cintya menaiki motornya, dan Akrom mendorongnya menggunakan kakinya yang memijak pada knalpot motor Cintya.


"udah masuk aja, aku tunggu disana" tunjuk Akrom ke arah pintu keluar SPBU setelah mereka sampai.


Setelah Cintya selesai mengisi bensin, ia menghampiri Akrom yang masih setia menunggunya meskipun lama karena antri yang lumayan panjang.


"ya pulanglah, mau kemana lagi?" jawab Cintya dengan nada jutek.


"jalan sebentar bisa?" tanya Akrom ragu.


"ke-kemana?" Cintya tanya balik dengan tergagap.


"nongkrong di kafe depan gimana? pertigaan depan belok kiri" tunjuk Akrom dengan arah matanya.


"mmm. terserah kamu aja, asal aku nggak kamu culik" ucap Cintya dengan senyum di kulumnya.


"ngapain juga saya nyulik kamu?" tanya balik Akrom.


"ya kali aja? dari tadi ngintai aku terus, udah kaya penculik aja" goda Cintya yang melihat Akrom menjadi salah tingkah.


"udah ah, mau nggak?" Akrom memastikan dengan nada yang kembali dingin.


"nggak." jawab Cintya memalingkan wajahnya.


"lah kok nggak mau?" Akrom bertanya bingung.


"ya males aja nongkrong sama orang yang jutek, super dingin" balas Cintya mencibirnya.


"yaudah ayok Bu guru, kita nongkrong yuk" ajak Cintya memamerkan giginya.

__ADS_1


"dih ngeri gitu dilihatnya" ejek Cintya.


"yaudah ayok" Akrom melajukan motornya tanpa persetujuan Cintya.


"iiiih nyebelin banget sih jadi cowok" gerutu Cintya yang akhirnya melajukan motornya mengikuti arah Akrom yang sudah berjalan mendahuluinya.


Sesaat kemudian mereka sampai disebuah cafe yang bersebelahan langsung dengan bengkel vespa disampingnya. Akrom memarkirkan motornya dan menyalami orang-orang bengkel yang sedang bekerja disana.


"widiih. si Akrom, tumbenan kesini siang-siang? si bahenol ngambek lagi?" sapa bang Safi'i si pemilik bengkel.


"ah enggak bang, Alhamdulillah lancar, cuma mau ke kafe aja" jawabnya sopan.


"mau ngecek?" tanya bang Safi'i lagi.


"enggak bang, kemarin udah, mau nongkrong aja" jawab Akrom lagi sambil meringis.


"dih tumbenan? biasanya juga nonkrongnya dibengkel kamu krom? oh gara-gara ini toh?" bang Safi'i melirik kearah Cintya yang berdiri dibelakang Akrom.


"eh, hehe. kenalin bang ini Bu Cintya guru saya" Akrom memperkenalkan Cintya kepada bang Safi'i.


"Cintya" diulurkan tangannya.


"Safi'i Bu" jawabnya membalas uluran tangan bang Safi'i.


"duh, selama kenal kamu nggak pernah lihat deket sama cewe, sekali bawa bening banget krom?" lanjut bang Safi'i menggoda Akrom dengan kerlingan matanya dan senyumnya di bibirnya.


"eh si Abang bisa aja, ini guru saya bang" Akrom nyengir kuda sambil mengusap belakang tengkuknya.


"iya serius krom, cantik banget gurumu krom" puji bang Safi'i lagi kepada Cintya yang kini sudah sangat merona wajahnya.


Sedang Cintya hanya bisa tersenyum tanpa mampu menjawab.


"oh iya bang, Akrom boleh minta tolong? lagi sibuk nggak nih?" tanya Akrom menghentikan ke gugupan Cintya.


"apaan?" tanya balik bang Safi'i.


"service si semox deh bang, mau aku bawa ke pesantren nih" jawab akrom sambil menunjuk ke arah vespanya.


"nah si bocah gitu aja pake acara tanya-tanya dulu, biasanya juga langsung main parkir aja" bang Safi'i terkekeh membalas permintaan Akrom.


"hehehe, makasih ya bang? saya ke kafe dulu"


"iya sana deh, kasian itu ibu guru cantik malah ke bengkel sini, kena banyak oli nanti"


"iya deh, duluan yak?" pamit Akrom.


"iya, aku pegang langsung ini vespamu" balas bang Safi'i.


"iya bang makasih"


"iyaa"


"mari bang" pamit Cintya dengan senyumnya.

__ADS_1


"iya Bu, mari, silahkan" balas bang Safi'i yang tangannya sudah menuntun Vespa Akrom kedalam bengkel.


lalu mereka berdua masuk kedalam kafe.


__ADS_2