Cinta Santri Dan Guru Sekolah

Cinta Santri Dan Guru Sekolah
Bab tujuh belas. seperti sebuah penentuan


__ADS_3

keesokan hari. tidak ada pelajaran matematika di kelas XII DPIB 2. tidak ada pertemuan antara Cintya dan Akrom di kelas.


'masa aku samperin ke kelasnya? apa kata teman-temannya?' Cintya urung mampir kelas itu ketika berjalan menuju kelas yang sedang ada jadwalnya mengajar.


hanya ditolehnya dan tidak didapatinya Akrom, hanya adiknya yang sedang duduk sendiri.


'kemana dia? masa bolos?' Gumam dalam hati tanpa menghentikan langkah kakinya.


'apakah menjadi jawaban dari Tuhan atas doaku semalam?' tiba-tiba tubuhnya bergidik seolah tidak terima atas takdir yang ia dapatkan.


saat bel istirahat, Cintya menuju kantin sekolah untuk makan siang. setelah memesan makan lalu ia mencari-cari tempat kosong.


dilihatnya dari jauh seseorang melambaikan tangan ke arahnya. segera dia berjalan menuju orang yang memanggilnya.


"sini mbak, masih kosong" tawar ridho sambil menepuk kursi panjang yang ia duduki.


"kamu cuma berdua aja? biasanya sama Akrom?" tanyaku mencari tahu.


"Akrom nggak masuk mbak" jawab ridho singkat sambil tangan menyendokan bakso ke mulutnya.


"emang kemana? sakit?" tanyaku khawatir


"nggak tau, nomornya juga nggak aktif"


"nggak bilang sebelumnya mau kemana gitu?" sambungku.


"enggak sih. padahal itu anak nggak pernah bolos deh" jawab ridho menghentikan makannya.


"palingan balik ke pondok dho?" sela Agus.


"masih hari Sabtu dia balik pondoknya Gus" jawab ridho.


'dimana sih Akrom? apa dia benar-benar sedang menghindari ku?' cemas hati Cintya yang terpancar jelas diwajahnya.


"emang kenapa mbak? kok kaya khawatir banget gitu?" tanya ridho heran melihat kakaknya yang secara mendadak menjadi murung.


"eh. e-enggak apa-apa dho," jawab Cintya gugup.


lalu datang pesanan makan Cintya, dan mereka melanjutkan makan bersama.


'apakah ini yang menjadi jalanmu Tuhan?' sesal Cintya yang terpancar oleh wajahnya menjadi semakin murung.


ridho yang melihatnya penuh tanda tanya hanya bisa diam saja. 'sepertinya ada yang aneh dengan mbak Tya. ada apa Antara mereka berdua?' gumam ridho dalam hatinya.


"teet teet' teet'. belu pulang berbunyi.


Cintya menuju parkiran dengan fikiran goyahnya. seperti tidak terima akan apa yang terjadi hari ini berkaitan dengan do'anya semalam.


seakan menyalahkan tahdir. mengumpat atas apa yang di alaminya.


ia mengendarai motornya menyusuri jalanan kota menuju rumah, dengan fikiran kalutnya.


'Yaa Tuhan, inikah takdir-Mu yang harus kumulai hari ini?' tak terasa air matanya menetes mengucap pertanyaan itu.

__ADS_1


tiba-tiba jantungnya berdebar kencang, seakan waktu berhenti sejenak sejurus apa yang dilihatnya.


Vespa antik yang sudah ia hafal milik Akrom, terparkir manis di parkiran pinggir jalan taman kota.


'ngapain ini anak disini? sejak pagikah dia disini?' gumamnya sembari menepikan motornya.


setelah memarkirnya ia masuk ke taman kota dan berjalan mengitarinya mencari pemilik Vespa di parkiran.


hampir satu putaran sudah ia kelilingi tak juga menemukannya. hingga hampir putus asa.


saat beristirahat sejenak, sudut matanya menemukan sosok yang sangat sudah ia kenali sejak tadi diam duduk meringkuk di pojokan sebuah bibir pot tanaman menghadap membelakanginya.


jantungnya berdegup sangat kencang. seluruh badannya seakan menggigil saat akan berjalan menghampiri seorang pria yang tengah menggunakan seragam putih abu-abu yang di balut dengan jaket jeans.


(Akrom POV)


aku yang sedang tidak bergairah kesekolah memilih menghabiskan waktu di taman kota.


lebih tepatnya belum siap ikhlasku melihat sesuatu yang selama ini menjadi pengganggu fikiranku yang sepertinya sudah hilang kesempatanku sebelum kesempatan itu datang.


ku putar badanku menghadap luar area taman kota, yang sejak pagi sudah bosan ku pandangi.


saat sedang melamun, memikirkan yang seharusnya tak lagi ku fikirkan, tiba-tiba yang sering kudengar seperti memanggilku.


"krom" suara yang parau itu membuyarkan lamunanku.


'ah mungkin fikiranku yang saja yang terlalu memikirkannya' Gumamku dalam hati dengan posisi tubuhku yang tak berubah.


"Akrom?" sapanya sekali lagi.


"ada apa Bu kesini?" tanyaku balik tanpa menoleh.


"nyari murid saya yang tidak masuk hari ini" jawabnya dengan nada tegas.


"maaf Bu, saya bolos. besok saya tidak akan mengulangi lagi"


"kamu kenapa tidak masuk?" kini kulirik dia sudah duduk disebelahku dengan posisi menghadap ke belakangku.


"nggak tau Bu, sedang malas saja ke sekolah" balasku beralasan.


"kenapa? apakah karena 'bunga dimeja depan kelasku'? " tanyanya dengan lembut sambil bergetar suaranya.


Deg!. seperti tersambar petir di teriknya panas matahari.


'bagaimana dia bisa tahu?' gumamku dalam hati harena tidak bisa berkata-kata.


"maaf saya buka buku tugasmu matematika yang belakangnya ada tulisan-tulisan puisimu" lanjutnya pelan


'mati aku, bagaimana bisa kebetulan sekali di buku matematika? ah sudahlah, semua sudah terjadi. dan dia milik orang' aku berbicara pada diriku sendiri dalam hati.


"oh iya Bu nggak apa-apa" jawabku mencoba tenang.


"tapi puisimu bagus kok krom, ibu suka" pujinya.

__ADS_1


"terimakasih Bu" jawabku tak bergeming


"sekali lagi ya? kalau diluar sekolah panggil aku mbak aja, jangan Bu" dengan nada bicara ketus.


"iya Bu, eh maaf. mbak" jawabku gugup.


"sip bagus" dengan nada bicaranya seperti dengan senyum kudengar.


"iya" jawabku singkat karena lidah sudah kelu tak mampu berkata karena sebuah situasi ini.


setelah itu kami sama-sama terdiam. karena aku sendiri tidak mau membuatku berharap kepada yang sudah menjadi milih orang.


"kamu nggak mau bikinin mbak puisi kaya di bukumu krom?" Cintya membuka pembicaraan.


'hemm, andai kamu tau mbak. akhir-akhir ini yang kutulis semua tentangmu mbak' gumamku dalam hati.


"di tanyain kok malah diem?" lanjutnya.


"eh iya. boleh deh mbak kapan-kapan" jawabku beralasan.


"kapan-kapannya itu kapan? apa nunggu mbak jadi bunga dimeja depan kelasku?" tanyanya lagi.


Deg!.


"eh mmm. nggak kok mbak" jawabku yang gugup sudah tak tahu lagi harus menjawab apa.


"kalau boleh mbak tahu. siapa sih itu maksudnya krom?" pertanyaan demi pertanyaan semakin memojokanku.


"eh, nggak ada mbak. cuma bayangan aja" jawabku asal.


"kamu sedang patah hati?" sambil ia menoleh kearahku.


"nggak mbak, hanya saja saya menyesali kebodohan saya" jawabku datar yang sudah tidak tahan memendam tekanan dalam otakku.


"maksudmu?" tanya Cintya dengan wajah herannya.


"saya bodoh telah meletakan harapan yang bahkan untuk jelasnya saja belum, apalagi pasti" jawabku yang kini lebih berani membuka luapan isi hati.


"maksud kamu apa krom? mbak nggak faham"


"saya telah salah menaruh cinta kepada yang seharusnya tidak kusinggahi, dan sialnya kini sudah tertutup bagiku menumbuhkannya" entah darimana keberanianku mengatakan itu muncul.


(Author POV)


mendengar jawaban lugas itu sontak Cintya menegang seluruh tubuhnya, panas dingin rasanya. jantung berbegup kencang dan nafas terasa berat.


"kalau boleh mbak tau, apakah penanggalan di puisi kamu adalah hari dimana kamu mendapat kekecewaan itu?" Cintya memberanikan bertanya lebih jauh.


"iya mbak" jawab Akrom tegas yang seolah sudah tidak ada rasa sungkan lagi mengalir dari dirinya, untuk saat ini ia hanya perlu melepaskan kegundahan hatinya.


...`````...


...bagaimana kelanjutan hubungan mereka?...

__ADS_1


...stay tune yak? bersambung aja biar kayak sinetron di tipi-tipi gitu aja. 😀😀😀...


...terimakasih sudah setia menjadi pembaca tulisan ini. jangan lupa tinggalkan jejak untuk doping author lebih semangat lagi....


__ADS_2