Cinta Santri Dan Guru Sekolah

Cinta Santri Dan Guru Sekolah
Bab 24. Dirumah Cintya


__ADS_3

sedang kami berbincang sebuah motor datang, memasuki halaman rumahku.


"assalamualaikum" salam si penunggang motor itu sambil membuka helm.


"wa'alaikumsalam" jawab kami berdua.


"dari mana kamu dek?" tanyaku kepada ridho yang sedang mencium tanganku.


"ke rental PS mbak, nyewa PS. eh ada Abang ganteng" sambil matanya melirik ke arah Akrom.


"apaan sih dho?" tanya Akrom.


"lah. masa salah?" tangannya mengambil gelas minumku dan meminumnya.


"lah itu minuman mbak dho, kalau mau bikin sendiri Napa?" protesku.


"haus mbak. pelit amat sih?" picing mata ridho melirikku.


"huh. dasar kamu dek" gerutuku kesal.


"krom masuk kedalam main PS yuk? nanti bisa dimakan macan galak ini" ajak ridho ke Akrom sambil menunjuk kearahku dengan dagunya.


"ih sumpah nyebelin kamu dek, ganggu orang aja sih?" bentakku pada ridho. sedang Akrom hanya diam sambil tersenyum memandang tingkah kami.


"udah ayok, nanti habis kamu dimakan macan galak ini" tanpa aba-aba dia menarik tangan Akrom masuk kedalam rumah.


"hiks ridho awas ya kamu!!" teriakku kepada ridho.


kuikuti mereka masuk rumah dengan tanganku membawa nampan berisi gelas minum dan toples camilan yang tadi ku keluarkan.


kutaruh meja depan TV toples camilan dan gelas Akrom yang isi minumannya masih kosong.


"lah buat aku mana mbak?" tanya ridho dengan matanya fokus kelayar TV.


"bikin sendiri Napa dek? ish"


"ah pelit banget sama adek sendiri" gerutunya.


"salah sendiri jadi adek nyebelin banget"


"orang pinjem pacarnya buat main PS bentar aja juga kali mbak, lagian sambil main PS juga kalian masih bisa ngobrol" cerocosnya.


aku hanya mendengus mendengar celoteh ridho. Akrom hanya tersenyum, sambil sesekali kulihat melirik kearahku.


...


"Assalamualaikum" terdengar salam dari ruang tamu.


"wa'alaikumsalam" jawab kami bersamaan.


"ada Akrom ya?" tanya bapaku yang berjalan kearah kami.


"iya tuh" jawabku sambil menunjuk kearahnya.


"kenapa kamu cemberut aja nduk?" kini ibuku ganti bertanya.


belum sempat aku menjawab, ridho langsung menyela "gara-gara Akrom aku ajak main PS buk"


"lah bukannya emang kalian sering main PS kalau lagi main kesini?" tanya lagi bapaku sambil duduk ikut lihat mereka berdua main PS.


"sekarang udah beda pak situasi dan kondisinya" celoteh ridho.


sontak aku menjadi sangat malu dengan kalimat ridho, dan kulihat Akrom juga tersentak dengan kalimat itu, wajahnya menjadi memerah dan menjadi tegang.


"maksudmu situasi dan kondisi yang gimana dho?" kini ibuku yang bertanya dengan matanya genit melihat ke arahku.


"tanya mereka aja Bu. yaaahh. jadi kalah deh. ibuk sama bapak sih ganggu ridho terus!" keluh ridho.


"lagian kamu sendiri, tadi bapak tanya mbakmu kok kamu sela menjawab?" jawab ibuku.


"ah kamu mah kalah terus main sama Akrom dho. pakai nyalahin bapak & ibu segala" ejek bapak.

__ADS_1


Akrom hanya diam saja sambil tersenyum kecut dibibirnya.


"udah jangan brisik aja. nih oleh-oleh dari Tante. ayok krom dimakan" ibu menawarkan kue-kue basah yang dihidangkan diatas meja.


"iya Bu, terimakasih" jawab Akrom sopan.


"lah, ini esnya cuma satu nduk? buat bapak nggak ada nih?" tanya bapak.


"ah bapak, bilang aja minta dibikinin" gerutu bangkit dari kursi dan menuju dapur.


"mbak aku sekalian" teriak ridho.


ibu menyusulku kedapur untuk menyiapkan makan sore.


"nduk, maksud ridho bilang yang tadi itu apa?" tanya ibuku berbisik.


"yang tadi mana Bu?" pura-puraku.


"ya yang katanya kamu ngambek gara-gara Akrom diajak main PS. dan katanya situasi sekarang sudah beda. itu maksudnya apa?"


aku hanya terdiam, bingung mau menjawab apa.


"kamu jujur sama ibu" tangannya mengelus kepalaku yang tertutup jilbab.


"Bu. a-aku. aku.." bibirku kelu untuk melanjutkan kalimatku.


"kamu kenapa nduk?" tanya ibuku tak sabar.


"aku suka Akrom buk, dan Akrom pun sama" jawabku pelan-pelan dengan kepala menunduk.


"hah? seriusan kamu Tya?" tanya ibuku terkejut.


aku hanya menganggukan kepala tanpa melihat ibuku, takut akan reaksi selanjutnya.


"kamu serius? kamu siap dengan segala resikonya?" tanya ibuku dengan wajah seriusnya.


"m-maksud ibu?" kutanya balik.


"Insya'ALLOH Cintya sabar Bu, lagian aku juga masih mengejar cita-citaku Bu, aku masih mau fokus menjadi guru"


"yasudah, asal kalian sama-sama serius", tegas ibuku.


"iya Bu" jawabku singkat sambil menuangkan minuman kedalam gelas.


"jujur ibu kaget tya, setau ibu Akrom itu paling dingin sama cewek. kok tiba-tiba pacaran sama anak gadis ibu aja?" ibu meledek kearahku.


"sejauh ini kami belum pacaran Bu, hanya saling jujur perasaan kami berdua. dan sama-sama saling jaga aja"


"nah itu baru ibu nggak heran. menurut ibu sih kayaknya agak aneh kalau Akrom pacaran" ibuku mengangguk membenarkan kalimatku.


"semoga dia bisa jaga kamu nduk" lanjutnya dengan senyum mengembang di bibirnya.


"amin Bu" jawabku tersipu.


"udah kamu antar itu minuman bapak sama ridho, ibuk mau siapin makan siang dulu" perintah ibu.


"baik Bu" kuberjalan menuju ruang TV.


"ini pak es nya, nih buat kamu dho" kuletakan nampan di meja.


"makasih nduk" bapakku mengambil gelasnya.


"makasih mbaku yang cantik, baik deh" ucapnya genit.


"gak usah sok manis. kalau ada maunya aja" jawabku melotot kearahnya.


"tuh tuh. lihat krom, nggak takut kamu sama macan kaya gitu?" ridho menyenggol tangan Akrom dengan sikunya lalu menunjuk kearahku dengan mukanya.


"hehehe" Akrom nyengir kuda dengan godaan ridho.


"hiss. udah ah aku mau bantuin ibu nyiapin makanan, males kalau ada kamu dho" gerutuku meninggalkan mereka bertiga dengan tertawaannya yang diarahkan kepadaku.

__ADS_1


"nduk tolong bantuin ibu masak ya?" pinta ibuku saat aku sudah kembali kedapur.


"iya Bu"


"ini aja kamu masak sayurnya. ibu mau bikin lauknya"


"ini dimasak apa Bu?" tanyaku.


"bikin ayam rica-rica aja nduk. bisa kan?"


"Insya'ALLOH Bu" jawabku dengan tanganku mencari-cari bumbu yang di persiapkan.


setelah kurang lebih 30 menit aku berjibaku dengan segala yang ada di dapur. akhirnya aku pamit mandi terlebih dahulu sambil menunggu ayam yang kumasak lebih meresap bumbunya.


"buk aku mandi dulu ya? sambil nunggu ayamnya matang" ujarku.


"iya nduk. sana mandi dulu aja"


lalu aku mandi, dan berganti baju agar tidak ada bau aroma dapur di tubuhku. tak lupa ku kenakan jilbab setelahnya.


lalu aku kembali kedapur untuk menyiapkan hidangan sore itu.


"pak, ridho, Akrom cepat sini makanannya udah jadi" seru ibu memanggil tiga laki-laki yang sedang asyik PS'an diruang tv.


"iya Bu" jawab mereka dari ruang sebelah.


"waaah masak apa ini, kelihatannya enak?" kata bapak melihat hidangan yang sudah tertera dimeja.


"kebetulan lagi laper banget juga" sahut ridho.


"ayo krom duduk, makan dulu" ajak bapakku menarik tangan Akrom untuk duduk disebelahnya.


"eh iya pak" jawabnya sungkan.


setelahnya mereka mengambil nasi dan sayur + lauk satu persatu.


"mmmm, enak banget ini ayamnya" puji bapak dengan makanan dikunyahnya.


"iya buk. tumbenan rasanya agak beda nggak biasanya" lanjut ridho.


"kalian suka?" tanya ibuku.


"suka lah,. enak banget ini mah" sahut ridho mencomot satu potong ayam lagi.


"kamu suka krom?" tanya ibuku.


"suka Bu. enak banget" jawabnya dengan mata berbinar membuatku salah tingkah atas jawabannya.


"syukurlah, Cintya udah pantes kalau gitu masakin buat suaminya nanti" sontak aku yang kaget dengar kalimat itu menjadi tersedak.


"hati-hati nduk kalau makan, nih air minum" bapak menyodorkan segelas air minum kepadaku.


"makasih pak" jawabku dengan suara serak.


"maksud ibu apa?" tanya bapak.


"ya kan masakan Tya udah enak banget pak, ibu aja kalah. jadi kan sudah pantas kalau masakin buat suaminya?" jawab ibu.


"oh ini masakan kamu nduk? wah hebat kamu"


"hehe. makasih pak" jawabku sambil tersenyum.


kulirik ke arah Akrom dia hanya bisa diam dengan wajahnya memerah.


sementara ridho hanya menyimak dan asyik melahap semua yang ada di piringnya.


...----...


...terimakasih pembaca setia...


...tetap dukung tulisan ini ya?...

__ADS_1


__ADS_2