Cinta Santri Dan Guru Sekolah

Cinta Santri Dan Guru Sekolah
Selamat Tinggal Cinta, Bunga, Cerita.


__ADS_3

"kamu istirahat nak, nanti siang kita berangkat" ujar pak Mahfud setelah anak lelakinya sudah sampai rumah.


"iya yah, Akrom ke kamar dulu" jawab Akrom, dengan malas ia melangkah ke kamar.


Ia pandangi langit-langit kamarnya dengan gambaran kalut sekalut fikiran dan hatinya yang sudah tidak dapat lagi ia kuasai.


Terbayang wajah kecewa Cintya yang sangat membuatnya menyesal, di ikuti wajah kesal Cintya yang tengah menamparnya juga membuatnya kecewa.


Ia beranjak di meja belajarnya. dibukanya kembali tasnya yang telah rapi tertutup. Di keluarkan lagi foto-foto Cintya dan dirinya yang ia cetak. Kini ia urungkan untuk membawanya kuliah.


Ia pandangi dengan kalutnya diri. Ia tempel lagi di dinding kamarnya. lalu Akrom mengambil sticky note dan menulis puisi mengenai suasana hatinya kali ini.


Tentang kamu.


Bunga yang datang semerbak


menyapa lebah muda menyeruak


dan tentang tunas yang pergi mengelak


bersama harapan dan putus asa terbahak


udara yang jauh membentang


tentang sesal dan kecewa menantang


pergi dan kembali entah menjelang


dan pamit bukan lagi sebuah kurang


kalut, dan entah seperti apa


serupa racun menggenangi rautmu


memaksaku tertawan olehnya


semoga disisa waktu ada penawar rindu


Selesai goresan tinta menari di kertas warna itu. Seperti terdiam tak bisa lagi mengguratkan warna lain. Termenung kosong wajah sang penulis memandang fotonya dengan Cintya. Kemudian beralih pada sebuah tiket pesawat yang sedari tadi berada di meja.

__ADS_1


"tok tok tok" suara ketukan pintu kamar membuat Akrom tersadar dari lamunannya.


"masuk" jawabnya lemah dari dalam kamar.


"kok tidak tidur Krom?" sapa bu Maftukhah melihat putranya yang hanya duduk didepan meja belajar memandang foto di hadapannya, masih dengan seragam SMA yang membalut tubuhnya.


"Akrom nggak ngantuk bu" jawab Akrom seperlunya.


"berat ya ninggalin Cintya?" tanya ibunya setelah menyadari bahwa Akrom memandangi foto itu begitu lekat.


Akrom hanya mengangguk ragu, ia juga ragu untuk berkata jujur.


"kenapa nggak dibawa saja fotonya? Bukannya sudah kamu masukan kemarin Krom?" tanya bu Maftukhah setelah duduk di ranjang samping meja belajar milik Akrom.


"biar di sini saja bu. Akrom mau fokus kuliah dulu" jawab Akrom menyembunyikan keadaan yang sebenarnya sedang terjadi.


"ya barangkali kamu mau membawanya untuk kamu jadikan penyemangat" lanjut bu Maftukhah menggoda.


"Ibu, Ayah dan kak Rania adalah alasan terbesarku untuk menjadi sebuah semangat bu" jawab Akrom yang di ikuti olehnya yang berdiri dengan lututnya untuk memeluk seorang wanita di depannya. Wanita yang tidak pernah membuatnya sakit hati, kecewa, khawatir.


"tidak ada alasan ibu dan ayahmu untuk tidak bangga padamu Krom. Dan ibu yakin kak Rania juga sangat bangga dengan adiknya" balas bu Maftukhah dengan suara serak menangisi seorang anak yang tengah mendekap di peluknya.


Lama mereka berpelukan, seakan berharap waktu berhenti membiarkan seorang ibu dan anak semata wayangnya itu saling berpeluk dan tidak berpisah. Namun waktu tetaplah waktu yang angkuh berjalan mengabaikan setiap apapun.


"sudah bu" menunduk wajah Akrom menjawabnya, ia tidak ingin kebohongan jawabannya di ketahui oleh ibundanya.


"dia nggak ikut ngantar kamu ke bandara Krom?" tanya bu Maftukhah.


"sedang sibuk bu, kelas satu dan dua mau ujian, jadi tidak sempat" lagi-lagi ia kembali berbohong agar tidak ada sesuatu yang menjadi ganjalan di hati ibunya.


"oh gitu ya? Tapi dia masih mau datang nemenin ibu kan? Meskipun kamu tidak di rumah?" tanya bu Maftukhah lagi.


"nanti Akrom kirim pesan kalau mungkin dia tidak sibuk untuk nemenin ibu" jawab Akrom mencoba membuat ibunya tenang dengan hubungan mereka.


"yasudah, kamu siap-siap nak. Kita mau berangkat biar kamu tidak ketinggalan pesawat sore ini" ujar bu Maftukhah beranjak untuk keluar kamar Akrom dan menyiapkan persiapannya sendiri.


"baik bu" jawab Akrom memandangi ibunya yang akhirnya tenggelam di balik pintu kamarnya.


Kembali ia pandangi wajah Cintya yang tersenyum manis penuh kebahagiaan dalam sebuah foto. Kemudian ia sisipkan sticky note berisi puisinya di balik foto mereka berdua.

__ADS_1


Kosong tatapannya sejak pertama ia keluarkan lembaran cetakan foto dari dalam tasnya lalu ia rekatkan kembali ke dinding. Hingga saat ini ketika akan ia palingkan wajahnya darinya masih saja tatapan kosong yang berkuasa.


"ku ucapkan selamat jalan jika memang kamu menginginkan, semoga aku kuat menerima ucapanmu" Akrom berucap pada lembaran foto di depannya. Seakan Cintya sedang disana.


Telah ia pasrahkan cerita asmaranya. Akrom telah menerima bahwa dirinya sudah membuat Cintya kecewa. Meskipun ia pun juga kecewa dengan tidak tersedianya waktu untuknya berbicara.


Namun setidaknya ia sudah berusaha meminta maaf, meskipun Cintya tidak menyediakan ruang untuk maafnya saat mereka bertemu.


"maaf" getar suara Akrom kembali sesaat ia telah berdiri hendak meninggalkan mejanya dan segera bersiap diri.


Akrom lalu mempersiapkan dirinya, mengganti seragamnya dengan pakaian yang sudah di persiapkan. Dan bersiap berangkat. Kini ia benar-benar siap berangkat.


Akrom tinggalkan kamar yang berisi beragam kenangan yang tercatat rapi dalam setiap lembar yang bercecer.


Telah pula ia tinggalkan teman, guru dan semua cerminan cerita yang manis terbayang di setiap sudutnya.


Setelah rapi semua bawaan Akrom masuk dalam mobil, Segera pak Mahfud, bu Maftukhah dan Akrom segera berangkat dengan diantar pak Mardi sang driver keluarga mereka menuju bandara Juanda untuk mengantar Akrom menggapai cita-citanya.


"bu guru kamu tidak ikut mengantarmu Krom?" tanya pak Mahfud setelah mobilnya berjalan beberapa waktu.


"sedang sibuk yah" jawab Akrom pelan, dimana ia sedang meneguhkan hatinya sendiri dari nama Cintya.


"masa nggak ada sedikit wakti untuk antar kamu nak?" tanya pak Mahfud lagi.


"di depan rumah Ridho berhenti ya pak?" sambung pak Mahfud meminta tolong pak Mardi untuk sejenak berhenti di depan rumah Ridho.


"ngapain yah? Kita langsung saja" protes Akrom saat mobil sudah berhenti di seberang jalan rumah Ridho.


"barangkali sekedar pamitan aja?" tanya pak Mahfud yang heran dengan Akrom yang menghindari dari kejadian ini. Sementara bu Maftukhah hanya menyimak tingkah kedua lelaki itu.


"kami sudah saling pamitan tadi di sekolah yah" jawab Akrom lemah untuk jujur.


"hah? Maksudnya sudah saling pamitan?" tanya pak Mahfud dan bu Maftukhah kaget hampir bersamaan.


"emh, maksudnya Akrom sudah pamit untuk berangkat, dan bu Cintya juga sudah pamit dalam artian meminta maaf tidak bisa mengantarkan" penjelasan Akrom yang ia rekayasa sedemikian rupa. Agar tidak menjadi ganjalan bagi kedua orang tuanya.


"kalian baik-baik saja kan?" selidik bu Maftukhah.


"iya bu. Baik" jawab Akrom berusaha meyakinkan kedua orang tuanya.

__ADS_1


Karena dengan alasan Akrom yang ia paksakan, akhirnya mobil itu kembali melaju menuju bandara tanpa ada seorangpun yang keluar dari mobil untuk mengajak Cintya.


"Selamat tinggal cinta, selamat tinggal bunga. Selamat tinggal cerita" ucap Akrom dalam hatinya saat dirinya membelakangi rumah Cintya yang telah dilalui mobilnya.


__ADS_2