Cinta Santri Dan Guru Sekolah

Cinta Santri Dan Guru Sekolah
Pak Rian.


__ADS_3

Sedang ditempat lain Akrom sedang berfikir keras atas penyebab Cintya memutus tiba-tiba saluran telfon mereka.


Dicobanya menghubungi lagi beberapa kali namun tidak kunjung di angkat juga, membuatnya menjadi gelisah serta kacau di benaknya.


"ah dasar sensi sekali guru satu ini" gumam Akrom di ikuti dengan tangannya menaruh ponsel di nakas tempat tidurnya.


Lalu ia memutuskan untuk tidur karena malam sudah terlalu larut.


......------......


Keesokan hari sesampainya di parkiran sekolah, Akrom sengaja menunggu kedatangan Cintya untuk meminta maaf.


"Bu, saya minta maaf soal semalam, bukan seperti itu maksudku, tapi..." ucap Akrom setelah mendekat kearah Cintya yang baru sampai dan melepaskan helm dari kepalanya.


"maaf, saya sudah berharap terlalu tinggi terhadapmu" jawab Cintya lirih menahan air mata yang siap meluncur tanpa aba-aba.


"bukan seperti itu maksud ucapanku semalam"


"sudah lah krom, saya tahu bagaimana posisi saya, saya ke kantor dulu" pungkas Cintya sembari melangkah kakinya berjalan menuju kantor guru tanpa memberi waktu Akrom untuk menjelaskan.


Ia berjalan dengan hatinya bergetar kecewa, disertai titik air mata turun tanpa bisa di cegah.


"kamu kenapa Bu?" tanya pak Rian heran melihat Cintya masuk ruang guru dengan air mata menetes di pipi imut yang merona merah itu.


"tidak ada apa-apa pak" jawabnya singkat menarik kursi mejanya serta meletakan tas di atas meja.


"kalau ada masalah cerita sama saya, barang kali bisa membantumu" ucap pak Rian mengejar.


"saya nggak kenapa-kenapa pak!" tegas Cintya dengan nada sudah naik satu oktav.


Mendapat penyataan seperti itu pak Rian terdiam tidak berani melanjutkan perkataannya takut akan lebih membuatnya marah.


'mungkin karena kekasihmu ya? saya tidak melepasmu begitu saja Bu' gumam pak Rian dalam hati sambil memperhatikan Cintya dari samping.


...-----...


Didalam kelas, Akrom sama sekali tidak konsentrasi dengan pelajarannya. fikirannya melayang menyesali dengan perkataannya semalam yang membuat Cintya marah, mungkin salah faham.


Setelah selesai jam pelajaran, dicarinya Cintya di kantin. disapunya pandangan keseluruh penjuru kantin, tidak didapatinya sosok Cintya yang sudah mengganggu fikirannya.


Setelah memastikan bahwa Cintya tidak ada dikantin. Akrom memutuskan mencarinya ke ruang guru, mungkin sekedar memastikan tanpa dirinya berani untuk mengajak ngobrol Cintya ditempat itu.


"woy krom, kemana kau? sini kursi kosong" seru Wawan teman sekelas Akrom menghentikan langkah Akrom.


"eh, nggak Wan makasih" jawab Akrom menyembunyikan kecemasannya.


"buru-buru amat? emang bawa bekal apa? tumbenan?" tanya Wawan bertubi-tubi.

__ADS_1


"aku lupa kalau mau ke perpustakaan wan" Akrom mencari alasan.


"yaudah deh, nanti aku nyusul krom"


"yo'i bro" jawab Akrom sambil melangkahkan kaki meninggalkan kantin.


Saat sedang melewati ruang guru, hatinya gusar melirik mencari Cintya didalamnya.


Degh!.


Hatinya terasa pedih, ada kekecewaan di dirinya. melihat Cintya tengah mengobrol berhadapan dengan seorang guru yang membelakangi arah jendela. namun Akrom sudah dapat memastikan itu adalah pak Rian.


Ada kekecewaan dalam hatinya akan pemandangan itu, namun ada penyesalan dalam dirinya sudah membuat semua ini mungkin saja bisa terjadi karena ucapannya semalam.


Dirinya mematung terdiam dengan pemandangan itu yang di akuinya sangat bisa membuat hatinya tidak karuan.


"krom, nyari siapa kamu? kok diam aja disitu?" tegur pak Romli guru agama Akrom.


"e-eh. nggak pak, saya tidak nyari siapa-siapa" jawab Akrom tergagap setelah dirinya ketahuan sedang memandangi dalam ruang guru.


"trus kenapa kamu berdiri disini? lihat kedalam lagi?" selidik pak Romli seraya menolehkan kepalanya menuju dalam ruang guru mengikuti arah mata Akrom yang di pergokinya tadi.


"tidak ada apa-apa pak, saya permisi dulu pak, assalamu'alaikum" pamit Akrom sambil tangannya menarik tangan pak Romli lalu di cium tangan guru tersebut.


"eh, iya wa'alaikumsalam" jawab pak Romli menggelengkan kepalanya melihat kelakuan muridnya.


Saat sedang mengobrol dengan keterpaksaan itu, Cintya mendengar suara diluar ruang guru dan melirik kearah luar mencari tahu siapa yang sedang ngobrol.


Degh!.


Seperti tersambar petir rasanya. dia kaget dimana didapatinya sosok Akrom ada disana berbicara dengan guru lain sambil berdiri.


'apa Akrom melihatku sedang berbicara dengan pak Rian berhadapan begini?' gumam Cintya yang sudah tidak menanggapi obrolan dengan pak Rian di hadapannya.


"Bu Cintya!. Bu, kok ngelamun?" tegur Cintya yang bengong sambil tangannya diayunkan didepan wajah Cintya.


"eh. i-iya pak, maaf" Cintya tergagap. hatinya bercampur aduk.


"maaf pak, saya mau ke toilet sebentar" pamit Cintya untuk mencoba menenangkan hatinya.


Tanpa menunggu persetujuan pak Rian, Cintya segera bangkit berjalan menuju toilet.


Meninggalkan pak Rian yang hanya diam ditinggalkan begitu saja.


'emang siapa sih yang mengganggu hatimu Bu? apakah orang di sekolah ini juga?' gumam pak Rian yang matanya sudah mencari-cari siapa sosok yang barusan membuat Cintya tiba-tiba berubah seperti kebingungan.


Setelah Cintya keluar, dicarinya Akrom yang sudah tidak ada lagi dari area situ.

__ADS_1


Dilanjutkannya langkah kakinya berjalan menuju lorong-lorong kelas. berharap akan bertemu Akrom. melihatnya saja tanpa ingin untuk mengobrol.


Cintya masih terluka dengan obrolan mereka semalam, tapi hatinya juga rindu ketika tidak melihat Akrom barang sehari saja.


"eh ada Bu cantik" sapa Aldo sebelah matanya mengerling kearah gurunya itu.


Cintya hanya membalas dengan senyuman tanpa berniat menjawabnya.


"kok buru-buru saja Bu? mau kemana?" Aldo mengejar langkah kaki Cintya untuk menjajarkan jalannya.


"nggak kemana-mana. mau jalan aja" jawab Cintya malas.


"kalau boleh saya temani Bu" goda Aldo selanjutnya.


tanpa membalas ucapannya, hanya melirik kearah samping dengan malas Cintya terus saja berjalan mencari-cari sosok Akrom tanpa mempedulikan Aldo yang terus saja melancarkan serangan godaannya terhadap gurunya tersebut.


"yasudah saya mau balik ruang guru" ucap Cintya kepada Aldo demgan nada datarnya.


setelah tidak menemukan Akrom lalu dia memutuskan kembali ke ruang guru untuk menyiapkan pelajaran setelah jam istirahat.


... ----...


"krom nanti main ke rumahku yok? mumpung PS nya belum aku balikin" ajak ridho kepada Akrom.


"kapan-kapan aja ya dho? mau balik pondok soalnya aku nanti" tolak Akrom.


"yaaah, udah balik lagi aja kamu, yaudah kapan-kapan kita PS'an lagi ya?"


"yo'i dho, gampang itu mah"


"jam berapa kamu nanti berangkat?"


"paling juga habis ashar aku balik dho" balas Akrom.


"sip lah. sukses krom, kadang aku iri sama kamu" ucap ridho.


"lah iri Napa kau dho? perasaan aku ya gini-gini aja?" tanya Akrom heran dengan kening di kerutkan.


"udah di sekolah sering dapat rangking. bisa membagi dengan urusan agama juga, punya penghasilan sendiri juga" ridho menepuk bahu Akrom bangga.


"ah itu mah kebetulan aja dho, apapun tetap harus di syukuri, jangan ngeluh"


"iya deh. sukses buat kamu krom"


"lah, sukses bareng lah dho" balas Akrom menepuk bahu ridho.


Lalu mereka melanjutkan pelajaran hari ini sebelum jam pulang tiba.

__ADS_1


__ADS_2