Cinta Santri Dan Guru Sekolah

Cinta Santri Dan Guru Sekolah
Bab Lima Belas. bonus puisi


__ADS_3

ditempat lain, Vespa yang melaju tak beraturan seiring perasaan yang menahkodai.


hatinya hancur, harapannya seperti terkubur.


ditengah perjalanan ia menepi disudut taman kota. berjalan gontai mencari tempat duduk yang tersedia.


'apakah perasaan ini salah Tuhan? kupasrahkan dia kepada jalan-Mu saja Tuhan' renungnya dengan hati berdebar kecewa.


menikmati pepohonan hijau menaungi anak kecil berlarian riang membawa mainan yang diberikan orang tuanya dengan senyum di bibirnya. sedikit membuatnya tersenyum lega.


"seharusnya seperti itu cinta, seperti anak kecil yang memasrahkan kebahagiaan kepada orang tuanya. harusnya Manusia memasrahkan kebahagiaannya kepada Tuhannya" ucapnya lirih.


setelah kurang lebih dua jam ia menenangkan diri, lalu bergegaslah pulang menuju rumah.


"Assalamualaikum"


"wa'alaikumsalam nak, dari mana kamu?" tanya Bu maftukhah.


"dari rumah ridho Bu"


"tadi ibuk telfon ridho katanya kamu sudah pulang 2 jam lalu, mana hp'mu mati lagi" omel ibunda Akrom.


"maaf Bu tadi mampir sebentar. hp Akrom batreynya habis kayaknya" jawab akrom dengan senyum yang dipaksakan.


lalu ia bergegas pergi menuju kamarnya tanpa mempedulikan ibunya yang masih heran dengan raut wajah ananknya.


ia duduk di kursi belajar, merenung dengan apa yang baru saja terjadi.


beberapa menit setelahnya, diambilnya buku secara acak. lalu dibukanya halaman belakang, yang mana menjadi tempat favorit Akrom menuliskan isi hatinya.


Tentang Subuh


berbuih tasbih berkerumun peluh


diserambi subuh menalu pilu


kerlip bulan perkasa mendayu


menertawai sukmaku yang beradu


diruang batinku tersesak nama


difikiranku terhunus sebuah rasa


serupa pagi angkuh berjalan


derap malam paksa tertelan


salahkan diri berharap kasih?


dari insan yang belum ku mengerti.


salahkan diri membangun kasih?


sedang kumulai harus menepi.


bunga dimeja depan kelasku


disudut rautmu kujaga merayu


bunga dimeja depan kelasku.


apa kabarmu yang kini kuragu?

__ADS_1


 


terdiam dia menerawang angannya, mengingat wajah indah yang sama-samar ia ingat, karena jangan sekali menatapnya.


ia menyalahkan dirinya mengapa menanam cinta dihatinya kepada yang belum pasti.


segera ditutup buku itu dan dikembalikan keasalnya. diambilnya ponsel dan segera di charger lalu di nyalakan.


setelahnya muncul beberapa panggilan tak terjawab dari ibunya dan ridho. serta beberapa pesan dari keduanya.


*****


Seminggu berlalu, kini hari Senin sudah waktunya sekolah kembali masuk. dengan agenda hari pertama adalah halal-bihalal.


para siswa sudah datang ke sekolahnya. tak terkecuali Akrom, ia langsung bersalaman dengan teman-temannya dan bermaafan.


"eh krom, kamu habis dari rumahku kemana? dicariin ibumu kamu" tanya ridho.


"oh aku mampir makan, sama cari angin aja" jawab Akrom berbohong.


"oh kirain kenapa-napa kamu krom"


"gak apa-apa dho. santai aja" senyum Akrom.


sambil bersandar dikursi depan kelas, Akrom melihat-lihat sekitar sesaat kemudian sudut matanya menangkap dua orang sedang berjalan beriringan dari arah kantin menuju arah kantor yang melewati depan kelasnya, sambil membicarakan sesuatu.


sambil hatinya menanyakan sesuatu 'apa yang mereka bicarakan? ah entahlah itu bukan urusanku'.


(Cintya POV)


"Bu, permisi. sudah adakah jawaban soal yang kemarin?" tanya pak Rian mengagetkanku.


aku yang tidak enak menolak didepan umum menjadi bingung "eh, pak gimana ya? nanti saya jawab pak" jawabku menghindar.


"ish pak, jangan berperilaku seperti itu. didepan anak-anak tidak berasap" bentakku pelan.


"maaf Bu, saya reflek" jawabnya memelas.


aku lalu berjalan meninggalkannya menuju kantor, tapi tetap di ikutinya dengan berjalan beriringan denganku.


saat akan melewati depan kelas ridho, disana terlihat Akrom sedang duduk didepan kelas yang matanya sejak tadi seperti menuju kearahku. dan disana juga ada ridho yang sedang bermain ponsel lalu melihatku kaget juga.


"dho, kamu mau ngemil roti?" sapaku kepada ridho dan duduk disebelahnya agar pak Rian tidak terus mengikutiku.


"boleh Bu, mana?" jawabnya seakan mengerti maksudku.


"nih dho" lalu kuambil roti dari dalam tas ranselku.


setelah aku cuekin, tanpa berkata kulihat pak Rian berjalan meninggalkan kami menuju kantor.


"kamu mau krom?" tawarku kepada Akrom yang duduk disebelah ridho.


"makasih Bu" jawabnya datar, lalu pergi kedalam kelas meninggalkan kami berdua.


'kenapa Akrom bertingkah seperti itu? apa iya sejak kejadian dirumah dan barusan ini dia cemburu? hah dia cemburu?' fikirku dalam hati.


sedang ridho hanya melongo dengan sikap temannya itu. lalu memilih cuek dan meneruskan memakan roti ditangannya.


setelah rangkaian halal-bihalal sekolah hari ini. lalu aku segera pulang. tidak dengan ridho karena hari ini dia mau kerumah temannya.


saat berjalan pulang melewati taman kota. kulihat Vespa Akrom terparkir ditepi jalan, aku berinisiatif mencari tahu apa yang membuatnya tiba-tiba pergi waktu di rumahku dan di kelas tadi. sekaligus memastikan perasaanku.


kuparkir motor maticku di samping vespanya. kulangkahkan kaki masuk ke taman kota. kucari berkeliling sosok siswa yang jujur sudah mencuri perhatianku.

__ADS_1


tak lama setelah bejalan menyusuri paving road di area taman. kulihat seorang pria sedang duduk terdiam membelakangi jalan.


"assalamualaikum" tegurku pelan.


"wa'alaikumsalam" jawabnya sambil menoleh kearahku.


"kamu ngapain disini?" tanyaku.


"nggak kenapa-kenapa Bu" jawabnya singkat.


"saya boleh duduk disini?" sambil ku tunjuk kursi taman disebelahnya.


"silahkan" dia menggeser tubuhnya memberi jarak.


"mmm. kemarin waktu dari rumah, kamu kemana? di cariin ibumu padahal sudah pulang 2 jam yang lalu" tanyaku lagi.


"mampir kesini" balasnya singkat.


"emang kenapa?"


"ya nggak kenapa-kenapa, mungkin lagi sumpek aja"


"jadi waktu itu kamu lagi sumpek?" pancingku.


kulihat dia sedikit menegang tubuhnya. "sepertinya begitu"


"kalau boleh tau sumpek kenapa?" lanjutku ragu dengan pertanyaan itu.


"gak apa-apa" dengan suara datar.


aku yang sudah tidak tau lagi menanyakan apa, memilih untuk diam. sambil sesekali melirik kearah Akrom.


sorot matanya tajam menatap kearah depan, seperti ada rasa marah, kekecewaan di sudut matanya.


"selamat ya mbak, saya turut senang" ucap akrom dengan suara datar namun sedikit parau.


"untuk?" tanyaku yang heran dengan ucapannya.


"atas lamaran kemarin" dengan matanya tidak berubah seperti tadi.


"tapi krom, mba-"


"pak Rian orang baik mbak. walaupun saya tidak pernah diajarnya tapi saya tau dia orang baik" lanjut Akrom memotong pembicaraanku.


belum sempat aku berkata lagi, Akrom sudah berdiri menenteng tasnya.


"saya permisi Bu, assalamu'alaikum" pamitnya tanpa memberi waktu aku berbicara.


"wa'alaikumsalam" jawabku masih kaget dengan sikapnya.


'huh, kenapa sih kamu krom? beri waktu buat bicara kenapa sih? egois banget kamu?' gumamku dalam hati sambil memandangi langkah kakinya meninggalkanku sendiri.


aku yang merenung sendiri di taman. mencerna setiap ucapan Akrom dan segala tingkah lakunya.


'sikapn dan kalimatnya aneh' aku yang memikirkannya pun sampai bingung. kucubit-cubit daguku sambil berfikir lebih dalam.


'kamu sungguh misterius krom' ucapku menyerah atas sikapnya.


lalu aku beranjak pulang mengingat hari sudah mau dhuhur.



__ADS_1


Terimakasih berkenan waktunya mampir disini. jangan lupa tinggalkan jejak ya?


__ADS_2