Cinta Santri Dan Guru Sekolah

Cinta Santri Dan Guru Sekolah
Berpamitan Dini


__ADS_3

Siang itu tidak sepi, hanya lidah kedua insan tengah kelu untuk berucap sesuatu.


"aku bisa menuruti apa saja yang menurutmu baik untuk kita, tapi tolong jangan tinggalkan aku" mohon Cintya mengawali pembicaraan.


Akrom yang mendengar permohonan itu hanya diam memikirkan apa saja kemungkinan-kemungkinan dan apa saja yang bisa menjadi solusi antara mereka berdua.


"mungkin yang bisa kita lakukan adalah lebih menjaga jarak, menjaga pandangan. meskipun kita tetap bersama dalam hubungan kita" ucap Akrom berhati-hati.


Tetesan air mata kembali mengalir pelan membasahi pipi Cintya, melampiaskan rasa-rasa yang timbul di hatinya.


"aku hanya tidak ingin kamu pergi, aku sudah menitipkan hatiku padamu, aku tenang dengan caramu menjagaku" serak suara Cintya menggetarkan telinga Akrom.


"aku disini, menjaga diri, mempersiapkan diri,. berusaha menjagamu dengan keterbatasanku yang sangat terbatas" balas Akrom berusaha menenangkan Cintya.


"janji ya jangan tinggalin aku?"


"aku tidak bisa menjanjikannya mbak, tapi aku bisa memastikan aku mengusahakan itu" jawab Akrom pelan namun tegas.


Cintya tersenyum mendengar penuturan Akrom, ia lega atas apa yang disuguhkan oleh lelaki yang dia percaya untuk menambatkan biduknya.


"Udah jangan nangis, bikin nggak tahan aja" ledek Akrom mencoba mencairkan suasana.


"nggak tahan apa?" tanya Cintya heran.


"nggak tahan buat hapus air matamu"


"nih coba aja kalau berani, hayoo" tantang Cintya.


"hehe, ampun mbak. enggak" ucap Akrom pasrah. kini meski sedang menggoda Cintya, Akrom tidak lagi berani memandang wajahnya. menunduk adalah kebiasaan lamanya yang kini ia mulai lagi.


"krom, habis ini ujian. kamu mau lanjut kemana?" tanya Cintya.


"belum tau mbak, kemarin lihat-lihat kampus tehnik di Surabaya sih. cuma masih bimbang" jawabnya pelan.


"bimbang soal?" tanya Cintya penasaran.


"dari pesantren aku dulu pernah daftar beasiswa ke Al-Azhar, sepertinya aku di terima" balasnya dengan suara datar. membuat Cintya membelalakkan matanya kaget.


"al-azhar mana? qairo?" tanya Cintya memastikan.


"iya" jawabnya singkat.


"serius kamu krom? kok jauh?" tak terasa mendung yang telah reda kembali menitikan rintik air dari mata Cintya.


"jauh itu tentang jarak dan bandara. tak bisa diselaraskan dengan berdirinya komitmen" ucap Akrom halus.


Cintya tidak menjawab hanya menutup wajahnya dengan telapak tangan berharap yang sedang di dengarnya hanyalah sebuah mimpi.

__ADS_1


"bukankah kita masih bisa berkirim pesan?" tanya Akrom mencoba menenangkan Cintya.


"beberapa bulan yang kita lalui tanpa kamu menegurku meskipun bertemu, itu sudah menyiksaku krom. apalagi perlu bertahun-tahun harus tanpa bertemu?" serak suara Cintya menjelaskan kegundahannya harus jauh dari Akrom.


"kamu sudah wudhu mbak?" tanya Akrom.


"belum. kenapa emang?" Cintya bertanya balik atas pertanyaan Akrom.


"ayo aku antar kamu wudhu" ajak Akrom yang kini sudah bangkit dari duduknya.


Cintya yang tidak sempat untuk protes hanya bisa menuruti ajakan Akrom. mereka berjalan mencari kran air di taman kota itu.


"kamu lepas sepatu dan kaos kakimu mbak, kamu wudhu" pinta Akrom menunjuk pada sebuah kran air, lalu membalikan badan membelakangi Cintya yang tengah berwudhu.


"udah krom" ucap Cintya dengan membenahi kerudungnya dan merapikan seragam guru yang tengah ia kenakan.


Mereka berjalan kembali ke kursi tempat mereka tadi berbincang.


"ini buat kamu, bacalah bila rindu. semoga ALLOH selalu menjaga kita" Akrom menyodorkan sebuah Al-Qur'an miliknya yang selalu setia dibawanya kemana saja.


"hanya ini yang bisa kuberikan. dan mungkin juga ini" lanjutnya sambil tangannya melepaskan jaket yang ia kenakan.


Cintya menangis kembali menerima pemberian dari Akrom, sebuah hadiah yang semestinya membuatnya senang. namun ia sadar bahwa hadiah ini adalah tanda bahwa raga Akrom akan meninggalkannya ditempat yang jauh.


"jangan nangis mbak. serahkan hatimu pada Tuhan, yakinlah bahwa cinta itu menguatkan bukan melemahkan, dan cinta itu menggembirakan bukan membuatmu sedih" Akrom memberikan jaket kesayangannya untuk Cintya.


"mbak aku bisa minta tolong?" lanjut Akrom.


Cintya hanya menoleh kearah Akrom mengisyaratkan sebuah pertanyaan akan lanjutan permintaannya.


"aku minta tolong beri aku waktu untuk menunaikan cita-citaku. Ikhlaskan agar tenang aku berjalan. itu juga untuk keluarga kecil nanti" lanjut Akrom menerawang jauh tentang masa depannya.


"tolong beri aku waktu ya? beri aku juga semangat untuk menyemangati mu" pinta Cintya balik beserta air mata yang belum juga reda dari muaranya.


"iya mbak, kita lalui bersama" jawab Akrom menyanggupi.


"terimakasih ya krom?"


"untuk?"


"aku bukan orang yang sebaik kamu, semengerti agama sepertimu, dan apapun itu. tapi kamu bersedia menjagaku dengan caramu. dan aku merasa semakin nyaman dengan caramu. kamu menjagaku beserta kehormatanku." penjelasan Cintya panjang lebar.


"semoga Alloh senantiasa memelihara kita" ucap Akrom sambil tersenyum mantab.


"Aaaaaamiin. jadi setelah lulus kamu langsung berangkat?"


"kemungkinan iya, karena langsung mulai pembelajaran"

__ADS_1


"kamu kok bisa masuk kesana? kan susah krom?" tanya Cintya penasaran.


"rekomendasi dari pesantren sih mbak, ya bersyukur sih bisa dapat beasiswa kesana" jawab Akrom.


"kamu mau berapa lama baru balik?" tanya Cintya.


"pengennya sampai lulus stay disana. tapi kasihan nanti ada yang nangis-nangis kalau aku kelamaan nggak balik" jawab Akrom sedikit tersenyum simpul.


"siapa? ibu kamu?"


"bukan" Akrom semakin lebar senyumnya.


"terus siapa? mantan kamu?" tanya Cintya judes.


"kok jadi ke mantan? pacaran aja belum pernah mana ada mantan?" tanya balik Akrom kesal.


"ya siapa tau. habisnya kalau bukan ibumu siapa lagi?"


"ya kali aja cewek yang sejak tadi nangis Mulu waktu dengar aku mau kuliah di qairo" goda Akrom tertawa kecil.


"hah? maksudnya aku?" tunjuk Cintya pada dirinya sendiri.


Akrom hanya tersenyum mengejek atas pertanyaan Cintya. membuatnya jadi tersipu malu.


"tuh kan, ketahuan deh nanti di tinggal pasti nangis-nangis kalau lama nggak pulang-pulang" goda Akrom.


"ya aku susul lah, gitu aja kok repot?" balas Cintya menantang.


"emang berani?" ejek Akrom lagi.


"berani lah, awas aja kalau kelamaan nggak pulang aku susul, aku seret pulang" ancam Cintya dengan mata melotot.


"pokoknya mulai sekarang aku nabung buat jaga-jaga kalau cowok ngeselin satu ini nggak pulang-pulang" lanjut Cintya.


"nabung buat kesana?" tanya Akrom.


"iyalah" jawab Cintya mantab.


"iya bisa nabung buat kesananya. trus buat muter-muter nyariin aku, buat menginap, buat makan?" tanya Akrom menahan tawanya atas rencana kenekatan Cintya.


"ya ngikut kamu lah. masak iya udah di samperin kesana nggak mau ngurus? katanya mau jaga aku? hayo" ledek Cintya.


"iya deh iya. nyerah deh kalau udah di ancam gitu" pasrah Akrom atas perkataan Cintya.


"nah gitu dong itu baru anak pinter" ucap Cintya penuh kemenangan.


Hari semakin menuju sore. Mereka memilih mengakhiri perbincangan siang itu dan segera pulang kerumah masing-masing.

__ADS_1


Dengan kelegaan Akrom telah mengungkapkan apa yang sedang menghardik benaknya. meskipun menyisakan keresahan di antara mereka atas rencana Akrom memilih kuliah di al-azhar. kampus impian banyak orang.


__ADS_2