Cinta Santri Dan Guru Sekolah

Cinta Santri Dan Guru Sekolah
NP: Djamrud "Mengejar Nirwana"


__ADS_3

Waktu terus bergulir menjauhi hari yang telah terjadi. mengguratkan kuas dan cat di lembaran kanvas masa yang baru.


"kamu yang serius belajarnya Krom, jangan main PS terus sama Ridho" ujar Cintya saat sedang menyantap makan siangnya di kantin sekolah waktu istirahat.


"iya bu, orang rental PS juga sudah habis seminggu kedepan, sudah di pesan anak-anak kelas satu dan dua yang mau liburan UN" jawab Akrom sembari memasukan suapan nasi ke mulutnya.


"jadi kalau nggak habis di sewa kamu mau rental?" sorot mata Cintya mendadak tajam kearah Akrom menanggapi jawaban Akrom.


"enggak lah, di pondok mana ada TV yang bisa buat PS'an?" masih dengan nada enteng Akrom membalas pertanyaan Cintya.


"pokoknya aku nggak mau tau kamu harus fokus belajarnya" pinta Cintya memaksa.


"iya bu guru yang manis. tapi setelah ini nggak boleh nangis ya?" balas Akrom dengan senyum genitnya.


"kenapa nangis?"


"karena setelah ini hanya do'a yang bisa mengobati rindu, hanya ucapan-ucapan yang bisa kita lakukan tidak bisa lagi melihatmu" Akrom menjelaskannya setelah tandas suapan terakkhir.


"Krom" raut wajah Cintya mendadak sendu setelah sedari tadi garang memperingatkan Akrom.


"tenang bu, bagiku itu lebih mudah untuk menahannya daripada kita harus selalu bersama" lanjut Akrom dengan nada tenang.


"apa kamu sudah bosan denganku?" raut sendu di wajah Cintya semakin menjadi.


"menahan rindu itu lebih mudah bu, dibanding menahan diri dari hawa nafsu jika kita harus terus bersama"


"kalau kamu yakin akanku, peluk tubuhku dengan do'amu jika ombak rindu menerjang kakimu agar kamu tak tenggelam. dan kalau kamu yakin akanku, pastikan arah tujuan kita sama. nanti kita bertemu untuk mengarungi segalanya bersama. semoga" ujar Akrom dengan wajah serius memandang manik mata indah Cintya yang sudah lembab berkaca mencerna setiap kata.


"aku masih belum bisa terbayangkan jika harus jauh dari kamu Krom" serak suara Cintya mengeluarkan kalimatnya.


"tidak perlu di bayangkan bu, jalani saja dan nikmati" ujar Akrom refleks menggenggam pergelangan tangan Cintya yang tertutup oleh lengan baju kerjanya, tanpa lagi peduli dengan sekitarnya.

__ADS_1


Hening, terasa hening menyelimuti mereka berdua meskipun tengah berada di kantin yang tengah ramai siswa yang tengah beristirahat mengisi perutnya masing-masing. mereka tenggelam akan fikiran sendiri-sendiri. tentang apa dan bagaimana hari yang akan terjadi.


"brug" suara yang mengagetkan juga dorongan di bahu kenan Akrom menyadarkan mereka berdua yang tengah bersendu tidak pada tempatnya.


"oh, maaf bu" buru-buru Akrom menarik tanganya dari pergelangan Cintya.


"oh iya Krom, nggak apa apa" jawab Cintya malu-malu, dimana iapun tidak menyadari bahwa Akrom tengah memegang tangganya.


Lalu di liriknya kanan-kiri mencari siapa yang telah menabrak bahunya, sedang Akrom sendiri sudah duduk di kursi, tidak sedang berdiri di jalan.


Sebuah senyuman dan dongakan kepala seakan memanggil dan berkata kepada Akrom, di ujung sana Agus baru saja duduk di kursi kantin tidak jauh dari tempat Akrom. lantas Akrom pun melambaikan tangan tanda terimakasih kepada Agus yang lagi-lagi di jawab oleh sebuah dongakan kepala ke atas.


Rupanya saat Akrom memegang pergelangan tangan Cintya, Agus menyadarinya. untung saja belum ada yang melihatnya saat Agus mengedarkan pandangan di sekitar. lalu dengan inisiatifnya ia mengingatkan sahabatnya itu.


"maaf bu kebawa suasana" ucap Akrom lirih meratapi kecerobohannya.


"iya Krom, jangan di ulangi lagi ya?" jawab Cintya merunduk malu-malu.


"Krom, kalau sudah benar-rindu apakah kita bisa menyempatkan waktu untuk bertemu?" ujar Cintya lirih dengan suara sedikit serak.


"pintalah Tuhan untuk mempertemukan. semoga di beri jalan" jawab Akrom menggantung. karena ia pun masih ragu dengan apa yang akan menyibukannya nanti.


"mmm, sepertinya aku melihat ragu di wajahmu" telisik Cintya memandang lekat kearah lelaki di depannya.


"sedangkan aku sendiri belum tahu seperti apa kesibukan mahasiswa yang kuliah di luar negri yang berharap untuk segera pulang" jawab Akrom serius namun penuh kepasrahan.


"baiklah, seperti apa kabarmu selalu ku tunggu, jarak dan bandara adalah sebuah harapanku" ujar Cintya yang akhirnya juga menyerah untuk pasrah dengan keadaan yang membuat semuanya menjadi 'harus' dan 'bagaimana lagi'.


"semuanya adalah ilmu waktu, kita tidak akan pernah tahu sebelum terjadi. tidak perlu berandai-andai. jalani saja nanti juga akan nikmat" Akrom menjelaskan untuk menguatkan Cintya tentang cerita yang akan mereka jalani.


"iya Krom, maksud ķamu kita hanya bisa bersemoga dan menilik kembali mengapa sesuatu terjadi kan?" tebak Cintya.

__ADS_1


"benar bu, Tuhan sudah menyiapkan sesuatu yang luar biasa baik untuk kita. hanya waktu dan moment saja yang harus kita jalani terlebih dahulu" jawab Akrom membenarkan tebakan Cintya.


"yasudah, ayo kita kembali ke kelas Krom, udah mau bel" ajak Cintya setelah mengengok jam yang ada di ponselnya.


"iya bu, kamu duluan saja. aku mau bareng Agus aja" setuju Akrom untuk mengakhiri obrolan di meja kantin namun tidak untuk kembali ke kelas saat ini.


"oke deh, aku duluan Krom" pamit Cintya yang tengah hendak berdiri.


"iya bu, nanti pulang sekolah aku tunggu depan sekolah" jawab Akrom yang juga langsung berbalik badan meninggalkan meja tempat mereka makan.


Saat Cintya hendak berbalik untuk menanyakan maksud ucapan Akrom, sudah tidak ada di tempatnya lagi seorang lelaki yang sedari tadi menemaninya makan, sudah membelakanginya menuju meja lain yang di sana ada Agus dan teman lainnya.


Ingin kesal tapi tidak bisa, ingin mengajar tapi disana ada banyak siswa. akhirnya ia hanya bisa bertanya melalui pesan via ponsel. meskipun hingga waktu pulang sekolah tidak ada balasan.


"motormu kemana?" tanya Cintya sedikit bertetiak saat sudah di depan Akrom yang tengah berdiri di trotoar jalan depan sekolah.


"di bengkel bu" jawabnya singkat sembari berjalan mendekati Cintya.


"terus? ngapain suruh ketemu disini?" tanya Cintya heran karena Akrom mengibaskan tangan untuk menyuruh tangan dan posisi badan untuk bergeser ke belakang.


"udah ngikut aja. nggak lagi ada acara kan?" tanya balik Akrom tanpa menjawab pertanyaan Cintya.


"enggak ada, kemana sih? kok aneh gitu?" protes Cintya, namun protes hanya ada di mulutnya tapi tidak dengan tindakan. ia hanya menurut permintaan Akrom.


"nah bagus nggak ada acara, udah ngikut aja" ujar Akrom tanpa mengindahkan protes Cintya.


"jangan macem-macem loh Krom" menjadi kalimat peringatan yang keluar dari mulut Cintya. meskipun itu hanya sebuah kalimat basa-basi karena ia percaya bahwa Akrom juga tidak berani macam-macam padanya.


Dan lalu mereka pergi ke sebuah tempat yang hanya Akrom tahu tujuannya.


__ADS_1


Baca Episode ini sambil dengerin lagunya Djamrud "Mengejar Nirwana". sepertinya asyik


__ADS_2