
"hah, guru Akrom? maksudnya Bu?" tanya pak Mahfud penasaran. membuat Akrom semakin tersipu dengan lontaran pertanyaan dari ibunya.
"ayah belum tahu ya? tuh anak ayah sudah berani cinta-cintaan, sama gurunya malah" goda Bu maftukhah lebih lanjut.
"wah anak muda jaman sekarang. tapi kamu harus jaga diri ya krom, kamu punya tanggung jawab besar sebagai laki-laki untuk bermain hati" pak Mahfud mengingatkan dengan wajah serius.
"iya yah, Akrom jaga diri, jaga kehormatan akrom juga" jawab Akrom.
"jaga kehormatan wanitaku juga krom. ingat kamu harus mencintai dengan cara jantan" imbuh Bu maftukhah mengingatkan.
"iya Bu" jawab Akrom lagi kepada ibunya.
"ayah besok pulang kerja siang. kamu ajak kesini, kenalin sama ayah" perintah pak Mahfud.
Akrom hanya mengangguk dengan senyuman untuk menjawab perintah dari ayahnya itu.
"kamu sudah bilang sama Cintya krom?" tanya Bu maftukhah.
"sudah Bu tadi siang" jawab Akrom.
"gimana dia? nggak nangis di tinggal cowok keren ini?" godanya lagi.
"ya mirip-mirip ibu lah" balas Akrom menggoda ibunya.
"maksudnya mirip ibu?" ganti tanya Pak Mahfud penasaran.
"iya yah, sama aja nangis dulu terus pada akhirnya setuju-setuju aja" jawab Akrom tertawa pelan.
"krom itulah perempuan, hati mereka lembut. hati mereka mudah tersentuh oleh sesuatu hal, kamu sebagai laki-laki tidak boleh terlalu membuat mereka menangis. terlebih jika itu adalah sebuah kesalahan" Tutur pak Mahfud memperingatkan putranya.
"iya yah" jawab Akrom.
...---------...
Ditempat lain cintya sedang melamun di depan tv dalam rumahnya. menyiapkan hatinya untuk mengikhlaskan Akrom akan jauh darinya.
"mbak, ngelamun aja nanti kesambet Lo" tegur ridho membuyarkan lamunan Cintya.
"ah kamu dek, dek kamu sudah tahu Akrom mau kuliah di luar?" tanya Cintya.
"di Al-Azhar?" tanya balik ridho.
__ADS_1
"kamu sudah tahu?" tanya Cintya lagi mengelidik.
"tau lah mbak, Akrom dulu kelas XI pernah bilang kalau mengajukan beasiswa kesana. makanya di pesantren dia giat banget belajar" balas ridho sambil memencet remote TV mencari-cari saluran TV yang bagus.
"kok kamu nggak bilang aku?"
"ya buat apa mbak? kan akhirnya tau sendiri kan?". tanya ridho.
"ya setidaknya aku tahu dari awal nggak mendadak dho, mbak ya kaget" gerutu Cintya.
"akrom sudah bilang ke mbak Tya?" tanya ridho penasaran.
"iya tadi pulang sekolah Akrom bilang ke mbak"
"duh kasihan, bulan-bulan kemarin habis di cuekin, sekarang sudah bisa ngobrol malah dapat kabar mau di tinggal" ledek ridho.
"ah sialan malah ngeledek nih bocah ya?" ucap Cintya mencubit pinggang adiknya.
"ya begitulah Akrom mbak, dia memang kalau orang yang baru kenal mengira menjadi orang misterius. tapi dibalik itu dia sedang bertarung dengan segala fikirannya dalam diamnya" ucap ridho.
"tapi percaya sama ridho. dia orangnya sebenarnya baik dan penyayang, hanya saja karena baiknya dia tidak mau merepotkan orang lain. bahkan untuk sekedar bertukar bebannya" lanjut ridho yang disimak serius oleh kakaknya itu.
"karena Akrom seperti itu, makanya mbak sedikit takut dia jauh dho, jujur ya mbak udah nyaman dengan temanmu itu" Cintya menarik-narik ujung kaos yang ia kenakan menggunakan jemarinya.
"bilang apa kamu? coba ulang lagi" geram cintya melototkan matanya tajam.
"ampun mbak, ampun. nggak bilang gitu lagi" erang ridho memohon Cintya melepaskan cubitannya.
"rese' sih kamu" dengus Cintya melepaskan tangannya.
"dibilang galak nggak mau, tapi suka nyubitin orang" seru ridho yang langsung berlari meninggalkan Cintya.
"wah kurang ajar ini bocah" pekik Cintya melemparkan bantal sofa ke arah ridho.
"eh apaan sih ini? adik kakak ribut Mulu tiap hari, heran deh?" seru Bu Wiwid melerai Cintya dan ridho.
"itu buk, mbak Tya jadi sensian mau di tinggal Akrom menyebrangi samudera" ledek ridho yang bersembunyi di belakang tubuh ibunya.
"ish ini apa lagi malah sembunyi dibelakang ibu" Bu Wiwid melepas tangan ridho dari pundaknya.
__ADS_1
"takut sama itu tuh Bu" jawab ridho sambil tertawa kecil.
"kenapa sih kamu nduk?" tanya Bu Wiwid melihat Cintya sedang duduk cemberut.
"yah ibu, udah ridho bilangin mau di tinggal Akrom pergi menyebrangi samudera kok" jawab ridho menyela.
"ibu tanya mbak Tya dho. ngikut aja deh" bentak Bu Wiwid membuat ridho hanya nyengir kuda sambil mengusap tengkuknya.
"sukurin. bocah rese" ledek Cintya.
"udah-udah. kenapa sih?" tanya Bu Wiwid serius.
"Akrom mau kuliah di luar negeri Bu" jawab Cintya lalu memeluk tubuh ibunya.
"kemana?" tanya Bu Wiwid lagi penasaran.
"Al-Azhar Bu"
"Mesir?"
"iya Bu" Cintya membenamkan kepalanya di pelukan ibunya yang selalu bisa membuatnya tenang.
"nduk, Akrom itu laki-laki. biarkan dia menggapai semua cita-citanya, agar lekas tercapai semua dan itu pasti akan di persembahkan untuk keluarganya. termasuk keluarga kecilnya nanti" ucap Bu Wiwid mengusap kepala putrinya agar ia lebih tenang dan ikhlas menerima keadaan yang akan di laluinya.
"tapi Bu, Cintya sedikit ragu jika harus jauh dari Akrom" rengek Cintya.
"iya tuh Bu, kemarin di cuekin Akrom aja udah mau makan orang aja tuh mbak Tya" ledek ridho ikut nimbrung.
"ridho diam" bentak Bu Wiwid dengan mata melotot. membuat ridho seketika terdiam. Cintya menjulurkan lidahnya mengejek ridho.
"kamu lebih suka mana nduk? ketika pendampingmu sudah menggapai cita-citanya dan siap mempersembahkan untuk keluargamu atau ketika sudah menikah akan meninggalkan keluarga demi harus mengumpulkan cita-citanya?" tanya Bu Wiwid mengajak Cintya membuka fikirannya lebih jauh kedepan.
Cintya menatap ibunya setelah mendapati penjelasan darinya yang dirasa begitu jauh kedepan, membuatnya merasa sedikit lega. ada dorongan lebih untuk mengikhlaskan jalan Akrom mengarungi segala cita-citanya yang meskipun jauh darinya.
"gimana menurutmu? kamu pilih yang mana nduk?" tanya Bu wiwid lagi.
"Cintya akan senang ketika nanti suamiku tidak jauh dariku dan anakku Bu" jawab Cintya lirih.
"nah, itulah kenapa manusia perlu menahan sekedar kenyamannya saat ini demi kenyamanan hari depan yang lebih lama" Bu Wiwid menyentuk kedua pipi putrinya dengan kedua telapak tangannya.
"iya Bu, makasih ya? tolong bantu Cintya untuk tetap sabar nunggu Akrom ya?" rengek Cintya sembari menitikan air mata.
__ADS_1
"Akrom sendiri akan bisa menjaga hatimu untuk tetap tinggal baginya, tanpa perlu ibu bantu nduk. asal kamu tidak menitikan air mata seperti ini" lanjut Bu Wiwid menarik tubuh Cintya kembali ke pelukannya.
Ridho yang sejak tadi menyimak percakapan ibu dan kakaknya hanya terdiam. dalam hatinya ia berjanji untuk membantu menjaga kakaknya demi sahabatnya.