Cinta Santri Dan Guru Sekolah

Cinta Santri Dan Guru Sekolah
Tic Band "Perjalanan Cinta"


__ADS_3

"kok kesini Krom?" tanya Cintya saat Akrom menghentikan laju motor di sebuah tempat yang asing.


Akrom hanya tersenyum dengan tatapan mata yang aneh.


Akrom memarkirkan motor di sebuah gubuk dekat sebuah warung, sudah izin parkir terlebih dahulu tentunya.


"ngapain sih Krom? pergi di tempat sepi begini? mana rimbun banget. jangan macam-macam deh Krom" omel Cintya dengan tingkah Akrom.


"udah ikut aja, kalau nggak mau aku macam-macam" ajak Akrom yang tidak menghiraukan omelan Cintya. membuat Cintya tiba-tiba takut dan ragu.


Cintya hanya mematung ketakutan. tingkah aneh Akrom dan pilihan tempat yang di kunjungi oleh Akrom adalah sebuah hutan lumayan dalam dari jalan raya.


"kamu kok tumben aneh Krom? ngajak agak maksa, di tanyain kemana nggak jawab, sekarang aku malah di bawa ke tempat begini" gerutu Cintya mengekor langkah Akrom tepat di belakangnya.


'bruk'.. Cintya yang tengah menggerutu sambil menunduk melihat langkah kakinya dengan sepatu kerja menghindari dahan dan dedaunan menabrak tubuh Akrom saat tiba-tiba berhenti tanpa ia sadari.


"aduh, kok tiba-tiba sih berhentinya?" omel Cintya sembari menepuk punggung Akrom kesal.


"udah nggak usah ngomel terus, lihat ke depan" balas Akrom dengan pandangan yang tidak bergeming lurus ke depan.


"waah, tempat apa ini Krom? cantik banget" binar mata Cintya ikut menceriakan raut wajahnya.


"nggak tahu namanya, cuma aku sering kesini" jawab Akrom melangkah masuk ke area tepi danau yang berada di tengah hutan. dengan di kelilingi rumput hijau dan beberapa pohon bunga menyemarakan keindahan tempat itu.


"kok aku baru tahu Krom? ada tempat indah kaya gini?" pandangan mata Cintya masih tidak bisa lepas mengedarkan sorotnya mengelilingi area sekitarnya.


"syukurla kalau nggak tahu mbak" jawab Akrom dengan santai.


"kok gitu?"


"semakin jarang orang tahu, semakin jarang yang kesini, semakin jarang pula kerusakan yang akan timbul" jelas Akrom memberikan alasannya.


"terus kamu kok bisa tahu?" kejar Cintya yang mulai tidak bisa terima begitu saja perihal debat dengan Akrom.


"aku suka menyendiri di alam, jadi ya selalu cari tempat baru yang sunyi, makanya aku juga nemuin tempat ini" cerita Akrom.


"jadi awalnya kamu juga nggak tahu?" tanya Cintya.


"iya mbak, dan kamu juga harus tahu kenapa aku ajak kamu kesini"


"kenapa tuh?" tanya Cintya penasaran namun pandamgannya tidak bisa berpaling dari indahnya danau yang di sinari matahari dari celah pepohonan.

__ADS_1


"tempat ini menurutmu indah?"tanya balik Akrom.


"indah banget Krom" jawab Cintya sembari mengangguk.


"kalau perjalanannya kesini tadi?" lanjut Akrom masih dengan pertanyaannya.


"capek banget Krom, mana jalannya licin, banyak lumut, jauh, naik turun harus jalan kaki" jawab Cintya yang tiba-tiba dengan raut kesalnya mengingat perjalanannya menuju danau.


"kamu percaya nggak? bahwa cinta begitupula kehidupan itu seperti perjalanan kita kesini. kita melewati jalan yang berat untuk sampai di tempat indah ini" Akrom menjelaskan maksud pertanyannya.


Cintya tersentak mendengar jawaban lelaki yang hanya dia ditempat itu menemaninya.


"sepertinya memang begitu Tuhan menyediakan cerita di setiap cinta dan kehidupan manusia. bener nggak?" lanjut Akrom lalu menoleh ke arah Cintya.


Cintya hanya mengangguk pelan sembari menggelengkan kepala lemah, ia menyetujui ungkapan Akrom sekaligus tidak percaya bahwa muridnya menganalogikan kehidupan sejauh ini.


namun yang lebih berkecamuk di benaknya adalah perjalanan berat yang akan mereka lalui sebelum akhirnya sampai di tujuan yang indah. Cintya menerka 'mungkin itu maksud Akrom'.


"dan kitapun tidak bisa hanya berdiam diri disini mbak, kita akan mati jika berdiam diri, kita perlu melangkah untuk mencapai sesuatu yang lebih" ujar Akrom sembari menunjuk jalan setapak tempat mereka datang.


"maksudmu?" tanya Cintya heran.


"ya kita harus keluar dari zona nyaman kita mbak untuk melanjutkan hidup" ujar Akrom.


"di jalan tadi kamu mengeluh, hampir nyerah, jika kamu berhenti apa kita akan sampai di sini mbak?" lanjut Akrom masih dengan pertanyaan yang menjebak Cintya.


"enggak" jawab Cintya.


"seperti ujian hidup mbak, kalau kita berhenti, menyerah bahkan putar balik. kita tidak akan mendapatkan keindahan yang telah di sediakan Tuhan yang kita tidak tahu apa itu" ujar Akrom membalas jawaban Cintya.


"Krom, kalau aku kamu rasa hendak menyerah, kuatkan aku ya?" pinta Cintya.


"aku juga bukan orang yang akan selalu tegak mbak, kita saling menguatkan" jawab Akrom rasional.


"semoga kita sama-sama kuat" balas Cintya lagi.


"Aaaaaamiin" jawab Akrom.


"kamu sering kesini Krom?" tanya Cintya setelah topik yang berat mereka bicarakan


"hanya dua kali, dua tahun lalu dan sekarang"

__ADS_1


"selama dua tahun ini tempatnya masih sama? aman berarti?" tanya Cintya lagi.


"Alhamdulillah tempatnya masih sama asrinya, hanya keadaannya saja yang berbeda"


"keadaan yang bagaimana?"


"keadaan bahwa dua tahun lalu aku kesini sendiri dan saat ini aku kesini dengan kamu yang bisa ku ajak menikmatinya" jawab Akrom yang langsung berimbas pada raut wajah Cintya.


"alah gombal, mending kita pulang saja daripada aku mabuk kena gombalanmu Krom" Cintya pura-pura merajuk seperti anak remaja yang tengah jatuh cintya.


"iya ayok, lebih cepat lebih baik" balas Akrom dengan langsung berdiri.


"loh, kok?" Cintya yang kaget niatnya hanya pura-pura di tanggapi serius oleh Akrom.


"iya, udah mau sore, juga setan udan banyak gentayangan" jawab Akrom memungut tasnya.


"ah serius kamu Krom, nggak usah bercanda deh" cepat-cepat Cintya merapat kebadan Akrom sambil memeluk erat tas Akrom.


"iya, setannya bisikin sahwat terus, makanya ayo cepet keluar" ujar Akrom bejalan menuju jalan setapak untuk keluar area danau.


"iiih, serius Krom" gemas Cintya mencubit lengan Akrom.


"aduh sakit mbak" Akrom meringis memegangi lengannya.


"siapa suruh rese'?"


"iya deh, jalannya licin hati-hati" ujar Akrom mengingatkan Cintya.


Perlahan mereka berjalan, langkah demi langkah pendek dan pelan mereka tapaki dengan sabar. hingga hampir 30 menit akhirnya mereka sampai di perkampungan tempatnya memarkirkan motor.


"lapar nggak?" tanya Akrom saat mereka hendak bergegas melajukan motor.


"lumayan, capek jalan kaki Krom, mana nggak bawa bekal" jawab Cintya yang belum reda ngos-ngosannya sehabis berjalan keluar dari area hutan.


"kamu mau makan apa?" tanya Akrom.


"apa aja Krom, yang penting ada esnya, haus banget" pasrah Cintya.


"oke, nggak boleh protes" ujar Akrom sembari menutup kaca helm Cintya, sebagai tanda bahwa tidak boleh ada protes penolakan. karena Cintya sudah pasrahkan ke Akrom.


"ihh resee'. jahat banget sih?" gerutu Cintya dengan bibir manyunnya.

__ADS_1


"biarin, biar rese' gini udah bikin guru saya jatuh cinta loo" goda Akrom yang sontak membuat Cintya tak berkutik.


__ADS_2