Cinta Santri Dan Guru Sekolah

Cinta Santri Dan Guru Sekolah
Penjelasan Akrom.


__ADS_3

Bulan terus berganti. Masih dengan perubahan sikap Akrom beserta ketidak mengertian Cintya. beserta ketidak mampuan Cintya mengungkap apa yang sebenarnya tengah terjadi.


"krom aku mau bicara sesuatu" ucap Cintya serius saat mereka bertemu di depan kelas waktu istirahat.


Akrom hanya celingukan mencari-cari sesuatu tanpa menjawab perkataan Cintya. Lalu ia menunjuk sebuah kursi taman yang terletak didekat lapangan basket. Cintya mengikuti arah Akrom.


Setelah sampai Akrom mempersilahkan Cintya duduk tapi ia tetap berdiri membelakangi Cintya menghadap lapangan basket.


Cintya menghela nafas panjang mendapati perlakuan yang semakin jauh berbeda dari Akrom.


"kamu ada masalah apa krom? aku rasa beda sekali" ucap Cintya setelahnya.


"soal apa yang beda?" tanya balik Akrom dengan nada datar. masih dengan pandangan ke arah lapangan.


"soal hubungan kita" ucap Cintya pelan.


"krom, bermalam-malam aku menahan diriku atas sikapmu yang aku sendiri tidak tau kenapa, aku menahan untuk berfikir bahwa kamu mungkin masih terlalu dini menjalani hubungan sesuai ekspektasi ku, dan bukan salahmu berubah. tapi setidaknya ucapkan apa yang ada di fikiranmu." lanjut Cintya.


Akrom menghela nafas panjang dan menundukan pandangannya. seisi otaknya dipenuhi rasa bersalah akan Cintya. namun hatinya juga tak bisa memungkiri ia sudah melangkah terlalu jauh.


"kenapa diam krom? aku butuh penjelasan darimu" ucap Cintya dengan nada yang sedikit meninggi, yang kini ia pun sudah bangkit dari kursinya beserta air mata yang sudah siap mengalir tipis di pipi.


Lidah Akrom kelu untuk sekedar berbicara, otaknya pun bingung untuk mengucapkan keadaan ini dengan cara apa, kalimat yang bagaimana, serta mulai dari mana.


"kamu egois krom!" bentak Cintya yang lalu meninggalkan Akrom dengan langkah cepat sedikit berlari menyembunyikan air mata yang sudah tidak lagi bisa terbendung.


Akrom hanya bisa memejamkan mata mencerna ucapan Cintya, terlebih kalimat yang terakhir ia dengarkan.


Saat bel pulang sekolah berdering. Akrom menunggu Cintya di parkiran. terlihat Cintya yang akan menuju parkiran pun sedikit ragu untuk melangkahkan kakinya saat melihat Akrom sudah ada di sana terlihat seperti menunggu seseorang.


"Bu, kita ke taman kota. aku tunggu disana" ucap Akrom tanpa menunggu jawaban Cintya ia bergegas pergi dari parkiran sekolah untuk menuju taman kota.


Cintya ingin protes namun tidak bisa, tidak ada waktu untuknya bicara sedang Akrom langsung meninggalkannya begitu saja.


Akhirnya Cintya pun mengikuti keinginan Akrom, karena ia sendiri merasa belum puas dengan pembicaraan mereka waktu istirahat tadi.


Di taman kota, Cintya mencari-cari keberadaan Akrom di tiap sudut. dilihatnya sosok lelaki dengan seragam sekolah yang atasnya tertutup dengan jaket, sedang duduk memandangi pepohonan membelakangi area pejalan kaki.


"krom" sapa Cintya dengan ragu.

__ADS_1


Akrom menolehnya sebentar lalu kembali membelakangi Cintya.


Lalu hening, tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut mereka berdua. hingga Akrom memecah keheningan itu "maaf, mbak" ucapnya lirih.


Cintya melirik kearah Akrom sambil menunggu kalimat lanjutan. namun ia rasa tidak ada kalimat lagi.


$untuk?" tanya Cintya sudah tidak sabar.


"untuk kelancanganku, kelabilanku, dan terlebih untuk keegoisanku" ucap Akrom dengan suara terdengar sedikit bergetar.


"maksudnya? bisa jelasin nggak?" tanya Cintya lagi.


Akrom diam saja, setelah kurang lebih semenit terdengar helaan dan hembusan nafas Akrom sebelum mengeluarkan kata-kata.


"kelancanganku memintamu untuk kujadikan kekasih, kelabilanku atas persimpangan-persimpangan yang ku temui, dan keegoisanku yang hanya memikirkan persimpangan di benakku tanpa mempedulikanmu" jawab Akrom.


"gimana sih maksudnya?" tanya Cintya lagi yang semakin penasaran.


Akrom memutar badannya kini sejajar dengan Cintya, berada disisi Cintya.


"mbak, maaf. aku sudah lancang mencintaimu dan kini mungkin kita sama-sama saling mencintai"


"namun setelah apa yang kita jalani beberapa bulan kemarin, kamu ngerasa nggak bahwa itu terlalu jauh untuk kita yang belum muhrim?" lanjut Akrom.


"aku takut bahwa kita semakin berbuat lebih jauh karena terbiasa, hingga memaklumi berbagai hal yang seharusnya tidak kita lakukan sebelum muhrim"


"dimana itu menyalahi dengan apa yang aku janjikan kepada ibuku, disamping itu juga dilarang oleh agama"


"memang kamu janji apa sama ibumu?" tanya Cintya penasaran.


"aku harus mencintai cinta secara jantan" jawabnya lemah.


"maksudnya?" tanya Cintya lagi.


"mbak, kamu tahu? menyentuhmu saja bagiku sudah membuatku takut, bagaimana aku bisa menjaga kehormatanmu sedang menyentuh wanita yang belum muhrim aku maklumi?" Akrom memberi penjelasan.


Cintya memandang wajah Akrom dengan air mata mengalir deras, dalam hatinya ia sedang mendapat kelegaan teramat besar. dimana seseorang yang sudah di percayanya untuk melabuhkan hatinya memiliki pola fikir sebegitu jauh untuk menjaga dirinya.


"krom, jadikan aku muhrimmu, agar kamu bisa menjagaku lebih jauh dan memenuhi janji kepada ibumu lebih mudah" ucap Cintya tanpa bisa ia kontrol kalimat yang meluncur dari mulutnya.

__ADS_1


Sedikit ia menyesali kalimat itu, namun sedikit lega karena sudah bisa melontarkan apa yang ada di dalam dikirannya.


Akrom menolehnya dengan pandangan heran dengan permintaan Cintya.


"belum semudah itu mbak" ucap Akrom dengan sorot matanya memandang jauh kearah tengah taman.


"kenapa?" tanya Cintya.


"ijab Qabul adalah dimana aku seperti terlahir untuk kedua kali, dimana bayi yang baru lahir langsung diberi beragam tanggung jawab. bukan hanya tentang kata dunia dan kata akhirat. tapi di setiap kata itu ada percabangan ya g jauh lebih luas"


"dan jujur, aku belum berani untuk memikul itu" lanjut Akrom dengan Cintya yang masih setia mendengar setiap penjelasannya.


"tapi aku yakin kamu bisa krom, meskipun awalnya susah" kata Cintya berharap dengan meyakinkan Akrom.


"aku masih sekolah mbak" ucap Akrom pelan.


"aku tunggu kamu lulus krom" balas Cintya pelan juga namun dengan nada tegas.


Akrom hanya menoleh heran kearah Cintya tanpa mengeluarkan kata. namun dilihatnya tidak ada ketidakseriusan yang ia temukan disana.


"lalu akan kamu apakan hubungan ini?" tanya Cintya dengan kening berkerut.


"itu yang membuatku berada di persimpangan. dan aku tidak ingin menjadi egois lagi seperti yang kamu bilang tadi. aku ingin tanya bagaimana menurutmu?" tanya akrom balik.


Cintya sedikit merasa sungkan dengan kalimat Akrom, dimana Cintya sudah mengumpat Akrom dengan kata egois tanpa belum tahu apa yang sedang ada di benak Akrom.


"Krom, aku tidak ingin jauh dari kamu. apalagi sampai harus berpisah. aku merasa nyaman dan aman denganmu" ucap Cintya pelan.


Akrom menundukan kepalanya dengan tangannya mengacak-acak rambutnya.


"kenapa? kamu keberatan krom?" tanya Cintya heran.


"bukan, bukan keberatan. tapi aku sendiri bingung harus bagaimana mbak" jawab Akrom lemah.


mereka sama-sama terdiam akan keadaan ini. sama-sama belum mengetahui dan mendapat jawaban atas situasi yang tengah mereka alami.


... ------...


Maaf kak tercinta semua, author sedikit repot beberapa hari belakang tanpa bisa up. kedepannya Insya'ALLOH selalu di usahakan untuk teratur update ya?

__ADS_1


Terimakasih untuk yang masih sabar menunggu dan setia memberi dukungan.


... Love you all ...


__ADS_2