Cinta Santri Dan Guru Sekolah

Cinta Santri Dan Guru Sekolah
Khitbah


__ADS_3

“mmmm, maaf sebelumnya kalau saya lacing pak. Saya mohon waktunya bapak untuk berkenan saya membicarakan sesuatu sama bapak” ucap Akrom berinisiatif membuat Cintya kage dengan ucapan Akrom


“oh monggo silahkan Krom, kamu duduk. Kamu mau bicara apa sama bapak?” tanya Pak Rohmad yang juga di simak oleh semua kelurga Cintya yang sedang ada di ruang itu.


“maaf sebelumnya kalau Akrom sudah lancang sama bapak, baru meminta izin hari ini sedang sudah beberapa waktu Akrom sering keluar dengan mbak Tya”


“namun saat ini agar tidak ada kesalah fahaman dan hal lain-lain. Saya, Akrom. Meminta izin bapak sama ibu untuk mengkhitbah mbak Tya, memang mungkin sedikit mendadak namun saya serius.” Ujar Akrom sopan namun serius.


“jangan bercanda kamu Krom” pak rohmad menggeleng-gelengkan kepala kaget dengan ucpan Akrom.


“saya tidak sedang bercanda pak, sekali lagi maaf atas kelancangan saya” ucap Akrom dengan tatapan mata serius ke arah pak Rohmad.


“kalau bapak Krom, bapak Cuma ikut kata Cintya, bapak hanya member masukan baik atau buruknya. Karena yang menjalani juga Cintya” ujar pak Rohmad halus agar tidak menyinggung perasaan pemuda yang sedang ada di depannya untuk menghadapnya.


“kamu gimana nduk?” kini Pak Rohmad beralih bertanya pada Cintya.


“Insya’ALLOH Cintya mau pak.” Jawab Cintya menunduk.


“tapi Cintya ada pertanyaan untuk Akrom’ lanjut Cintya melirik bapaknya.


“ya silahkan kamu tanyakan nduk” ujar Pak Rohmad mempersilahkan.


“Krom, kalau kamu mengkhitbah saya sekarang, apakah berarti itu kamu membatalkan kuliahmu di luar negeri?” tanya Cintya heran dengan Akrom yang mengkhitbahnya hari ini secara mendadak tanpa persiapan


“sejauh ini tidak. Saya mengkhitbah kamu tidak ada kaitan dengan kuliah saya, kecuali saya tidak ingin kehilangan kamu” jawab Akrom membuat Cintya merona wajahnya.


“terus?” tanya Cintya yang masih belum terima dengan jawaban Akrom.


“saya masih di tahap mengkhitbah, belum melamar, belum menentukan tanggal menikah. Namun ini adalah langkah awal menuju puncak itu” jawab Akrom yang kini sedikit membuat Cintya puas.


“maksud kamu, kamu mengikat Cintya?” tanya pak Rohmad.


“maaf, begitu adanya pak. Saya akan kuliah di Mesir pak, sedang saya tidak ingin kehilangan putri bapak.” Akrom menujukan keseriusan dalam kalimatnya.


“Krom, bapak tidak keberatan dengan itu. Hanya bapak minta kamu jaga diri kamu meskipun tidak terlihat di kejauhan sana. Untuk soal Cintya mau tidaknya itu urusan Cintya. Dia yang menjalani”


“baik pak, terimakasih banyak” jawab Akrom sopan.


“seperti yang tadi Tya ucapkan, Tya bersedia pak, ibu, Krom” Cintya menjawab dengan kepala menunduk namun nada terdengar tegas.

__ADS_1


“yasudah kalau begitu, biar sama-sama jelas. Kapan-kapan kamu ajak orang tua kamu kesini ya Krom?’ pinta pak Rohmad kepada Akrom.


“nggih pak, Insya’ALLOH dalam waktu dekat ini Akrom ajak orang tua kesini” jawab Akrom sopan.


“Krom Krom, bapak kaget aja, calon menantu bapak kamu?” ucap pak Rohmad sambil tertawa.


“tapi ya namanya jodoh ya? Lagian kalau kamu bapak sudah kenal baik, jadi ya nggak perlu repot-repot lagi cari tahu siapa calon Tya” ujar pak Rohmad.


“nggih pak, Alhamdulillah” Akrom meringis menanggapi ucapan pak Rohmad.


“tapi kamu serius tidak keberatan nunggu Akrom selesai kuliah nduk?” tanya pak Rohmad kepada Cintya.


“tidak pak, Cintya akan menikmati setiap prosesnya” jawab Cintya.


“syukurlah kalau begitu” ujar pak Rohmad lega.


“Krom, bapak titip anak gadis bapak. Jangan pernah kamu menyakitinya” lanjut pak Rohmad berkata tegas dengan Akrom.


“Insya’ALLOH Akrom berusaha selalu membahagiakan mbak Tya pak” jawab Akrom serius.


“ya tapi kalau sekarang ya masih ada batasnya ya? Kamu pasti sudah tahu” pak Rohmad menepuk pundak pemuda yang sudah secara jantan memintanya untuk mengkhitbah putri satu-satunya.


"oh iya bener juga, dia kan guru kamu Krom?" tunjuk pak Rohmad yang di ikuti gelak tawa oleh semua yang ada di sana.


"makanya kamu jangan macam-macam sama akku Krom, sekali aneh-aneh coret deh" bela Cintya menantang.


"enggak mbak ampun, Ridho aja tuh yang suka tidur di kelas" balas Akrom melempar ke Ridho yaqng sejak tadi hanya diam menyimak.


"lah kok aku? sudah bener diam menghindar masih juga kau seret aku Krom?" gerutu Ridho tidak terima.


"enak aja, kita bagi-bagi penderitaan kita di bawah kendali guru matematika di sekolahan Dho" ucap Akrom.


"eh iya bener kamu Krom, ini anak juga sering tidur di kelas, patutu di notice" ucap Cintya membenarkan Akrom.


"tuh an? jadi kena masalah kan akunya? ah kau ini Krom" gerutu Ridho lagi bersungut-sungut.


"udah nikmati aja bro, kita sementara ini senasib pokoknya sampai kita lulus nanti" Akrom berbicara sambil tertawa lepas.


"sudah-sudah, memang kamu kuliah di luar negeri jarang pulang krom?" tanya bu Wiwid melerai pertikaian mereka.

__ADS_1


'belum tahu sih bu, kemungkinan jarang sih, Akrom mau konsentrasi biar cepet selesai, nggak kelamaan disana" ujar Akrom semangat.


"baguslah, kalau sudah selesai cepat lamar Cintya, kasihan dia nunggu kelamaan nanti" pintu pak ROhmad yang kini angkat bicara.


"iya pak, Akrom minta do'a restunya bapak sama ibu" ucap Akrom sopan kepada mereka berdua.


"iya Krom, ibu pasti doain kamu" jawab bu Wiwid semangat.


"bapak juga pasti doakan kamu, yang terbaik buat kalian" sambung pak Rohmad.


"terimakasih banyak pak, bu"


"kalau kamu kemana Dho?" tanay pak Rohmad kepada Ridho.


"Ridho carii yang deket aja pak, biar bisa pulang setiap hari" jawab Ridho santai.


"dimana saja asalkan kamu kuliah yang serius, jangan cuma buang-buang uang saja Dho" ujar pak Rohmad tegas.


"iya pak, Ridho serius kok kuliahnya, biar cepet lulus juga" ucap Ridho penuh keyakinan.


"nah bagus, itu baru anak bapak" pak Rohmad menepuk bangga pundak putranya itu.


"kalau begitu Akrom mau pamit balik pondok dulu pak" ucap Akrom melirik jam tangannya sudah menunjukan pukul setengah sembilan malam.


"iya Krom, nanti kamu malah telat kena hukuman" jawab pak Rohmad mempersilahkan.


"saya pamit pak, bu" Akrom mencium tangan kedua orang tua itu dengan hormat.


Lalu bersalaman dengan Cintya tanpa bersentuhan hanya telapak tangan yang di satukan sebagai bentuk salam.


"duluan bro" ucap Akrom ke Ridho sambil tangan berjabat tangan ala brother hood.


"yoi bro, hati-hati, bawa itu motor juga jangan ngebut-ngebut" jawab Ridho mengingatkan.


"siap bos, yasudah saya duluan. Assalamualaikum" salam Akrom meninggalkan rumah itu.


"waalaikumsalam" jawab keluarga Cintya serentak.


Akrom segera meninggalkan halaman rumah itu menuju ke pondok pesantren sedikit terburu-buru takut kemalaman.

__ADS_1


__ADS_2