
Puas cintya menuntaskan tangisnya malam itu, telah puas ia menumpahkan penyesalan, dan keharuan di hatinya atas yang terjadi di antara mereka berdua.
"udah puas nangisnya?" tanya Akrom pelan.
Cintya menjawab dengan anggukan dan bibir cemberut manjanya.
"lapar?" tanya Akrom lagi.
Cintya lagi-lagi menjawabnya hanya dengan anggukan dan wajah manja yang penuh harap.
"cari makan yuk?" ajak Akrom.
"kemana? emang masih ada yang buka jam 1 dini hari gini?" tanya Cintya sambil melihat jam tangannya.
"ada kayaknya. ayok ke hotel dulu, buat naruh barang sama kamu ambil jaket" ajak Akrom yang sudah merapikan peralatan tidurnya.
Cintya bangkit mengikuti langkah Akrom untuk berjalan menuju hotel. lalu mereka berjalan lagi menuju tempat penitipan motor tempat Vespa Akrom di titipkan.
"habis hujan gini yakin kamu masih ada yang buka krom?" tanya Cintya khawatir melihat jalanan yang sangat sepi.
"cari aja dulu, kamu mau makan apa?" jawab Akrom dengan pertanyaannya.
"apa aja deh, yang penting bisa menghangatkan badan krom"
"oke bos siap" Akrom melajukan motornya dengan kecepatan sedang karena udara dingin malam ini yang hampir tidak bisa di tahan.
"tuh ada nasi goreng mau?" Akrom menunjuk gerobak penjual nasi goreng.
"boleh, Ayuk" jawab Cintya semangat.
Akrom memesan nasi goreng 2 porsi untuk makan di tempat. Sedang Cintya sudah duduk manis di kursi tanpa meja menunggu pesanannya datang.
"krom, suara kamu pas imamin sholat tadi bagus deh. ibu-ibu jamaah tadi pada muji kamu tuh" goda Cintya menoel lengan Akrom.
"iyalah aku mah keren dari lahir Tya" sahut Akrom bangga.
"ih kepedean"
"la kamu sendiri yang bilang udah terbukti gitu" balasnya.
"kayaknya aku salah omong deh krom, nggak jadi deh mujinya"
"lah aku terlanjur denger kok" Akrom menahan tawa.
"ish. tapi serius sih enak krom. emang tadi surat apa krom?"
"surat Yasin ayat 36 dan Aszuriyat ayat 49" jawab Akrom.
"hehe, nggak tahu" Cintya meringis malu-malu.
"ya artinya surah itu pada intinya soal kamu" beritahu Akrom dengan nada datar.
"hah? maksudnya?" tanya Cintya melongo.
"pada intinya itu adalah surah soal kedua jenis makhluk hidup yang di ciptakan oleh ALLOH untuk berjodoh, antara wanita dan laki-laki." ucapnya pelan.
__ADS_1
"kok bisa sih?" Cintya masih dengan wajah herannya.
"ya bisa lah, emang begitu artinya kok, pake tanya kok bisa segala sih?" tanya balik Akrom.
"maksudku itu kok bisa kamu pilih dua surah itu krom?"
"nggak tau, yang kefikiran surah itu aja sih" jawab Akrom cuek.
"pasti lagi mikirin aku kan?" goda Cintya dengan senyum manisnya.
"hemmmm" jawab Akrom dengan dengusan nafasnya.
"mesti nggak ngaku, ngaku aja napa sih?" gerutu Cintya.
Akrom hanya tersenyum mendengar kalimat itu.
"berarti iya kan?" desak Cintya jarinya menunjuk ke wajah Akrom dengan senyumnya yang manis.
"nggak tau, kamu sih gangguin fikiranku terus"
"situ yang mikirin aku yang disalahin. huh" balas Cintya melipatkan tangannya di dada.
"maaf deh. gitu aja ngambek" goda Akrom.
"iya berarti bener kan kamu mikirin aku? kok bisa seorang imam sholat teringat makhluk di waktu sholatnya?"
"yah mbak, aku cuma manusia biasa. Maqom ku belum setinggi itu. aku masih mengingat makhluk di waktu sembahyang, makanya itulah caraku yang teringat akan makhluk untuk kembali pada Tuhan. dengan membacakan surah-surah yang berisi tentang fikiranku"
Akrom menjelaskan panjang lebar dan membuat cinta hanya menyimaknya dengan kagum bagaimana cara Akrom yang masih semuda itu menyikapi sesuatu sedemikian berbeda.
"apa?"
"kamu udah pernah pacaran? cinta monyet mungkin?"
"belum sih, bahkan aku merasa suka aja belum pernah" jawabnya santai.
"kenapa? kan banyak tuh cewek yang suka kamu?"
"nggak tau sih. males ribet aja sih kayaknya"
"oh, jadi kamu sekarang ribet kalau kamu deket sama aku?" tanya Cintya penasaran.
"iyalah, masa sih ya harusnya aku lagi enak-enak nongkrong, tidur jam segini, mesti harus hujan-hujanan malam begini. diluar lagi" jawab Akrom sedikit tertawa.
"hemmm udah deh, kamu tinggalin aja aku disini, aku bisa pulang sendiri" ucap Cintya ketus.
"nanti kamu nangis?" goda Akrom lagi.
"dih nangisin kamu? udahlah pergi sana" Cintya mendorong tubuh Akrom menjauh.
"yaudah" Akrom pura-pura beranjak dari tempat duduknya membuat Cintya menahan tangan Akrom.
"dih katanya suruh pergi, ini apa ini?" Akrom menunjuk lengannya yang di tarik oleh Cintya.
"kok kamu bilang gitu sih krom?" Cintya sudah berkaca-kaca bola matanya.
__ADS_1
"heheh, nggak nggak sayang, gitu aja ngambek"
"hah? kamu manggil apa barusan?" Cintya melotot kaget dengan ucapan Akrom barusan.
Akrom hanya menggaruk kepalanya yang tidak sendang gatal sambil meringis.
"coba ulangi" pinta Cintya.
"sayang" ucap Akrom dengan senyum manisnya.
"kok berani-beraninya murid rese gini manggil gurunya sayang?"
"biarin, yang penting aku seneng manggilnya gitu" jawabnya enteng.
"dih egois, nggak tanya dulu aku seneng apa enggak?"
"nggak, aku nggak mau tau" goda Akrom.
"yaudah aku nggak jawab, aku cuma mau ngasih tau aja..."
"nggak nggak, aku nggak mau dikasih tahu juga" ucap Akrom memotong kalimat Cintya.
"biarin, aku maksa buat ngasih tau, kalau aku juga seneng" paksa Cintya menutup mulut Akrom dengan telapak tangannya.
"hemmm, udah berani pegang-pegang ya sekarang? belum muhrim Cintya" sindir akrom.
"biarin salah sendiri jadi orang ngeselin" jawab Cintya sambil ketawa pelan.
Lalu datanglah dua porsi nasi goreng sesuai pesanan mereka. sama-sama di nikmatinya makanan itu dengan lahapnya.
"kamu nggak malu? kalau jalan makannya cuma di pinggiran jalan gini?" tanya Akrom di sela-sela makan.
"enggak, justru di pinggir jalan banyak yang enak-enak Lo" jawab Cintya enteng.
"ya kan biasanya cewek-cewek gitu kalau jalan maunya di tempat mewah, makan di restoran, caffe, ngemall juga. nah ini di pinggir jalan"
"ya kan itu cewek-cewek lain krom?"
"iya sih. beruntungnya aku" jawab Akrom.
"maksudnya?" tanya Cintya lagi dengan mulutnya masih penuh makanan.
"ya setidaknya ngirit lah. nggak ribet milih makanannya juga" jawab Akrom.
"Yee rese, lagian aku juga kadang-kadang ke mall & caffe. cuma jarang"
"nah sip, ada banyak hal yang lebih penting dari sekedar makan mewah. nabung buat masa depan mungkin" Akrom melirik ke arah cintya.
"maksudnya masa depan? krom kamu masih sekolah jangan mikir kesitu dulu deh, selesaikan sekolah dan kejar cita-citamu dulu, aku tetap disini kok" ucap Cintya menghentikan makannya untuk berbicara dengan nada serius.
"iya Tya, makasih untuk pengertiannya" balas Akrom.
Cintya hanya mengangguk dan meneruskan makannya. begitupun dengan Akrom.
Setelah selesai lalu Akrom membayar makanan mereka dan bergegas kembali ke hotel lagi bersama Cintya.
__ADS_1