Cinta Santri Dan Guru Sekolah

Cinta Santri Dan Guru Sekolah
Kerumah Akrom Sendiri


__ADS_3

“ya habisnya aku penasaran mbak” jawab Ridho sambil meringis.


“ya mereka fine aja kok, orang tua Akrom malah mendukung. Tapi mbak kasihan sama Akrom.” Ucap Cintya sambil menunduk.


“kasihan kenapa mbak?” Tanya Ridho antusias.


“waktu tadi ngobrol sama orang tuanya. Akrom langsung semacam diberi tanggung jawab besar oleh orang tuanya untuk jagain mbak, dan intinyatidak nyakitin mbak dalam bentuk apapun” ujar Cintya dengan air mata yang sedikit mengembun di pelupuk matanya.


“kalau untuk itu nanti mbak akan tahu. Tapi bukan dari Ridho, itu ada alasannya mbak” ujar Ridho menepuk pergelangan tangan Cintya pelan.


“maksud kamu?” Tanya Cintya heran dengan kalimat Ridho.


“Ya intinya itu ada kaitannya dengan masa lalu keluarga Akrom. Tapi Ridho tidak ada haknya cerita ke siapapun. Nanti mbak akan tahu sendiri” ucap Ridho.


“dan yang pasti, mereka akan menyayangi mbak Tya sangat besar” lanjut Ridho menenangkan hati Cintya.


Cintya yang mendapat penuturan seperti barusan dari Ridho yang dimana ia sahabat Akrom menjadi diliputi pertanyaan yang sangat mengganggu. “ada apa dengan keluarga Akrom?” Gumamya dalam hati.


------------------


Keesokan hari di sekolah, seperti biasa Cintya makan siang dikantin sekolah. Dan disana ia sudah mendapati Akrom sedang duduk sendiri menikmati semangkuk es buah.


“nggak makan kamu krom? Cumae s doag gitu?” sapa Cintya saat mendatangi meja Akrom membawa sepiring nasi campur.


“eh. Enggak bu. Masih agak kenyang” jawab Akrom sedikit kaget.


“kamu itu sebenarnya Jadiin aku ‘Bunga Dimeja Guru Depan Kelas atau Melati PUjaan Hati’ deh krom?” Tanya Cintya menggoda Akrom.


Akrom yang mendapat pertanyaan itu tersenyum-senyum manis tapi salah tingkah.


“yeee ditanyain malah senyum-senyum doing” protes Cintya.


“jadi apa aja yang indah deh mbak. Eh maaf. Bu” jawab Akrom salah tingkah.


“cie salah tingkah sampai salah maggilnya” Cintya masih melanjutkan godaannya kepada Akrom.


“udah di terima dan dibuka semua berarti?” tanya Akrom.


“udah dong” jawab Cintya Senang.


“suka?”


“suka banget, malah kalau boleh ngajar pakai sepatu itu udah aku pakai hari ini krom” ujar Cintya tersenyum.


“ngawur, dikira guru gaul nanti, malah jadi banyak yang suka jadi tambah saingan deh akunya” jawab Akrom ganti menggoda.


“ngapain saingan? Mau sebanyak apapun, tetap nama Akrom yang ibu cari untuk menjaga ibu” ujar Cintya Pelan.


“halah gombalin brondong nih ceritanya?” ledek Akrom.


“wah rese’ ya kamu? Dikiranya aku tante-tante pecinta brondong” gerutu Cintya.


“hehe, enggak enggak bu, gitu aja ngambek”

__ADS_1


“tau ah, kamu nggak sama Ridho krom?” Tanya Cintya mencari-cari sekeliling kantin.


“enggak, si Ridho lagi ke perpustakaan” jawab Akrom singkat.


“oh.nanti kamu pulang sekolah mau kemana?” Tanya Cintya.


“ke pondok sih bu. Mau mempersiapkan ujian sama AkhiruSanah”


“oh, aku kerumah kamu sendiri boleh kan?” Cintya bertanya dengan suara sangat pelan.


“hah? Ngapain?” Tanya Akrom kaget.


“ya nggak apa-apa. Mau main aja. Boleh ya?” pinta Cintya dengan wajah dibuat-buat sedang memelas.


“hemm. Iya boleh aja sih. Terserah orang mau bertamu masa dilarang?” jawab Akrom pasrah.


“nah gitu dong. Itu namanya murid berbakti pada guru” Cintya tersenyum kemenangan.


“iya tapi sebentar. Aku Tanya ke ibuk dulu, sibuk nggak nanti” ujar Akrom mengeluarkan ponselnya dan menelpon nomor ibunya.


-Akrom-


‘Assalamalaikm bu’


-ibu-


‘waalaikumsalam nak, ada apa tumben masih sekolah telfon ibu?’


-Akrom-


-Ibu-


‘enggak nak, kenapa? Mau main lagi sama bu guru yang cantik?’


-Akrom-


‘ah ibu ini apaan deh?dia sendri yang mau kesana Akrom mau ke pondok bu. Banyak kegiatan’


-Ibu-


‘iya nggak apa-apa krom, suruh kesini aja nemenin ibu krom.’


-Akrom-


‘yasudah kalau gitu Akrom bilangin, Akrom tutup dulu ya bu? Masih di sekolah ini. Assalamualaikum”


-Ibu-


‘Iya nak, sekolah yang rajin. Waalaikumsalam”


“ibu nggak repot, langsung kesana aja katanya” ujar Akrom member tahu Cintya.


“Oke siap bos, laksanakan” jawab Cintya bersemangat.

__ADS_1


Cintya melirik jam tangan ditangannya memastikan masih ada beberapa menit untuk menyelesaikan makannya sebelum bel selesai istirahat berbunyi.


Lalu mereka berdua berpisah di kanti itu untuk kembali keruang kelas masing-masing untuk melanjutkan pelajaran saat bel selesai jam istirahat berbunyi.


Saat selesai jam pelajaran dan bel pulangpun sudah berbunyi, Cintya semangat untuk bersiap-siap menuju rumah Akrom.


“buru-buru amat bu?” tegur bu Amel saat berpapasan didepan ruang guru.


“eh bu Amel, hehe iya bum au ada perlu” ucap Cintya salah tingkah.


“perlu apa perlu nih?” goda bu Amel mengerlingkan mata sebelahnya.


“gimana kemarin bu? Sukses nggak?” lanjut bu Amel menggoda.


“Alhamdulillah sukses besar bu, ini saya mau kesana lagi malah” balas Cintya.


“Alhamdulillah, tapi tadi saya lihat Akrom sudah duluan deh kayanya bu?” ucap bu Amel.


“iya bu, saya memang sendirian kok kesananya” jawab Cintya mantab.


“waaah keren, saya doakan berhasil dan langgeng deh bu” ujar bu Amel semangat.


“Aaaaaamiin, terimakasih bu. Saya duluan ya? Assalamualaikum” pamit Cintya.


“waalaikumsalam, hati-hati bu” jawab bu Amel melambaikan tangannya.


Sementara tanpa mereka sadari, ada sepasang mata dan telinga menyimak pembicaraan mereka dengan hati yang sedang panas. Ada hawa cemburu terpancar dari raut si pendengar itu. Ialah pak Rian. Yang didalam hatinya sungguh masih sangat menginginkan Cintya, meskipun sudah sangat terang-terangan ditolak.


Cintya melajukan motornya santai namun pasti menuju rumah Akrom. Tapa ia sadari ada seseorang tengah membututinya dari belakang. Saat Cintya berhenti di depan sebuah rumah mewah, pak Rian berhenti agak jauh di belakang agar tidak di ketahui oleh Cintya.


Barulah setelah Cintya masuk saat pintu pagar rumah itu di buka dan tutup oleh seorang pengurus taman, pak Rian melajukan motornya pelan mengamati rumah yang besar itu dari luar pagar lalu bergegas pergi.


“Terimakaish banyak pak, ibuknya ada pak?” Tanya Cintya kepada pak Dilan seorang pengurus taman yang membukakan pagar untuknya.


“sama-sama bu. Sampean bu guru yang kemarin sama mas Akrom kan? Ibu ada didalam bu. Silahkan” ucap pak Dilan mempersilahkan.


“baik pak, sekali lai terimakasih” ujar Cintya melangkahkn kakinya menuju ruang tamu rumah itu.


“Assalamualaiku bu” salam Cintya mengetuk pintu memanggil yang sedang di dalam rumah.


“waalaikumsalam, silahkan masuk nduk” sambut Bu Maftukhah memeluk tamunya lalu mencium pipi kanan dan kirinya.


“syukurlah kamu datang, ibu baru bikin kue agak banyak” ujar bu Maftukhah setelah melepas pelukannya.


“jadi Cintya kesini ngrepotin ibu dong? Sampai bikin kue segala?” sesal Cintya.


“ya enggak lah. Ibu malah senang kalau kamu kesini, ibu jadi ada temannya ngobrol. Ayo masuk nduk duduk di belakang yuk?” ajak bu Maftukhah menuju dapur melanjutkan prpsesi membuat kue yang sejenak ia hentikan.


“wah aromanya manis banget bu?” puji Cintya saat tiba di dapur.


“iya dong, ini kue khas jawa timur. Namanya Prol Tape. Jadi ya bahan dasarnya dari tape singkong ndu” tunjuk bu Maftukhah ke sebuah ember berisi tape singkong yang sudah halus.


“Cintya di ajarin dong bu?” pinta Cinya yang sudah tidak terlalu canggung lagi dengan ibunya Akrom.

__ADS_1


“iya nduk pasti, kamu pakai celemek itu dulu biar seragam kamu tidak kotor” Perintah bu Maftukhah yang langsung dilaksanakan oleh Cintya.


Setelah siap, lalu Cintya dijelaskan langkah demi langkah membuat kue itu sekalian langsung praktek dengan bu Maftukhah hingga selesai jadi sebauh kue. Prol Tape.


__ADS_2