
Setelah selesai sarapan bersama di rumah Cintya, Akrom segera pamit kepada orang tua Cintya untuk pergi bersama putri mereka.
"Pak, saya izin mengajak putri bapak jalan keluar," Akrom berucap sopan saat mereka selesai makan.
"iya krom, hati-hati ya? bapak pesan jaga Tya baik-baik" jawab pak Rohmad sambil menepuk pundak Akrom.
"nggih pak, Insya'ALLOH saya amanah pak" ucapnya lagi.
"yasudah hati-hati, kamu juga juga hati-hati nduk, jaga diri" kini ganti Bu Wiwid yang memperingatkan Cintya.
"iya buk, Cintya hati-hati" jawabnya.
"kalau pulang jangan lupa oleh-oleh. awas kalau enggak!" ridho tiba-tiba nyeletuk dengan nada tegasnya.
"iya nanti di bawain cilok" jawab Cintya enteng.
"yah cuma cilok mah beli di depan juga ada kali mbak? yang spesial gitu Lo." protes ridho.
"iya bro gampang lah, nanti bisa di atur lah" balas Akrom melerai agar tidak semakin panjang dan semakin siang.
"baik, saya pamit dulu pak, Bu" Akrom mencium tangan pak Rohmad dan Bu wiwid bergantian.
"iya krom, hati-hati, Titip Cintya" balas Bu Wiwid.
"iya Bu".
"Cintya pamit juga pak, Bu" giliran Cintya mencium tangan kedua orang tuanya.
"duluan dho" Akrom berjabat tangan dengan ridho.
"yo'i hati-hati bro, kalau mbak Tya ngeselin turunin tengah jalan aja" balas ridho.
"enak aja, gini-gini sering kamu palak'in uang jajan dek" mata cintya melotot kearah ridho.
"udah ah berangkat dulu, Assalamualaikum" salam Akrom.
"wa'alaikumsalam" jawab mereka bersamaan.
...-----...
"ini kita kemana mbak?" tanya Akrom setelah motor yang mereka tunggangi sudah meninggalkan halaman rumah Cintya.
"ke Surabaya krom, aku mau main ke tempat temen-temen kuliah dulu yang masih tinggal disana" jawab Cintya tanpa beban.
Akrom yang kaget dengan tujuan Cintya mendadak mengerem vespanya. "hah seriusan mbak?"
"duh kalau ngerem jangan mendadak juga bisa kali krom?" protes Cintya setelah badannya menempel di punggung Akrom.
"ya maaf. habis mbak sendiri juga ngasih tujuan nggak kira-kira"
"ya emang aku mau kesana kok" jawabnya cemberut.
__ADS_1
"tapi kan jauh mbak, nanti kamu capek gimana? besok kan masih ngajak?"
"enggak capek, kan kamu yang nyetir? gini deh intinya kamu mau di maafin nggak?" Cintya mendelikan matanya yang seakan menjadi sebuah ancaman.
"duh gimana ya mbak?" Akrom menimbang-nimbang segala kemungkinan.
"udah lah, mau di maafin nggak?" Cintya melipat kedua tangannya di dada sambil bibirnya di kerucutkan kedepan.
"tapi mba-" protes Akrom terhenti.
"nggak ada tapi-tapian. mau di maafin nggak?" potong Cintya yang nggak mau tahu.
"yaudah deh. iya" pasrah Akrom menerima syarat dari Cintya.
"nah gitu donk, baru murid pinter" puji Cintya dengan mata berbinarnya.
"tapi jangan nempel-nempel ya? belum muhrim" Akrom memperingatkan sambil membuka tuas kopling setelah memasukan gigi persneling.
"trus pegangan apa donk?"
"pegangan sama Tuhan" sambil tersenyum dengan tangannya menunjuk kearah udara.
"iihh serius krom" Cintya mencubit pinggang Akrom dari belakang.
"ih sakit mbak, lepasin mbak belum muhrim!! itu Lo dibelakang juga ada ban serep. kan bisa senderan itu sama pegangan rak'nya?" perintah Akrom sambil meringis menahan sakit akibat cubitan Cintya.
"iya Ding, nggak tau aku krom" Cintya hanya meringis mendengar penjelasan Akrom.
"siap bos" balas Cintya dengan mengangkat tangannya seperti orang sedang hormat saat upacara.
Perjalanan sudah memakan waktu sejam setengah. Di rasa sudah sedikit pegal di pinggangnya Cintya meminta untuk istirahat.
"krom, di depan kalau ada tempat istirahat kita berhenti dulu ya? pegel nih pinggang" rengek Cintya manja.
"iya mbak, di depan kayanya ada cafe. mau mampir?" tawar Akrom.
"boleh, sekalian beli minum sama nyemil ya?" pinta Cintya dengan manja.
"iya mbak siap" lalu Akrom menghentikan vespanya di parkiran sebuah cafe dan segera mereka masuk ke dalam.
"pesan apa mbak?" tanya Cintya didepan meja kasir.
"mmmm, juice alpukat sama kentang aja" jawab Cintya.
"oh oke. aku es lemon tea sama air mineral aja kak" pesan Akrom kepada pelayan di meja kasir tersebut.
"berapa jadinya?" tanya Cintya sambil membuka dompet.
""udah nggak usah biar aku aja" cegah Akrom.
"totalnya 60 ribu kak" jawab pegawai.
__ADS_1
"ini mbak" Akrom menyodorkan uang seratus ribuan kepadanya.
"baik kak terimakasih. silahkan kembaliannya, nanti pesanan di antarkan ke meja" balasnya sambil memberikan uang kembalian beserta nomor meja.
"nih uang buat gantiin beli minum tadi" Cintya memberikan uang 60 ribu pas, saat mereka sudah duduk di kursi cafe tersebut.
"nggak usah mbak, santai aja" tolak Akrom santai.
"dih sok-sokan. masih bocah sekolah juga, uang jajan dari orang tuaamu di tabung. sedang aku kan sudah kerja jadi punya penghasilan. makanya aku aja yang bayarin" ucap Cintya memaksa.
"enak aja, aku meskipun masih sekolah juga udah punya penghasilan sendiri kali mbak" jawab Akrom tenang.
"dih gaya banget dah, penghasilan dari mana bocah tengil?" ledek Cintya.
"ya adalah pokoknya, yang pasti halalan toyyiban" jawabnya sambil terkekeh.
"tuh kan nggak mau jujur?" Cintya pura-pura merajuk dengan ketidak terbukaannya Akrom.
"iya deh iya, aku dapat penghasilan freelance gambar arsitektur mbak, lumayan itu udah. sama kamu ingat cafe yang kita mampir hari Jumat?"
"cafe yang sebelah bengkel Vespa langganan kamu?" tanya Cintya.
"Yap, itu cafe punyaku" jawab Akrom.
"kalau kamu freelance sih aku percaya aja, tapi masa kamu punya cafe? bisa mengelolanya?" tanya Cintya tidak percaya.
"ya bisa lah, admin cafe tiap hari kirim data cash and flow ke aku, jadi tiap hari bisa pantau keuangannya meskipun nggak datang kesana" ujar Akrom sambil menikmati minuman pesanannya yang telah sampai.
"serius kamu krom?" Cintya memastikan.
Akrom hanya tersenyum dengan sorot matanya yang tajam.
"emang punya modal dari mana?"
"ya dari ngumpulin uang jajan, trus nabung dari hasil freelance. Alhamdulillah bisa sewa tempat" jawab Akrom.
"wah hebat kamu, masih bocil udah bisa berdikari gitu, hebat krom" sanjung Cintya kepada Akrom.
"tapi jangan bilang siapa-siapa ya mbak? cuma kamu yang aku kasih tau, sama ridho doang yang udah tau" bisik Akrom.
"emang kenapa? harunya kamu bangga donk?" tanya Cintya heran.
"ya aku bangga mbak, cuma ya aku nggak mau ribet aja kalau banyak yang tau jadi banyak cewek matre yang bikin nggak tenang" jawab Akrom dengan mimik wajah serius.
"oh gitu, trus kalau aku yang deketin kamu gimana?" goda Cintya dengan mengerlingkan sebelah matanya.
"ya kalau kamu kan udah ketahuan suka aku dari sebelum tahu kalau aku punya usaha" balas Akrom menggoda Cintya.
"yah salah aku godain kamu krom, malah kamu serang balik" gerutu Cintya.
"salah sendiri, salah cari lawan sih" Akrom mencibirkan bibirnya kearah Cintya.
__ADS_1
Lalu mereka kembali melanjutkan perjalannya setelah dirasa cukup istirahatnya.