Cinta Santri Dan Guru Sekolah

Cinta Santri Dan Guru Sekolah
Sebuah Pengakuan


__ADS_3

"maksud kamu?" Cintya memutar badannya heran dengan jawaban Akrom.


"bagiamana tidak kecewa seorang laki-laki jika seorang wanita yang ia usahakan untuk dijaga di lecehkan orang lain?" jawab Akrom masih dengan posisi yang sama.


"terlebih kecewa, ia tidak bisa menjaga wanita tersebut dari pembuatan demikian dari orang lain" lanjut Akrom yang kini wajahnya sudah mendongak kearah laut.


Cintya terdiam sejenak, fikirannya mencari-cari maksud dari ucapan Akrom. hatinya seperti tercambuk rasanya saat menyadari bahwa guru yang dimaksud saat masalah itu asalah dirinya.


Suara isak tangis hanya pelan keluar dari mulut Cintya dan terbang tersapu angin. namun semakin lama semakin terdengar oleh telinga Akrom. hingga ia menyadarinya seorang perempuan tengah berdiri diam di belakangnya tidak lagi mengucapkan kalimat seperti tadi.


Akrom menoleh kebelakang. dan bangkit mendatangi tempat Cintya berdiri. "kamu kenapa menangis?" tanyanya saat sudah berdiri tepat di depan Cintya.


Cintya tidak menjawabnya, hanya isak tangis yang terdengar lebih keras dari sebelumnya. Akrom tidak bisa berbuat banyak, untuk mengusap pundaknya saja ia masih tidak berani melakukannya.


"ayo duduk, jangan nangis lagi" pinta Akrom yang kebingungan untuk sekedar menuntun saja.


Namun segala tingkah laku kebingungan Akrom masih bisa di lihat oleh Cintya. setiap ingin memegang atau sekedar menuntunnya Akrom terlihat ragu dan menarik kembali tangannya. terlihat menggelikan oleh Cintya.


Masih Cintya dengan berdiri tegak di sertai tangisnya yang masih belum reda. Akrom yang sudah tidak tahu lagi harus bagaimana, akhirnya menghela nafas dalam-dalam. lalu ia memegang atas kepala Cintya dengan telapak tangannya dengan dibatasi oleh jaketnya yang sudah ia lepaskan.


"sudah jangan nangis, kenapa nangis? guruku yang galak tadi mana?" ucap Akrom pelan setelah mengarahkan wajah Cintya menghadap ke arahnya. Akrom sendiri heran kenapa ia bisa melakukan itu. sudah reda tangis Cintya oleh ucapan Akrom barusan, yang ada hanya tinggal rasa bersalah dan rasa malu.


Cintya memejamkan matanya merasa malu dan bersalah dengan Akrom. tiba-tiba ia langsung hendak memeluk Akrom untuk menyembunyikan wajahnya.


"eits eits eits. ngapain?" pekik Akrom menyadari tindakan Cintya. segera ia memundurkan tubuhnya namun dengan tangannya masih menahan kepala Cintya.


"aaah, Krom" rengek Cintya yang kesal dengan Akrom tidak mengizinkannya menyembunyikan wajah yang sudah memerah itu.


"enak aja mau peluk. belum muhrim, huuu" ujar Akrom mencibir ke arah wajah Cintya.


"sini duduk, nggak pegel berdiri aja?" lanjut Akrom kembali ke posisinya duduk tadi.


Cintya menggembungkan pipinya yang sudah memerah merona, juga bibirnya yang di majukan membuatnya semakin imut. Ia berjalan ke arah batu untuk duduk di sebelah Akrom. dengan mata yang masih belum berani menatap wajah Akrom.


"ini salah satu alasanku tidak bercerita langsung sama kamu" ucap Akrom setelah melirik sekejap kearah Cintya yang sudah duduk manis di sebelahnya.


"apa?" tanya Cintya penasaran.


"aku takut kehilangan wajah imut nan menggemaskan seperti ini kalau aku cerita soal ini langsung waktu itu, akan membuatmu kefikiran" balas Akrom dengan tenang. tapi bisa terlihat ada seutas senyum kecil yang berusaha di sembunyikannya.

__ADS_1


"bodo amaaat" teriak Cintya manja menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. membuat Akrom tertawa lepas menyaksikan ekspresi Cintya.


Mereka tertawa bersamaan beberapa waktu. lebih tepatnya Akrom menertawakan tingkah Cintya. sedangkan Cintya tertawa manja atas godaan dari Akrom.


"ngomong-ngomong emang benar yang kamu sebut melecehkan guru itu aku?" tanya Cintya di sela tertawa mereka. Akrom hanya mengangguk pelan takut Cintya akan merasa tidak nyaman.


"tolong jangan ceritakan apa yang mereka ucapkan ya Krom?" pinta Cintya serius.


"tidak akan, aku tidak akan bilang ke kamu dan siapapun" jawab Akrom menyanggupi permintaan Cintya.


"maaf ya mbak?" ujar Akrom melanjutkan bicaranya.


"maaf kenapa? harusnya aku yang meminta maaf" bantah Cintya.


"karena aku kamu jadi kena masalah. juga aku sudah marah-marah dan menuduhmu yang tidak-tidak hari ini" pelan Cintya mengucapkannya. wajahnya menunduk malu tidak sanggup melihat kearah Akrom.


"memang seharusnya aku tidak memberitahumu, itu membuatmu tidak nyaman"


"setidaknya aku tidak salah menilaimu Krom" ujar Cintya yang selanjutnya di ikuti oleh senyum Akrom.


"memang kamu kemarin ke gunung mana?"


"bukannya mitos disana angker ya Krom?" tanya Cintya heran dengan pilihan Akrom.


"makanya ada mitos begitu aku malah suka" ucap Akrom menggantung.


"lah kok bisa? emang kamu sama siapa?" Cintya menjadi penasaran dengan cerita Akrom.


"sendirian lah" Akrom menjawabnya dengan nada bangga.


"nggak takut emang?"


"ada sih, cuma lebih ke ragu ya bukan takut. tapi yang pasti karena mitos itu, di tambah lagi bukan hari weedend. jadinya pas buat menyendiri" Akrom menjelaskan alasannya memilih gunung lawu untuk ia jadikan tempat menyendiri.


"karena sepi?" tebak Cintya.


"yup. ya nggak sepi-sepi juga sih. cuma kebetulan hari itu cuma ada dua pendaki. aku dan kelompok pendaki lain, jadinya aku sendirian. mereka lebih dulu naik" terang Akrom dengan kegiatannya hari itu.


"kamu suka naik gunung?" tebak Cintya lagi.

__ADS_1


"suka aja sih, cuma lebih untuk menyendiri aja. makanya aku nggak pernah punya foto ketika aku disana"


"kenapa nggak foto?"


"nggak sempet mbak, males ribet foto. terlalu sayang kenikmatan diatas kalau harus diganggu kegiatan foto, kecuali aku niat nyari foto"


Cintya manggut-manggut mendengar jawaban Akrom. sepertinya ia tertarik.


"kamu harus ajak aku naik gunung. pokoknya harus sebelum kamu pergi kuliah" pinta Cintya menggunakan nada yang terkesan memaksa.


"iya Insya'ALLOH mbak, cuma nggak mungkin berdua. aku nggak mau"


"kan bisa ngajak Ridho?" tawar Cintya.


"kalau itu anak mau juga sudah dari dulu naik sama aku mbak" jawab Akrom sedikit tertawa.


"emang sudah pernah kamu ajak?"


"sering. cuma dia yang nggak terlalu suka dengan kegiatan itu"


"nanti deh, di atur gimananya" imbuh Akrom yang dijawab Cintya dengan senyum puasnya, setidaknya Akrom sudah mengiyakan keinginannya.


Semakin sore angin lautan selatan jawa semakin kencang berhembus, beriringan ombak yang semakin besar menggulung menerpa karang menuju tepi.


Jilbab yang dikenakan Cintya melambai-lambai memamerkan rambutnya yang sedari tadi nyaman bersembunyi dibalik penutup indah. juga busana yang ia kenakan terterpa angin kebelakang menunjukan bentuk area tubuh depan Cintya.


"ngapain Krom?" tanya Cintya melihat Akrom membuka jaket yang tengah ia kenakan.


"pakai ini" pinta Akrom menyodorkan jaketnya kearah Cintya.


"nanti seragam sekolah kamu kelihatan Krom" tolak Cintya.


"aku pakai kaos dalam" Akrom membuka seragamnya dan dia masukan kedalam tas. kini ia mengenakan kaos saja.


"jilbab kamu jangan di uraikan di luar jaket. masukin aja" lanjut Akrom saat Cintya selesai memasukan kedua tangannya kedalam lenga jaket Akrom.


Cintya menoleh heran kearah Akrom. "biar rambut kamu nggak kelihatan" jawab Akrom menyadari tatapan Cintya.


Senyum manis mengembang indah di wajahnya, ia tahu bahwa orang yang disampingnya akan selalu berusaha menjaganya dengan cara dan segala keterbatasannya.

__ADS_1


__ADS_2