
Satu bulan berlalu. hari ini adalah jadwal kontrol Kenaya di dokter kandungan. Abraham dengan siaga terus mendampingi sang istri untuk ke dokter kandungan. saat ini keduanya sudah berada di dalam mobil. Abraham terus tersenyum dan terus mengelus perut buncit istri nya itu dengan lembut.
"Tidak terasa tinggal beberapa bulan lagi kita akan bertemu dengan mereka" ucap Abraham. masih dengan mengelus lembut perut buncit istri nya.
"Iya tidak terasa. tinggal empat bulan lagi kita akan bertemu dengan mereka" ucap Kenaya. tersenyum pada Abraham dan ikut mengelus perut nya.
Saat keduanya sudah tiba di rumah sakit. mereka langsung menuju ke dokter kandungan. dokter kandungan itu tersenyum ramah saat melihat Abraham dan Kenaya masuk ke dalam ruangan nya.
"Silahkan duduk" ucap dokter itu. Abraham dan Kenaya tersenyum dan duduk di depan dokter itu.
Dokter kandungan itu mulai menjelaskan tentang kehamilan kepada Abraham dan Kenaya. keduanya hanya mengangguk-anggukan kepala mereka mengerti.
"Sekarang, ayo kita lihat perkembangan bayi nya" ucap dokter itu. ia bangkit dari tempat duduk nya menuju ke tempat pemeriksaan di ikut oleh Abraham dan Kenaya di belakang.
Saat Kenaya sudah berbaring, dokter itu pun mulai memeriksa kandungan Kenaya. ia menggerakkan alat usg itu di perut Kenaya. sedangkan Abraham, ia terus memperhatikan layar monitor yang memperlihatkan kedua anak nya yang sedang bergerak kesana kemari.
"Mereka sangat lincah ya dok" ucap Abraham. tersenyum melihat perkembangan kedua anak nya dari layar monitor.
"Iya Tuan. mereka juga sangat sehat. tidak ada satu pun yang kurang dari keduanya" ucap dokter itu.
Selesai memeriksa kandungan Kenaya. keduanya keluar dari ruangan dokter itu. Abraham dan Kenaya keluar dengan wajah sumringah. mereka benar-benar tidak sabar untuk bertemu dengan kedua anak mereka.
Saat sudah di dalam mobil Abraham langsung melajukan mobilnya menuju ke kampus. hari ini Abraham ada kelas mengajar. itu sebabnya ia ke kampus. saat mereka sudah tiba di kampus, semua mata langsung tertuju pada keduanya. Abraham dan Kenaya memang terlihat harmonis. apalagi warna baju yang mereka kenakan sama.
"Kau pergi lah ke kelas mu" ucap Abraham. Kenaya hanya mengangguk. ia pun segera pergi ke kelas nya. sementara Abraham pergi ke ruangan nya.
Di tempat lain. tepatnya di kediaman Barrack. Jerry kembali mual lagi. ia tidak mengerti ada apa dengan tubuh nya. selama sebulan ini ia selalu saja mual. bahkan makanan pun selalu ia pilih-pilih, tidak seperti sebelumnya. Jenita ya melihat putranya seperti itu tentu saja khawatir.
__ADS_1
"Sebenarnya ada apa dengan mu" ucap Jenita.
"Aku juga tidak tau Mon" ucap Jerry.
"Coba kau periksa ke dokter saja. sudah sebulan kau seperti ini" ucap Jenita khawatir.
"Baiklah. aku akan pergi sekarang saja" ucap Jerry. ia keluar dari kamar mandi dan menuju ke kamar nya.
"Ada apa dengan nya" ucap William. Daddy Jerry.
"Aku tidak tau. sudah sebulan dia seperti itu" ucap Jenita. William tampak memikirkan sesuatu. ia menatap istri nya.
"Mom, tidak kah kau merasa yang Jerry alami sekarang sama seperti diriku saat kau sedang mengandung dia dulu" ucap William.
"Jangan bicara yang tidak-tidak Dad" ucap Jenita.
"Daddy tidak bicara yang tidak-tidak Mom. bisa saja Jerry menghamili salah satu wanita yang ia tiduri selama ini. atau dia menghamili kekasih nya itu" ucap William.
"Jangan sampai cucu ku lahir dari rahim wanita malam. aku tidak sudi mempunyai menantu seorang wanita malam" ucap Jenita. saat William ingin menjawab ucapan istri nya Jerry datang menghampiri keduanya.
"Mom, Dad. aku pegi dulu" ucap Jerry.
"Mommy ikut. Mommy ingin tau apa yang terjadi dengan mu" ucap Jenita.
"Tidak perlu Mom. aku bisa pergi sendiri" ucap Jerry.
"Kalau Mommy bilang ikut, ya ikut. apa kau tidak dengar" ucap Jenita ketus. Jerry hanya menghela nafasnya kasar.
__ADS_1
Jerry dan Jenita pun segera pergi ke rumah sakit. saat sudah di ruangan dokter. Jerry menceritakan semua yang ia alami selama sebulan ini. dirinya yang selalu mual, dan kepalanya yang terkadang pusing. juga dirinya yang sekarang tidak berselera makan dan selalu memilih-milih makanan.
"Sebenarnya apa yang terjadi dengan putra ku dok. kenapa dia aneh sekali akhir-akhir ini" ucap Jenita.
"Setelah saya periksa. tidak ada yang salah dari tubuh Tuan Jerry. semuanya terlihat normal" ucap dokter itu.
"Tapi kenapa saya selalu mual dan juga pusing" ucap Jerry bingung.
"Hanya ada satu kemungkinan" ucap dokter itu. menatap Jerry dan Jenita secara bergantian.
"Apa itu" ucap Jerry penasaran.
"Mungkin saat ini istri anda sedang mengandung. itu sebabnya anda yang mengalami mual dan juga pusing" ucap dokter itu.
Deg!
Jantung Jerry berdetak dengan sangat kencang. pikiran nya langsung tertuju pada Celin. karena hanya Celin lah satu-satunya wanita yang ia tiduri tanpa alat pengaman. jika ia meniduri wanita lain ia selalu memakai pengaman. bahkan Lyvia saja ia selalu memakai pengaman. tapi jika Celin hamil, kenapa Celin tidak menghubungi nya. apa Celin tidak tau atau..... ah sudahlah. ia benar-benar bingung sekarang. wanita mana yang ia hamili.
"Maksud dokter, yang di alami putra saya sekarang ini adalah ngidam" ucap Jenita.
"Benar Nyonya. mungkin saat ini istri Tuan Jerry sedang mengandung" ucap dokter itu. Jenita bangkit dari tempat duduk nya dan menarik paksa tangan putra nya itu.
"Jerry, kita pulang sekarang" ucap Jenita. ia menarik tangan Jerry dengan paksa. Jerry hanya pasrah. ia sudah siap mendengar omelan Mommy nya. sementara dokter itu hanya menatap keduanya.......aneh.
Sementara di tempat lain seorang wanita keluar dari kamar mandi dengan sebuah testpack yang bergaris dua di tangan nya. ia tersenyum licik.
"Aku akan menggunakan ini, untuk kembali lagi padamu" ucap wanita itu. dengan senyuman licik di wajahnya.
__ADS_1
LYVIA