
Malam harinya Jerry sedang duduk di ruang keluarga bersama kedua orang tuanya. Jenita menatap anak nya itu dengan malas. punya anak tapi kenapa bodoh sekali. batin Jenita.
"Kau ini benar-benar bodoh ya Jerry. kau sudah tau jika bukan kau saja yang meniduri wanita itu, tapi kenapa kau malah percaya begitu saja dengan nya" ucap Jenita.
"Kenapa kau tidak menyuruh orang untuk menyelidiki nya agar kau tau siapa Daddy dari anak yang di kandung nya" ucap William.
"Sudah" ucap Jerry.
"Sudah apa nya" ucap Jenita.
"Aku sudah menyuruh anak buah ku untuk menyelidiki nya" ucap Jerry.
"Lalu" ucap William dan Jenita.
"Itu bukan anak ku. tapi anak Erickson Rolez" ucap Jerry menyeringai.
Flashback on.
"Kau benar akan menikahi ku bukan" ucap Lyvia.
"Hhmm" jawab Jerry. berdeham. membuat Lyvia tersenyum licik.
"Kapan kita akan menikah" ucap Lyvia.
"Nanti aku pikirkan. kau pulang saja dulu" ucap Jerry.
"Baiklah. kalau begitu aku pulang dulu" ucap Lyvia. Jerry hanya mengangguk. segera Lyvia keluar dari rumah besar itu.
Sementara Jerry. ia tersenyum menyeringai. ia mengambil ponsel nya dan menelpon seseorang.
"Bagaimana keadaan Celin" ucap Jerry. saat orang itu mengangkat panggilannya.
"Dia masih kurang sehat. tapi dia tidak ingin di bawa ke rumah sakit" ucap orang itu. di seberang sana
"Baiklah. kakak jaga dia dulu. aku ingin mengurus masalah ku di sini yang belum selesai" ucap Jerry.
__ADS_1
"Tapi Jerry. kenapa kau begitu yakin kalau Celin sedang hamil" ucap orang itu.
"Karena aku yang menggantikan nya ngidam" ucap Jerry. "Kalau kakak tidak percaya. coba saja suruh dia test kehamilan" ucap Jerry.
"Baiklah. kalau begitu sudah dulu. aku ingin menghampiri nya di kamar mandi. daritadi dia tidak keluar dari sana" ucap orang itu.
"Baiklah. kakak jaga dulu dia untuk sementara ini. aku akan kesana jika urusan ku disini sudah selesai" ucap Jerry.
"Baiklah" ucap orang itu. Jerry segera mematikan panggilannya. Jerry terus menyeringai.
Tadi, saat Jerry dan Jenita tiba di rumah setelah dari rumah sakit. Jerry sempat menghubungi kakak nya Celin, Calista. ia menanyakan tentang keadaan Celin. dan Calista menjawab jika Celin saat ini sedang kurang sehat dan dia selalu pusing. Jerry langsung menyimpulkan bahwa yang sedang mengandung anaknya adalah Celin.
Dan alasan Jerry mengatakan bahwa ia ingin menikahi Lyvia adalah karena ia ingin membongkar kebohongan Lyvia. itu sebabnya ia berpura-pura akan menikahi Lyvia. sekarang ia akan membuat Lyvia menang dulu. biar lah sekarang Lyvia terbang tinggi dulu di angkasa sana. karena merasa ia yang menang.
Flashback of.
"Jadi yang sedang mengandung anak mu Celin? teman mu saat kuliah dulu?" ucap Jenita. Jerry menganggukkan kepalanya. membuat William dan Jenita bernafas lega. karena mereka tidak akan mempunyai cucu dari Lyvia dan juga menantu seperti nya.
"Syukurlah" ucap William.
"Belum. dia belum memeriksa nya" ucap Jerry. menghembuskan nafasnya kasar.
"Lalu, bagaimana rencana mu selanjutnya" ucap William.
"Nanti Daddy juga akan tau" ucap Jerry menyeringai.
...*****...
Calista masuk kedalam kamar Celin sambil membawa tiga testpack. ia ingin membuktikan bahwa yang di katakan oleh Jerry itu benar ada nya. bahwa saat ini Celin sedang hamil. Calista mengetuk pintu kamar Celin. setelah Celin mempersilahkan ia masuk. Calista pun masuk kedalam kamar Celin. dan menyerahkan testpack itu padanya.
"Testpack? untuk apa" ucap Celin.
"Coba cek. apa saat ini kau sedang hamil atau tidak" ucap Calista. membuat Celin memikirkan sesuatu. ia baru ingat. ia sudah telat empat minggu datang bulan.
Celin mengambil ketiga testpack itu dari tangan Calista. ia beranjak dari ranjang dan menuju ke kamar mandi. Calista menunggu Celin di depan pintu dengan cemas.
__ADS_1
Sementara di kamar mandi. Celin menyelupkan satu testpack di wadah kecil yang berisi air kencingnya. Celin memejamkan mata untuk menunggu hasilnya. saat ini ia benar-benar gugup.
Satu detik.
Dua detik.
Enam detik.
Satu menit.
Celin membuka mata nya perlahan. dan melihat testpack itu. Celin menutup mulut nya dengan satu tangan nya saat ada dua garis di testpack itu. Celin kembali mencoba kedua testpack yang lainnya. dan hasil nya tetap sama, dua garis.
Tok!
Tok!
Tok!
"Celin, bagaimana" ucap Calista. dari luar.
Celin keluar dari kamar mandi dengan wajah yang sulit di artikan. antara senang atau sedih. ia senang karena sebentar lagi dia akan menjadi seorang Mommy. tapi ia sedih saat anaknya lahir. anaknya lahir tanpa seorang Daddy.
"Bagaimana" ucap Calista. Celin memberikan ketiga testpack itu pada Calista. Calista pun menerima nya. ia menatap testpack itu dengan mata terbelalak. namun kemudian ia tersenyum dan langsung memeluk Celin.
"Selamat Celin, kau positif hamil.sebentar lagi kau akan menjadi orang tua" ucap Calista. Celin hanya tersenyum getir. ia tidak tau, apa ia sekarang harus senang atau tidak.
"Hei, kenapa kau diam saja. apa kau tidak senang dengan kehamilan mu" ucap Calista. Celin menggelengkan kepalanya pelan.
"Bukan seperti itu" ucap Celin.
"Lalu? kenapa. apa kau takut jika anak mu lahir tanpa kehadiran Daddy nya" ucap Calista. Celin menganggukkan kepalanya. membuat Calista tersenyum. "Kau tidak perlu khawatir. kakak yakin, pasti Daddy nya akan hadir saat kau melahirkan anaknya" ucap Calista lagi. membelai rambut Celin lembut.
"Maksud kakak" ucap Celin bingung. Jerry? tidak mungkin dia hadir saat ia akan melahirkan anak mereka. mana mungkin Jerry akan bertanggung jawab jika Jerry hanya mencintai Lyvia. batin Celin.
"Kau akan tau nanti" ucap Calista. dengan senyuman penuh arti.
__ADS_1