
Empat bulan kemudian.....
Usia kandungan Kenaya saat ini sudah menginjak sembilan bulan. tinggal menunggu beberapa hari lagi, ia dan Abraham akan segera bertemu dengan anak-anak mereka. saat ini keduanya sedang makan malam bersama keluarga mereka. bahkan, kedua orang tua Kenaya dan juga Richo, beserta istri dan anak-anak nya saat ini berada di kediaman Moorey. mereka baru saja tiba di Paris dua hari yang lalu.
"Dimana Yezy, aku tidak melihat nya" ucap Amanda. karena ia tidak melihat keberadaan Yezy.
"Dia ada di kamar nya. entahlah, aku tidak tau ada apa dengan anak itu. sikap nya sekarang sudah berubah. dirinya yang dulu selalu ceria, kini menjadi orang yang sangat dingin sekarang" ucap Emi. "Sudah satu bulan yang lalu ia seperti itu. dia benar-benar berubah sekarang" ucap Emi lagi.
"Apa dia sedang ada masalah" ucap Alex.
"Kami juga tidak tau, kami sudah bertanya dengan nya, tapi dia tidak mau memberitahu nya" ucap Emi.
"Aku benar-benar bingung dengan nya. sekarang dia tidak lagi banyak bicara" ucap Ema.
"Aaawww" ringis Kenaya. saat merasakan sakit di perutnya. membuat orang yang berada di meja makan itu menatap nya.
"Ada apa Sayang" ucap Abraham khawatir.
"Perut ku, perut ku sakit" ucap Kenaya. membuat semua orang jadi panik. "Tapi tidak lagi" ucap Kenaya. tersenyum tanpa dosa. membuat mereka yang ada di meja makan itu mendengus kesal.
"Sepertinya itu hanya kontraksi" ucap Ema.
"Apa kau selalu merasakan sakit yang sama seperti itu" ucap Amanda.
"Iya, dari kemarin" ucap Kenaya.
"Kenapa kau tidak memberitahu ku" ucap Abraham.
"Karena sakitnya kadang-kadang muncul, kadang-kadang hilang" ucap Kenaya.
"Setidaknya, kau beritahu pada ku" ucap Abraham.
"Iya, ak..... aaawww" ringis Kenaya lagi. saat perut nya kembali terasa sakit.
"Ada apa" ucap Abraham.
"Sakit nya datang lagi. kali ini lebih sakit dari yang tadi" ucap Kenaya. "Aaww..... Sayang sakit" ucap Kenaya lagi. meringis. Abraham semakin panik, begitu pun dengan mereka yang ada di meja makan.
__ADS_1
"Sepertinya Kenaya akan melahirkan" ucap Maria.
"Tapi ini belum waktu nya kak, dia akan melahirkan lima hari lagi sesuai prediksi dokter" ucap Abraham.
"Itu prediksi dokter" ucap Maria.
"Sudahlah, tidak usah banyak berdebat. ayo kita bawa Kenaya ke rumah sakit sekarang" ucap Edward.
"Aku akan mengambil barang Kenaya dan bayi nya dulu" ucap Maria. ia pun segera pergi ke kamar Abraham dan Kenaya, untuk mengambil barang Kenaya dan bayi nya nanti.
Abraham memapah istri nya berjalan, keluar dari rumah itu menuju ke mobil nya di bantu oleh Alex yang berada di sebelah kiri.
"Sakit sekali" ucap Kenaya. rasa sakit di perutnya itu semakin terasa.
"Tahan Sayang" ucap Abraham. ia membawa istrinya masuk kedalam mobil dan mendudukkan nya di sana.
Saat sudah berada di dalam mobil. Abraham langsung melajukan mobil nya menuju rumah sakit. di dalam mobil Abraham hanya ada dirinya, Kenaya, Ema dan juga Amanda. sedangkan yang lainnya berada di mobil milik Edward.
...*****...
Saat sudah tiba di rumah sakit. Abraham kembali memapah istri nya masuk ke dalam rumah sakit. Kenaya terus meringis karena perutnya yang semakin sakit.
"Mari bawa ke ruangan saya dulu. kita lihat dulu, sudah pembukaan berapa" ucap dokter Lena. mereka pun segera menuju ke ruangan dokter Lena. saat sudah tiba di ruangannya, dokter Lena pun segera memeriksa Kenaya.
"Bagaimana" ucap Abraham.
"Sudah pembukaan empat Tuan. kita tunggu sampai pembukaan nya sempurna" ucap dokter Lena. "Saya akan menyiapkan ruangan persalinan nya dulu. Tuan, silahkan ajak Nona Kenaya jalan-jalan dulu, agar pembukaan nya cepat" ucap dokter Lena lagi. Abraham pun menganggukkan kepalanya. ia kembali memapah Kenaya untuk jalan-jalan di sekitar rumah sakit. sementara dokter Lena menyiapkan ruangan bersalin untuk Kenaya.
Satu jam berlalu. rasa sakit di perut Kenaya semakin menjadi. membuat Abraham menjadi panik. ia memapah istri nya ke ruangan dokter Lena.
"Dokter, perut istri saya tambah sakit" ucap Abraham. pada dokter Lena.
"Coba saya periksa dulu" ucap dokter Lena. "Sempurna" ucap dokter Lena lagi.
"Apa yang sempurna dok" ucap Abraham bingung.
"Pembukaan nya Tuan" ucap dokter Lena tersenyum. "Sekarang kita pindahkan Nona Kenaya ke ruangan bersalin" ucap dokter Lena lagi. mereka pun segera memindahkan Kenaya ke ruangan bersalin.
__ADS_1
Saat sudah di depan ruangan bersalin. Abraham berhenti di sana, menatap istri nya yang sudah masuk ke ruangan bersalin.
"Anda bisa ikut masuk menemani istri anda melahirkan Tuan" ucap dokter Lena. Abraham menganggukkan kepalanya dan melangkahkan kakinya ke ruangan itu. sementara keluarga mereka yang lain menunggu di luar.
Abraham saat ini berada di samping Kenaya. menggenggam tangan istri nya yang sebentar lagi akan bertaruh nyawa untuk melahirkan buah cinta mereka.
"Kita mulai sekarang. Nona Kenaya, silahkan tarik nafas, lalu hembuskan" ucap dokter Lena. Kenaya pun menuruti intruksi dari dokter Lena. "Sekali lagi, setelah itu mengejan" ucap dokter Lena lagi. Kenaya pun kembali menarik nafas nya dan menghembuskan nya. setelah itu ia pun mulai mengejan.
Eeggghhh.
"Terus Nona, lebih kuat lagi" ucap dokter Lena.
"Ayo Sayang. lebih kuat lagi" ucap Abraham. tak henti-hentinya ia mengecup kening Kenaya.
Eeggghhh huh huh.
Kenaya kembali mengejan, hingga nafas nya tersenggal-senggal. ia tak menyangka, jika melahirkan itu begitu menyakitkan. tapi, ia harus tetap berusaha untuk mengeluarkan kedua anaknya.
"Lagi Nona, lebih kuat lagi. kepala anaknya sudah mulai kelihatan" ucap dokter Lena. Kenaya pun kembali mengejan dengan kuat hingga.....
Oek.
Oek.
Oek.
Tangisan bayi perempuan yang begitu nyaring menggema di ruangan itu. membuat semua orang yang ada di ruangan itu tersenyum. Abraham dan Kenaya menatap anak mereka dengan mata yang berkaca-kaca. tak menyangka, kini mereka sudah menjadi orang tua.
" Selamat Tuan dan Nona anak pertama Tuan dan Nona adalah perempuan. suster, silahkan di bersihkan" ucap dokter Lena. salah satu suster yang berada di sana pun mengambil bayi perempuan itu dan segera membersihkan nya. "Satu lagi Nona" ucap dokter Lena.
"Ayo Sayang, semangat. satu lagi" ucap Abraham. menyemangati istri nya. tak henti-hentinya Abraham mengecup kening dan tangan Kenaya.
Kenaya pun kembali mengejan untuk melahirkan anak nya yang kedua. hingga suara tangisan bayi laki-laki menggema di ruangan itu lagi.
"Anak kedua Tuan dan Nona laki-laki" ucap dokter Lena. "Silahkan di bersihkan dulu suster. setelah itu bawa keduanya pada Mommy mereka" ucap dokter Lena lagi. suster yang di suruh itu pun segera mengambil bayi laki-laki itu dan membersihkan nya.
"Terima kasih Sayang, kau sudah berjuang untuk melahirkan anak-anak kita. aku mencintai mu" ucap Abraham. dengan mata yang berkaca. ia kembali mengecup kening Kenaya. sementara Kenaya, ia hanya tersenyum. rasa lelah sekaligus sakit itu membuat nya tidak sanggup membalas ucapan Abraham.
__ADS_1
"Ini anak-anak kalian, Tuan dan Nona" ucap suster yang tadi membersihkan bayi Abraham dan Kenaya. keduanya meletakkan bayi mungil itu di dada Kenaya.
Seketika rasa lelah dan sakit Kenaya hilang begitu saja saat anak-anak nya berada di dekat nya. Abraham mencium kedua anak nya dengan sayang.