
Disebuah rumah mewah dengan gaya minimalis. Seorang remaja duduk di meja belajarnya. Lampu kamarnya nampak mati. Tapi layar laptopnya menyala.
Klek, pintu terbuka. Memunculkan sosok pria yang umurnya sudah dibilang matang.
"Belum selesai belajarnya?" Abidco mengelus lembut rambut Kenanga.
Kenanga enggan menjawab pertanyaan Ayahnya.
"Kak! Masih marah soal tadi saat di sekolah?" Abidco duduk di ranjang anaknya, sambil memegang tangan Kenanga, yang duduk di kursi belajarnya. Kenanga hanya diam, dia sangat kecewa dengan Ayahnya.
"Sebenarnya itu Kakak, salah paham! Itu enggak seperti yang Kakak kira!" Abidco menjelaskan.
"Terus yang terjadi apa? Jelas-jelas Ayah sama Puput! Bergandengan tangan dengan Guru baru itu." Kenanga menatap Ayahnya sejenak. Kemudian mengalihkan pandangannya kearah lain.
"Yah! Aku tahu! Ayah butuh pendamping lagi. Tapi Mama, belum juga genap dua tahun meninggal. Masa Ayah, sudah — Ah sudahlah!" Kenanga tidak melanjutkan ucapannya kembali.
"Kak! Apa Kakak! Tidak mengenal Ayah? Dulu saat Ayah bercerai dengan Ibu kandungmu! Ayah baru bisa membuka hati lagi, selama lima tahunan?" tanya Abidco lembut.
"Jangan bahas dia, aku tidak suka!" ujar Kenanga, yang enggan membahas Ibu kandungnya.
Waktu Abidco bercerai dengan istrinya yang pertama. Waktu itu umur Kenanga masih terbilang kecil.
"Meskipun begitu dia tetap Ibumu, karena dia kau lahir di dunia ini."
"Sapi juga bisa melahirkan, apa bedanya dengan dia? Yang hanya melahirkan, tapi tidak bisa merawat anaknya?" Mata Kenanga menahan tangis, saat mengingat bagaimana kehidupannya dahulu.
"Cukup Kak! Bagaimanapun dia adalah Ibumu! Jangan pernah membencinya. Apa kata orang, saat mereka tahu. Jika aku tidak bisa mendidik anakku?" Abidco berdiri dari duduknya. Dan berjalan keluar pintu. Belum juga Abidco keluar dari kamar anaknya. Suara Kenanga membuat langkahnya berhenti. "Ibuku adalah Mama Dinda, bukan yang lain!" Penegasan dari Kenanga membuat Abidco menghela nafas panjang, kemudian membuangnya perlahan.
Abidco berjalan kearah kamar pribadinya. Duda dua anak itu, membuka pintu kamarnya perlahan. Matanya menatap punggung kecil itu meringkuk. Hatinya teriris, jika melihat nasib bungsunya itu. Abidco mengelap matanya yang berlinang. Kemudian menutup pintunya pelan. Abidco membaringkan tubuhnya dan mengelus punggung anak bungsunya itu. Puput tidur dalam keadaan meminum susu di botol. Abidco melepaskan botol DOT itu.
"Aku akan bersama mu, merawat mu hingga nanti. Ayco akan melakukan apapun untuk kebahagiaan mu!" Abidco bicara dengan penuh keyakinan.
Abidco meraih bingkai foto yang ada di atas nakas, samping tempat tidur. Jari-jemarinya menyentuh wajah yang ada dalam foto itu.
"Adinda!" Mulut Abidco tertutup rapat. Matanya kembali berlinang saat melihat wajah istrinya.
__ADS_1
"Kenapa harus seperti ini? Kenapa kau meninggalkan kami Din? Aku tidak kuat, saat putrimu memintaku untuk mencarikan Ibu lagi. Din!" Abidco mencium bingkai itu, dan mengelusnya kemudian meletakkan bingkai foto itu kembali.
...***...
Beralih ke rumah elit yang terletak di daerah Jakarta Selatan. Keluarga itu, sedang kumpul bersama. Karena rencananya besok Gibril akan ke Singapure bersama istrinya.
"Hacih ... Hacih!" Arsy menggosok hidungnya dengan tangannya.
"Ayi! Sakit?" Papa bertanya.
"Cuma bersin doang kok Pa!" ujarnya sambil tersenyum.
"Kata siapa kau sedang sekarat?" celetuk Kafka yang bikin Arsy mendelik.
"Dasar Adik laknat! Bilang saja kau ingin aku cepat mati. Agar kau jadi anak kesayangan!" ujar Arsy, sambil bersandar di bahu Papanya.
"His kalian itu selalu ribut!" gerutu Bunda Cahaya, yang duduk di samping kanan suaminya.
"Ayi dulu, Bun!" Kafka duduk di samping Bunda Cahaya, kemudian tidur dipangkuan Bundanya. Arsy menjambak rambut adiknya, karena jarak mereka dekat.
"Awwww!" Kafka kesakitan saat Kakaknya menjambak rambutnya.
"Pertama namanya harus ada Muhammad nya, biar seperti Papa! Yang kedua enggak rokok, seperti Papa! Untuk yang ketiga ini, Ayi sangat ingin. Apapun pekerjaannya, yang penting dia bisa punya waktu luang untuk Ayi dan anak Ayi. Contoh nih, dosen, guru itu kayaknya enak karena enggak harus LDR gitu. Ayi, enggak mau punya suami Bang Toyib, yang enggak pulang-pulang! Untuk yang terakhir, ini doa Ayi, banget. Semoga mempunyai sifat yang mewarisi idola Ayi! Nabi Muhammad! Sudah enggak ribet kan, kalau mau jadi suami Ayi!" Arsy terkekeh karena ucapannya sendiri.
"Kalau, Kaka enggak mau punya istri kayak Ayi!" celetuk Kafka, yang bikin keluarganya melongo.
"Lah bukannya Ayi, cantik nyaris sempurna untuk masalah fisik!" sahut Gribil.
"Nah ... yang masalah itu fisik Ayi, yang sempurna. Pertama dia cantik, kalau diajak keluar lelaki pada kagum. Tinggi badannya, ideal semua kaum Adam pasti banyak yang ngincar. Tubuhnya seseksi beruang, bisa buat lelaki tertarik untuk memilikinya Lah ... kalau Kaka, cari yang seperti Ayi. Kafka takut kalau istri Kaka, ninggalin Kaka, saat ada lelaki yang lebih mapan, tampan dan bisa menjamin masa depannya. Mending Kaka, cari yang enggak jelek-jelek amat. Yang enggak cantik-cantik amat. Pokoknya yang cocok dan sederhana. Poin terpenting adalah pintar."
Prok ...Prok Suara tepuk tangan menggema di ruangan keluarga.
"Tepuk tangan buat persentasenya Pak Kafka! Wakil Presiden, perusahaan tambang emas!" ujar Arsy, bertepuk tangan sambil berdiri.
"Siapa juga yang mau jadi wakil Presiden tambang emas! Nanti takutnya gigiku kuning, kayak emas!" ujarnya yang membuat tawa keluarga.
__ADS_1
"Pa! Kaka bercita-cita ambil jurusan kedokteran. Kaka mau jadi dokter kandungan!" Kafka mendongak untuk melihat wajah kedua orang tuanya.
"Sialan, nih anak kampret!" Arsy memukul wajah adiknya.
Sedangkan Cahaya dan Langit melongo karena jawaban si bungsu yang mau jadi dokter kandungan.
"Aduh Ayi! Kenapa selalu KDRT sih? Ingat Yi! Enggak ada lelaki yang mau deketin Ayi, karena Ayi terlalu sempurna. Yah Ayi, enggak laku hahaha!" Tawa Kafka pecah saat berhasil bikin Kakaknya cemberut.
"His!" Arsy ingin sekali menjambak adiknya itu.
"Hole Ayi endak aku!" ujar keponakan Arsy yang umurnya mungkin dua tahunan.
"Buahahahha! Abang anaknya kampret bener!" Kafka sudah duduk dengan baik.
"Kalau keponakanya kampret, itu ya karena Pamannya kamferettt kayak kamu!" Gibril mencibir mengejek.
"Sepertinya, Papa! Salah posisi saat buat si kampret prentil!" tukas Gibril sambil terkekeh geli.
Sedangkan Papa, membulatkan matanya lebar.
"Dia lupa berdoa!" Cahaya tersenyum kecut.
Istrinya Gibril menahan tawanya karena jawaban Cahaya.
"Kak Vi! Kalau mau ketawa-ketawa saja. Enggak usah ditahan, biasa aku selalu dijadikan bahan candaan!" Kafka menggerutu kesal.
"Kalau bisa Kaka, masukin lagi aja gimana? Setuju enggak?" tanya Arsy terkekeh geli.
"Setuju!" jawab Gibril dan anak pertamanya.
"Bunda, enggak setuju! Masa Bunda! Harus mengandung lagi!" Cahaya bicara, sambil bersandar di pundak suaminya.
"Ya sudah, berhubung Bunda! Enggak siap Kaka dikembalikan di rahim. Maka dari itu kita kembalikan Kaka ke tanah!" Arsy menggeleng pelan.
"Astagfirullah hal adzim!" Kafka melompat dari belakang Kakaknya.
__ADS_1
"Astagfirullah, berat Ka!" Arsy memukul tangan adiknya yang ada di lehernya. Si Kafka minta gendong Kakak perempuannya.
...***...