
Dua hari setelah pertemuannya dengan Harjunot tepat dibawah pohon mangga. Arsy yang siang itu berwajah pucat karena belum sarapan dipagi hari. Berdampak pada kesehatan tubuhnya.
Selama dua hari ini Arsy tidak keluar dari kamar karena sakit. Ditambah lagi terlalu banyak pikiran, karena hubungannya dengan Bunda tidak akan terjalin membaik. Jika ia tidak memiliki hubungan dengan Harjunot.
Jarum jam dikamar Arsy menunjukan pukul 15: 00. Perempuan itu masih menggulung tubuhnya dengan selimut.
Bad bad boy! Ponsel yang ada di atas nakas itu berbunyi nyaring. Membuat pemiliknya meraba-raba mencari keberadaan ponsel yang berbunyi.
Arsy yang berhasil mendapatkan ponselnya. Dia melihat siapa yang menelponnya. Matanya membulat sempurna, saat membaca nama kontak yang tertera dilayar ponsel.
"Oh ...my God! MOUSKY👾" gumam Arsy sambil mengigit jari telunjuknya.
"Ngapain ngajak VC!" Arsy bingung karena baru pertama kali Harjunot video call.
Arsy pun segera menjawab panggilan itu.
"Ada apa? Mau mentertawakan saya, karena sedang sakit?" tuduhan pertama langsung kepenelpon.
"Yang bicara itu bibirnya atau matanya? Kenapa yang kelihatan cuma matanya saja?" tanya Harjunot, sambil menatap gambar Arsy yang masih berselimut.
"Kalau sakit itu jangan tiduran seharian! Enggak baik juga, mending duduk sambil sandaran! Lima belas menit tidur lagi itu enggak apa-apa! Yang ada pulihnya lama kalau kamu cuma rebahan!" ujarnya seraya menggosok rambutnya yang basah. Karena habis mandi.
Arsy pun melakukan apa yang Harjunot suruh. Perempuan itu merubah posisinya menjadi bersandar.
"Bagus!" Harjunot mengacungkan jempol untuk Arsy.
"Jam berapa sih ini, kok Anda sudah mandi?" tanya Arsy, sambil merapikan rambutnya. Biar enggak disangka OGB orang gila baru.
Harjunot melirik kearah yang berlawanan dari ponselnya.
"Jam tiga sore!" ujarnya menatap ponselnya kembali
"Ngapain jam segini mandi, nanggung banget nanti jam setengah lima juga harus mandi lagi!" ujar Arsy dengan wajah pucat nya. Menghiasi layar ponsel Harjunot.
"Ya mau sholat Ashar dong! Atau jangan-jangan selama sakit Anda ninggalin sholat?" tuduh Harjunot sambil memicikkan matanya.
"Kok tau?"
Jawaban Arsy membuat Harjunot melotot.
"Enggak takut dosa? Ninggalin sholat?" Harjunot bertanya.
"Nah, kalau saya sholat saya dosa!" jawab Arsy menahan senyumannya. Entah mengapa obrolan lewat video, memberikan energi positif untuk tubuhnya.
"Hah?" Harjunot ternganga karena jawaban Arsy.
"Lah cewek kan ada masa liburannya! Untuk sholat!"
Jawaban Arsy membuat Harjunot menepuk keningnya.
"Ya ketahuan begok nya!" ujar Arsy menghina lawan bicaranya.
Yang dihina masang muka kalem.
"Sudah makan?" Harjunot bertanya.
Arsy terdiam tidak menjawab.
"Kalau pengen lekas sembuh makan setelah itu minum obat. Dan jangan tinggalkan istirahat! Agar badan kembali bugar!" tutur Harjunot kepada Arsy.
__ADS_1
"Nanti malam saya ke rumah!"
"Ha? Ngapain?" Arsy terkejut karena perkataan Harjunot.
"Ngelamar kamu!"
Arsy yang mendengar jawaban Harjunot sedikit loading. Akan tetapi saat jaringan sel otaknya sudah konek.
"APA? Kamu jangan bercanda ya! Jangan kayak waktu itu ngajak nikah tapi kayak teman ngajak nonton!" Arsy menggerutu sambil memanyunkan bibirnya.
Harjunot hanya mampu mengelumkan senyumannya.
"Lihat ini?" Harjunot memperlihatkan kotak perhiasan. Lelaki itu membukanya, dan disana ada dua buah cincin berwarna putih.
Arsy membulatkan matanya sempurna, perempuan itu tidak percaya. Jika Harjunot, sudah mempersiapkan semuanya.
"Jujur saja saya enggak tahu, ini cincin terlalu kecil atau kebesaran dijari manis Anda!" ujar Harjunot sambil mengambil cincin milik wanita. Kemudian menatap wajah Arsy yang menghiasi layar ponselnya.
"Enjun! Enjun jangan bercanda dong! Ini enggak lucu?" Arsy cemberut.
"Saya enggak bercanda, kan Anda sendiri yang minta dinikahin!" jawabannya santai.
Arsy yang mendengar jawaban Harjunot malu. karena Harajunot mengatakan. Jika dialah yang minta dinikahin.
"Ta-tapikan waktu itu kamu hanya diam Enjun! Dan menyuruhku pulang!"
"Ya karena saya diam, saya enggak bilang tidak juga enggak bilang mau kan? Terus salahnya dimana?" Harjunot bertanya.
Arsy diam enggan untuk berdebat dengan Harjunot.
"Pikir dong Enjun! Bagaimana cara keluargaku menyiapkan hidangan untuk menjamu keluargamu. Kalau kamu saja ngabarin nya mepet kayak gini! Enjun mah gitu, egois!" ujar Arsy membuang pandangan dari tatapan Harjunot. Perempuan itu mengelap matanya yang berkaca-kaca.
"Terus acaranya harus dibatalkan?" Harjunot menarik napas dalam. Ekspresinya tidak bisa diartikan.
"I-iya enggak gitu juga Enjun! Au ...ah aku pusing mikirnya!" ujar Arsy, sambil menggaruk rambutnya.
"Kalau pusing jangan nangis dong! Malah sakit!" tuturnya lembut.
"Ya aku harus gimana Enjun! Disisi lain keluargaku belum mempersiapkan apa pun. Untuk keluargamu. Dan disisi lain keluargamu yang sudah menyiapkan semua! Masa iya aku tega ngebatalin! Hiks! Srokkss.." Arsy mengusap ingusnya dengan lengannya.
"Ya, enggak usah nangis segala! Apa dengan menagis kamu dapat solusi jalan keluar? Enggak kan?" Harjunot menatap layar ponselnya serius.
Arsy mendudukan wajahnya, baru pertama kali rasanya dia mengais saat sedang melakukan video call. Yaitu dengan calon tunangannya.
"Sekarang dengerin saya baik-baik! Hapus air matamu, cuci wajah, gosok gigi setelah itu samperin Bunda! Bilang kalau Enjun mau kemari dengan keluarganya. Nanti Bunda, tahu gimana cara menyelesaikan masalah yang membuatmu nangis!"
"Dan ingat!" Harjunot akan memberi perintah. Jika jari telunjuknya sudah naik keatas seperti yang dilakukan saat ini.
"Kamu harus makan yang banyak! Enak enggak enak, pokoknya harus makan! Setelah itu minum obat atau vitamin!"
"Jangan tidur! Enggak baik tidur sore-sore seperti ini! Yang ada badannya tambah sakit!"
Arsy hanya mengangguk saat calon tunangannya memberi pengertian.
"Ya sudah saya sholat dulu, enggak terasa kita bicara cukup lama! Hampir setengah jam!" ujar Harjunot melirik jam yang menggantung di dinding kamarnya.
"Hmmm!" Arsy mengaguuk dan panggilan itu pun selesai.
...***...
__ADS_1
Arsy langsung menyingkap selimut dan berlari ke kamar mandi. Perempuan itu membasuh muka kemudian menggosok giginya. Setelah selesai, langsung keluar kamar dan masuk kedalam lift untuk bertemu dengan Bunda. Arsy keluar dari lift, dahinya mengkerut saat ruang keluarga didekorasi.
"Ha?" Arsy menggaruk rambutnya karena merasa aneh. Jika dia saja belum memberi tahu, jika nanti malam Harjunot dan keluarganya akan melamar. Kenapa sudah ada WO lamaran.
"Bu-bunda!" Arsy berteriak dan berlari ketempat favorit Bunda. Dimana lagi kalau bukan Dapur.
Dan benar saja paruh baya itu sedang ada di sana.
Bunda menengok saat putrinya memanggilnya.
"Bunda, di-di ruang tamu! Kok sudah ada dekor tunangan? Kan aku belum ngasih tahu. Gimana ka-kalian semua ta-hu?" Arsy berbicara sambil menunjuk keluar dapur.
Kak Vi yang mendengar hanya menggeleng dan tersenyum.
"Dua hari yang lalu Harjunot memberi tahu kita,, bahwa dia dan keluarganya ingin bermain ke rumah kita, dalam tanda kutip lamaran!" jelas Bunda yang membuat Arsy mengepalkan tangannya. Giginya juga bergemeretak menahan kesal.
"Untuk dekorasi juga Harjunot yang ngirim!"
"Keluarga kita hanya nyiapin konsumsi makanan saja!"
"Berarti semua sudah direncanakan dua hari yang lalu?" Arsy tidak percaya, jika persiapan lamarannya. Sudah direncanakan dua hari yang lalu.
Bunda hanya mengangguk pelan.
"Dia juga ngirim satu set kebaya untukmu! Tapi sebelumnya dia. Juga minta maaf karena tidak bisa ngirim MUA untuk meriasmu!"
"Kenapa Bunda enggak ngasih tahu aku! Kalau mau ada acara lamaran?" Arsy terlihat ngambek karena tidak diikut sertakan dalam pembahasan pertunangannya.
"Emang kamu enggak tahu? Aku kira kamu sudah tahu!"
"Tahu dari mana, orang dianya saja baru tadi ngasih kabar. Katanya mau kesini dengan keluarganya!" grutu Arsy kesal.
"Aku kira kamu waktu pulang cemberut tanpa salam! Kamu mau beri suprise saat makan malam. Dan mengatakan jika Junot setuju untuk memiliki hubungan denganmu!" ujar Bunda menatap putrinya.
"Hah?" Arsy semakin bingung dengan perkataan Bundanya.
"Jujur saja lima menit sebelum kamu pulang ke rumah. Papamu menelponku, mengatakan jika Harjunot dan keluarganya ingin main ke rumah dua hari lagi! Untuk melamarmu!" jelas Bunda.
Arsy semakin menekuk wajahnya karena kesal dengan Harjunot. Yang tidak bepikaku adil padanya.
"Enjunnnnn! Ngeselin!" Arsy menghentakkan kedua kalinya kesal. Kemudian berlari kearah lift. Perempuan itu keluar dari lift langsung masuk ke kamarnya. Mencari ponselnya, dia ingin menghubungi seseorang.
Ada satu pesan masuk dari kotak atas nama.
MOUSKY👾
Semoga kebayanya enggak kekecilan! Kalau kebesaran nanti jitet pakai paket...
Arsy yang membaca pesannya ingin langsung menelpon dan memarahinya. Akan tetapi ia urungkan,saat pesan masuk dari Mouseky kembali menghiasi layar ponselnya.
MOUSKY👾
Jangan telpon, saya sibuk!🙏🏻
Melihat emoticonnya membuat Arsy meradang.
"Anda dukun! Kenapa bisa tahu kalau saya pengen nelpon?" Arsy mengirimkan pesan itu. Berharap ada balasan, tapi nihil sampai sembilan menit tidak ada balasan.
Kampretttt....
__ADS_1