Dia Istri Dalam Mimpi

Dia Istri Dalam Mimpi
Nebeng Not...


__ADS_3

"Ah ..." Arsy menjawab seperti orang lupa.


"Di sini tidak ada yang namanya, Ah!"


"Bukan itu maksudnya, saya nyari yang namanya Harjunot!"


"KAK ARJUNOT! ADA YANG NYARIIN NIH" teriak Pandy, membuat Arsy menutup telinganya.


Harjunot yang sedang berbicara dengan kawannya, ia membalikkan badannya karena teriakan Pandy.


"Nanti kita bahas lagi," ujar Harjunot kepada anak buahnya.


"Tunggu tuh, bentar lagi. Kak Arjunot datang kesini!" Pandy memberi tahu Arsy yang bersandar di kepala mobil truk.


"Siapa?" Harjunot bertanya dari arah belakang mobil truk.


Pandy mengangkat bahunya, pertanda ia tidak tahu. Arsy yang mendengar suara Harjunot, dia memunculkan badannya.


"Anda!" Harjunot terkejut saat melihat siapa yang datang.


Sedangkan Pandy pergi meninggalkan mereka berdua.


"Iya!" jawabannya datar.


"Saya kesini, karena Papa, yang menyuruh. Ini buat Anda!" Arsy menyodorkan kotak makanan, sambil menunduk dia tidak berani menatap Harjunot.


Harjunot mengerutkan keningnya, saat perempuan itu menyodorkan kotak kearahnya.


"Ini buat Anda!" Arsy bicara sambil menggoyangkan kontak itu. Tapi kepalanya tetap menatap kearah bawah. Sedangkan Harjunot menatap aneh kelakuan Arsy.


Harjunot pun mengambil kotak itu, sambil bertanya. "Ini apa?"


"Kotak makan!" jawab Arsy yang tidak mau menatap Harjunot.


"Iya tahu! Tapi isinya apa?" Harjunot membolak-balikkan wadah itu.


"Lihat saja, nanti juga tahu!"


"Hmmm!" Harjunot mengangguk.


"Anda kenapa, menatap kearah bawah, emang ada apanya? Kok sampai segitunya?" Harjunot menatap kearah bawah, sama halnya yang Arsy lakukan.


"Saya pamit dulu!" ujar Arsy sambil membalikkan badannya.


"Tunggu!" Harjunot menghentikan langkah Arsy. Sedangkan perempuan itu membalikkan badannya karena Harjunot memanggilnya.


"Iya, ada apa?" Arsy tidak menatap Harjunot, perempuan itu menunduk kembali.


"Terima kasih!" Harjunot mengangkat kotak itu.


"Bilang sama Papa! Karena Papa, yang ngasih!" ujarnya sambil meninggalkan Harjunot.


Harjunot menatap punggung Arsy yang mulai menjauh.


"Cie Kak Arjunot!" Pandy bersorak ria.


"Apa?" jawabannya datar.


"Siapa dia Kak? Jangan-jangan ehem ... ehem!" Pandy terkekeh saat melihat wajah Harjunot.


"Ehem ...ehem! Apa?"


"Apa dia kekasih Kakak?"

__ADS_1


"Sudah kerja yang benar! Mau kamu gajinya dipotong?"


"Ck!" Pandy berdecak meninggalkan Harjunot.


Harjunot membuka kotak makanan itu.


"Roti gandum buatannya, ternyata!" Harjunot menutupnya kembali.


...***...


"Assalamualaikum warahmatullahi wa'barokatuh!" Abidco mengucap salam untuk seluruh dewan Guru.


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wa'barokatuh!"


"Baiklah, pertama-tama saya ucapkan Puji syukur atas kehadiran Allah SWT. Tak perlu saya basa-basi lagi! Saya yakin jika Bapak dan Ibu Guru disini sudah tahu, bahwa rapat hari ini mengenai. UNBK! Dan acara pariwisata bersama anak didik kita!" Abidco berdiri memberikan informasi.


"Jadwal tahun ini, sangatlah padat. Pertama kita mendapatkan undangan untuk mengikuti acara kemping se–Jakarta! Dilanjutkan acara pariwisata bersama seluruh anak didik. Setelah itu kita harus mempersiapkan UNBK. Jadi waktunya itu beriringan. Saya harap Bapak dan Ibu Guru sekalian, bisa berkerja sama!"


"Apa ada yang mau menyampaikan pendapatnya?" tanya Abidco.


"Maaf, Pak! Apa saya boleh menyampaikan pendapat saya?" Arsy berdiri.


Abidco menatap kearah perempuan itu.


"Iya, silahkan!" Abidco menyetujui Arsy yang ingin menyampaikan pendapatnya.


Setelah itu Arsy mulai menyampaikan pendapatnya. Dan beberapa Guru setuju dengan pendapatnya.


"Baiklah! Kalau begitu maslahah pariwisata, sudah deal.Jika tahun ini hanya kelas IX yang akan pergi untuk pariwisata!" Abidco menyetujui pendapat dewan Guru.


Duda dua anak itu, sangat terkesima dengan pendapat Arsy, sampai-sampai Abidco selalu mencuri pandang untuk melihat Arsy.


...***...


Arsy sudah ada di depan sekolah, dia menunggu taksi.


"Harusnya, aku download Aplikasi Gojek!" gerutu Arsy yang menatap jalan ramai.


"Jadi gini kan, sekarang harus nunggu taksi!"


Dud ...dud ...dud! Suara motor berhenti tepat di depan Arsy. Membuat Arsy mundur karena terkejut.


"Lagi nunggu taksi?" tanya lelaki itu sambil membuka helm.


"Iya!" Arsy menjawab datar.


"Hampir jam lima, mendung juga! Mari saya antar pulang!"Arsy terkejut karena tawaran Harjunot.


'"Tidak perlu, saya akan menunggu taksi!"


"Tapi ini sudah sore, bentar lagi hujan!" Harjunot menatap Arsy sekilas.


"Ta-tapi!" Harjunot memotong ucapan Arsy.


"Sudah enggak usah tapi-tapian. Saya enggak akan ngapa-ngapain Anda!"


"Baiklah!" Arsy akhirnya menerima tawaran Harjunot.


Perempuan itu berjalan kearah samping Harjunot. Arsy terdiam, bagaimana caranya ia naik kebagian jok belakang. Jika joknya tinggi. Sedangkan dia, memakai rok span panjang.


"Ayo!" ujar Harjunot sambil membuka footstep belakang, agar Arsy bisa naik.


Arsy terlihat ragu-ragu untuk menginjakkan kakinya ke footstep.

__ADS_1


"Kenapa?" Harjunot bertanya, sambil memajukan kepalanya.


"Bagaimana saya naik?" Arsy bertanya sambil memegang buku-buku ditangannya.


"Pegagan pundak saya, setelah itu Anda bisa duduk di jok belakang!"


"Ta-tapi?"


Harjunot lagi-lagi memotong ucapan Arsy. "Kita tidak sentuhan kulit, jadi Insya Allah enggak masalah. Toh juga ini kondisinya urgent!" Harjunot bicara sambil memasang helm kembali.


Arsy terlihat ragu untuk memegang pundak Harjunot. Buktinya saja, dia menarik tangannya sebelum benar-benar menyentuh pundak Harjunot. Dan itu berlangsung berulang-ulang.


"Ayo! Kenapa hanya diam?" Harjunot menatap kearah Arsy.


Arsy membuang napas pelan, kemudian dia menginjakkan kaki difootstep. Sedangkan tangannya memegang pundak Harjunot kemudian duduk, dengan susah payah.


"Sudah?" Kepala Harjunot sedikit menengok kebelakang.


Arsy mengangguk pelan, sambil menarik tangannya yang ada di pundak Harjunot.


...***...


Harjunot mulai menginjak pedal gas, disaat itu Arsy tidak fokus. Membuat Arsy memegang perut Harjunot karena takut jatuh.


"Maaf!" Arsy menarik tangannya yang ada di perut Harjunot.


"Jika takut jatuh, pegang lah pundak saya!" Motor Kawasaki berwarna hitam itu sudah berjalan.


"Nanti kalau istrinya cemburu gimana?" Arsy menatap ke depan.


"Saya belum menikah!" Harjunot mengeraskan suaranya, takut Arsy tidak dengar karena dia memakai helm.


Arsy tersenyum simpul karena jawaban Harjunot.


Dipertengahan jalan, hujan datang membuat Arsy lebih takut jika dia jatuh. Hal itu membuat Arsy berpegang perut Harjunot dengan kencang. Harjunot tahu jika Arsy takut, ia mengurangi kecepatan motornya.


"Kita berhenti di halte ya? Siapa tahu hujannya reda!"


Arsy mengangguk, tapi tangannya tetap ada di perut Harjunot.


Motor itu terus melaju, masih lama untuk menemukan halte. Arsy menutup mata karena air hujan mengenai matanya. Belum lagi buku-buku yang ada di tangan Arsy basah.


'Ya Allah! Apa ini? Kenapa mimpiku tadi malam terjadi sekarang. Tadi malam aku bermimpi hujan-hujannan dengan dia, dan sore ini aku kehujanan bersama dia' batin Arsy sambil menatap Harjunot dari belakang.


"Bentar lagi kita sampai!" Harjunot memberi tahu.


Arsy hanya mengangguk pelan, tidak mau bicara.


"Maaf ya, gara-gara saya Anda, jadi kehujanan!"


"Kenapa minta maaf?" Arsy malah bertanya kembali.


"Coba saja, tadi saya enggak maksa Anda! Buat ikut saya, pasti sekarang Anda tidak akan kehujanan!"


"Sok tau!" Arsy menjawab singkat. Sedangkan Harjunot mengerutkan keningnya, karena jawaban Arsy.


"Maksudnya?"


"Emang Anda tahu, kalau saya tidak bonceng Anda saya tidak akan kehujanan? Bisa saja, jika saya tidak ikut Anda! Saya kehujanan karena nunggu taksi. Tapi yang paling parah lagi, kalau saya kehujanan. Dan taksi tak kunjung datang!"


Harjunot tersenyum karena ucapan Arsy.


'Andai saja, tadi aku bawa mobil. Pasti kejadian seperti ini, tidak akan terjadi. Dan dia, tidak kehujanan. Nanti kalau sakit gimana' batin Harjunot memikirkan orang yang ia bonceng kan.

__ADS_1


...***...


__ADS_2