Dia Istri Dalam Mimpi

Dia Istri Dalam Mimpi
Aku Akan Berusaha Mencintaimu


__ADS_3

Motor Kawasaki berwarna hitam itu memasuki pekarangan rumah. Dengan memboncengkan gadis remaja.


"Alhamdulillah! Kita sudah sampai rumah!" Tantiyana berbicara sambil turun dari motor.


"Kuncinya, ada di kamu kan Tan?" Harjunot melepaskan helm. Keluarga itu baru saja pulang dari pemakaman.


"Ibu, yang membawa Mas!"


Harjunot sudah berdiri di samping Tantiyana. Mereka menuggu mobil yang dikendarai oleh Aghnia bersama orang tuanya dan Fitri.


"Mas!" Tantiyana memanggil sambil menarik ujung jaket Harjunot.


"Iya, Tan? Ada apa?" Harjonot melirik kearah adiknya.


"Mas, ngerasa ada yang aneh, enggak?"


Harjunot mengerutkan keningnya karena ucapan Tantiyana.


"Aneh? Gimana maksudmu? Dan apa yang aneh?"


"Kak Fitri!"


"Fitri?" Harjunot bertanya karena dia belum paham yang adiknya maksud.


"Kak Fitri! Kan buta ya?—" Harjunot segera memotong ucapan adiknya itu. "Hus!" Dia membungkam mulut Tantiyana.


"Ih ... Mas, apa-apaan sih main bekap-bekap saja!"


"Kalau punya mulut dijaga dong Tan!" Harjunot mengusapkan telapak tangannya dipundak Tantiyana.


"Ih ...Mas Arjunot ngapain, baju Tantiyana dijadikan lap?" Tantiyana protes karena ulah Masanya.


"Air liurmu nempel ditangan Mas!" Harjunot terkekeh, sedangkan Tantiyana cemberut.


"Oh, ya Tan! Sebenarnya apa yang kamu curigai dari Fitri?" Harjunot teringat akan ucapan Tantiyana yang tadi ia potong.

__ADS_1


"Em ... gini ya Mas Arjunot! Mas, ingat enggak saat bertemu Kak Fitri untuk yang pertama kali?"


Harjunot berpikir sejenak saat dia masuk ruangan Nenek yang Bapak tabrak. Perempuan bercadar itu sudah duduk anteng dilantai, menunggu dia dan keluarganya datang.


"Dia sudah duduk!"


"Terus saat, Mas minta ijin dia menemui dua orang lelaki, dia menjawab tidak?"


"Saat itu, dia mengangguk Tan!"


"Bukanya dia tuli Mas?" Tantiyana bertanya.


Harjunot memikirkan ucapan Tantiyana, bagaimana mungkin orang tuli bisa mendengar.


"Mungkin saja dia suka mengangguk Tan!"


"Itu jawaban yang tidak masuk akal Mas!"


"Aku juga enggak tahu Tan! Kenapa sih kamu suka jadi intelijen?" Harjunot terkekeh.


"Mas!"


"Apalagi sih Tan?"


"Kenapa orang buta tidak pakai tongkat?"


"Ketinggalan mungkin!" Harjunot menjawab sekenanya saja.


"Tantiyana! Enggak bercanda loh Mas! Masnya jangan bercanda dong!" Tantiyana memukul pundak Harjunot keras. Lelaki itu spontan memegang pundaknya dan meringis kesakitan.


"Kamu tanyanya seperti itu, yang namanya buta harus pakai tongkat dong Tantiyana. Karena tongkat itu sebagai petunjuk baginya!" Harjunot memegang kepala Tantiyana sambil digoyang-goyangkan.


"Terus kenapa? Kak Fitri tidak memakai tongkat?" Pertanyaan Tantiyana bikin Harjunot terdiam membisu. Kenapa Fitri bisa berjalan tanpa tongkat.


"Ya, karena ada yang menuntunnya!"

__ADS_1


"Tapi, bukanya tongkat itu adalah hal yang selalu dan wajib dibawa penyandang tuna netra?" Tantiyana bertanya kembali.


"Tan, kamu membuat Mas Arjunot bingung!" ujar Harjunot sambil menggaruk tengkuknya.


"Intinya ada yang kita tidak tahu tentang Kak Fitri!"


Mata Harjunot menatap kearah mobil yang baru masuk pekarangan rumah.


"Hus, jangan bicara nanti dia dengar!" Harjunot memperingatkan adiknya agar diam dan tidak bikin dirinya pusing.


"Kalau orang tuli ya enggak dengar Mas! Sekalipun kita memaki, menghina dia juga tidak dengar Mas!"


...***...


Harjunot tidak mau meladeni ucapan adiknya itu. Dia lebih memilih untuk membukakan pintu mobil untuk istrinya.


Harjunot membuka pintu mobil bagian penumpang. Kemudian dia membantu istrinya keluar, dan menuntunnya dengan hati-hati. Tak butuh waktu lama, mereka sudah masuk rumah. Harjunot terdiam menatap tangga menuju kamarnya. Dia tidak mungkin meminta Fitri berjalan menaiki tangga.


"Bagaimana aku menyuruh dia, menaiki tangga? Tidak mungkin aku meninggalkan dia dibawah. Dia juga butuh istirahat!" gumam Harjunot menatap perempuan yang sudah menyandang status sebagai istrinya.


Harjunot membuang napas pelan kemudian berkata pelan. "Maaf ya Fitri, aku ngelakuin ini! Setidaknya aku ijin dahulu ke kamu, meskipun kamu tidak bisa mendengar!" Setelah meminta izin Harjunot langsung mengangkat istrinya. Perempuan berniqab itu terkejut karena tubuhnya diangkat seseorang. Harjunot menaiki satu demi satu anak tangga itu dengan menggendong istrinya. Dipertengahan tangga Harjunot berhenti sejenak karena lelah. Dahinya basah oleh keringat, lelaki itu tak menghiraukan. Harjunot hanya ingin segera sampai kamar. Agar istrinya juga bisa rebahan di kasur. Mungkin saja Fitri membutuhkan itu, pikir Harjunot.


"Fitri! Sekarang kamu adalah istriku! Kelebihan dan kekuranganmu. Sebisa mungkin, aku akan mencoba menerimanya! Tapi satu hal yang harus kamu tahu Fit, aku sudah berjanji kepada diriku sendiri untuk mencintai perempuan yang menjadi istriku. Disaat aku mengucapkan qabul. Disana aku mulai harus menjaga hatiku untukmu!" Harjunot menitihkan air mata. Perempuan berniqab itu, merasakan ada yang menetes membasahi niqabnya.


Harjunot membuka pintu kamarnya dengan pundak. Setelah itu dia berjalan kearah ranjang. Dan membaringkan istrinya dengan hati-hati. Melepaskan sepatu istrinya. Menyelimuti tubuh Istrinya. Harjunot berjalan kearah pintu untuk menutupnya.


Lelaki tiga puluh tiga tahun itu, berjalan kearah ranjang kembali.


Harjunot menatap istrinya yang berbaring diranjang, dia berpikir apa yang bisa ia lakukan dengan istrinya. Dia menggeleng dan membuang napas. Lelaki itu membuka jaketnya dan meletakkan diatas nakas. Harjunot membaringkan badannya di samping istrinya. Lelaki itu memiringkan tubuhnya kearah istrinya, yang hanya diam. Fitri merasakan ada yang tidur disebelahnya. Dia memiringkan badannya kearah kanan. Harjunot yang melihat hal itu, jantungnya berdetak kencang. Apalagi saat melihat tangan istrinya seolah mencari sesuatu. Fitri mencoba untuk meraih sesuatu, setelah apa yang ia inginkan ia dapatkan. Perempuan itu mulai mengusap lembut wajah suaminya. Harjunot terdiam membisu, karena mendapatkan belaian lembut dari istrinya. Tanpa sadar Harjunot memegang tangan istrinya yang membelai wajahnya. Kemudian Harjunot menurunkan tangan istrinya yang ada diwajahnya. Harjunot menggenggam tangan istrinya dengan kedua tangannya. Lelaki itu mencium tangan istrinya dengan lembut. Air matanya kembali meleleh, entah karena apa lelaki itu menangis.


Sedangkan Fitri tersenyum dibalik niqabnya, karena suaminya memperlakukan dia dengan lembut.


"Fitri! Aku akan berusaha mencintaimu!" ujarnya dengan tetap mencium tangan istrinya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2