
Tin ...tin ...tin bunyi klakson mobil membuat Harjunot. Segera menyerahkan putranya ke Aghnia.
"Supir taksi pesanan ku sepertinya sudah sampai! Nok, gua minta tolong jagain si kembar." Harjunot menepuk pundak adiknya.
"Iyeee, kagak usah khawatir! Meskipun gua sering ngeluh ke lu karena hal ini. Tapi satu hal yang harus lu tahu, Not! Gua akan jagain si kembar!"
Harjunot tersenyum karena jawaban Aghnia.
"Kakak, Abi berangkat kerja dulu ya!" ujar Harjunot mencium putranya yang ada digendongan Aghnia.
Baby Kai memeluk wajah Abinya, dan menjilati pipi Harajunot. Lelaki itu berlutut disamping stroller bayi. Matanya menatap putrinya yang tertidur nyenyak, sambil mengangkat kedua tangannya.
Harajunot mengelus pipi baby Bell. Lelaki itu seolah berat meninggalkan anak-anaknya yang masih berumur empat bulan. Harjunot mencium putrinya sangat lama. Mungkin saja selama satu pekan, dia akan merindukan ocehan bayi setiap subuh.
"Adek yang pintar ya! Jangan rewel kasian Mbah Uty sama Tante Niak! Abi kerja dulu, okey Dek!"
"Okey-okey Abi," sahut Tantiyana yang berdiri sambil memegang stoler bayi.
Harjunot berdiri dari jongkoknya.
"Ibuk! Junot berangkat ya?" teriak Harjunot kepada Bu Dewi yang ada di dalam rumah.
"Sudah sono berangkat supir taksi, kelamaan nunggu lu! Biasanya dulu saat masih bujang, juga kagak pernah tuh ada acara perpisahan panjang kayak pagi ini," kekeh Aghnia.
Harjunot hanya geleng-geleng kepala, karena yang diucapkan adiknya benar.
...***...
Harjunot mendorong gerbang yang terbuat dari kayu. Lelaki itu membulatkan matanya saat melihat gadis sedang bersandar didepan mobil.
"Supirnya cewek ternyata!" gumam Harjunot.
"Ayo Mas, saya antar!" ujar supir taksi bertopi.
Harjunot mengerutkan keningnya saat mendengar logat suaranya. Familiar! Ya suara perempuan itu sangat ia kenal. Bahkan tiga puluh menit yang lalu, dia juga mendengar suara itu.
"Heh ngacok! Itu tidak mungkin!" Harjunot menggeleng.
"Kok diam jadi berangkat tidak Enjun?" Perempuan itu membuka topinya bersamaan dengan masker.
Harjunot tidak percaya, jika supir itu adalah Arsy sang tunangan.
"Not! Ibu bawakan bekal untukmu, tadi kamu enggak sempet makan !" Bu Dewi berlari dari gerbang kearah anaknya.
"Nak Arsy!" pekik Bu Dewi saat melihat calon menantunya ada di sana.
"Hehehe pagi Tan!" Arsy mencium tangan Bu Dewi.
"Pagi! Sekarang manggilnya kayak Junot, saja ya! Kan beberapa Minggu lagi Statusmu juga jadi anak Ibuk!" Arsy mengaguuk takzim.
Sedangkan Harjunot memancing kan matanya kearah tunangannya. Kenapa sang tunangan bisa berada di rumahnya. Padahal tiga puluh menit yang lalu masih video call dengannya. Jarak antara rumahnya dengan rumah tunangannya. Kurang lebih membutuhkan waktu tiga puluh menitan.
"Ya sudah kita langsung berangkat saja Bu!" ujar Harjunot sambil mencium tangan ibunya.
Arsy berjalan kearah kemudi, akan tetapi langkahnya terhenti. Ketika mendengar suara berat dari sang tunangan.
"Biar saya yang bawa mobilnya!"
"Anda harus makan bukan? Jadi biar saya yang mengemudi!" Arsy membuka pintu mobil bagian kemudi. Perempuan itu langsung memakai seat belt.
"Tapi tadi saya sudah pesan taksi loh!" ujar Harjunot yang meletakkan ranselnya dibelakang kursi.
"Jangan khawatir, aku sudah kasih dia bayaran dua kali lipat!" jawab Arsy sambil menghidupkan mesin mobilnya. Perempuan itu mulai memutar setir mobilnya.
"Maksudnya?"
"Apa hal sepele harus dibahas?" Arsy melirik kearah Harjunot.
Harjunot membuang napas kasar karena jawaban Arsy.
"Kamu makan saja!" ujar Arsy sambil menatap lurus jalanan.
Harjunot segera membuka kotak makanan yang dibuatkan ibunya. Perkedel kentang adalah makanan favoritnya. Dengan mengonsumsi kentang, stres pada tubuh dan pikiran dapat diredakan. Itu karena pembaruan sel-sel didorong oleh sumber vitamin B6 dalam kentang. Kentang juga dapat menciptakan hormon adrenalin yang membantu melawan stres.
Sepertinya setelah menikah dengan Arsy, Harjunot harus menjadikan kentang sebagai menu wajib. Mengingat jika calon istrinya, yang mudah marah, mudah kesal. Dan mudah-mudahan jadi nikah.
"Kamu tadi sudah makan belum?" Harjunot menyuapkan makanan ke dalam mulut.
__ADS_1
Arsy mengggeleng pelan, akan tetapi matanya tetap fokus pada jalanan.
"Oh!" Harjunot mengaguuk, tidak berniat untuk membagi makanan tersebut dengan Arsy.
"Kenapa kamu punya inisiatif untuk mengantar saya ke Bandara? Kan waktu VC kamu masih menggulung tubuh dengan selimut!" Harjunot memasukkan nasi plus kangkung.
"Belajar jadi wanita yang baik!" jawabannya sambil nyengir.
"Terus tadi kamu mandi?" Harjunot curiga. Jika perempuan yang duduk disampingnya tidak mandi terlebih dahulu sebelum menjemputnya.
"Saya paling males mandi, satu Minggu biasa dihitung pakai jari!" jawabnya pelan.
"Jangan bilang hari ini juga tidak mandi?" Harjunot meminum air dalam botol.
"Saya kalau tidak keluar rumah, hanya mandi sekali waktu jam lima!" jawabnya lempeng.
"Emang enggak lengket?" Harjunot mengerutkan keningnya.
"Apa hal yang tidak berfaedah seperti ini harus dibahas?" Arsy melirik kearah tunangannya sebentar.
Harjunot membuang napas kasar, dia tidak bisa menebak apa yang ada didalam otak sang tunangan.
...***...
Harjunot menutup kontak makannya yang tinggal separoh. Lelaki itu menyimpannya dibagian dasboard.
"Saya sisain buat kamu!" ujar Harjunot.
Arsy melirik sebentar dan berkata. "Kamu ngasih makan sisa?"
"Saya pernah dengar ceramah, katanya waktu Rasullullah pulang dari perang. Sayidah Aisyah itu sudah siap-siap menuggu kedatangan beliau sambil membawa minuman. Sayidah Aisyah pun memberikan minuman itu untuk Baginda Rasulullah!"
"Terus..."Arsy ingin tahu.
"Rasulullah meminumnya!"
"Terus...!"
"Kamu kayak Kang parkir saja, terus-terus mulu!" ujar Harjunot.
"Ya bedalah, kalau Kang parkir ada mundurnya. Kalau saya kan terus-terus!" ujarnya seraya mengerucutkan bibirnya.
"Dan dengan pertanyaan yang sama Sayidah Aisyah bertanya kepada suaminya! Rasulullah pun menyodorkan gelas itu kearah istrinya. Kalau Aisyah mau minumlah!"
"Sayidah Aisyah pun meminumnya! Asin Rasullullah!"
Arsy segera memotong ucapan Harjunot.
"Ah ... aku tahu! Kesimpulannya adalah seorang suami harus menghargai. Apa yang istrinya berikan, mau makan itu keasinan atau apalah. Dia harus seperti Rasulullah, yang tidak banyak menuntut dan selalu menghargai apa yang istrinya lakukan!"
"Berarti nanti kalau masakan saya keasinan. Atau lupa ngasih garam. Kamu harus tetap memakannya!"
Harjunot melongo karena sang tunangan pintar menyimpulkan sesuatu. Padahal yang Harjunot maksud bukan itu.
"Maksud saya itu, ingkut kebiasaan Sayidah Aisyah yang meminum dibekas suami!"
"Lah masalahnya kamu bukan suami saya!"
"Ya nanti kalau saya sudah jadi suami. Kamu harus gitu! Anggap saja ini gladi resik! Sebelum peran kamu jadi istri."
Arsy menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum.
"Tapi itu cerita benar adanya kan Njun?"
"Untuk masalah itu, saya kurang tahu pasti. Allah hu Aalam! Karena yang saya tahu. Cerita dari A berbeda dengan B! Akan tetapi maksudnya sama!" Arsy mengaguuk takzim.
...***...
"Nanti kita mampir ke tempat biasa ya!" ujar Harjunot sambil menegguk air.
Arsy melirik kearah Harjunot, perempuan itu membulatkan matanya malas.
Akhirnya mobil yang Arsy kendarai berhenti. Ditempat yang Harjunot inginkan. Lelaki itu membuka pintu mobil, sebelum benar-benar keluar Harjunot menengok kearah Arsy.
"Kamu ikut ya?"
Arsy memasang wajah datar, akan tetapi perempuan itu membuka pintu mobilnya. Harjunot tersenyum karena Arsy mau ikut dengannya. Arsy berjalan dibelakang Harjunot. Lelaki itu kini telah duduk berjongkok di samping pusaran istrinya. Harjunot menengadahkan kepalanya menatap Arsy yang berdiri.
__ADS_1
"Duduklah disamping ku!" ujarnya.
Arsy diam tak bergeming, perempuan itu menyilangkan tangannya didepan dada.
Harjunot yang melihat hal itu hanya mampu menggeleng dan helaian nafas panjang. Lelaki itu tidak berucap kembali, dia lebih fokus untuk membaca setiap huruf Hijaiyah diponselnya. Harjunot mengusap wajahnya. Lelaki itu tersenyum saat menatap nisan istrinya.
"Fit! Hari ini aku akan jauh dari si kembar!" Harjunot membantin, dia tahu saat ini. Dia tidak bisa mengucapkan secara lisan. Ada Arsy di sana, membuat Harjunot harus menghargai keberadaan tunangannya itu.
" Aku juga akan merindukan momen-momen berdua denganmu! Seperti ini!"
Biasanya Harjunot akan zarah ke makam istrinya. Sepulang kerja, hal itu yang membuat Arsy selalu menggerutu kesal. Karena dia harus menunggu diparkiran. Kurang lebih dua puluh menitan, Harjunot pernah menawari Arsy untuk ikut. Akan tetapi Arsy tidak mau, baginya dia tidak memiliki urusan dengan orang yang selalu Harjunot apeli setiap sore.
"Maaf untuk seminggu kedepan Mas, tidak bisa berzarah! Karena ada kerjaan di luar kota!"
"Tapi aku akan selalu mendoakanmu!" Harjunot melirik kearah Arsy yang selalu melihat jam tangan. Lelaki itu tahu, jika Arsy tidak mau disana lama-lama.
Harjunot menghembuskan nafas pelan, setelah itu dia berpamitan kepada istrinya.
Arsy yang melihat Harjunot berdiri dari duduknya. Perempuan itu segera membalikkan badannya dan berjalan cepat meninggalkan Harjunot.
...***...
Mobil yang dikendarai oleh Arsy berjalan meninggalkan pemakaman umum. Selama perjalanan Arsy tidak bicara apa-apa. Berbeda sebelum mobilnya berhenti di pemakaman.
Harjunot sering kali melirik kearah Arsy, lelaki itu tidak tahu. Sebenarnya apa yang membuat tunangannya membisu.
"Kenapa?" Harjunot mengerutkan keningnya.
Arsy mengangkat bahunya acuh. Harjunot tidak berniat untuk bertanya kembali. Dia tidak menyukai sifat Arsy yang moodyan.
Arsy memarkirkan mobilnya di Airport. Kedua penumpang itu turun dari mobil.
"Kamu juga kesehatan! Jangan ke Bar lagi!" Arsy hanya diam saat tunangannya memberi wajangan.
"Sesekali mainlah ke rumah, agar Ibuk tidak kesepian. Aku titip si kembar sama kamu!"ujar Harjunot sambil membenahi ranselnya.
"Mas Mandor e!" Pak Agas berjalan mendekati Harjunot.
"Sudah lama Pak?"
"Saya baru sampai! Kenalin ini putri saya! Kabetulan dia ada praktek di Kalimantan! Jadi sekalian bareng sama kita!" ujarnya mengenalkan gadis cantik berhijab panjang kepada Harjunot.
Arsy membulatkan mata malas, perempuan itu membuang pandangan.
Harjunot melirik kearah Arsy, lelaki itu tahu sang tunangan masih kesal dengannya. Ditambah Pak Agas yang malah bikin sang tunangan tambah jeles.
Harjunot menangkupkan tangannya untuk menyapa putrinya Pak Agas.
"Arjunot!"
"Saya Ayu! Mas!'
Arsy yang mendengar jawaban Ayu, perempuan itu membuka mulutnya menirukan ucapan Ayu tanpa suara.
"Oh ... kenalan dia Arsy Latthif!" Harjunot menujuk kearah Arsy yang berdiri disampingnya.
Ayu menjabat tangan Arsy sambil memperkenalkan dirinya.
"Senang berkenalan dengan kamu!" ujar Ayu.
Didalam hati Arsy menjawab."Kekhawatiran bagi saya berkenalan dengan kamu! Takut dia putar haluan! Istilah si Enjun sukanya sama wanita muslimah beneran. Bukan jadi-jadian kayak saya." Arsy melirik kearah Harjunot. Yang dilirik malah asik bicara dengan pak Agas.
Arsy menatap kebawah tak sengaja. Dia melihat tali sepatu Harjunot yang terlepas. Perempuan itu segera berjongkok dan mengikat tali sepatu itu. Harjunot yang tadi sedang berbicara dengan Pak Agas. Dia menundukkan kepalanya menatap Arsy yang berjongkok di depannya.
Pak Agas dan Ayu saling menatap. Penuh tanda tanya.
Arsy segera berdiri karena kerjaannya telah terselesaikan. Perempuan itu menepuk kedua tangannya.
"Kenapa harus repot-repot?" Harjunot menatap Arsy.
"Hanya berusaha menjadi perempuan yang baik!" jawabnya penuh penekanan. Akan tetapi matanya melirik kearah Ayu.
"Mas Arjunot lima menit lagi pesawat akan take off!" ujar Pak Agas sambil berjalan meninggalkan Harjunot.
Arsy menatap tunangannya sendu. Satu bulan terakhir Harjunot adalah lelaki yang paling dekat dengannya. Setiap hari mereka selalu bersama. Akan tetapi hari ini adalah hari pertama Arsy jauh dari Harjunot. Perempuan itu berdiri tepat didepan Harjunot. Kedua mata mereka saling menatap dalam, sedikit demi sedikit. Jarak diantara keduanya semakin terkikis. Keduanya bisa merasakan hembusan nafas saling bersautan. Kedua tangan Arsy menegang ujung jaket Harjunot. Kepalanya sedikit condong ke kiri. Sedangkan Harjunot memajukan wajahnya sedikit demi sedikit. Membuat wajahnya dengan wajah Arsy hanya berjarak hanya beberapa senti saja. Kedua mata mereka saling terpejam.
Dan terjadilah ....
__ADS_1
Panjangkan Komen kalian. Sebagaimana saya memanjakan prat ini...