Dia Istri Dalam Mimpi

Dia Istri Dalam Mimpi
Berusaha Menolak


__ADS_3

Perempuan muda itu keluar dari mobil. Dan berjalan dengan angkuh melewati Satpam.


"Pak Dirut, ada di ruangannya?" tanyanya kepada Resepsionis.


Resepsionis itu mengangguk pelan. Arsy berjalan kearah lift. Sesampainya di depan ruangan pribadi milik Papanya. Perempuan itu membuka pintu tanpa mengetuk dahulu.


...***...


Kedua lelaki itu terkejut saat melihat pintu tiba-tiba terbuka.


"Ayi!" pekik Langit saat melihat putrinya datang.


Arsy melepaskan kacamata hitamnya. Matanya melirik kearah lelaki yang tadi malam membuatnya kesal. Perempuan itu membuang napas kasar, seraya mengumpat lelaki yang duduk didepan Papanya. '


'Ketemu lagi sama duda sok alim. Kenapa dunia begitu sempit, mempertemukan ku dengan orang ini' batinnya sambil memalingkan penglihatannya dari Harjunot.


"Ada apa kemari?" Langit bertanya sambil mengecek laporan.


"Kawasaki Z250!" jawabnya sambil tersenyum lebar.


Sedangkan Harjunot menatap kedua orang itu bergantian.


Langit melirik kearah Harjunot kemudian kearahnya putrinya. Entah apa arti lirikan itu, akan tetapi paruh baya itu tersenyum lebar.


"Satu syarat!" Langit mengeluarkan suara.


Arsy mengerutkan keningnya seolah berpikir. Apa ia harus menerima persyaratan yang Papanya ajukan padanya.


"Katakan!" jawabannya sambil menyilang kan tangannya didepan dada.


"Jadilah asisten pribadinya!" Tunjuk Langit kearah Harjunot.


"APA?" Kedua orang beda jenis itu terkejut.


"Papa, persyaratan yang Papa ajukan tidak masuk akal!" Arsy menarik kursi kemudian duduk dengan santai.


"Not, duduklah!" pita Langit sedangkan Harjunot hanya mengikuti saja.


"Kalau kamu keberatan, Papa juga tidak mau mengabulkan permintaanmu Ayi!" jawabannya tenang.


"Satu bulan yang lalu, kamu minta dibelikan mobil. Abang mu menurutinya, asal dengan satu syarat. Kamu enggak ke Bar lagi. Tapi apa yang kamu lakukan? Kamu melanggar persyaratan itu!" tukasnya kembali.


Arsy ingin angkat bicara akan tetapi Langit segera memotongnya.


"Jadi Papa, tidak mau melakukan kesalahan yang sama seperti Abang mu. Yang terlalu mempercayaimu. Jadi keputusan ada di tanganmu sendiri. Kamu mau mengikuti persyaratan Papa! Dan Papa, akan menuruti permintaan darimu! Atau sebaliknya?" Langit menatap putrinya dalam.


Huft! Arsy membuang napas kasar.


"Apa susahnya sih Pa, menuruti permintaan putri sendiri?" tanya Arsy.


Harjunot yang duduk di samping Arsy, lelaki itu menggeleng tidak percaya. Jika Arsy benar-benar berubah.


"Seseorang tidak akan bisa menghargai sesuatu. Jika orang itu, tidak pernah merasakan bagaimana susahnya mendapatkan apa yang ia inginkan! Papa ingin kau mengerti hal itu!"

__ADS_1


Arsy benar-benar dibuat kesal oleh Papanya yang membuat persyaratan tidak masuk akal. Perempuan itu melirik kearah lelaki yang duduk disampingnya. Senyuman tersungging dari sudut bibirnya. Entah apa yang ada dalam pikirannya.


'Aku harap dia menolak permintaan Pak Dirut' batin Harjunot ketar-ketir.


"Ayi, menyetujuinya!"


Jeduar! Bak petir disiang bolong Harjunot terkejut dengan jawaban Arsy.


"Tapi saya tidak mencari asisten!" Katanya tidak terima.


Langit melirik kearah Harjunot sambil membuang napas pelan. Sepertinya dia harus meyakinkan sahabatnya itu.


"Ayi, apa kau bisa keluar sebentar?"


"Kenapa? Katakan saja, apa Papa berusaha menutupi sesuatu dari Ayi!"


"Tidak!" jawabnya tegas.


"Ya sudah silahkan bicara," ujarnya, sebenarnya Arsy ingin tahu apa yang Papanya ingin sampaikan.


Twing! Twing! Twing suara dering ponsel.


Arsy segera keluar dari ruangan Papanya, karena harus mengangkat panggilan itu.


...***...


Langit tidak mensia-siakan untuk bicara empat mata dengan Harjunot.


"Not! Tolonglah, aku benar-benar sudah kuwalahan menghadapi tingkahnya," ujarnya sambil menatap pintu keluar.


"Sebenarnya asisten itu, hanya untuk mengelabui putriku saja. Aku hanya ingin dia berubah Not. Aku rindu dengan putriku yang dulu!" jawabnya sendu.


Harjunot merasa tidak enak hati dengan atasannya itu.


"Maaf ya Pak, gara-gara menyelamatkan saya. Putri Anda jadi kehilangan ingatannya dan tanpa saya sadari. Saya telah membuat keluarga Anda menderita!" Harjunot menundukkan kepalanya dalam.


"Tidak usah dibahas Not, dan aku sudah pernah bilang padamu. Jika ini bukan salahmu. Saat ini tujuanku hanya satu mengembalikan putriku seperti dahulu. Jika memang tidak bisa, setidaknya aku bisa merubah kebiasaan buruknya!"


"Not, tolong bantu aku! Jangan pikirin tentang bayaran. Kamu tidak perlu mengaji putriku. Cukup kau buat lelah di pagi hari. Agar dimalam hari dia tidak keluyuran. Dan jangan pikirin tentang putra-putrimu. Aku akan meminta istriku untuk menjaganya."


"Saya rasa itu terlalu berlebihah Pak! Istri Anda tidak perlu repot-repot untuk hal seperti itu. Ibu saya masih bisa merawat si kembar!"


"Tidak apa-apa Not, istriku katanya ke sepian. Karena cucu-cucunya jauh darinya! Setidaknya itu meringankan beban kamu. Dan agar kamu juga tenang karena si kembar ada yang menjaga!"


Dengan berat hati akhirnya Harajunot pun menyetujui.


'Andai saja bukan karena aku dia Kehilangan ingatan. Aku akan berusaha menolak permintaan Pak Dirut!' batin Harjunot menundukkan kepalanya.


...***...


Disaat itu pula pintu ruangan Langit terbuka.


'Sial aku masuk kenapa sudah pada diam! Sebenarnya apa yang Papa rencanakan' batin Arsy berjalan kearah Papanya.

__ADS_1


"Ayi, teman Papa sudah setuju! Jadi mulai hari ini kamu jadi asisten dia!"


"Oh ... gitu. Emang dia menjabat sebagai anggota DPR atau CEO Pertamina atau dia seorang aktor?" Arsy bertanya, dia juga harus tahu sebenarnya dia bekerja dengan siapa.


"Dia adalah seorang Mandor!"


Hening!


Hening!


Hening!


"Buwahahahahaha!" Terdengar gelak tawa dari seorang perempuan membuat kedua lelaki itu menatap kearah Arsy datar.


Perempuan itu berjongkok karena tidak bisa menahan tawanya.


"Hahahaha, Papa jangan bercanda ini tidak lucu. Apa seorang Mandor membutuhkan asisten?" Arsy memegang perutnya yang sakit karena tertawa terbahak-bahak.


Harjunot memicikkan matanya, kearah perempuan yang menghina profesinya.


"Lebih tepatnya bukan menjadi asisten.Tapi aku ingin dia mengasuhmu. Karena hanya dengan kalimat asisten, kamu akan menerimanya. Dan benar saja!" Langit tersenyum tipis.


"Apa! Jadi Papa menjebak ku?"


"Dan satu lagi Papa, Ayi bukan anak-anak kenapa harus diasuh segala?"


Harjunot menyunggingkan senyumnya. Arsy yang melihat hal itu, dia berspekulasi jika lelaki yang duduk dengan tenang. Sedangkan mentertawakan dirinya.


...***...


Harjunot keluar dari ruangan Langit, dan diikuti oleh Arsy yang berjalan dibelakangnya.


"Sebenarnya apa yang Papa, janjikan untuk Anda! Kenapa Anda menyetujui hal ini?" Arsy berusaha mensejajarkan langkahnya dengan Harjunot. Akan tetapi lelaki itu terus berjalan dengan langkah lebar.


"Duda kau dengar tidak?"


Harjunot menghentikan langkahnya karena Arsy berteriak.


"Aduh, kenapa Anda berhenti tiba-tiba!" protes Arsy saat kepalanya membentur punggung Harjunot.


"Kenapa Anda menyalahkan saya? Harusnya Anda tanya kepada diri Anda sendiri. Kok bisa jalan menatap tubuh orang lain." Harjunot menatap kearah perempuan yang selalu membuatnya darah tinggi.


"Kenapa tadi saat mau berhenti enggak bilang-bilang! Dasar duda, kurang belaian! Sudah berapa bulan Anda nganggur?" cibir Arsy membuat gigi Harjunot bergemeretak karena menahan kesal.


"Saya punya nama, bisakah Anda tidak selalu mengingatkan status saya?"


Arsy tertawa renyah karena jawaban Harjunot.


"Kenapa? Anda sensi saat saya memanggil Anda dengan status Anda? Duda dua anak, itu benarkan!" ejeknya sambil menowel dagu Harjunot.


Harjunot segera mundur sedikit agar jauh dari Arsy.


"Baiklah kalau itu yang Anda mau! Tapi jangan salahkan saya, jika saya memanggil Anda dengan panggilan yang tidak Anda sukai!" Tentang Harjunot, sambil berjalan meninggalkan Arsy. Lelaki itu sangat malu karena seluruh pegawai kantor melihat perdebatannya dengan Arsy.

__ADS_1


"Terserah Anda, saya tidak perduli!" Arsy mengejar Harjunot yang sudah meninggalkan dia.


...***...


__ADS_2