Dia Istri Dalam Mimpi

Dia Istri Dalam Mimpi
Mencari Informasi


__ADS_3

Harjunot siang itu, sudah ada di Jakarta. Pembangunan gedung itu, terletak di samping sekolah favorit adiknya. Lelaki itu mencopot helm warna putih (foreman). Harjunot duduk, dan meletakkan helm kebesarannya di sampingnya. Lelaki itu, menatap langit yang penuh dengan kumpulan awan pekat berwarna putih. Sungguh ciptaan Allah, begitu sempurna!


 “Rabbana ma kholaqta haza bathilan subhanaka faqina ’azaban nar. (Wahai Tuhan kami, Engkau tiada menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka Pelihara lah kami dari siksa neraka)” Doa yang Harjunot lakukan saat memandang langit. Ada sebabnya kenapa lelaki itu, selalu berdoa memohon kepada Allah. Semua itu tak bisa dipungkiri karena kekasihnya dulu, yang membuat Harjunot seperti itu.


Harjunot membuang napas pelan, kemudian merogoh saku celananya untuk mengambil ponselnya.


“Aku butuh Informasi tentang perempuan itu!” gumam Harjunot, sambil memijit keyboard ponselnya.


 


“Assalamu’alaikum! Pak GM! Bisa kasih tahu saya, alamat Pak Dirut?“ tanyanya terkesan canggung.


“Ngapain? Tanya rumah Pak Dirut segala? Bukanya stelah beberapa tahun kita kenal, enggak pernah tuh. Seorang Harjunot menanyakan hal ini? Terus, kau kan juga punya nomer atasanmu itu!” ujar Black, dari dalam ponsel.


 


Harjunot terdiam, sepertinya dia harus memutar otak agar si Black tidak curiga.


“Ah …hanya ingin menjalin silahturahim saja!”


 


“Kau jangan macam-macam Not! Pasti ada udang dibalik tepung sasa!”


 


Harjunot terkesiap saat mendengar Black mencurigainya. Jika ia ingin mencari sebuah Informasi tentang perempuan yang selalu datang dalam mimpinya.


 


“Maksudnya GM bagaimana? Saya enggak paham!” Harjunot sepertinya lebih memilih jalan belakang. Jalan aman tanpa tikungan.


 


“Hey …jangan pura-pura tidak paham! Aku sangat mengenalmu Not! Katakan apa rencana mu?”


 


“Rencana apa yang Pak GM, maksud?”


“Aku pikir, stelah aku menyuruh Abang! Menjadikanmu sebagai menantunya, kau akan mencari tahu tentang keluarga atasanmu itu! Ternyata, kau payah Not!”


“Ya enggak lah Pak! Emang saya anak labil apa. Langsung mencari tahu hal yang tidak penting!” Harjunot mengiringi ucapannya dengan kakehan.


“Daerah Jaksel, kawasan perumahan elit. Untuk info lengkapnya nanti aku kirim pesan, maaf Not! Aku ada meeting, jadi enggak bisa bicara lama dengan lelaki bujang!”


Harjunot menggelengkan kepalanya karena ulah Black, yang selalu menghinanya.


 

__ADS_1


Drtd ….Drtd… Pesan masuk di ponsel Harjunot.


 


“Sudah mendapatkan, nanti malam aku akan bertamu ke rumah Dirut!” Harjunot sudah merencanakan acara bertamu ke rumah atasannya. Setelah melihat story video yang di share oleh anak atasannya.


... ***...


Malam harinya Harjunot baru keluar kamar. Lelaki itu berjalan kearah ruang makan. Semua keluarganya juga sudah duduk memutari meja makan.


 


“Ehfm …parfum siapa ini menyengat sekali?” Aghnia menutup hidungnya, saat Harjunot sudah berdiri dibelakang Tantiyana.


 


Harjunot yang mendengar hal itu, dia reflex mencium tubuhnya sendiri. Ehfm …Harjunot merasa, jika dia terlalu berlebihan memakai parfum.


 


“Punya, Mas mu lah Agh!” jawab Ibu menatap Harjunot.


 


“Ganti ya, parfumnya? Kok beda enggak seperti bau parfum Mas, yang biasanya!” Tantiyana angkat bicara, remaja itu sangat mengenal bau parfum Masnya itu.


 


 


“Blusit, aku itu enggak suka gonta-ganti parfum sejak dulu, waktu umurku dua belas tahun” Harjunot bicara sambil, memainkan kunci motor.


"Not! Kalau bisa nyari istri itu yang derajatnya setara dengan kamu. Jangan ada di atasmu, Ibu enggak mau kamu dijadikan Ba-Bu!" ujar Ibu menasehati anaknya.


"Iya!" Harjunot mengangguk pelan.


"Proyek di Jakarta, berarti sering pulang rumah dong Not?" Bapak bertanya, sambil memasukkan makanan ke dalam mulut.


"Tiap hari!" Jawabannya mengangguk membenarkan.


"Emangnya Mas, mau kemana? Gayanya seperti anak muda saja!" Tantiyana terkekeh mengejek.


"Iya, biasanya bajunya kaus oblong, kemeja terus sarung compang-camping . Malam ini kok sepesial gayanya?" Aghnia menimpali ucapan adik bungsunya.


"Ck ...huft! Kalau di rumah terus dibilang. Not, kenapa enggak nongkrong bareng sama temanmu. Sekarang keluar, kalian terheran-heran." Harjunot mencibir keluarganya itu.


"Ya kan cuma tanya! Lah kalau kita sudah enggak mau nanya, kamu pusing Not!" Bapak memberikan banyolan untuk si sulung.


"Ya Not, kamu itu mau kemana? Ditanya Adikmu enggak jawab!" Ibu sangat geram, karena anak lelakinya enggan memberi tahu, tujuannya pergi.

__ADS_1


"Ke rumah atasanku, untuk silahturahim!"


"Oh! Kirain mau nongkrong sama temanmu!" Bu Dewi manggut-manggut setelah tahu kemana tujuan anaknya itu.


"Ya sudah, aku pamit! Enggak usah nungging aku pulang. Aku sudah bawa kunci rumah!" Harjunot mencium tangan orang tuanya. Setelah itu, Harjunot berjalan keluar. Belum juga keluar rumah, suara Bu Dewi, membuat lelaki itu menghentikan langkahnya. "Jangan ugal-ugalan kalau berkendara. Ingat Not, kau masih bujangan! Ibu takut nanti kalau di Surga, kau enggak punya pasangan." Harjunot hanya menggeleng sambil terus berjalan. Dikira di Surga itu, seperti dunia apa.


...***...


Harjunot sudah menaiki motor Kawasaki keluaran tiga tahun silam. Tapi lelaki itu, teringat sesuatu. Membuat dia menginjak standard samping motornya. Kemudian mengambil ponselnya di sakunya dan menaruh ponselnya ditelinga.


"Ada apa lagi Not? Bukanya tadi sudah aku beritahu alamat Abang?" Suara dari dalam ponsel mengoceh tidak beradab.


"Saya lupa tanya, soal ...apa makanan kesukaan keluarga Pak Dirut?"


"Hey Not! Kau tanya seperti itu padaku! Tapi kau tidak pernah bertanya apa makanan kesukaanku dan keluargaku!"


"Ya, nanti kalau ada waktu saya tanya!" Harjunot menjawab datar.


"Kurang ajar kau Not! Baiklah akan ku beritahu, ingat baik-baik.Tidak ada siaran ulang, karena ini bukan play music! Satu ratu rumah itu, suka martabak manis. Untuk si Gibril, enggak tahu sih. Untuk si bungsu martabak telor!"


Harjunot yang mendengar mengangguk.


"Sudah? Enggak ada yang ketinggalan?" tanya Harjunot menelisik.


 


 "Hmmm!"


Setelah itu, Harjunot mengakhiri panggilan bersama Black.


 


 "Apa yang bicara di video waktu itu si Gibril? Apa benar Pak Dirut, cuma punya dua anak? Mungkin yang bungsu adalah putrinya!" Harjunot bicara, sambil memakai helm nya. Setelah itu Harjunot melajukan motornya.


Lelaki itu melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Sepertinya Harjunot tidak mendengar apa kata Ibunya.


Setelah perjalanan hampir lima belas menit, Harjunot berhenti di trotoar untuk membeli martabak.


"Martabak sepesial manis sama telor!" Harjunot memesan sambil merogoh sakunya.


"Oke siap, mau dikasih pasangan ya Mas?" tanya penjual martabak.


"Tidak!" jawabannya datar.


"Saya kira mau dikasih pasangan, soalnya pakai sepesial!"


"Apa kalau yang sepesial itu, harus diberikan kepada orang yang sepesial pula?" tanya Harjunot yang menatap orang itu memberikan keju kedalam martabak.


"Biasanya sih gitu Mas! Seringkali pengunjung beli yang sepesial buat pacarnya, atau buat istrinya ada juga tuh pelanggan saya. Setiap hari beli martabak sepesial, saya saja sampai ingat wajahnya. Saya tanya kepelanggan saya itu. Kok kamu, setiap malam kesini pesan martabak sepesial emang buat siapa? Dianya jawab begini Mas! Edisi PDKT sama Bapak mertua!" Harjunot yang mendengar hanya mengangguk saja.

__ADS_1


"Jangan-jangan Masnya! Juga mau PDKT sama mertua kayak pelanggan saya!" Harjunot menelan ludah kasar.


...***...


__ADS_2