
"Kak Fitri!" Arsy membulatkan matanya sempurna.
Sedangkan Fitri mengagukk sebagai jawabannya.
Tak sengaja Arsy melirik kearah lelaki yang berdiri di samping Fitri. Membuat kedua matanya bersitatap dengan lelaki yang harus ia jauhi. Kedua orang itu membuang pandangan bersamaan.
Harjunot tidak habis pikir dengan dirinya sendiri. Kenapa dia bisa mendambakan perempuan lain. Disaat istrinya ada disampingnya. Membuatnya mengusap wajahnya dengan kasar.
Arsy yang sudah bisa mengontrol detak jantungnya. Dia memutuskan untuk tersenyum ramah kearah Fitri.
"Kalian disini juga rupanya?"
"I-iya kebetulan tadi Rasyu mengajak dinner together!" Arsy melirik kearah Rasya.
" Dinner together atau dinner together?" Fitri menggoda keduanya.
Arsy menatap Rasya, seolah ingin mencari penjelasan. Rasya mendekatkan tubuhnya sambil berbisik. "Beneran lu enggak paham?" Arsy hanya menggeleng.
"Yang gue tangkap sih, dia ingin menggoda mu. Mungkin saja dia ingin bilang candle light dinner. Tapi dia sungkan, untuk mengucapkan. Jadi ia memilih untuk mengulangi kata dinner together!"
"Ehem." Dehaman barusan membuat Arsy dan Rasa mengakhiri acara bisik-bisiknya. Kedua sahabat itu tersenyum canggung kearah pasangan suami-istri yang berdiri didepannya.
"Ah ... tidak! Sebenarnya ini karena sebuah syarat. Yang dia berikan dan saya harus menurutinya!" ujar Arsy sambil tersenyum.
"Sudah lama disini?"
"Baru saja nyampai, tapi dia sudah mengajak saya berdebat!" Rasya mengejek sahabatnya itu.
"Diamlah ini masalah antara kita. Jangan ceritakan ke orang lain," geram Arsy sambil menginjak kaki Rasya. Membuat pemuda itu meringis menahan sakit.
Harjunot yang melihat tingkah Arsy hanya menggeleng. Adai saja statusnya belum menikah. Pasti dia akan tersenyum atau malah terkekeh.
"Kalian pacaran?" Fitri menunjuk kedua sahabat itu bergantian. Keduanya menggeleng kompak.
Fitri tersenyum dibalik niqabnya karena ulah anak muda didepannya itu.
"Kompak ya Mas?" Fitri menatap suaminya. Harjunot yang tahu istrinya ingin mendapatkan persetujuan darinya. Ia hanya mengangguk kecil.
"Loh ...ini bukannya Mas, yang dulu nganterin Tiffu! Kalau enggak salah kita bertemu di halte. Tapi dia!" Rasya melirik kearah Arsy. Sebelum melanjutkan ucapannya. "Tidak mau diantar saya, katanya dia sungkan jika ninggalin, Mas!"
__ADS_1
Harjunot dan Arsy terkejut karena ucapan Rasya. Membuat keduanya mengingat kejadian beberapa waktu yang lalu. Fitri yang mendengar hal itu juga tak kalah terkejut.
'Berarti Mas Arjunot sama anak atasannya dekat? Tapi kenapa mereka tak saling bertegur sapa. Dan tadi pagi, saat aku. Menyuruhnya menawari tebengan buat putra-putrinya Bu Cahaya! Dia seakan enggan untuk menyetujui permintaanku! Sebenarnya apa yang terjadi?' batin Fitri menduga-duga.
"Ah ... sebenarnya itu bukan niat nganterin sih. Akan tetapi karena waktu itu mendung. Jadi saya menawarkan diri untuk memboncengkan Bu Guru! Ya kan Bu?" Harjunot bertanya kepada Arsy.
"I-iya!"
...***...
"Gimana kalau kita dinner together atau couple dinner!" Ajak Fitri memberi ide yang akan membuat suaminya sesak.
"Apa? Ah ... tidak-tidak. Saya dan Rasyu tidak akan menggangu penganten baru!" Arsy berbicara sambil memaksakan diri untuk terkekeh.
'Yang benar saja, makan satu meja dengan lelaki yang seharusnya sudah aku jauhi. Tuhan, ini kenapa aku ngerasa semakin aku ingin menjauhi dia. Jarak diantara kita semakin mengikis' batin Arsy yang menunduk tapi matanya melirik kearah Harjunot.
"Tentu saja tidak, ya kan Mas?" Fitri mengedipkan matanya. Agar suaminya tahu jika ia memberikan kode.
Harjunot membuang napas pelan karena istrinya.
"Iya!" jawabannya sekenannya saja.
"Maaf, tapi saya belum memoroti, orang yang mengajakku kemari! Bahkan dia belum mengeluarkan sepeserpun! Untuk saya, bukannya Itu tidak adil?" Arsy mencoba untuk mencari ide untuk bisa menghindar.
'Kenapa gua ngerasa, ada yang Tiffu sembunyikan. Dan kenapa dia seolah menghindar dari pasangan yang berdiri didepan kita? Sebenarnya apa yang belum aku pahami!' batin Rasya merasa ada sesuatu yang janggal, menurutnya.
"Ah ... tidak masalah! Bagaimana kalau kita keliling bersama. Setelah itu kita makan dirumah kami! Kalian setuju?" Fitri memberikan ide kembali.
'Ada saja kau tahu Fit, suamimu itu mati-matian. Membuang perasaan yang ada dalam hatinya. Perasaan cinta untuk seorang perempuan yang ada di depanku sekarang. Bisa jadi kamu tak akan menawari mereka makan bersama. Dan mungkin kamu tidak akan pernah menyapa putrinya Pak Dirut!' batin Harjunot menatap istrinya miris.
"Sudahlah Tiffu, kita terima saja. Toh mereka juga kenal Om Langit!" bisik Rasya, membuat Arsy terpaksa menerima permintaan Fitri.
...***...
Setelah hampir tiga puluh menit mereka mengelilingi pasar malam. Mereka memutuskan untuk ke rumah Fitri.
"Kak Fitri, rumahnya ada di mana?" Arsy bicara sambil menyedot pop ice.
"Deket kok, jalan kaki cuma lima menit nyampai!" Fitri menjawab.
__ADS_1
Setelah itu mereka memutuskan untuk masuk kedalam mobil Rasya. Tak butuh waktu lama, mobil itu sudah memasuki pekarangan rumah. Setelah Harjunot membukakan pintu gerbang.
Mata Arsy nyaris keluar karena pemandangan rumah yang dihuni pasangan baru itu.
"Ayo turun!" Rasya membuka pintu mobil.
"Mari masuk!" Fitri mempersilahkan tamunya untuk masuk kerumahnya.
Harjunot berkata kepada istrinya. "Fit! Aku ke kamar dulu ya?"
"Silahkan!" Fitri tersenyum.
Arsy dan Rasya dipersilahkan duduk di sofa.
"Ternyata teman Om Langit, sudah menikah?" Rasya membuyarkan lamunan Arsy. Sedangkan Fitri sudah pamit dari hadapan keduanya.
"Hmmm!"
"Apa saat nganterin lu, pulang. Dia sudah berstatus sebagai suami?"
Arsy terdiam mengingat bagaimana, dahulu ia bertanya tentang istri kepada Harjunot.
Arsy mengangkat kedua bahunya acuh.
"Maaf saya baru datang!" Harjunot duduk dikursi berhadapan dengan Arsy.
"Tidak masalah Mas!" Rasya menjawabi perkataan Harjunot.
Sedangkan Arsy jangan ditanya. Perempuan itu sedang memfokuskan matanya pada ponselnya.
"Sepertinya istri saya sedang menyiapkan makanan dimeja makan. Mari kita ke sana!" ajak Harjunot sambil bangun dari duduknya.
Kedua sahabat itu hanya mengikuti Harjunot. Sedangkan Rasya berjalan beriringan dengan Harjunot. Arsy lebih memilih berjalan dibelakang kedua lelaki itu.
"Kak Fitri, apa butuh bantuan?" tanya Arsy sambil menyimpan ponselnya disaku celananya.
"Tidak, tinggal sedikit kok!"
"Bantu saja jika kau ingin membantu!" tutur Rasya.
__ADS_1
'Tetnyata pemuda ini begitu mengenal putrinya Pak Dirut! Ah ... aku hampir lupa jika pemuda ini. Menulis surat cinta untuk putrinya Pak Dirut. Oh Tuhan! Bagaimana ini terjadi? Kenapa dulu aku tidak menyerahkan surat itu kepadanya. Aku harap surat itu masih ada dikamar ku' batin Harjunot mengingat kejadian beberapa waktu yang lalu saat membaca isi surat itu.