
Tepatnya dipagi hari Arsy baru saja turun dari mobilnya. Perempuan itu membuka gerbang yang terbuat dari kayu. Setelah itu kembali ke mobilnya. Yang mulai memasuki kediaman aang tunangan.
"Assalamu'alaikum! Ibu!" Arsy mencium tangan Bu Dewi, yang kebetulan pagi itu sedang menggendong cucunya.
"Wa'alaikumussalam!"
Arsy gantian mencium tangan Pak Tara.
"Kabar baik Pak?" Arsy bertanya ramah.
"Alhamdulillah! Baik Nduk, kalau Papa, kabarnya gimana?" Pak Tara bicara sambil menimang baby Bell, yang mau tidur.
"Sehat Pak! Alhamdulillah! Adek, mau bobok?" tanya Arsy sambil menengokan kepalanya kearah baby Bell tidak terlelap.
"Dia bangunnya waktu ada qoriah subuh! Sudah ngoceh!" sahut Bu Dewi.
Arsy tersenyum membayangkan, saat dia nanti sudah menikah. Dengan Harjunot dia akan dibangunkan oleh alarm tanpa baterai.
...***...
Arsy tertidur dalam keadaan miring kekiri. Perempuan itu memeluk baby Bell dalam tidurnya. Sedangkan sang suami tidur dalam keadaan tengkurap, dan baby Kai menjadikan punggung Abinya sebagai guling.
Qoriah adzan subuh berkumandang, bayi-bayi itu mulai. Merenggangkan otot-ototnya. Matanya terbuka, dan kedua tangannya terangkat. Sedangkan kakinya, diangkat kemudian dihentakkan dikasur.
Bug
"Hehem ...Aoao!"
"Ao... Ao!" Bayi-bayi itu saling bersehutan.
Baby memiringkan badannya dan Bug. Tendangan itu mengenai perut Arsy.
"Emmmma! Aooo! Na!" Tangan baby Bell ingin meraih wajah ibu sambungkan.
"Aooo ....aooo!" Bayi itu mencakar wajah ibunya.
Arsy yang tadinya terlelap dalam tidurnya, perlahan dia membuka matanya. Pertama yang dilihat adalah. Wajah baby Bell yang tertawa tanpa gigi. Kemudian baby Kai yang menendang pinggang Abinya yang masih terlelap.
Arsy tersenyum kemudian mencium pipi gembul baby Bell.
"Morning Baby!"
__ADS_1
Arsy memutuskan untuk duduk diranjang dan mengangkat tubuh kecil baby Bell. Kemudian memangkunya, Arsy menatap baby Kai yang memasukkan jempol kakinya kedalam mulut. Melihat hal itu Arsy jadi gemas. Tapi saat melihat suaminya yang tertidur tengkurap membuatnya membuang napas kesal.
...***...
"Nak Arsy! Nak!' Bu Dewi mengguncang bahu Arsy. Akan tetapi perempuan itu, masih diam dan senyum-senyum sendiri.
Membuat Bu Dewi menatap suaminya, sekolah bertanya. Kenapa tunangan putranya berpilaku aneh.
"Arsy!" Panggilan Bapak membuat Arsy tersadar dari lamunannya.
"Ah ... I-iya ...Pak?" Arsy gelagapan.
"Kamu kenapa kok senyum-senyum sendiri dari tadi?" Pak Tara mengerutkan keningnya.
"A-anu Pak!" Arsy menggaruk rambutnya karena berpikiran sesuatu.
'Kalau aku jawabannya, gelagapan kayak gini. Bisa-bisa di-cancel jadi mantu nih. Istilah ngapain juga mempertahankan calon menantu yang senyum-senyum sendiri. Kayak orang stress!' batin Arsy takut, dipikir gila.
"Nak kenapa bengong?" Bu Dewi bersuara.
"Ti-tidak Bu, sebenarnya tadi aku hanya. Ngebayangin kalau tidur sama–"
"Junot?"
"He!" Arsy kaget karena pertanyaan Pak Tara.
Bu Dewi menahan senyuman karena suaminya yang menggoda. Calon menantunya.
"Te-tent ...eh ma-maksudnya tidak Pak!" jawab Arsy gugup.
"Kalau tidak itu menggeleng bukan mengaguuk. Tapi kamu mengangguk! Jadi?" Pak Tara tersenyum tipis.
"Sudah Pak, jangan menggodanya. Kasian sampai keringat dingin!" tukas Bu Dewi.
Sontak saja Arsy langsung mengelap keningnya. Hal itu malah membuat kedua paruh baya itu tertawa.
...***...
Jam menunjukkan pukul setengah sembilan. Arsy menggendong baby Kai seperti kanguru saat menggendong anaknya.
Perempuan itu sedang menyapu karena kebetulan, Bu Dewi sedang mencari bahan dapur.
__ADS_1
"Kakak enggak bobok? Padahal adeknya udah bobok dari tadi loh!" ujar Arsy mengajak bicara baby Kai, yang selalu ngoceh tidak berhenti.
"Na ..na ...na!" jawab baby Kai menggigit jarinya sendiri.
"Kamu haus pengeng mimik susu?" Arsy bertanya sambil terus menyapu.
"Hehehe ....aioiiooi!" Baby Kai tertawa.
"Bentar, selesain nyapunya dulu! Nah selesai!" Arsy menyandarkan sapu itu ditembok depan rumah.
Kemudian berjalan kearah dapur, perempuan itu dengan cekatan membuatkan susu formula. Bayangan waktu Harjunot memeluknya dari belakang. Membuat Arsy menunduk dalam. Ya dia telah mengigat semuanya. Ada rasa bersalah dalam hatinya, untuk mendiang Fitri. Saat dimana pertama kalinya, dia diajak mampir dirumah ini. Saat Harjunot memberikan sebuah tanda merah ditubuhnya. Sungguh penyesalan itu ada dalam dirinya.
"Enggak-enggak ini enggak salahku. Aku mengenal Enjun lebih awal dari Kak Fitri! Dan bukan perasaanku yang harus disalahkan. Hanya saja keadaan yang belum mempersatukanku dengan Enjun!" gumam Arsy sambil menggeleng cepat.
" Maaf jika aku egois, untuk hal ini. Akan tetapi satu tahun yang lalu. Aku ada diposisi yang paling tersakiti. Saat mencitai seseorang untuk yang pertama kalinya. Tapi disaat itu pula cinta pertamaku, rusak tatkala. Ada perempuan lain, yang harus mengisi kehidupan Enjun!
"First love tidak mudah dilakukan!"
"Aoao ...Emmmma!" suara Baby Kai membuat Arsy sadar dengan pikirannya.
"Ah ... iya-iya bentar dulu Sayang!" ujar Arsy sambil menutup botol susu.
Perempuan itu mulai membantu baby Kai untuk minum susu. Disaat itu pula Bu Dewi, masuk dapur.
"Ibuk mau masak?" Arsy bertanya sambil menimang-nimang baby Kai siapa tahu mau tidur.
"Iya, kita masak sayur sup. Nanti kita makan bersama!" ujar Bu Dewi sambil mengularkan belanjaannya satu persatu.
"Emmm ...Buk, Abinya anak-anak pernah telpon?" Arsy bertanya sedikit ragu.
"Ya setiap hari Junot, nelpon. Gimana kabar si kembar," jawabnya.
Arsy terdiam mendengar jawaban Bu Dewi. Entah mengapa dadanya sesak. Saat dia mengirim pesan dan bilang terima kasih. Kepada Harjunot karena telah memberikan tiga macam buket. Lelaki itu tidak membalasnya sama sekali, terhitung sudah lima hari Harjunot di Kalimantan. Lelaki itu tidak pernah sekalipun mengirim pesan atau berinisiatif menelpon Arsy. Dan bilang jika ia telah sampai ketempat tujuan. Itu pun tidak, sama sekali. Apa yang sebenarnya lelaki itu inginkan. Arsy segera meyeka air matanya yang menetes. Kenapa Harjunot berpilaku seenak jidatnya sendiri. Apa lelaki itu lupa, jika saat ini statusnya sebagai seorang tunangan.
Arsy adalah Arsy perempuan yang selalu berpegang teguh pada pendiriannya. Jika dia memutuskan untuk menyukai sesuatu atau seseorang. Dia tidak akan mudah goyah. Untuk terus mencintai meskipun dia selalu terlukai. Ternyata ambisi yang ia miliki cukup besar.
...***...
Arsy membaringkan baby Kai di ranjang di samping baby Bel. Perempuan itu membaringkan tubuh mungil itu dengan hati-hati takut terbangun. Setelah itu Arsy duduk disamping ranjang, sambil mengelus lembut wajah baby Kai.
Tak sengaja Arsy yang lelah karena setengah hari menggendong baby Kai yang agak rewel. Membuat matanya perlahan tertutup. Ditambah lagi mikirin tingkah Harjunot yang tidak bisa ditebak. Kadang romantis kadang acuh misalnya seperti. Tidak memberikan kabar kepadanya. Hal itu membuat otak Arsy bereaksi marah. Fisik dan mentalnya telah diuji. Fisik oleh baby Kai yang rewel. Sedangkan mentalnya diuji karena tingkah tunangannya yang seperti Harjunot Alayyyyyy.
__ADS_1