Dia Istri Dalam Mimpi

Dia Istri Dalam Mimpi
Kalian Adalah Milik Harjunot


__ADS_3

Hari ini adalah hari kebahagiaan bagi Arsy dan Harjunot pasalnya tepat. Setelah jumatan mereka akan menggelar akad nikah. Harjunot duduk di pusaran istrinya. Lelaki itu mengelus batu nisan istrinya.


"Raga kita memang terpisah, tapi entah mengapa. Aku merasa jika dirimu masih ada!" Katanya.


"Fitri hari ini aku akan menikah kembali! Aku kemari ingin minta izin darimu! Maaf aku tidak bisa menjadi suami seutuhnya untukmu."


"Aku harap kau bahagia disana! Aku mencintaimu Fit!" Harjunot bangkit dari duduknya.


Setelah sesampainya di rumah Harjunot langsung mandi, saat dia menyisir rambutnya dia teringat tentang almarhumah istrinya.


Flashback


Harjunot keluar dari kamar mandi, sambil mengancingkan baju kokonya. Fitri yang sedang merapikan tempat tidur dia menatap suaminya itu.


"Fit! Jarak masjid sama rumah dekat?" Harjunot bertanya sambil menyisir rambutnya kemudian dilajutkan memakai peci.


"Lumayan dekat, mungkin kalau jalan cuma sepuluh menitan!"


"Kamu mau jalan kaki?" Fitri bertanya kembali sambil menatap suaminya.


"Menurutmu?"


"Kalau aku, jalan aja biar dapet pahala tambahan. Dan biar Mas Arjunot, kenal dengan tetangga baru kita!"


"Baiklah, aku akan melakukan hal itu!" Harjunot keluar dari kamar sambil memakai sandal jepit.


"Tunggu dulu Mas!"


"Apa?" Harjunot bertanya saat mau menutup pintu.


"Sudah bawa uang belum, buat infak?" Fitri berjalan kearah suaminya.


Harjunot terdiam membisu, dia jarang sekali memasukkan uang saat sholat di masjid.


Fitri yang tahu jawabannya dia tersenyum." Ya sudah, ayo nanti Fitri carikan uang diruang tamu!" Harjunot hanya mengikuti saja.


Fitri sudah menemukan uang untuk infak dia memberikan kepada suaminya.


"Kamu ikhlas?" Harjunot bertanya.


"Ikhlas itu bukan tentang sekarang, tapi ikhlas itu tidak pernah mengungkit apa yang pernah kamu kerjakan!" Fitri tersenyum tipis.


...***...


Harjunot tersenyum tipis saat mengingat kejadian bersama istrinya dulu. Mulai saat itu Harjunot sering membawa uang saat kemasjid.


Sekarang ingatannya berganti saat berjalandengan tunangannya.


"Kamu minta mahar apa?"


Arsy nampak berpikir sejenak, sebelum menjawab. "Aku mau maharnya uang saja!"


"Berapa?"


"Sesuatu tanggal lahir ku!"

__ADS_1


Harjunot berfikir, dia dan Arsy memiliki perbedaan umur sepuluh tahun. Berat mahar uang yang harus ia keluarkan. Cukup buat beli rumah.


"210 juta?"


Arsy tersenyum mengangguk, tentunya bukan tanpa alasan. Arsy meminta mahar sebesar itu. Perempuan itu sudah bertanya kepada Papa, dahulu. Berapa kekayaan yang Harjunot miliki. Setelah tahu dia pun berniat meminta mahar seperti tanggal jadinya. Yang kedua, jika suatu saat nanti. Mereka ada krisis keuangan setelah menikah. Mereka bisa menggunakan uang mahar itu untuk digunakan dahulu. Meskipun begitu Harjunot tetap harus menggantinya. Jika masalah keuangan dalam rumah tangganya membaik.


"Boleh aku bertanya sesuatu?" Arsy mendongakkan kepalanya menatap Harjunot.


"Apa?"


"Seingat aku kamu dulu rokok, kenapa sekarang aku tidak pernah melihatnya?"


...***...


Harjunot tersenyum teringat pertanyaan Arsy. Kini ingatannya kembali ke istrinya kembali.


Flashback


Fitri menutup pintu kamarnya. Sedangkan Harjunot mengambil jaket yang ia taruh di atas nakas. Harjunot memasukkan tangannya ke jaket, setelah menemukan benda kesukaannya. Suami Fitri itu memilih untuk duduk di sofa.


"Huft!" Asap rokok keluar dari mulutnya.


Fitri yang baru selesai mengunci pintu, dia membalikkan badannya. Betapa terkejutnya dia, jika suaminya seorang perokok.


"Em-mas Arjunot rokok?" tanyanya sedikit takut tapi suaranya terdengar lembut ditelinga Harjunot.


Harjunot menatap istrinya sambil mengulum senyuman.


Fitri berjalan mendekati Harjunot, kemudian duduk disampingnya.


"Lima tahunan!"


"Terus apa yang Mas Arjunot, dapatkan? Apa ada manfaatnya?" Fitri bertanya sedikit ragu. Takut jika suaminya tersinggung.


"Enak! Terus juga mempererat pergaulan antar kawan" Sambil terus mengeluarkan asap.


"Terus apa lagi?" Fitri bertanya.


"Aku mendapatkan kepuasan!" jawabannya.


"Terus!"


"Bisa mengurangi stres"


"Ada manfaatnya lagi?" Fitri bertanya kembali.


Harjunot diam karena pertanyaan Fitri. Harjunot berpikir bahwa dia sudah menyebutkan beberapa manfaat yang ia dapatkan saat rokok.


"Coba Fitri, mau baca bungkus rokoknya!" Fitri membuka telapak tangannya lebar. Segera Harjunot memberikan bungkus rokok kepada istrinya.


Fitri menatapnya lekat, membaca tulisan yang tertera dibungkus rokok. Fitri menatap suaminya dengan senyuman manis. Sedangkan Harjunot, sedikit curiga dengan senyuman itu.


"Merokok dapat menyebabkan kanker, kedua serangan jantung, ketiga impotensi dan gangguan kehamilan dan janin!" Fitri membaca sambil menatap Harjunot.


Harjunot menelan ludahnya susah payah karena perkataan istrinya.

__ADS_1


"Kalau enggak salah, aku pernah membaca sebuah artikel mengenai dampak negatif bagi pecandu rokok. Kerontokan rambut, gangguan pada mata seperti katarak!" Fitri menatap Harjunot sekilas.


"Kehilangan pendengaran lebih awal dibanding bukan perokok. Menyebabkan penyakit paru-paru kronis. Merusak gigi dan menyebabkan bau mulut yang tidak sedap. Dampak negatif lainnya seperti merokok memboroskan dan menimbulkan ketergantungan!"


Harjunot terdiam karena mendapat sebuah tamparan yang tidak berbekas. Akan tetapi menyadarkan dirinya, dari kesalahan yang tidak pernah ia sadari.


"Mas Arjunot! Suamiku, kekasih hatiku! Tolong pikirkanlah, sebenarnya apa yang kamu dapat dengan merokok? Jika kamu bilang merokok itu enak, maka makan dalam keadaan sehat. Jauh lebih nikmat dan lezat!" Fitri mengelus lembut tangan suaminya.


Sedangkan Harjunot menahan sesak di dadanya. Lelaki itu ingin memberontak, ingin membantah. Akan tetapi dia tidak mendapatkan perkataan yang salah dalam kalimat yang istrinya ucapkan.


"Terus katamu, mempererat pergaulan antar kawan! Setahuku orang yang benar-benar mencintaimu, menyayangimu! Tidak akan membiarkan dirimu jatuh terjerumus dilubang yang salah. Orang yang benar-benar mencintaimu, akan memberikan dampak positif dalam dirimu. Kenapa hanya ingin mempererat pergaulan dengan kawan, kamu harus merugikan dirimu sendiri. Merugikan keluargamu. Jika kamu sakit, apa kawanmu akan mendampingimu? Jelas Tidak!" Fitri menggeleng. Dan menarik kepala Harjunot untuk bersandar di bahunya. Memberikan sentuhan lembut dibagikan kepala. Tujuannya agar suaminya tidak merasa diceramahi, atau digurui yang membuat dia merasa tersudutkan.


"Kawan yang baik adalah tidak akan mencemooh kawannya, atas dasar tidak mau mengikuti jejaknya. Tapi kawan yang baik adalah, yang mau menerima perbedaan antar satu dengan yang satunya!" Satu ciuman mendarat di rambut Harjunot dari Fitri.


'Benar! Katamu Fit! Pak Dirut dan Pak GM selalu menasehati diriku agar tidak merokok, hingga saat aku berhadapan dengan keduanya. Aku selalu menyingkirkan egoku, untuk tidak merokok. Karena aku begitu menghargai dan mencintai persahabatan yang kita jalin' batin Harjunot.


"Suamiku, kamu masih muda! Tolong jaga kesehatan! Apa kamu mau, aku sedih melihat kamu sakit? Yuk hidup sehat! Aku akan mendukungmu, Mas Arjunot mau kan, merubah gaya hidup?" Fitri mencium tangan suaminya kembali.


"Tapi bagaimana aku bisa Fit! Sedangkan aku adalah perokok aktif?" Harjunot bicara dengan suara parau. Ada rasa takut yang mengganjal dalam hatinya. Rasa takut tidak bisa menghentikan kebiasaan buruknya.


"Fitri, tanya! Sehari Mas Arjunot, habis berapa batang?"


"Mungkin tujuh!"


Fitri mencoba mencari jalan keluar.


"Ah! Aku akan membuatkan jadwal rokok untukmu. Aku tahu, jika kamu memaksa untuk langsung mengindari kebiasaan merokok, maka itu akan sulit. Maka, aku berinisiatif untuk mengurangi sedikit-sedikit jatah rokokmu! Limas belas hari, kita kurangi satu batang. Berarti lima belas hari kedepan. Jatah rokok tinggal enam dan seterusnya-seterusnya!"


Harjunot yang mendengar hal itu nampak mendapatkan angin segar. Setidaknya dia akan menjadi pribadi yang lebih baik lagi.


"Insyaallah! Tiga bulan, Mas Arjunot! Akan bebas dari rokok!" Fitri menghamburkan tubuhnya kearah Harjunot. Lelaki itu pun menerimanya pelukan yang Fitri berikan.


Harjunot menghujani kecupan manis diwajah istrinya.


"Terima kasih Fit! Terima kasih! Aku beruntung memiliki dirimu!" Harjunot mempererat pelukannya.


...***...


Harjunot menitihkan air mata mengingat kejadian bersama istrinya.


"Fitri kau adalah istri terbaikku!"


"Sedangkan kamu Arsy Latthif! Kau adalah cinta pertamaku. Setelah aku mengajak dewasa. Karena dulu saat SMP, aku pernah pacaran dengan perempuan lain!"


"Kalian adalah perempuan yang akan ada dihatiku. Hanya kalian yang bisa membuatku beruntung. Jika Fitri, mampu mengajariku banyak hal. Maka berbeda dengan Arsy Latthif, yang mampu membuat aku tenang saat melihat senyumannya!"


...Terima kasih semua, sudah mau baca cerita author. Meskipun tak sebagus yang lain, kalian tetap baca....


...Meskipun kalimatnya susah dipahami, kalian tetap baca....


...Meskipun kecewa dengan kedatangan Fitri, kalian masih tetap baca*....


...Dan ini indah dalam beberapa hal....


...Banyak belajar dari cerita yang author buat, ternyata Emak² penghuni Entun. Lebih suka kisah pernikahan paksa....

__ADS_1


__ADS_2