Dia Istri Dalam Mimpi

Dia Istri Dalam Mimpi
Lirikan Matamu Menarik Sapi


__ADS_3

"Ayi! Kenapa kamu Nak?" Langit ingin berdiri dari duduknya, tak terlaksana kan karena ucapan Kafka.


"Kesayangan Papa! Terkena air liur hanjing!"


Perempuan itu ada digendong Kafka, sambil menundukkan kepalanya. Hal itu membuat Harjunot tidak bisa melihat wajah Arsy. Karena Arsy memakai masker dan rambut yang berantakan.


"Huft ...syukurlah!" Langit bernafas lega.


Sedangkan Harjunot masih ingin tahu, perempuan itu.


...***...


Kafka menggendong Kakaknya kearah ruang keluarga. Kemudian menjatuhkan Arsy, di sofa.


"Ehem!" Langit berdeham, saat melihat Harjunot, menatap kearah ruang keluarga.


Harjunot yang mendengar suara orang terbatuk-batuk, dia tersadar. Harjunot menggaruk tengkuknya yang tak gatal karena salah tingkah.


"Itu putranya ya Pak?" Harjunot tidak ingin ketahuan, jika tadi dia mencuri pandang dengan putri atasannya.


"Iya, dia putra ku! Dia yang paling kecil, baru sekolah kelas tujuh di SMP favorit dekat hotel Rose! Putriku juga menjadi Guru di sana, dia baru lulus kuliah dari Moskwa!"


Harjunot mengangguk-angguk paham. "Samping sekolah itu, itu akan dijadikan sekolah Madrasah Aliyah!"


"Kau tahu?" Langit bertanya serius.


"Bagaimana tidak tahu, orang saya yang menyurvei dan kontrak setahun!"


"Astagfirullah! Kenapa aku enggak tahu!" Langit memukul dahinya sebagai bukti dia tidak tahu apa.


"Ka! Sini Nak, kenalan dengan teman Papa!" panggil Langit kepada anaknya. Harjunot yang mendengar hal itu, dia mencoba menenangkan dirinya yang gugup.


Kafka berjalan kearah Papa! Kemudian menjabat tangan Harjunot. "Kafka!" ujar Kafka, memperkenalkan diri.


"Harjunot!" Setelah itu jabatan antar keduanya selesai.


'Aku berfikir, jika Ka yang dimaksud adalah anak perempuannya. Ternyata Ka yang dimaksud adalah Kafka bukan Kakak!' batin Harjunot sedikit kecewa.


"Pa! Ajak teman Papa, buat gabung makan bersama!" Bunda berteriak agar suaminya dengar.


"Ayo Not! Kau belum makan kan?" Langit bicara sambil berdiri dari duduknya.


...***...


Harjunot enggan untuk berdiri, dia merasa tidak enak. Baru bertemu sudah diajak makan bersama.


"Ayo, enggak baik nolak makan!" Harjunot berdiri dan berjalan dibelakang Langit.


Setelah sampai ruang makan, Harjunot melihat Arsy, yang duduk anteng sambil menatap ponselnya. Lelaki itu belum juga melihat jelas wajah Arsy.


"Not, duduklah!" titah Langit.

__ADS_1


Harjunot duduk di depan Kafka sedangkan Arsy duduk di samping adiknya.


"Yi! Tadi mana bakso yang enggak pedas?" Kafka mengambil bakso yang ada di dalam kantong plastik itu.


Arsy yang tadi fokus pada layar ponsel, perlahan ia mendongak menatap adiknya.


"Yang ada karetnya merah!"


Harjunot yang bicara dengan Gibril, kepalanya menengok kearah suara yang baru saja menggema di telinganya. Bibirnya bungkam, jantungnya berdebar-debar saat melihat wajah milik Arsy. Wajah yang selalu ada di dalam mimpinya. Harjunot tidak mengalihkan pandangannya, dia bisa menatap wajah Arsy dari samping.


Arsy menengok kan wajahnya kearah Gibril. Dengan segera Harjunot, membuang pandangannya agar Arsy tidak melihat. Jika ia, sedang memperhatikannya.


Harjunot menahan napasnya, agar tidak kelihatan jika ia sedang gugup.


Arsy kembali menatap layar ponselnya lagi.


"Ayi! Sedang ngapain sibuk amat?" Bunda Cahaya, bertanya sambil meletakkan makanan di meja makanan.


"Ayi, lagi kangen sama belahan hatinya!" jawab Kafka, bisa di dengar Harjunot yang duduk didepannya.


"Siapa?" Kak Vi ingin tahu, emang adik iparnya itu sudah punya kekasih.


"Beruang Rusia!" Kafka terkekeh, sedangkan tangan kanan Arsy menampol kepala adiknya.


"Aduh ...Ayi, ringan tangan ih. Enggak laku tahu rasa!"


"Mohon maaf saya tidak berjualan apa-apa!" Mata Arsy terus menatap ponselnya.


"Ka! Kembalikan!" Arsy ingin merebut, tapi kalah dengan kekuatan Kafka.


"Ayi! Chattingan sama Kak Rasya Aufan!"


"Cie Ayi! Sama Rasya, cihuyywit!" Kak Vi, menggoda adik iparnya.


Sedangkan Harjunot yang mendengar, dia tidak tahu kenapa dia kecewa. Saat dia mendengar, jika Arsy chatting dengan pria lain.


"Semua ini gara-gara si kampret prentil!" Arsy bicara, sambil merampas ponselnya dari tangan Kafka. Kemudian Arsy duduk dengan wajah kesal.


"Ayi! Kafka bisa enggak! Gak ribut sehari, ada tamu kok enggak ada sopan-sopannya!" Kedua orang itu menunduk, saat Papa sudah memberi wejangan.


"Maaf ya Not! Mereka memang kayak kucing sama tikus, enggak ada akhlak!" Gibril, sungkan dengan tamu Papanya.


"Ah ... tidak masalah! Namanya adik-kakak pastilah ada jail-jailnya!" Harjunot bicara sambil tersenyum tipis.


"Ayo, mari makan!" ajak Langit.


Semua sudah pada makan mengambil lauk-pauk sendiri. Saat bersamaan Harjunot dan Arsy mengambil telor yang hanya tinggal satu. Kedua mata mereka saling bersi tatap.


"Lirikan matamu menarik sapi. Oh ... senyuman mu lebar sekali!" Kafka menatap kedua orang itu, yang terdiam saling menatap. Harjunot yang tersadar dia segera, menarik garpu nya seraya beristighfar. "Astagfirullah!" Harjunot bicara pelan, sambil menutup matanya.


"Maaf-maaf semua!" Harjunot merasa tidak enak plus malu.

__ADS_1


"Tidak masalah, hal ini emang biasa terjadi!" Bunda Cahaya menjawab tersenyum.


"Enggak apa-apa Not! Nanti biarkan Ayi! Masak lagi!" Langit juga angkat bicara


"Ah ... enggak-enggak! Biar telurnya dimakan putri Pak Dirut! Saya bisa mengambil yang lain!" Harjunot lagi-lagi merasa tidak enak dengan keluarga atasannya.


Sedangkan Arsy tidak mengeluarkan suara, perempuan itu menunduk dan memakan baksonya yang tadi ia beli dengan Kafka.


"Ayi! Lirikan matamu menarik sapi!" bisik Kafka mengejek Kakak perempuannya.


"Sstt!" Arsy menyuruh adiknya diam.


"Pandangan pertama awal aku berjumpa!" Kafka masih saja berbisik ditelinga Kakaknya. Sedangkan Arsy sangat jengah dengan ulah adiknya.


Twing ...twing... Ponsel Arsy berbunyi.


"Maaf!" Arsy berdiri dan mengambil ponselnya.


"Ah ...Kak Rasya cihuyywit!" Kafka meneriaki Kakaknya yang menjauh.


...***...


Sedangkan Harjunot melirik kearah Arsy yang meninggalkan ruang makan, sambil mengangkat telepon.


'Siapa Rasya? Apa dia kekasihnya? Ah ... sudahlah ngapain aku ingin tahu' batin Harjunot.


Setelah selesai makan Harjunot memutuskan untuk pulang. Karena jam juga sudah menunjukkan pukul sembilan.


"Sering-seringlah kemari! Kita bisa berbincang bersama. Biasanya Black, juga main kesini." Langit dan keluarganya mengantar Harjunot sampai depan rumah.


"Ah ... Insya Allah! Terima kasih sudah diajak makan dan senang bisa bertemu dengan kalian semua! Maaf ngerepotin!" Harjunot menundukkan kepalanya.


"Come on, Not! You are Papa's friend so don't hesitate!" ujar Gibril, memukul pundak Harjunot ramah.


Harjunot hanya mengangguk pelan.


"Kak Harjunot! Nanti kalau motornya mogok tengah jalan. Jangan heran!" Kafka bicara sambil menggendong keponakanya yang pertama.


"Why?" Harjunot mengerutkan dahi.


"Karena tadi, si Ayi! Main pegang-pegang gas motornya!"


Harjunot mengangguk saja.


"Baiklah saya pamit undur diri! Assalamu'alaikum!" Harjunot bersalaman dengan lelaki, dan ia salam panjalu diiringi dengan membungkukkan badan. Terhadap perempuan.


Sedangkan Arsy yang ada di atas, dia bisa menatap kepergian Harjunot sambil memakai helm.


...***...


.

__ADS_1


__ADS_2