Dia Istri Dalam Mimpi

Dia Istri Dalam Mimpi
Hujan Bersama Kenangan


__ADS_3

Dalam perjalanan pulang Arsy duduk dikursi penumpang sedangkan Rasya mengemudi mobil dengan kecepatan tinggi.


"Ini, gara-gara lu ngajak lewat jalan pintas jadi gini kan!" Arsy menatap Rasya dari belakang.


"Iya, maaf lah!"


Arsy hanya menyenderkan kepalanya dikursi penumpang, sambil memijat kepalanya. Rasya bisa melihat dari sepion mobil, bibirnya tersenyum tipis. Rasya sangat mengenal, teman kecilnya sebesar apapun dia membuat Arsy dalam masalah. Arsy akan memaafkannya, meskipun terkadang perempuan itu protes.


"Ehem! Gua mau tanya sesuatu boleh enggak?" Rasya melirik kearah Arsy sebentar.


"Tanya apa?" Arsy menjawab sambil main ponsel.


"Tadi gue enggak salah dengar, lu bilang ke anaknya Pak Kepala! Kalau dia sembuh, lu akan ngajak dia jalan-jalan? Berarti lu, juga jalan sama Bapaknya dong?" Rasya tidak suka jika Arsy dekat-dekat dengan duda dua anak itu.


"Iya, emang gue mau ngajak Puput jalan! Tapi enggak sama Bapaknya juga!" Arsy menggeleng sambil menggembungkan pipinya.


"Lu, pikir Bapaknya akan ingzinin anaknya jalan sama orang baru. Pasti dia juga ikut Tiffu! Makanya, sebelum mengambil keputusan itu dipikir dulu. Apa konsekuensi yang lu dapat!" Rasya bicara kesal, sepertinya pemuda itu belajar dari kesalahannya. Yang diam-diam mengutarakan perasaannya dalam sebuah surat, yang tidak sampai pada tujuan.


"Yasudah kenapa lu yang sewot. Mau gua jalan sama anaknya, ama Bapaknya. Atau sama keluarganya sekalipun, yang jalan kan gua. Kenapa lu yang baper?" Arsy merebahkan tubuhnya dikursi penumpang, yang biasanya bisa cukup buat dua orang.


"Serahlu dah!"


Namun saat lampu merah Arsy kembali duduk dengan baik. Arsy menatap seluruh motor dan mobil berhenti di kanan-kiri mobil milik Rasya.


Hujan deras tiba-tiba mengguyur kota Jakarta. Mobil yang Rasya kemudikan melaju dengan kecepatan pelan. Tak sengaja mata Arsy menatap halte bus yang dulu dia dan teman Papanya berteduh disana saat hujan. Sepertinya Arsy mengingat kenangan bersama teman Papanya, yang baik itu. Baru kenal sudah ngebelein dia baju.


Entah mengapa bibir itu tersenyum lebar. Saat mengingat kejadian itu. Namun sedikit kemudian senyum itu sirna, tatkala dia sadar jika lelaki yang ia kagumi. Sudah menikah tadi pagi dengan perempuan buta, tuli dan bisu. Rasa ibanya kembali hadir dalam lupuk hati terdalam.


"Sya! Gimana pendapat lu, jika orang tua lu menyuruh lu nikah dengan perempuan cacat?" Arsy ingin tahu apa pendapat dia dan Rasya sama.


"Kenapa lu bertanya seperti itu? Apa yang membuat lu, tanya ini ke gua?"


"Hanya ingin tahu saja, apa kita sependapat. Coba lu jawab." Arsy menatap kearah luaran jalan.


"Gua berpikir itu orang tua, kenapa sadis banget sama anaknya! Apa dia tidak memikirkan kebahagian anaknya?" Logis sekali jawaban Rasya pikir Arsy.


"Tapi orang tuanya itu, sebenarnya juga enggak mau. Semua itu karena insiden tabrakan, jadi mereka harus menyetujui."


"Terus anak lelaki ini, jadi mau tidak mau harus menikah dengan perempuan itu!"

__ADS_1


"Apa ini kisah nyata?"


"Tidak, ini kisah dalam novel yang aku baca!" Arsy menutupinya.


"Gua akan nolak lah, dan gua akan cari Kuasa Hukum yang pasti memenangkan kasus ku ini!"


"Alasannya?"


"Ya masa, Tiffu! Gua nikah sama perempuan seperti itu. Istilah apa yang bisa dilakukan, dan apa yang bisa kita lakukan."


"Gua butuh dibantu disiapkan makanan, kalau dia budek gimana gue minta itu. Kalau gue mau belajar bahasa isyarat, itupun hanya membuang waktu gua. Karena dia tidak bisa melihat, terus gua juga butuh pendengar yang baik, untuk permasalahan yang gua hadapi"


"Sedangkan dia tidak bisa mendengar dan dia juga tidak bisa bicara! Coba deh lu, bayangin mumumetkan?"


"Gua sih mending dicoret dari kartu keluarga. Lebih baik dan gua juga bisa buat kartu keluarga berserta nama dan jabatannya."


"Ahmad Rasya Aufan sebagai suami. Arsy Latthif sebagai istri. Rasy Rasya Aufan sebagai anak! Gimana bagus enggak?" Rasya mengedipkan mata dari sepion, sedangkan Arsy yang mendengar berekspresi geli.


"Kok terdengar menggelikan ya Sya!"


"Heh ... gua bukan ulat bulu ye Mpok Nur!"


...***...


"Ka! Bisa kesini?" Rasya berteriak dari dalam mobil kaca jendelanya sudah turun. Kafka pun berlari kearah mobil itu sambil membawa payung.


"Ada apa?"


"Gendong Kakak mu, dia tidak bisa jalan. Aku sih mau aja gendong dia, tapi masalahnya dia nolak!" Rasya bicara sambil keluar dari mobil.


"Emang kenapa si Ayi, kakinya hilang?"


"Kedua kakinya terkena beling kaca tadi?"


"Apa? Kok bisa? Kak Rasya, ini bagaimana kenapa Ayi bisa celaka?"


"Ya maaf, tadi itu ...! Ceritanya panjang mending nanti saja aku ceritakan!" Rasya menepuk pundak Kafka.


"Ya sudah, bawah payungnya! Ets ... ini payung buat Ayi! Kak Rasya, ingat jangan sampai Ayi terkena air hujan!" Kafka bicara sambil membuka pintu mobil penumpang.

__ADS_1


"Ayo, Yi!" Kafka sudah memberikan punggungnya untuk Kakak perempuannya itu. Arsy menggeser tubuhnya agar dekat dengan adiknya. Saat kedua tangannya memegang pundak Kafka. Arsy sedikit berdiri membuat kepala terpentuk bagian atas.


"Aduh!" Arsy mengaduh kesakitan.


"Koe tak Sayang-sayang! Cocok nih buat video seperti di Tik-tok! Diulang!" Rasya terkekeh.


"Itu otaknya selamat enggak ya? Kira-kira, kalau di video terpentuknya bolak-balik!" Sahut Kafka.


"Sudah diam, jangan banyak bicara!" Arsy


menoyor kepala Kafka.


"Dasar tidak tahu malu, sudah dibantu malah mukul kepala! Ku banting, kamu Yi!" Kafka kesal karena Kakak perempuannya tidak punya rasa terima kasih.


Setelah perdebatan itu, mereka bertiga berjalan kearah rumah elit itu. Dengan Rasya yang membawa payung untuk menaungi Arsy, tujuannya agar si air, tidak mencium tubuh Arsy.


"Lah, ini Ayi kenapa?" Papa Langit bertanya.


"Maaf Om! Kakinya Tiffu, luka. Sebenarnya itu karena dia membatu saya mengejar ban!" Rasya menunduk bersalah.


"Kok bisa, emang Ayi! Tidak pakai alas kaki?" Papa Langit menatap putrinya.


Arsy tersenyum kaku karena tebakkan Papa benar.


"Bisa enggak, tanyanya enggak saat ini. Kaka harus menanggung beban berat ini!" Kafka protes, dipikir berat badan Arsy enggak berat apa si Kafka disuruh gendong.


"Iya-iya! Papa! Lupa." Papa menggaruk tengkuknya yang tak gatal, karena sudah menyiksa anak bungsunya dengan mengajak bicara Arsy dan Raysa. Akhirnya Kafka, menjatuhkan Kakaknya disofa, kemudian dia duduk disamping Kakaknya.


"Bisa ceritakan dengan detail?" Papa Langit bertanya.


"Sebenarnya gini..." Rasya menceritakan semuanya bagaimana kaki Arsy bisa luka dan apa sebabnya mereka pulang terlambat.


"Kebiasaan deh, dari kecil kalian kalau bersama selalu ada masalah. Entah itu Ayi yang jatuh, atau Raysa yang dapat amukan dari Mamanya! Kalian ini sudah besar, bisa enggak! Jangan kekanak-kanakan?"


"Maaf Pa! Maaf Om!" Arsy dan Rasya bicara kompak menunduk pula.


...***...


Kapan nih Ayi ketemu sama Herjunot? Terus bagaimana pula reaksi keduanya saat ketemu?....

__ADS_1


__ADS_2