
Harjunot duduk di kursi tunggu. Pagi itu dia akan segera melepas masa lajangnya. Berkali-kali Harjunot menarik napas dan membuangnya. Hidupnya seakan hancur begitu saja.
"Sabar, sabar!" Harjunot mengelus dadanya.
Sebisa mungkin dia harus menahan amarahnya. Amarah karena cobaan yang begitu berat baginya.
"Not! Sepertinya lima menit lagi, acara ijab qobul akan dilaksanakan. Tadi ada yang bilang jika cucu Nenek itu sudah datang!" Aghnia yang berdiri di samping Harjunot memijat pundak Masnya itu.
Harjunot diam tidak menjawab.
Seorang wanita berbadan gemuk itu, berjalan dengan cepat dari utara kearah Harjunot.
"Permisi! Maaf, Pak! Boleh keluarganya disuruh keluar dari ruangan!"
"Emang kenapa?" Harjunot mendongak menatap wanita gemuk itu.
"Ini masalah keluarga! Saya harap Anda tidak keberatan!"
"Baiklah!" Aghnia masuk kedalam ruangan Nenek itu, untuk memberi tahu jika asisten Nenek itu ingin mereka keluar sebentar. Entah mengapa Nenek itu, masih bisa bertahan padahal sudah dari tadi sore dia tergeletak di ranjang rumah sakit. Keluarga Harjunot keluar dari ruangan. Wanita berbadan gemuk itu, pamit undur diri dari hadapan Harjunot. Harjunot memutuskan untuk ke musholla sebentar. Sedangkan Aghnia dan Tantiyana mencari seperangkat alat sholat untuk seserahan. Bu Dewi memutuskan untuk pergi ke kamar mandi. Sedangkan Bapak, dia keluar rumah sakit. Semalam di rumah sakit membuat paruh baya itu penat.
Wanita berbadan gemuk itu kembali lagi keruangan Nenek. Akan tetapi ia tidak sendiri, wanita itu berbadan gemuk bersama seseorang. Perempuan itu berjalan disampingnya dengan pakaian serba hitam. Kedua orang itu, masuk ruang Nenek itu.
Nenek tersenyum saat melihat cucunya datang. "Fit-ri!" Yang dipanggil hanya menangis dan menghamburkan tubuhnya ke Nenek.
"A-ku sang-at bel-sukul ka-lena kamu da-tang!" Nenek itu bicaranya sudah pelo, boleh jadi karena mendekati akhir hayatnya.
"Fit-li kau a-kan ni-kah! Kau ti-dak a-kan sen-dili saat a-ku meni-nggal-kan dunia ini!" Namun perempuan berbaju hitam itu hanya diam sambil mencium wajah Neneknya.
"A-ku ti-dak ak-an ku-at!" ujarnya tersengal-sengal. Wanita berbadan gemuk itu, langsung berlari mencari seseorang.
"Permisi! Tolong ini dihafalkan!" ujarnya sambil menyodorkan kertas putih kearah Harjunot, yang baru kembali dari musholla.
"Saya akan menelpon penghulunya," ujar perempuan berbadan gemuk itu, sambil lari menjauh.
__ADS_1
Harjunot menatap lembaran itu, dia membacanya kemudian memejamkan matanya.
'Bismillah! Ini yang terbaik dari Tuhan!'
Lima menit kemudian, Harjunot dan keluarganya sudah ada didalam ruangan. Sebuah ketukan pintu membuat Tantiyana berdiri dan membuka pintu itu. Matanya tertuju saat melihat wajah mirip temanya.
"Masuk!" Tantiyana yang sedang memikirkan sesuatu. Gadis tanggung itu, tanpa sadar menyuruh masuk, tamu itu. Paruh baya itu tersenyum, sambil mengelus rambut Tantiyana. Kemudian berjalan kearah sahabatnya.
'Kenapa wajahnya mirip Kaka dan Bu Arsy' batin Tantiyana menatap Langit yang berjalan kearah Masnya.
Black menatap iba saat melihat sahabatnya harus menikah dengan seorang perempuan yang tidak pernah sahabatnya kenal. Perempuan itu memakai kaca mata hitam, jelas orang buta pikir Black.
"Bagaimana jika kita langsungkan saja, acara ijab ini. Mempelai lelaki siap?" Penghulu itu bertanya. Harjunot hanya mengangguk.
"Bismilah! Saya nikahkan dan kawinkan saudara Harjunot Ali dengan saudara Fitri Beliin Anantasa binti almarhum Saye Arde Hasri! Dengan maskawin seprangkat alat sholat dan uang tiga juta rupiah dibayar tunai!"
"Saya terima nikah dan kawinkan Fitri Beliin Anantasa binti almarhum Saye Arde Hasri! Tunai!" Harjunot dengan sekali tarikan nafas.
"Bagaimana saksi sah?"
Penghulu itu membaca doa untuk pengantin itu.
"Sekarang kalian sudah sah, menjadi suami-istri. Dimata Allah. Untuk sah menurut hukum kalian harus mendaftarkan pernikahan kalian di KUA. Sekarang Mas Harjunot bisa mencium Mbak Fitri yang sudah sah menjadi istrinya!" Harjunot masih tidak percaya jika ini benar-benar terjadi.
Mau tidak mau dia harus mencium perempuan yang ada disampingnya itu. Harjunot tidak bisa melihat wajah istrinya karena perempuan itu, mengenakan niqab. Harjunot memejamkan matanya saat ingin mencium Fitri. Hal itu membuat Harjunot teringat tentang mimpinya saat bersama Arsy. Saat itu Harjunot sangat malu karena harus mencium Arsy.
Segera Harjunot membuang khayalan itu. Perlahan dia mencium kening Fitri dengan sangat lama.
'Siapapun yang menjadi istriku, dialah yang aku cintai.Dan siapapun yang Tuhan, takdir kan. Maka itu yang terbaik untukku' batin Harjunot tatkala mencium istrinya.
Langit dan Black saling memberikan kode, mereka sangat prihatin dengan nasib Harjunot. Kedua orang tua Harjunot menangis, meyaksikan anaknya yang menikah tanpa dasar cinta.
Setelah itu Fitri mencium tangan Harjunot. Lelaki itu mengelus kepala perempuan yang baru saja menyandang sebagai istrinya.
__ADS_1
...***...
Harjunot meminta izin kepada Fitri keluar dari ruangan untuk menemui sahabatnya. Fitri hanya mengangguk, tentu saja Harjunot tidak akan marah karena dia tahu jika istrinya bisu. Terdengar aneh mungkin kenapa Fitri bisa mendengar suara dia, jika dia tuli. Buktinya perempuan itu mengangguk saat Harjunot. Seolah istrinya mendengar saja. Akan tetapi Harjunot tidak mempedulikan hal itu.
Dia lebih memilih untuk menemui dua lelaki yang selalu ada saat dia membutuhkan. Harjunot yang baru menutup pintu, dia segera menghamburkan tubuhnya kearah Langit yang berdiri tepat didepannya. Langit sangat kaget, meski pelukan itu bukan untuk yang pertama kalinya. Akan tetapi tetap saja paruh baya itu terkejut.
Harjunot menangis diperlukan Langit, seakan hidupnya itu sudah berakhir. Langit mengelus pundak sahabatnya itu. Black yang berdiri di samping Langit, dia mengelus kepala Harjunot. Orang-orang yang berlalu-lalang melihat hal itu, ada yang melihatnya aneh. Ada juga yang bilang jika mereka adalah lelaki-lelaki lemah lembut. Jika dengan sahabat dan temannya saja seperti itu, apalagi dengan istrinya.
"Not! Yakinlah ini yang terbaik! Kau kuat! Jika tidak! Tuhan, tidak akan mengujimu seberat ini!" Langit memberikan semangat untuk Harjunot.
Black mengagukk setuju dengan ucapan Langit.
"Not! Aku berpikir jika kau menikmati ciuman tadi!" Black angkat bicara. Harjunot melepaskan pelukan itu, karena ucapan General Manager. Sedangkan Langit mengerutkan keningnya karena perkataan Black.
"Maksudnya?" Harjunot menatap Black.
"Aku tahu, kau kelamaan jomblo! Jadi kau menikmati ciuman itu, istilah kau tidak pernah mencium wanita kan?" Black tersenyum mengejek.
"Kau benar! Black, Junot sepertinya menikmati ciuman itu. Lama banget, apa lagi nanti malam Jumat, cocok lah Black. Buat..." Langit tidak meneruskan ucapannya.
"Lihatlah Bang! Pipi dia memerah karena malu!" goda Black yang disetujui oleh Langit.
"Sudahlah kenapa kalian malah menggoda saya?" Harjunot terlihat kesal, karena Black bisa membaca wajahnya jika dia malu.
"Emangnya kenapa? Apa tidak boleh kita, menggoda pengantin baru?" Black mengedipkan sebelah matanya.
"Pak Black, kalau saja Anda gadis. Saya nikahin!"
"Untung enggak gadis, jadi enggak kamu nikahin!"
Ketiga orang itu tertawa kecil karena kekonyolan yang mereka buat. Setidaknya Harjunot bisa tertawa, siapa lagi jika tidak Tuhan, yang membuat dia tertawa. Dengan cara mendatangkan para sahabatnya. Hanya untuk melipur lara. Disitulah Kuasa Tuhan yang Maha Besar. Bisa membuat orang menangis menjadi tertawa. Tapi terkadang sebagai manusia kita tidak sadar. Jika itu sebuah kebesaran-Nya
"Mas Arjunot! Nenek mau meninggal!" Tantiyana berteriak sambil membuka pintu. Harjunot yang mendengar langsung lari kedalam ruangan.
__ADS_1
...***...