Dia Istri Dalam Mimpi

Dia Istri Dalam Mimpi
Ujian Dipagi Hari


__ADS_3

"Abi berangkat kerja dulu ya Sayang! Nanti siang kalau ada waktu, Abi pulang oke!" ujar Harjunot sambil menggendong kedua bayinya.


"Bu, titip si kembar ya! Terima kasih, sudah mau merawat anak Junot!" Bu Dewi mengambil baby Kai dari gendongan Harjunot.


"Halah Not, kamu itu loh kayak sama siapa saja! Wes rasah dipikir, selama Ibu masih sehat, si kembar Ibu yang urus."


"Andai saja dia masih ada ya Bu!" Harjunot menundukkan kepalanya meratapi kematian istrinya.


"Not, emang takdirmu seperti ini. Ya sudah jalanin saja. Kita juga enggak tahu, gimana takdir kedepannya. Isoae Gusti Allah! Ngasih kamu pahit sekarang. Amergo Gusti Allah! Wes nyiapin takdir yang manis buatmu," ujar Bu Dewi meletakkan cucunya di stroller bayi.


"Maksudnya Bu?"


"Emang kamu enggak, kepikiran buat nikah lagi Not? Awakmu Iki iseh muda loh Le!"


Harjunot menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Kalau untuk saat ini sih, belum kepikiran sampai sana Bu. Bayangannya masih ada dibenak ku! Sejujurnya aku sendiri tidak yakin, apa aku bisa membuka hati lagi untuk perempuan lain. Apa ada perempuan sebaik Fitri?" Harjunot memasang helm dikepalainya.


"Kita tidak tahu kapan Tuhan, membolak-balikkan hati seseorang. Mungkin saat ini belum. Akan tetapi takdir Tuhan, tidak pernah bisa ditebak. Boleh jadi, satu tahun yang akan datang, atau satu bulan lagi, boleh juga seminggu yang akan datang. Bisa saja saat itu Tuhan, membolak-balikkan hatimu. Dan akhirnya kamu memutuskan untuk berumah tangga kembali. Kita enggak tahu loh Not!"


"Ya-ya! Doakan saja yang terbaik untuk putramu ini. Junot berangkat ya Bu!" ujarnya seraya mencium tangan Bu Dewi.


...***...


Harjunot melajukan motornya dengan kecepatan di atas rata-rata. Pagi itu dia harus menjemput perempuan, yang selalu mengingatkan status dia saat ini.


"Aku harus berdamai dengan perempuan itu. Bagaimana pun, aku lelah jika harus berdebat dengannya," gumam Harjunot.


"Aku tidak menyangka, jika putri Pak Dirut akan berubah seperti saat ini. Karena aku dia kehilangan ingatannya. Ya Tuhan, tolong kembalikan ingatannya kembali. Dulu dia sangat ceria, sopan! Tapi kenapa saat ini dia berubah sangat drastis. Apa yang harus aku lakukan." Harjunot bergumam sendiri.


Motor itu memasuki pekarangan rumah elit kawasan Jaksel. Harjunot turun dari motornya. Lelaki itu menyalakan klakson motornya.


...***...


Perempuan yang sedang ada di kamarnya mendengar suara klakson.


"Siapa sih!" gumamnya sambil berjalan kearah balkon. Arsy bisa melihat sosok laki-laki sedang bersandar di motor dan matanya menatap layar ponsel.


"Dia itu tidak punya sopan ya ternyata, kenapa harus nunggu di depan rumah," gerutu Arsy meninggalkan balkon.


"Ehem!" Dehaman dari samping membuat Harjunot memicingkan matanya.


Harjunot menghela nafas panjang, saat matanya disuguhi pemandangan yang mengundang gairah.


"Astagfirullah hal adzim!" Harjunot memalingkan wajahnya dan mengusapnya kasar.


Pagi itu Arsy memakai kemeja dipadukan dengan t-shirt dan celana levis sebatas paha.

__ADS_1


Arsy mengerucutkan bibirnya, tapi sedikit kemudian bibirnya tersenyum. Karena rencananya berhasil.


"Duda sok alim! Kenapa Anda memalingkan wajah? Pakai istighfar segala, apa Anda baru saja. Melakukan hal yang buruk? Atau Anda batu saja berzina mata?" Arsy tersenyum mengejek.


'Ya Tuhan, aku berpikir akan berdamai dengan perempuan ini. Tapi kenapa, dia malah menguji kesabaran ku. Bukan hanya kesabaran ku, yang diuji penglihatan ku juga ikut diuji olehnya' batin Harjunot. Lelaki itu terlihat kesal karena ulah putri sahabatnya.


"Apa Anda tidak mau mengganti pakaian Anda.Takutnya nanti kepanasan," ujar Harjunot sesantai mungkin. Dan matanya menatap kearah lain.


"Siapa Anda, kenapa Anda mengatur saya. Pacar bukan, teman bukan, suami apa lagi. Anda tidak berhak mengatur saya!" jawabnya datar.


Harjunot menggeleng pelan karena jawaban Arsy.


"Masalahnya sekarang Anda, sedang bersama saya. Kalau saya boleh jujur, saya keberatan dengan cara Anda berpenampilan!"


'Sabar Not, jangan ngegas. Semakin ngegas, dia semakin brutal' batin Harjunot mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri.


"Saya rasa, ini masih wajar. Banyak kok perempuan diluar sana yang berpakaian seperti ini. Anda, saja yang terlalu kuno. Jadi Anda tidak tahu tren fashion sekarang seperti apa!"


Harjunot hanya diam, enggan berdebat dengan Arsy. Apa lagi masih pagi, mending tenaganya. Ia simpan untuk nanti saat berkerja.


"Pakai helmnya! Bisa kan?" Harjunot menyodorkan helm itu kearah Arsy.


'Mobil pakai mogok segala lagi. Aku sangat risih, jika memboncengkan perempuan yang bukan mahram' batin Harjunot.


Selama menikah dengan Fitri, Harjunot menjadi pribadi yang lebih baru dan baik. Karena istrinya itu mengajari, ia tentang banyak hal. Termasuk bagaimana cara bersikap dengan lawan jenis.


Harjunot hanya mengangguk kemudian menyalakan motornya. Sambil menunggu Arsy memakai helm.


"Bu Guru, sudah belum pakai helmnya?"


Sedangkan Arsy berdecak kesal, karena dia tidak bisa mengaitkan pengamanan helm.


"Diam, saya sedang berusaha!"


"Dan, iya satu lagi. Jangan panggil saya dengan, panggilan Bu Guru! Karena saya bukan Gurumu! Masa murid sama Guru tuaan muridnya! Ah ... mungkin jika saya adalah seorang Guru. Anda adalah murid yang selalu tinggal kelas!" Arsy terkekeh mengejek.


"Huft!" Harjunot kembali membuang napas pelan. "Dia benar-benar lupa segalanya ternyata!" gumamnya pelan.


"Sudah belum?"


"Ini helm ngeselin kayak yang punya."


"Coba sini, saya yang pakaikan." ujar Harjunot terpaksa.


Arsy yang mendengar Harjunot bicara demikian. Dia memejamkan mata sambil memegang keningnya. Ada bayangan yang hampir sama melintas di benaknya.


"Siapa kedua orang itu, dan kenapa aku merasa. Jika hal ini pernah aku dengar sebelumnya! Apa ini film yang pernah aku lihat!" gumam Arsy.

__ADS_1


"Selesai, hanya butuh beberapa detik saja!"


Arsy tersadar saat Harajunot mengeluarkan suara.


...***...


"Ehem ... bisakah Anda tidak berpegangan perut saya?" Harjunot bertanya, sebenarnya lelaki itu Ingin marah. Tapi ia mencoba untuk santai, tujuannya hanya tidak ingin beradu mulut dengan Arsy.


"Tidak, saya takut jika Anda berkendara ugal-ugallan! Nanti saya jatuh, saya enggak mau mati muda!" ujar Arsy mengeratkan pelukannya. Sebenarnya itu adalah salah satu tujuan Arsy membuat Harjunot kesal.


'Permainan baru saja dimulai!' batin Arsy menyunggingkan senyuman.


'Tapi kenapa aku sepertinya pernah melakukan hal ini sebelumnya' batin Arsy saat memeluk perut Harjunot. Bayangan hitam-putih itu kembali memenuhi pikirannya.


"Saya akan mengendarai dengan pelan! Tapi saya mohon tangannya jangan seperti ini!" Harjunot mencoba melepaskan tangan Arsy yang memeluk perutnya.


Meskipun demikian Harjunot tidak bersentuhan kulit dengan Arsy. Karena lelaki itu memakai kaus tangan.


"Tidak ma-u!" Arsy menggeleng.


...***...


Harjunot yang sudah kehilangan kesabarannya. Dia mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi.


Arsy sangat terkejut membuat dia mengeratkan pelukannya. Dan menyandarkan kepalanya di pundak Harjunot.


"Jangan ugal-ugalan, saya takut!" teriak Arsy agar Harjunot mendengar.


"Sudah saya bilang, bukan! Jangan pegangan diperut, tapi Anda ngeyel banget!" Harjunot membalas teriakan dari Arsy.


"Sekarang terserah Anda, mau tetap pegangan diperut? Saya tambahin kecepatannya. Atau melepaskan pelukan ini. Saya kurangi kecepatannya," tawar Harjunot memberikan Arsy pilihan.


"Saya tidak yakin, jika saya pegangan diperut saja masih takut. Apalagi saat saya lepaskan, saya akan jatuh!"


"Anda boleh pegangan pundak saya, tapi jangan perut. Okey?"


Arsy kembali mengingat sesuatu saat Harjunot berbicara.


'Bayangan dua orang yang sedang mengendarai motor. Saat hujan, siapa lelaki dan perempuan itu?' batin Arsy dibuat bingung dengan semua pertanyaan yang ada dalam dirinya.


"Tidak! Nanti Anda membohongi saya!" Tolak Arsy mentah-mentah.


Harjunot menambah kecepatan montornya. Arsy semakin memeluknya erat.


"Huaaaaaa! Jangan ugal-ugalan saya takut huaaaaaa....." Arsy menagis ketakutan.


Harjunot yang merasakan ada sesuatu yang membasahi kemejanya. Ia mulai mengurangi laju motornya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2