Dia Istri Dalam Mimpi

Dia Istri Dalam Mimpi
Cihuyywit Meet Frist Time


__ADS_3

Dutt ...dutt ...dutt... Suara motor berhenti diperkarakan rumah. Harjunot melepaskan helmnya terlebih dahulu, sebelum mengecek alamat rumah itu.


"Ini benar, alamatnya!" Harjunot menatap rumah megah itu. Dia menengguk lidahnya dengan kasar. Bangunan megah itu, tidak terlalu megah dimata sang Mandor. Harjunot menengguk ludahnya karena teringat pesan Bu Dewi kepadanya. Cari istri yang derajatnya sama, jangan cari yang ada di atas mu.


"Huft ... tidak mungkin itu terjadi! Not! Itu hanya mim-pi! Jadi jangan baper. Not! Jadikan tujuan lu, kesini buat silahturahim. Jangan yang aneh-aneh!" Harjunot mengusap rambut depannya dengan kasar.


Harjunot mengambil nafas panjang, sebelum berjalan kearah pintu utama dari rumah megah itu.


"Huft!" Sebelum mengetuk pintu, Harjunot menarik nafasnya kemudian membuang pelan.


Tok ...tok ...Harjunot mengetuk pintu itu.


Tok ...tok ... Untuk yang kedua kalinya Harjunot mengetuk.


"Sudahlah pulang saja! Aku rasa ini tidak benar, semua itu hanya gara-gara aku ingin tahu tentang dia!" Harjunot membalikkan badannya ingin kembali ke motornya.


Belum juga Harjunot melangkahkan kakinya, pintu itu terbuka.


"Iya, cari siapa?" Suara perempuan, membuat Harjunot memutarkan badannya kearah pemilik suara. Harjunot menatap perempuan yang berdiri di ambang pintu itu. Dia tersenyum sebentar, sebelum menjawab. "Ah ... saya mencari Pak Dirut!" jawabannya Harjunot menunduk.


"Pak Dirut? Perusahaan yang bergerak di bidang Kontraktor?"


"Iya benar!" Harjunot mengangguk pelan.


"Paaa! Ada tamu nih!" teriak Kak Vi, sambil menengok kedalam rumah.


Harjunot mengerutkan keningnya saat perempuan, yang ada di depannya memanggil atasannya Papa.


'Ternyata mimpiku itu salah, dia anaknya Pak Dirut! Wajahnya tidak sama seperti orang yang ada di dalam mimpiku" batin Harjunot kecewa.


"Suruh masuk Vi!" sahut dari dalam.


"Masuklah!"


Harjunot hanya mengikuti dari belakang. Setelah sampai ruang tamu, Harjunot disuruh duduk untuk menunggu pemilik rumah.


...***...


Langit yang tadi duduk di sofa ruang keluarga. Dia berjalan kearah ruang tamu. Harjunot berdiri dari duduknya saat melihat paruh baya yang masih gagah dan sehat itu berjalan kearahnya. Hanya rambutnya yang memutih merata. Akan tapi hal itu membuat tampilan Langit lebih kece.


"Not! Kamu kesini?" tanya Langit, tidak percaya, mereka melakukan jabat tangan diiringi pelukan.


"Ah ... iya maaf! Enggak bilang dahulu!" ujar Harjunot, sambil meletakkan martabak yang ia beli.


"Iya-iya enggak apa-apa, ini kejutan besar! Ayo duduk lagi Not!" Langit mempersilahkan tamunya untuk duduk.


"Bunnn! Bikini minuman dua!" teriak Langit kepada istrinya. Di rumah mewah nan megah itu tidak ada pembantu rumah tangga. Semua Cahaya lakukan sendiri dengan menantunya. Kalau kadang rumah benar-benar kotor. Cahaya tinggal memesan seorang pelayan untuk membersihkan rumahnya.

__ADS_1


"Ada apa gerangan seorang Harjunot Ali, datang ke rumah ku?" tanya Langit, sambil memperbaiki posisinya.


"Saya hanya mau silahturahim saja. Kan saya kenal juga sudah lama, jadi kenapa saya enggak main-main ke rumah atasan saya!" Harjunot tersenyum tertahan.


"Ah ... itu bagus Not! Biar hubungan kita semakin dekat! Ngomong-ngomong ada proyek di Jakarta ya katanya?" tanya Langit menggerakkan kepalanya karena sakit.


"Benar, tadi saya sudah melakukan survei lapangan."


Seorang wanita paruh baya, dengan hijab syar'i nya berjalan, sambil membawa nampan berisi gelas. Harjunot yang melihat Cahaya, berjalan kearah mereka berdua. Dia berdiri sebagai penghormatan untuk yang lebih tua darinya.


Cahaya tersenyum ramah, sambil meletakkan gelas dimeja. Harjunot menyapa Cahaya dengan salam panjalu. Cahaya pun membalasnya dengan santun.


'Dia sangat santun, dia tidak mau melakukan jabat tangan dengan wanita' batin Cahaya kagum dengan sikap Harjunot.


"Dia istriku Not, dan dia seorang Mandor! Bun!" Langit memberi tahu kedua orang yang belum pernah bertemu sebelumnya .


"Ah ...iya salam kenal! Bunda izin dahulu ke dapur untuk menyiapkan makan malam!" ujar Cahaya, pamit kepada tamunya.


Harjunot pun duduk kembali.


"Bun! Ini martabak dari Harjunot! Papa sampai lupa!" teriak Langit, yang masih bisa melihat punggung istrinya.


Cahaya kembali lagi kearah suaminya untuk mengambil martabak yang Harjunot bawa.


"Taruh piring, dan jangan lupa kasih roti gandum buatan anakmu!" titah Langit kepada istrinya.


"Ah ... iya-iya tidak masalah Bu! Enggak usah repot-repot!"


"Wah ... Not! Kau tahu saja, jika istriku dan putraku menyukai martabak," puji Langit kepada Harjunot.


"Pasti Bunda, sudah makan martabak ini hayo ngaku!" tuduhan Langit untuk Cahaya.


Sedangkan Cahaya melotot karena suaminya membuatnya malu.


"Cuma nyoba Pa!"


"Nyoba itu cuma dikit, kalau satu potong namanya makan!" Langit masih sama seperti dahulu. Yang selalu suka menggoda istrinya.


"Ihh ... Papa suka gitu, malu-maluin Bunda!" ujarnya sambil meninggalkan mereka berdua.


"Not! Kau lihat kan bagaimana sikap istri terhadap suaminya. Nanti kalau kau sudah jadi suami, kau akan tahu rasanya!"


Harjunot hanya bisa menelan ludahnya dengan kasar.


"Kata orang istri itu harus sabar. Lah apa bedanya dengan suami, suami itu Not! Harus lebih sabar dari istrinya. Kalau istrinya merajuk atau marah dia harus sabar menasehati, sabar mendengarkan ocehannya, sabar menahan lisannya. Kalau istri mah gampang, kalau sedang marah mudah bilang cerai-cerai! Lah kita sebagai lelaki, sekali kita bilang cerai! Kelar sudah! Istri sudah tidak bisa digauli lagi. Berarti Not, dalam hubungan rumah tangga itu istri atau suami yang harus sabar, Not?" tanya Langit kepada Harjunot. Sedangkan lelaki itu, tidak tahu harus bicara apa.


"Sudahlah Not, kau selalu loading saat di ajak bahas beginian!" ujar Langit sambil minum teh hangat.

__ADS_1


"Makanlah! Ini roti buatan putriku! Aku yakin kau akan ketagihan!" Langit memuji putrinya didepan sahabat sekaligus bawahnya itu.


Harjunot pun mengambil nya kemudian memakannya. Baru juga, digigit belum dikunyah. Harjunot sudah mengangguk sebagai bentuk persetujuan.


'Aku tidak pernah makan roti gandum seenak ini' batin Harjunot terkesima dengan enaknya roti gandum yang ia makan.


...***...


Di depan rumah dua anak manusia baru saja turun dari sepeda listriknya. Mata perempuan itu, menatap motor warna hitam yang parkir depan rumahnya.


"Motor siapa tuh Ka?" tanya Arsy.


"Entahlah, mungkin motor Papa?" jawab Kafka yang memasukkan sepada listriknya.


"Enggak mungkin, masa Papa, beli motor kayak gini!" ujar Arsy, yang sudah ada di samping motor Kawasaki.


"Brem ...brem..." Arsy bersuara seperti bunyi motor. Sambil memegang gas motor itu.


"Dasar katrok! Enggak pernah naik motor Kawasaki. Oh ...ya lupa kan tranportasi yang Ayi, pakai saat kuliah beruang!" Kafka mengejek Kakak perempuannya itu.


"Biarkan, dari pada situ enggak pernah kan naik beruang?"


"Emang rasanya gimana Yi?"


"Pengen tahu?" tanya Arsy, yang bikin Kafka penasaran.


"Sini!" Arsy menyuruh adiknya mendekat. Kafka pun mendekat seperti apa yang Arsy inginkan.


Hub...


"Nah, kayak gini rasanya saat naik beruang!" ujar Arsy yang sudah ada di gendongan Kafka.


"Ayiii! Turun, enggak?" ujar Kafka, yang sebal karena ulah Kakaknya.


"Ayo Adikku, yang tampan! Tinggi badannya ideal. Kakak hanya minta digendong olehmu." Arsy tidak mau turun dari gendongan adiknya.


"Kalau ada maunya baru manggil Adik!" cibir Kafka sambil memperbaiki posisi Kakaknya agar seimbang saat digendong.


"Ka! Umurmu baru dua belas, kenapa umurmu sudah seperti anak remaja sembilan belas?" tanya Arsy yang ada di gendongan adiknya.


"Apa gunanya Abang, selalu melatihku. Jika tidak membuat otot dan meninggikan badan!" jawab Kafka yang terus berjalan kearah pintu utama.


"Kakak kelas mu saja kalah dengan mu. Orang berpikir jika kau itu sudah SMA! Jika melihat dari fisik mu, tapi mereka tidak tahu jika kau, masuk dibawah umur!" ujarnya, sedikit memberikan ciuman di pipi Kafka. Membuat Kafka mendelik tidak suka.


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh!" ujar dari pintu utama. Yang terdengar sampai ruang tamu. Harjunot menengokkan badannya kebelakang. Agar bisa melihat siapa yang mengucapkan salam itu.


...***...

__ADS_1


__ADS_2