
Arsy segera menyeka air mata dengan kedua tangannya. Yang akan meluncur di pipinya. Dia mendongakkan wajahnya menatap langit biru.
'Astagfirullah! Kenapa harus menagis mereka adalah suami-istri tentunya itu hal wajar. Bahkan lebih dari itu saja bisa!' batin Arsy memejamkan matanya.
"Ehem!" Dehaman seseorang membuat Arsy membuka matanya.
"Rasyu!" Arsy nampak kaget karena Rasya sudah ada disampingnya. Pemuda itu memasukkan kedua tangannya disaku.
"Kenapa?" Rasya melirik kearah Arsy.
"Tidak! Kamu kenapa bisa ada disini?" tanya Arsy menatap sahabatnya.
"Apa gua enggak salah dengar. Lu manggil kamu?" Rasya menunjuk wajah Arsy dengan telunjuk.
"Emang kenapa? Kadangkala bukannya aku menggunakan panggilan aku kamu?" Arsy menatap jalanan yang silih ganti melintas.
Rasya mengangkat kedua bahunya acuh.
Mereka saling terdiam, mereka berkutat dengan pikirannya sendiri.
"Kamu!" Kedua orang itu berbicara serempak. Membuat mereka menertawakan apa yang baru saja terjadi.
"Yasudah kamu dulu!" Rasya memberikan pendapat.
"Kenapa kesini? Bukannya tadi sedang bercengkrama dengan anak-anak?"
"Oh ... emang kenapa! Sebenarnya aku tadi lihat kamu naik tangga. Jadi aku mengikuti, Tiffu apa ada masalah?" Rasya memegang kedua bahu Arsy untuk berhadapan dengannya.
Arsy mendongakkan wajahnya untuk menatap mata sahabatnya itu. Rasya menatap mata Arsy yang sendu, membuat ia beranggapan. Jika tembakkannya benar.
"Kepo!" Arsy menusukkan telunjuknya di pinggang Rasya.
"Geli Tiffu!" Rasya menjauh dari sahabatnya. Sedangkan Arsy mendekati Rasya sambil tertawa ngakak.
"Rasya jangan lari!" ujarnya sambil mengejar Rasya.
"Hahahaha!" Rasya tertawa kegelian sampai menitihkan air mata.
Setelah dua menit becanda mereka kembali diam. Berdiri di atas gedung lima lantai hanya berdua adalah hal menyenangkan bagi mereka. Rasya melirik kearah Arsy. Rambut ikal nan pirang itu berterbangan. Pemuda itu tersenyum tipis melihatnya.
"Tiffu!"
"Hmmm!"
"Enggak mau cerita masalahmu dengan ku?"
"Kenapa kau berpikir seperti itu? Jika aku ingin masalahku selesai mudah saja." Arsy menyilang kan kedua tangannya dan mengelus lengannya sendiri.
"Beneran?"
"Gampang Sya! Aku tinggal melompat dari gedung ini. Masalahku akan selesai!" Rasya yang mendengar jawaban Arsy. Membungkam mulut Arsy dengan cepat.
"Jangan bicara sembarangan kamu! Apa kamu pikir dengan terjun dari sini. Kamu akan bebas dari masalah hem? Kalau kamu terjun, tapi Tuhan! Masih memberikan kamu nafas. Bukanya kamu tambah tersiksa?"
__ADS_1
"Keluargamu! Papamu akan tersiksa. Yang ada hanya ngrepoti orang lain. Terus kalau Tuhan, mencabut nyawamu diwaktu itu juga. Emang kamu sudah punya jawaban nanti saat Tuhan, bertanya padamu? Kenapa bunuh diri hem?"
"Terus apa kamu akan lolos dari malaikat yang berjaga di kuburan hem?"
"Katakan?"
"Apa yang kamu dapatkan? Yang ada kamu jadi orang yang paling rugi di dunia ini dan diakhirat nanti!" Kedua mata mereka saling menatap.
"Hey ... sepertinya kamu suka banget aku peluk Yi!"
"Sialan lu, enggak gitu ya Sya! Jangan lari Sya, tanggung jawab!" Arsy mengejar sahabatnya itu.
"Emang aku ngapain kamu?" Rasya berhenti dari larinya agar Arsy berjalan disampingnya.
"Kau sudah bikin aku malu!" Arsy memukul pundak Rasya.
"Oh ... karena itu!" jawabannya datar.
"Resek banget kau!" Arsy meloncat ingin memukul kepala Rasya. Tapi dengan sigap Rasya memegang tangan Arsy. Dan memutarkan tangannya. Arsy memutarkan badannya. Bak pasangan yang sedang berdansa. Setelah itu badan Arsy menabrak dada Rasya.
"Rasya nyebelin banget!" Arsy mendorong tubuh Rasya kuat-kuat.
"Biarin Wek!" ujar Rasya menunduk membuat wajahnya lebih dekat dengan wajah sahabatnya. Arsy yang terkejut karena wajahnya sangat dekat, ia mengangkat tangannya.
Plakkkk!
"Awwww!" pekik Rasya sambil memegangi pipinya yang panas karena tamparan Arsy.
"Sialan kenapa lu nampar gua?" tenyanya dengan heran.
"Bilang apa Hem?" Rasya mencubit hidung Arsy. Membuat perempuan itu susah bernafas.
"Rasyu emmm, lepasin!" Tangannya memukul pergelangan tangan Rasya.
"Biarin Wak!" Rasya sepertinya menikmati menggoda Arsy dipagi hari.
"Rasyuuu ... aku mohon lepaskan!"
"Emmm!" Rasya menggeleng sambil menggerakkan jari telunjuknya.
"Rasya, nanti kalau anak-anak lihat gimana?" Arsy bicara sedikit tertatih karena Rasya tidak mau melepaskan tangannya di hidungnya.
"Satu syarat!"
"Baiklah, apa pun akan aku lakukan. Asalkan lepaskan oke!"
Rasya melepaskan hidung Arsy yang tadi ia cubit. Arsy menggosok hidungnya yang ada bekas merah.
"Hey ... mau kemana Hem?" Rasya mencekal pergelangan tangan Arsy.
"Apalagi?" Arsy membalikkan badannya langsung berhadapan dengan Rasya.
"Syarat aku melepaskan dirimu. Adalah ...kau harus menuruti keinginanku!"
__ADS_1
"Ck! Dasar perjaka tua! Masih ingat saja!" cibir Arsy yang membuat Rasya melotot.
"Enak saja, dibilang perjaka tua. Mpok Nur, Anda tidak lihat wajah saya masih baby face umur saya masih dua delapan. Camkan itu berapa?"
"Delapan dua!" Arsy terkekeh karena jawabannya.
"Maklum udah tua, jadi orang bilang apa jawaban apa. Tuli nih orang!" Rasya meninggalkan Arsy yang masih terkekeh.
"Rasyu kau mau apa? Akan aku turuti!" Arsy menatap punggung Rasya.
Sedangkan Rasya yang mendengar langsung membalikkan badannya.
"Aku ingin mengajakmu dinner together!"
Arsy terdiam karena ucapan Rasya barusan.
"Jangan ngarep aku ajak candle light dinner!" Rasya membalikkan badannya sambil memasukkan kedua tangannya di saku.
"Ogah banget, candle light dinner sama perjaka tua! Kayak lu," maki Arsy yang mengikuti Rasya dari belakang.
Rasya yang dimaki membalikkan badannya dan membuat Arsy menatap badannya.
"Rasyuuu! Kalau berhenti bilang dong! Kepalaku sakit tahu!" ujarnya sambil memegang pelipisnya.
"Bilang apa kau tadi?" Rasya menatap Arsy tajam.
"Apa?"
"Tadi kau panggil aku apa?"
"Oh ...itu! Perjaka tua haha!" Arsy menutup mulutnya.
"Ku doakan kau jadi!" Rasya berjalan mendekati Arsy. Dan membisikkan sesuatu. "Prawan tua!" Seketika Arsy mendorong tubuh Rasya dengan keras.
"Stttt! Diam! Pikirkanlah bagaimana cara kita izin ke Papa! Perjaka tua!" Arsy menepuk pundak Rasya.
"Iya! Aku lupa!" Rasya memukul jidatnya sendiri.
"Bagaimana aku melupakan hal penting ini. Pasti Om Langit, tidak akan mudah untuk dibujuk. Apalagi mengenai anak perempuan yang tua ini!"
"Pikirkanlah Rasyu, aku juga ingin keluar. Aku ingin bebas, bebas dari permasalahan! Aku ingin bebas! Aku ingin bebas!" Arsy memutarkan badannya sambil merentangkan kedua tangannya.
'Aneh sekali! Kenapa aku merasa kamu sedang ada masalah Tiffu. Apa masalahmu begitu berat, sampai akal sehatmu sedikit berkurang' batin Rasya melihat tingkah sahabatnya yang seperti anak kecil.
...***...
Kini Arsy telah berdiri diaula sekolahan. Pihak sekolahan mengadakan lomba menyanyi untuk memperingati hari jadi berdirinya sekolahan. Arsy menikmati setiap alunan lagu yang dinyanyikan oleh perwakilan antar kelas. Meskipun ia tidak tahu lirik dan siapa penciptanya. Ia tetap menikmati lagu itu untuk menghibur hatinya yang sedang gundah gulana. Kedatangan Rasya tadi membuat dia lupa dengan masalah percintaannya yang begitu menyakitinya. Hingga tibalah seorang juri mengumumkan bahwa Kelas Vll A akan bernyanyi.
Arsy tidak percaya jika adiknya sudah berdiri dikursi sambil memegang gitar serta mikrofon yang sudah disediakan oleh dewan Guru.
Kafka dan dua temannya meyapa seluruh dewan Guru. Arsy mulai mendengar suara adiknya. Lirik lagunya ia resapi sedikit demi sedikit. Membuat hatinya seperti dihantam puluhan peluru. Air matanya tak terbendung lagi. Arsy segera menghapusnya. Agar tidak ada yang melihat. Mata Kafka tertuju kepada Kakaknya. Sebenarnya lagu itu adalah lagu yang ia pilih. Lagu yang menceritakan bagaimana keadaan Kakaknya itu.
"Tak pantas ku bersanding dengannya."
__ADS_1
"Kan ku terima dengan lapang dada. Aku bukan jodohnya!"
...***...