
Harjunot meletakkan ponselnya dikepala ranjang. Sedangkan dia duduk bersila sambil memangku kedua buah hatinya. Lima menit yang lalu baby Kai terbangun untungnya enggak rewel. Layar ponsel Harjunot berubah menjadi panggilan tersambung. Lelaki itu bisa melihat sosok perempuan dengan wajah seperti orang baru bangun, menguap pula.
"Baru bangun?" tanya Harjunot menatap wajah Arsy sekilas. Dan mengalihkan pandangannya kemainan baby Kai yang jatuh. Lelaki itu segera mengambilnya dan memberikan ke putranya.
Yang ditanya tidak cepat menjawab.
"Kamu marah? Karena tadi malam, saya tinggal tidur?" Harjunot bertanya kembali.
Arsy memasang wajah malas, perempuan itu hanya memutarkan bola matanya saja.
"Aoo ...Aoo!" Baby Bell bersuara tangannya mengisaratkan ingin mengambil ponsel milik Abinya.
"Iya! Tante Ayi, marah Sayang! Karena waktu cerita, Abi tinggal tidur!" ujar Harjunot berbicara dengan putrinya. Akan tetapi tujuannya untuk sang tunangan, yang tidak mau bicara dengannya.
"Kamu itu kalau marah, atau sedang kesal dengan seseorang. Jangan langsung ngeblock. Kalau kamu blokir semua akun kontaknya. Bagaimana orang itu bisa ngehubungi kamu.Gimana pula cara dia ngejelasin ke kamu! Saya harap hal seperti ini tidak pernah terulang!" ujar Harjunot menasehati calon istrinya.
Sedangkan yang dinasehati terkesan bodoh amat. Menganggap nasehat yang Harjunot berikan hanya angin lalu.
Harjunot membuang napas pelan, melihat tunangannya masih kesal dengannya.
"Ya sudah, saya minta maaf! Maaf karena tadi malam enggak dengerin kamu cerita! Jangan marah dong, nanti saya kepikiran karena kamu masih marah sama saya!" Harjunot mengalah agar tunangannya tidak marah dengannya.
"Jangan bikin saya tambah tersiksa, hari ini saya tersiksa karena harus ninggalin si kembar untuk ke Kalimantan! Terus masa kamu tega sih, bikin saya tambah tersiksa karena kesalahan semalam!" Harjunot benar-benar dibuat tunangannya merasa salah besar. Karena kejadian semalam.
"Kenapa enggak ngasih tahu kalau mau ke Kalimantan? Urusan kerja, berapa hari?" tanya Arsy terkejut, Harjunot yang melihat hal itu hanya mampu mengelumkan senyumannya.
"Emmm ... gimana saya ngasih tahu! Jika tadi malam kita bahas arti nama kita!" Harjunot menatap anaknya yang tertawa karena melihat gambar Arsy.
"Terus kapan balik? Kita nikah tinggal beberapa Minggu lagi loh Enjun!"
"Paling semingguan sudah balik, cuma survei lapangan saja!"
"Terus kamu berangkat kapan?" Arsy berharap jika tunangannya, berangkat sehari lagi. Mungkin saja dia dan tunangannya bisa kencan dahulu sebelum si tunangan jauh darinya. Hitung-hitung jadi kenangan saat tunangannya tak ada didekatnya.
"Tadi kan sudah saya bilang hari ini," jawab Harjunot dengan nada ditekan. Ternyata Arsy tidak terlalu nyimak ucapannya pikir Harjunot.
"Ya-ya aku tadi enggak konek, jadi ya harap maklum!" Arsy mengerucutkan bibirnya.
"Emmmma!" Beby Kai menengadahkan kepalanya untuk menatap wajah Abinya. Harjunot menatap wajah putranya dan mengangguk.
"Pagi, Sayang!" Arsy melambaikan tangannya. Kedua bayi itu nampak kesenangan.
__ADS_1
"Pagi juga!" jawab Harjunot kalem.
Arsy yang mendengar jawaban itu memutarkan bola matanya.
"Aku tidak menyapamu! Dan siapa juga yang memanggilmu dengan, panggilan Sayang?" cetus Arsy.
"Saya membantu si kembar untuk menjawabi, sapaan kamu!"
Arsy memasang muka kesal kembali.
Harjunot hanya bisa menggeleng-geleng kepalanya.
"Kalau kamu sudah jadi istri saya nanti. Saat kamu marah, kamu mau diapakan?" tanya Harjunot terkekeh, melihat ekspresi Arsy yang melongo.
"Ada dua yang akan saya lakuin, pertama mencubit hidungmu!"
Arsy segera memotong ucapan Harjunot.
"Belum apa-apa sudah, main tangan! Dasar!" kesal Arsy
"Siapa yang main tangan? Saya main jempol sama telunjuk doang!" Mimik wajah Harjunot nampak santai.
"Aelah itu namanya KDRT!"
"Kekerasan dalam rumah tangga! Masa enggak tahu! Lihat anak-anak, Abi tidak tahu kepanjangannya KDRT! Kalian harus pintar seperti aku ya!" Arsy berbicara kepada si kembar yang hanya bisa memasukkan kepalan tangan di mulut.
"Auu ...Auu!" si kembar menjawabi.
"KDRT bagi saya beda!"
"Maksudnya?" Kerutan di dahi Arsy nampak jelas.
"Kamu Dapat Rasa Tayang Dariku!"
Sontak saja Arsy langsung menutup wajahnya karena malu.
Keduanya seperti seseorang yang sedang mengalami masa pubertas. Bagi Harjunot ini adalah masa puber kedua. Sedangkan bagi Arsy hal seperti ini menjadi masa puber yang tercancel. Karena mengalami amnesia, disaat dia baru tertarik dengan lawan jenis.
"KDRTD jadinya Enjun!"
"Ya mau KDRT/KDRTD yang penting Tayang kan?" Harjunot tidak sadar, jika yang ia lakukan itu termasuk dosa. Sepertinya lelaki itu di provokasi oleh saiytan.
__ADS_1
"Hem ... hehehe!" tawa baby Bell membuat Arsy semakin malu. Karena tertangkap basah sedang edisi pacaran dengan Abi Harjunot.
"Enggak, aku enggak mau! Dicubit! Kalau saya kehilangan napas bagaimana?"
"Ya sudah cara kedua!"
"Cara kedua?"
"Ya, saya akan nyanyikan lagu khusus untuk kamu!"
"Ha?"
"Dengerin ya!"
Dengan tidak sadarkan Arsy mengangguk menyetujui.
"Ayi jangan marah-marah takut nanti kamu lekas tua."
Saat Harjunot menyanyi tangan baby Kai memukul bibirnya. Seolah tak suka jika Abinya bilang Arsy tua.
"Abi setia orangnya tak kan pernah mendua!"
Arsy tertawa lebar saat mendengar lirik lagu yang Harjunot nyanyikan.
"Lebih tepatnya ini lagu kalau kamu sedang cemburu. Kalau kamu kesal tanpa alasan cubitan dihidung adalah sebuah keharusan!" Harjunot tersenyum lebar karena mendapatkan. Cara untuk membuat istrinya tertawa.
Arsy mengetikan tawanya, perempuan itu tidak percaya. Jika calon suaminya termasuk tipe lelaki romantis tapi ada toping narsis-narsisnya juga.
"Cemburu kan tanda cinta! Emang kamu yakin, saya cinta sama kamu?" Arsy menyunggingkan senyumannya.
"Coba ulangi, sesudah kata yakin! Kamu bilang apa?" pinta Harjunot.
"Saya cinta sama kamu!" jawab Arsy yang belum sadar dengan ucapannya. Setelah tiga detik, sel saraf otaknya terkoneksi. Perempuan itu menutup mulutnya.
Harjunot tertawa renyah karena berhasil menjebak Arsy. Tawanya yang menggelegar diruangan kamarnya. Membuat si baby Bell kaget dan menangis.
"Ehek ...ehek ... Huaaaaaa!" jerit baby Bell.
"Oh ... anak Abi yang cantik! Jangan nangis Sayang!" ujar Harjunot berusaha menenangkan anaknya. Lelaki itu menggoyang pahanya yang diatasnya ada baby Bell, agar tidak menangis.
Arsy yang melihat hal itu ingin tertawa karena reaksi baby Bell yang takut dengan tawa Abinya sendiri. Akan tetapi melihat Harjunot yang kuwalahan, dia merasa iba.
__ADS_1
"Ade, jangan nagis Sayang!" Arsy melambaikan tangannya berharap si baby Bell melihatnya.
"Ya sudah kita akhiri panggilan ini, toh jam sepuluh saya juga harus berangkat ke bandara! Jaga kesehatan oke!"