
Perempuan itu baru saja keluar dari taksi.
"Terima kasih ya Pak!"
Setelah itu dia membalikkan badannya. Matanya terbelalak tatkala melihat batu bata itu terjun bebas dari atas bangunan. Dan dibawahnya ada seseorang yang ia kenal.
"Awas!" Arsy berteriak akan tetapi teriakan itu tidak mendapat sahutan.
Arsy berlari menuju orang yang ia kenal. Dia tidak mau jika lelaki itu kenapa-napa.
"Harjunot awass!" teriakannya membuat lelaki itu membalikkan badannya. Kearah suara yang baru saja memanggilnya.
Arsy langsung mendorong tubuh milik Harjunot agar tidak tertimpa batu bata yang terjun bebas.
Bruk!!! Awwww! Pandangan mulai kabur, Arsy memegangi kepalanya yang terasa sakit. Perlahan tubuh itu ingin ambruk begitu saja. Harjunot yang tersungkur di tanah karena Arsy mendorongnya tadi. Lelaki itu dengan cepat bangkit dari tersungkurnya. Dengan gerakan cepat lelaki itu menahan tubuh perempuan yang tadi menyelamatkannya.
"Bu Guru! Bu Guru!" Harjunot menepuk pipi Arsy.
Arsy masih bisa mendengar papanggilan Harjunot. Perempuan itu mencoba untuk membuka matanya. Arsy bisa melihat wajah Harjunot samar-samar.
"Bu Guru, yang kuat! Saya yakin Anda tidak akan kenapa-napa!" Harjunot tampak khawatir dengan perempuan yang tidur dipangkunya itu.
Tangan Arsy terangkat, perempuan itu tersenyum kearah Harjunot. Kemudian mengusap pipi lelaki yang ia cintai.
"Sa-ya!" Arsy menahan perkataannya, yang membuat Harjunot penasaran.
"Saya apa Bu?"
"Sa-ya men-cintai An-da!" Harjunot membulatkan matanya. Tubuhnya seakan lemas karena peryataan yang ia dengar barusan.
Arsy menutup matanya rapat setelah mengatakan perasaannya.
"Bu Guru! Bu Guru bangun Bu!" Harjunot menepuk pipi Arsy. Kemudian membenamkan kepala Arsy di dadanya. Entah mengapa air matanya meleleh begitu saja. Setelah mendengar pernyataan Arsy barusan. Tanpa ia sadari, bibirnya mencium kening perempuan yang ada di pelukannya itu.
Seluruh anak buah Harjunot berlarian mendekati sang Mandor.
...***...
"Mas Arjunot!"
Harjunot mendongakkan kepalanya saat mendengar suara yang familiar di telinganya.
"Fit!" pekik Harjunot saat melihat istrinya ada di sana.
Lelaki itu takut jika istrinya mendengar perkataan Arsy.
"Kenapa dia Mas?" Fitri berjongkok.
__ADS_1
"Dia telah menyelamatkanku! Kepalanya tertimpa batu bata!" ujarnya sambil menatap wajah milik Arsy.
"Astagfirullah! Mas segera kita bawa ke RS!"
Harjunot mengagukk setuju, lelaki itu menggendong tubuh Arsy kearah mobil.
...***...
Setelah hampir lima belas menit perjalanan akhirnya mereka sampai.
"Dokter! Dokter tolong saya!" Harjunot berteriak sambil menggendong Arsy.
Dengan cepat para tenaga medis itu membantu Harjunot. Arsy sudah ada diruang UGD.
Harjunot mengusap kepalanya kasar. Lelaki itu mondar-mandir karena risau.
"Fit!"
"Iya, Mas?"
"Tolong hubungi Pak Dirut!" perintahnya.
Fitri mengangguk kemudian meninggalkan suaminya.
Harjunot memutuskan untuk duduk di kursi. Lelaki itu memejamkan matanya, perkataan Arsy berputar dibenaknya. Sungguh dadanya sangat sesak. Selama dua bulan ini Harjunot mencoba melupakan Arsy.
Harjunot menatap seorang paruh baya berjalan dengan tergopoh-gopoh kearahnya. Ia pun dengan cepat berdiri dari duduknya.
"Pak Dirut! Saya minta maaf karena saya!" Harjunot bertekuk lutut di hadapan Langit.
Langit terdiam, paruh baya itu benar-benar khawatir dengan putrinya.
"Maaf aku ingin bertemu dengan putriku!" ujarnya kepada Dokter yang baru saja keluar dan menutup pintu.
"Baiklah tapi sebentar saja ya Pak!" Belum juga Langit melangkah kakinya. Ada suara yang memanggilnya.
"Pa! Ayi hiks!" Cahaya menangis sambil memeluk suaminya.
"Tenanglah Bun! Mari kita lihat dia!"
"Bunda enggak sanggup Pa!" Cahaya menggeleng sambil mengelap pipinya karena air mata.
"Ada aku bersamamu!" Langit merengkuh tubuh istrinya untuk masuk ke ruangan.
...***...
Harjunot menatap punggung atasannya dengan nanar. Bagaimana tidak jika atasannya tidak mau bicara dengannya.
__ADS_1
"Mas Arjunot!" Fitri baru saja kembali setelah membeli air untuk suaminya.
"Fitri!" Harjunot bangkit dari bersimpuh. Kemudian duduk di samping istrinya.
"Minumlah!"
Harjunot menerimanya dan meminum air itu. Suara pintu terbuka kedua paruh baya itu keluar.
Segera Harjunot mendekati paruh baya itu. Langit menatap Harjunot, dan berkata. " Ini bukan salahmu Not! Jadi jangan menyalakan diri sendiri. Ini adalah kecelakaan!"
Harjunot tidak percaya jika atasannya tidak memiliki dendam padanya.
"Kata Dokter, Ayi akan dirujuk ke luar negeri! Karena benturan di kepalanya sangat fatal!" Cahaya bersuara sambil menyeka air matanya.
Harjunot dan istrinya terbelalak karena pernyataan itu.
...***...
"Bang! Bagaimana keadaan Ayi?" Balck berlari kearah Langit.
"Kemungkinan besar dia akan amnesia! Dokter menyarankan kita untuk merujuk pengobatan ini ke Roterdam!" Langit terduduk tak berdaya.
'Terima kasih Tuhan! Aku hanya berdoa dengan amnesianya Ayi. Dia lupa dengan cinta pertamanya. Aku tidak mau hatinya terluka' batin Kafka yang duduk di samping Bundanya. (Anjai)
"Kang Mas! Kak Arche ada di sana, pasti dia tidak keberatan. Jika Kang Mas, menitipkan padanya!" Archer bersuara.
"Benar Bang, nanti ini Abang sama Teteh ikut Ayi! Dan singgahlah di sana. Dan minta Arche untuk diajak gantian menjaga Ayi!" Black menimpali ucapan istrinya.
"Kerjaan ku banyak Black!" Langit juga harus profesional sebagai seorang yang memiliki jabatan tinggi di kantor.
"Untuk seminggu ini, aku akan menghandle nya. Abang temani Teteh, dulu di sana. Setelah satu Minggu, Abang bisa kembali!"
"Terus Kafka?" Cahaya bertanya.
"Kaka biar nginap di rumah kami! Setelah Gibril selesai mengurusi bisnisnya. Biar Vi, yang merawatnya!"
...***...
Ting! SMS masuk di ponsel Langit, paruh baya itu terkejut. Saat mendapat pemberitahuan ada transferan masuk kedalam rekeningnya.
"Not! Kenapa kamu mentransfer uang sebanyak ini. Ke rekening ku!" Langit memandang sahabatnya itu.
"Saya tidak tahu harus bagaimana! Jika saya bilang, itu bentuk pertanggungjawaban saya. Rasanya itu tak sebanding dengan pengorbanan yang putri Anda lakukan. Dan jika saya lepas tangan, saya terlihat seperti orang lepas tanggung jawab!"
"Tapi Not! Kamu sekarang sudah menjadi kepala keluarga. Kamu juga perlu menafkahi istrimu. Kalau uang kamu buat biaya putriku, terus kalian gimana?" Langit tahu kisaran gaji mandor tidak seberapa dibandingkan dengan gajinya sebagai Dirut.
"Jangan khawatir, insyaallah kami masih bisa makan. Dan tolong diterima, Fitri juga sudah setuju jika uang itu buat biaya putri Anda!"
__ADS_1
...***...