Dia Istri Dalam Mimpi

Dia Istri Dalam Mimpi
Namanya Rasyu


__ADS_3

Hari ini kali kedua Arsy mengajar, jam pertama ada dikelas VII A. Setelah itu kelas Vlll A. Arsy masuk kedalam lift khusus Guru.


"Papa! Ngapain sih pakai nyuruh aku nganterin ini kue!" gerutu Arsy, sambil menatap kotak wadah kue.


"Gara-gara dia, aku tidak bisa tidur. Sampai-sampai aku mimpi hujan-hujanan dengannya!" Arsy mengingat kejadian tadi malam, bagaimana mungkin dia tidak ingat. Gara-gara mimpi Harjunot, dia hampir telat tahajud.


"Huft!" Arsy membuang napas pelan, kemudian keluar dari lift.


Belum juga masuk kedalam kantor. Arsy mendengar panggilan dari si Puput.


"Baybik!" Puput tersenyum didepan pintu kantor, anak itu menunggu Arsy datang.


"Hay cantik!' Arsy mengelus rambut keriting Puput.


"Baybik! Putput un-gu dali tadi api beyum atang ugak!" Puput memeluk kaki milik Arsy yang tertutup rok span sampai betis. Papa tidak suka, jika putrinya memakai rok pendek. Jadi Arsy harus beli baju dinasnya di online shop.


"Ah ... benarkah?" tanya Arsy menyamakan tinggi badannya dengan Puput.


"Suell!" ujar Puput, sambil memperlihatkan jari telunjuk dan jari tengah.


Arsy tersenyum karena ulah Puput, yang menggemaskan.


"Tahu dari siapa? Kalau suwerr itu begini?" Arsy menirukan jari-jemarinya si Puput.


"Tata Tenanga!"


"Oh!" Arsy mengangguk.


"Baybik! Putput boyeh minta endong?" Puput bertanya, sambil merentangkan kedua tangannya.


Arsy nampak berpikir sejenak, karena dia juga membawa kotak makanan.


"Baiklah ayo, Baybik gendongan!" ujar Arsy, sambil mendekap tubuh Puput dengan tangan kanan, sedangkan tangan sebelah kiri, ia gunakan buat memegang kotak makanan.


"Satu-dua-ti–"Arsy bicara sambil mengangkat Puput.


"Ga!" ujar Puput, yang tersenyum lebar karena sudah digendong Arsy.


Arsy berjalan kedalam kantor, dan di sana sudah ada beberapa Guru yang masuk.


"Pagi Bu! Pak!" Arsy menyapa ramah sambil jalan ke kursinya. Semua Guru yang ada di sana hanya mengangguk dan tersenyum. Setelah Arsy, sampai ditempat duduknya dia mendudukkan Puput di mejanya. Kemudian Arsy meletakkan kotak makan dimeja nya.


"Apa ini?" Puput menunjuk kotak makanan itu.


"Itu, kotak makanan!" jawab Arsy yang duduk di kursi. Sedangkan Puput, masih duduk di atas meja.


"Putput au! Api incinya apa?" Arsy sangat gemas dengan Puput.


"Isinya roti gandum!"


"Putput oyeh inta?" tanyanya yang semula menatap kearah kotak makanan, menjadi kearah Arsy.


Arsy berpikir sejenak, dia harus apa. Masalahnya itukan buat teman Papanya.


"Baiklah! Ini bukan punya Baybik!" ujar Arsy memberi tahu, sambil membuka tutup kotak itu. Dan mengambil roti itu untuk Puput.


"Telus unya siapa? Kayo endak unya Baybik!" Puput bicara sambil makan roti gandum itu.


"Sebenarnya ini punya, teman Papanya! Baybik!"


Puput mengangguk-anggukkan kepalanya.


Setelah roti yang ada di tangan Puput habis, anak perempuan itu bicara kepada Arsy. "Baybik! Au oleh inta agi?"

__ADS_1


Arsy nampak berpikir sejenak, kemudian membuka tutup kotak itu. Dan memberikan satu potong untuk si keriting.


"Maacih!" Puput tersenyum memperlihatkan giginya yang coklat. Karena bekas roti yang tadi ia makan.


Arsy sangat takut, jika si keriting minta roti itu lagi.


"Put! Ayo ikut Ayco!" ujar Abidco, yang berjalan menuju anaknya.


"Temana?" tanya Puput memutar tubuhnya untuk melihat Ayahnya.


"Bertemu Kakak-kakak pembina Pramuka!" ujarnya Abidco, sambil mengangkat anaknya yang duduk di atas meja.


"Hoye! Belati tetemu Tatak Beng-beng dong?" Puput nampak girang saat diajak bertemu anak Pramuka.


"Iya!" Setelah itu Abidco mengangguk kearah Arsy, kemudian berjalan keluar kantor.


...***...


Jam menunjukkan pukul setengah delapan, semua guru sudah pada masuk untuk mengajar.


Arsy keluar dari ruangan kelas VII A. Karena jam kedua Arsy mengajar di kelas Vlll A. Dua jam sudah Arsy mengajar, perempuan itu keluar dari kelas Vlll A. Arsy memasuki lift untuk ke lantai lima. Perempuan itu keluar dari lift dan berjalan masuk kantor. Hanya ada satu dua Guru yang ada didalam kantor itu. Arsy duduk di tempat duduknya. Sambil menatap layar ponselnya.


Seorang pemuda yang kira-kira umurnya terpaut lima tahun, lebih tua dari Arsy. Berjalan kearah Arsy dan duduk di depan meja Arsy.


"Ehem!" Pemuda itu terbatuk-batuk.


Arsy yang mendengar suara orang berdeham, dia mendongakkan kepalanya.


"Rasyu!" Arsy terkejut saat melihat temannya itu.


"Rasyu!" Rasya menirukan Arsy berbicara.


Sambil memonyongkan bibirnya.


"Hahaha!" Rasya tertawa kecil sambil menggeleng.


"Sudahlah, ini tempat duduk mu?" tanya Arsy yang duduk dibelakang Rasya.


"Hoho iya-iya lah, masa tempat duduk orang lain!" Rasya bersandar di tembok, sedangkan matanya menatap Arsy.


"Masih sama, seperti waktu sekolah dasar dulu!" ujar Arsy.


"Apanya?"


"Nyebelin nya!" Arsy tertawa kecil.


"Kok kalian akrab banget?" Sandra baru datang main ikut dalam pembicaraan.


"Tetanggaan kita waktu di Singapura!" Arsy bicara sambil menatap Sandra.


"Ternyata kalian pernah tinggal di Singapura?" Sandra tidak percaya, jika rekan kerjanya pernah tinggal di negara tetangga.


"Iya orang saat Littfu! Lahir, Mama saya yang bantu!" Rasya menimpali ucapan rekan kerjanya.


"Ehm!" Sandra mengangguk pelan. Setelah itu Sandra meninggalkan kedua orang itu.


"Gimana sudah punya pacar?" Arsy bertanya sambil minum teh hangat.


"Ya Allah! Baru juga tadi malam, gua dapet kabar dari lu. Masa iya tanyanya pacar-pacar! Mulu."


"Asal lu tahu, gue itu kehilangan kontak lu. Karena ponsel jatuh tak tahu dimana. Setelah gue beli ponsel yang baru, gua check IG! Nama lu ilang, padahal gue mau DM lu! Agar ngasih nomor lu lagi"


"Gua emang sengaja hapus akun gua, dan setelah datang ke Jakarta! Gua baru aktifkan kembali!"

__ADS_1


"Ah ...layak enggak ada nama lu!”


"Kenapa enggak minta Abang saja, dasar O'on!"


"Kenapa enggak lu, yang chat gua? Lu sudah lupa gua ya? Pakai lost contact segala!" Rasya mencibir temanya itu.


"Rasyu! Kayak lu enggak tahu gue saja. Gua itu enggak akan chatting jika enggak ada sesuatu yang penting. Menurut gue, terlalu banyak kita berinteraksi. Terkadang malah membuat hubungan itu retak!"


"Rentaknya hubungan karena kita, bicara apa. Tapi lawan bicara kita yang mengartikan apa. Terkadang kita niatnya bercanda. Tapi lawan bicara kita, mengaggap itu sebuah sindiran atau tamparan yang ngenak dalam dirinya!"


"Eh ...dah tahu belum nanti ini ada rapat dadakan. Ini nih, gua baru baca dari GC!" Rasya memperlihatkan ponselnya kearah Arsy. Arsy melihat layar ponsel Rasya.


"Berarti nanti pulang sore dong!" Arsy mengeluh.


Sedangkan Rasya hanya terkekeh geli.


"Jam ketiga, ada jadwal ngajar?" tanya Rasya sambil berdiri dari duduknya.


"Kosong! Kalau jam terakhir, ada di kelas IX C! Lah kalau lu?"


"Gua, nanti ini mau ngebimbing yang ikut Pramuka. Soalnya gue kalau jam ketiga dan terakhir sudah enggak ada jam!" Setelah itu Rasya cabut dari hadapan Arsy.


...***...


Semua guru sudah pada ngajar, hanya ada beberapa yang baru masuk, karena jam ngajarnya siang. Arsy memutuskan untuk memberikan bingkisan itu untuk teman Papanya. Sebelum Arsy keluar kantor, perempuan itu memutuskan untuk menelpon Papanya.


"Iya ada apa Nak?" Suara dari dalam ponsel Arsy.


"Pa! Teman Papa! Siapa namanya? Ayi enggak tahu!" ujarnya yang berdiri dari tempat duduknya.


"Ah ... Papa lupa, namanya Harjunot!"


"Baiklah!"


"Tunggu Yi!"


"Iya, Pa?"


"Nanti ini, Papa pulang jam setengah dua. Nanti agendanya, kita akan jenguk Kakek Brian! Setelah Papa, menjemputmu."


"Ayi! Ada rapat dadakan!" jawab Arsy sambil menekan tombol lift terbuka.


"Wah ... berarti ini agenda gagal dong?" Papa sangat kecewa.


"Pa, agendanya tetap jalan. Enggak apa-apa, Ayi! Enggak ikut, nanti kalau ada waktu Ayi akan jenguk Kakek kok!"


"Yasudah kalau gitu!"


Setelah pembicaraan selesai, Arsy keluar dari lift. Perempuan itu berjalan keluar sekolah.


"Panas sekali!" Arsy menggerutu sambil menutup wajahnya.


Perempuan itu sudah berdiri di depan mobil truk.


"Mana dia?" Arsy mencari teman Papanya, tapi dia tidak menemukan orang yang ia cari.


...***...


"Cari siapa Bu Guru?" tanya seseorang dari belakang.


Arsy membalikkan tubuhnya, untuk melihat suara yang baru terdengar di telinganya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2