
POV Arsy!
Hari ini aku mengajar untuk yang pertama kali. Jadwal pertama aku mengajar di kelas IX. Perlahan ku buka pintu ruangan kelas IX ini.
Krekkk! Aku masuk ke dalam ruangan. Nampaknya siswa yang ada di ruangan ini sangat disiplin. Buktinya saja mereka semua diam dan tidak membuat gaduh. Ku dekati meja Guru, dan ku letakkan buku-buku yang aku bawa, di atas meja.
Ku menarik napas dalam, sebelum menyapa mereka. "Assalamu'alaikum warahmatullahi wa'barokatuh!"
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wa'barokatuh!" jawab anak didik ku, yang membuat aku tersenyum.
"Ada yang tahu nama saya?" tanyaku mencoba untuk mencairkan suasana. Aku melakukan semua ini hanya ingin, anak didik ku, tidak takut dengan Guru baru seperti ku. Aku tahu, setiap anak mempunyai kepercayaan diri yang berbeda. Seperti anak yang duduk di paling belakang, sepertinya dia sangat pemalu. Aku bisa melihat hal itu, dari tingkah lakunya.
"Kakaknya si Ketos dingin!" Suara dari bangku tengah, membuat aku mengalihkan pandanganku kearahnya.
"Ayo masa enggak ada yang tahu nama saya! Pasti di GC sudah rame biasanya pada ghibah!" ujar ku berjalan kearah belakang mendekati, siswa yang pemalu itu.
"Bu Guru Cantik!" Anak yang duduk paling depan itu bicara.
"Ah ... modus si Genjeng!" ujar seluruh anak didik ku, menyoraki teman sekelasnya.
"Ayo! Masa iya enggak ada yang tahu! Buat yang tahu nama saya! Saya kasih seratus ribu!" Aku sudah berdiri di samping anak didik ku, yang bikin aku penasaran. Aku tersenyum simpul kearahnya, dia membalas senyuman dariku, sangat manis. Dia sedikit berbeda dengan teman sekelasnya.
"Bu Arsy Latthif!" ujarnya sebagian anak didik ku ini. Aku menggeleng pelan, karena tingkah mereka. Aku berjalan menuju depan, seraya berkata. "Wah ... kenapa setelah saya bilang dapat uang semua menjawab!" tanyaku, sambil duduk di kursi Guru. Dan menatap mereka semua yang tertawa.
"Berapa siswa yang ada di kelas ini?" tanyaku, kepada siswa yang duduk di bangku depan.
"Empat delapan, Bu!"
"Tadi saya bilang apa kok lupa, masalah uang seratus?" tanyaku kepada mereka.
"Bu Arsy, berkata seperti ini 'Siapa yang tahu nama saya, dapat uang seratus ribu' Gitu Bu!" Anak didik ku, menjawab kompak. Sampai-sampai aku tak paham karena suaranya riuh sekali.
"Berarti seratus kali empat delapan berapa?" tanyaku main tebak-tebakkan.
"Empat juta delapan ratus!" jawab mereka kompak . Dan mereka tertawa lepas setelah menjawab pertanyaan dariku.
"Terus tadi yang jawab berapa anak? Ayo tunjuk tangan, ngaku!"
Semua anak didik ku, mengangkat tangannya keatas.
"Tidak, saya tadi cuma lihat yang jawab lima sampai enam saja loh!" ujar ku, yang membuat semua menurunkan tangannya.
"Baiklah sepertinya, saya harus mengeluarkan uang lima ratus. Baru kali ini, kan? Kalian lihat Guru, gaji muridnya?" tanyaku, sambil membuka dompet yang ku taruh meja.
Semua tertawa, karena ucapkan ku. Puji Syukur Alhamdulillah! Karena semua anak didik ku, tidak takut denganku.
__ADS_1
"Harusnya dari kita kelas tujuh Bu! Anda ngajar kami, pasti enak Bu!"
"Kalau kalian kelas tujuh, saya baru kuliah di negeri beruang! Oh ya untuk, uang ini mau dibagi rata dibelikan jajan bersama. Atau dikasih yang jawab saja?" tanyaku sambil mengangkat tangan kanan yang memegang uang lima ratus.
"Buat jajan bersama Bu!" teriak semua yang tidak tahu namaku.
"Bagaimana yang jawab ikhlas enggak nih, kalau kita jadikan uang ini buat jajan bersama?" Aku pun harus meminta persetujuan dari kelima anak yang tahu namaku itu.
Aku melihat gelagat mereka nampak jelas, belum ikhlas. Jika uang yang ada di tanganku ini buat dibelikan jajanan.
"Ya sudah Bu! Kita ngikut saja." Aku tersenyum, karena mereka menjawab dengan sangat berat.
"Baiklah, nanti setelah jam sebelas. Salah satu dari kalian bisa pergi buat beli jajanan, setelah itu kita makan bersama di kelas."
"Yes! Uhu dapat makan tambahan!" ujar anak didik ku tak ada bedanya dengan anak TK.
"Sudah-sudah! Jangan riuh! Berhubung kita baru kenalan jadi hari ini, kita belajarnya santai dulu! Setuju?" tanyaku kepada mereka.
"Setuju!" jawabannya begitu antusias.
"Baiklah anak-anak ku, sekalian! Coba buka pelajaran Akidah akhlak! Bab satu. Mungkin dilain waktu kita bisa mempelajari Fiqih dan mapel PAI! Yang ada di LKS ini!"
"Di Bab ini membahas tentang Ikhlas! Boleh di ulang perkataan saya! Kita belajar tentang?" tanyaku, yang sudah siap menulis di papan tulis.
"Apa sih ikhlas itu? Ayo ikhlas menurut kalian itu apa? Ayo Genjeng! Buat pengertian ikhlas menurut dirimu sendiri!" ujar ku menunjuk si Genjeng.
"Ikhlas itu disaat mengikhlaskan pacar jadian dengan sahabat sendiri!"
"Huhuuuuu!" Semua anak didik bersorak karena jawaban dari teman mereka. Aku hanya menggeleng pelan.
"Boleh! Enggak apa-apa!" jawabku.
"Wee ... hu!" Si Genjeng mengeluarkan lidahnya untuk mengejek teman sekelasnya.
"Tapi ada yang bisa lebih bisa dipahami lagi, mungkin bahasanya. Soalnya jawaban si Genjeng terlalu ambigu!"
Aku menatap semua anak didik ku, sepertinya mereka tak ada yang berinisiatif untuk menjawab. Kini mataku menatap, siswa pemalu itu. Sepertinya dia ingin menjawab tapi dia seperti takut salah.
"Ayo! Kamu yang ada di pojokan, siapa namanya?"
Siswa pemalu itu, mendongakkan wajahnya untuk menatap aku yang ada di depan.
__ADS_1
"Sila!" Aku tidak mendengar karena suaranya pelan.
"Siapa-siapa Mbak? Maaf saya enggak dengar?" tanyaku sambil berjalan kearah siswa pemalu ini.
"Sila! Bu!" Semua anak didik ku menjawab.
"Ah ... Mbak Sila! Maaf tadi suaranya pelan, jadi Bu Arsy enggak dengar!" ujarku, sambil terus berjalan mendekati siswa pemalu ini.
Setelah aku berdiri di sampingnya, aku bertanya kepada anak didik ku ini. "Apa kamu punya pendapat tentang ikhlas? Ayo jangan takut jawabannya salah!" Ku semangati Sila, dengan mengelus punggungnya. Namun entah mengapa Sila, bungkam tidak mau menjawab. Dia menutup mulutnya rapat, sedangkan matanya berkaca-kaca. Aku tidak tahu, dia kenapa. Apa aku salah, itu yang aku tanyakan kepada diriku sendiri. Hingga aku dikagetkan dengan suara anak didik ku yang berbisik di telingaku.
"Bu, Sila tidak bisa bicara dengan jelas. Dia bicaranya sedikit tertatih, seperti anak yang baru belajar bicara." Bisikkan ini membuat aku paham, jika Sila insicure karena hal ini ternyata.
"Mbak Sila, ayo enggak apa-apa jawab saja. Nanti Bu Guru, dengarkan kok!" ujarku mengelus punggung sila.
Sila menatapku, matanya malah semakin betkaca. Aku jadi bingung karena aku tidak tahu gimana harus bersikap dengan Sila, yang memiliki keistimewaan ini. Ya Allah! Bantu aku untuk menyikapi kondisi ini.
Ku dekatkan bibirku ditelinga Sila, dan berkata. "Sila harus berani, untuk hal apapun.Yang namanya manusia enggak ada yang sempurna! Tapi jangan jadikan kekuranganmu, sebagai penghalang untukmu menjadi seorang yang hebat. Tapi jadikanlah sebagai pemicu dirimu untuk menjadi orang yang berani maju menata masa depan yang cerah!" Aku tersenyum kearah Sila, sepertinya dia harus dapat perhatian khusus.
"Ikhlas adalah disaat kita bisa, melepaskan apa yang pernah menjadi milik kita. Dan kita bisa menerima apa yang ditakdirkan untuk kita, meskipun kadang pemberian itu tidak seperti yang kita inginkan!" Aku tersenyum, mendengar jawaban Sila. Meskipun aku harus bersikeras untuk paham ucapannya.
"Wah ...tepuk tangan! Buat Sila!" ujarku, bertepuk tangan dan diikuti oleh anak didik ku.
Prookk
"Sebenarnya jawabannya hampir benar tapi belum sempurna. Maka hari ini, kita bahas tentang Ikhlas!" Aku berjalan kearah depan sambil memainkan sepodol di tanganku.
"Ikhlas ialah menginginkan keridhaan Allah, dalam suatu amal, membersihkannya dari segala individu maupun duniawi. Tidak ada yang melatarbelakangi suatu amal, kecuali karena Allah semata dan demi hari akhirat. Dan berharap mendapatkan rinda Allah."
"Atau lebih mudahnya memurnikan niat karena Allah semata!"
Ting Ting! Bunyi Bel berbunyi, aku lihat jam ditangganku setengah jam lagi istirahat buat sholat dzuhur.
"Baiklah, seperti yang direncanakan. Pukul sebelas ada yang mau keluar beli jajan, untuk di makan bersama. Jadi kita akhiri pembelajaran ini dengan bacaan Hamdallah!"
"Alhamdulillah!" Semua anak didik ku menjawab keras.
"Tapi besok, kita sudah aktif enggak seperti saat ini." ujarku.
Setelah bicara seperti itu, aku berjalan kearah tembok pembatas yang terbuat dari kaca. Mataku tak sengaja melihat, sosok lelaki sedang berbicara dengan orang banyak. Sepertinya dia sedang mengarahkan sesuatu kepada teman-temannya. Dia sedang memegang seperti lembar besar, kemudian menunjuk kearah bagian ponjok dengan bolpoin dan mengangguk-anggukkan kepalanya. Entah apa maksudnya, tapi dia lelaki crewet! Aku tidak suka.
POV END!
Lelaki yang ada di bawah, menatap kearah gedung sekolah favorit itu. Harjunot menundukkan kepalanya lagi, karena tadi merasa ada yang melihatnya dari atas.
... ***...
__ADS_1