Dia Istri Dalam Mimpi

Dia Istri Dalam Mimpi
Waktu Cepat Beelalu


__ADS_3

Lelaki itu bersandar di kepala ranjang. Fitri merangkak naik keranjang, perempuan itu mengamati suaminya yang hanya diam.


Harjunot merasakan ranjang bergerak, dia tahu jika itu istrinya.


"Fitri!" panggilannya tanpa melirik istrinya.


"Iya, Mas!" Fitri tahu jika Harjunot masih shock. Dengan kejadian yang menimpa suaminya dan Arsy kala itu.


"Fit! Sudah hampir satu bulan, kenapa tidak ada perubahan dengannya!"


Fitri tahu betul jika suaminya membicarakan putrinya Dirut.


"Kita berdoa saja, ya Mas! Agar Dek Arsy, lekas sembuh!" Fitri mengelus bahu suaminya.


"Fit, andai saja! Dia tidak menolongku, pasti hari ini aku yang tergeletak di ranjang rumah sakit. Dan aku tidak akan bisa mendampingi mu. Saat kau hamil anakku!" Harjunot memiringkan badannya kemudian mengelus perut istrinya.


"Entahlah Mas, aku harus bersyukur atau apa. Aku bersyukur karena Tuhan, menyelamatkanmu! Tapi melihat keadaan Dek Arsy? Aku juga sedih!" Fitri menghela napas panjang.


"Tidurlah Mas, ini sudah malam!" Fitri mengelus kepala suaminya.


"Semoga besok ada kabar baik ya Fit?" Harjunot memposisikan tubuhnya untuk berbaring.


"Amin! Insyaallah!"


"Mana tangannya, aku cium dulu!" Fitri meraih tangan suaminya. Kemudian mencium kedua telapak tangan suaminya. Fitri memang selalu mencium tangan suaminya saat mau tidur.

__ADS_1


"Sini-sini peluk Mas!" Harjunot memeluk Istrinya.


...***...


Satu bulan telah berlalu kandungan Fitri sudah mulai terlihat. Harjunot sangat senang karena sebentar lagi akan menyandang seorang Ayah.


"Fit!" Harjunot memanggil istrinya yang ada di dapur.


"Iya Mas!"


"Aku berangkat kerja dulu ya? Jangan capek-capek Fit! Aku tidak ingin kamu lelah!" Harjunot mencium kening istrinya.


"Bagaimana aku capek, jika semua pekerjaanku diambil alih suamiku!" Fitri membuat Harjunot terkekeh.


"Kau itu, aku hanya membantu sedikit juga!" ujarnya sambil mengecup bibir istrinya sekilas.


"Abi, berangkat kerja dulu ya! Jangan bikin Umimu, dalam masalah!" Harjunot meletakkan kepalanya di perut istrinya.


"Ih ...Abi kok bicaranya seperti itu. Ini anak Abi, loh! Masa, anaknya dibilang bikin masalah!" Fitri mengerucutkan bibirnya.


"Tuh, Umimu lebih mencintai kalian daripada Abi, yang notabenenya sebagai suami!" Harjunot tertawa renyah karena melihat ekspresi istrinya.


...***...


Disisi lain Rasya sedang ada di bandara. Pemuda itu memutuskan untuk menjenguk sahabatnya.

__ADS_1


Setelah hampir beberapa jam di pesawat, akhirnya pemuda itu telah sampai di negara yang terkenal dengan Universitas Erasmus, arsitektur mutakhir, budaya hidup, pengaturan tepi sungai yang menarik, dan warisan maritimnya.


Rasya segera melangkahkan kakinya keluar bandara. Dan mencari transportasi yang bisa mengantarkannya ke rumah sakit. Pemuda itu keluar dari mobil dengan terburu-buru. Saat itu dia menemukan paruh baya yang amat ia kenal.


"Tante!"


"Sya! Kamu sudah sampai Nak?" Bunda menerima ciuman tangan dari sahabat anaknya itu.


"Alhamdulillah! Bagaimana keadaan Tiffu, Tan?"


"Dia belum juga siuman, padahal sudah lama!" Cahaya duduk di kursi.


"Terus kenapa Tante, diluar?"


"Ayi sedang diperiksa Dokter!"


...***...


Setelah hampir lima belas menit, akhirnya Rasya bisa masuk keruangan Arsy.


"Tiffu! Ayo bangun, sahabat kecilmu ada disini. Apa kamu tidak mau berbicara dengan ku?" Rasya mengelus kepala sahabatnya.


"Iya Nak! Ayo bangunlah, sahabatmu sudah bela-belain kesini jauh-jauh masa kamu enggak mau bangun!" Cahaya duduk di samping ranjang putrinya.


Perempuan itu tidak merespon sama sekali. Membuat Cahaya semakin terpukul dengan keadaan putrinya.

__ADS_1


"Tante, tidak lama lagi dia akan segera sadar!" Rasya mencoba menangkan Cahaya.


"Aku harap Sya!"


__ADS_2